
"Hentikan!" terdengar suara penjaga yang tiba-tiba masuk saat mendengar suara keributan di dalam kamar Nona muda mereka.
Sontak saja Luna membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terkejut saat melihat dua penjaga masuk ke dalam kamar. Sementara Rumanah tampak terduduk lesu di lantai sembari memegangi perutnya yang begitu terasa sakit.
"Sial! Kenapa mereka bisa masuk!?" desis Luna di dalam hati.
"Tangkap wanita itu!" perintah Rumanah pada penjaga.
Dengan cepat kedua penjaga itu menangkap Luna dan menahannya agar tidak kabur. Sementara Rumanah tampak meringis dan beringsut hendak berdiri. Namun sepertinya ia begitu lemah dan perutnya yang terasa sakit membuatnya sulit untuk bergerak.
"Lepaskan! Aku harus membunuh wanita itu!" ujar Luna yang tampak berontak.
"Diam! Ternyata Anda Nona Luna, ya! Astaga, Tuan Andre pasti sangat marah besar jika tahu akan hal ini," ucap penjaga yang menahan Luna.
Luna tampak tersenyum sinis dan menatap benci pada Rumanah, "Ya, aku mantan istri Tuan kalian. Dan, semestinya aku yang kini berada di rumah ini bersama Andre dan princessku!" jawabnya dengan suara yang dingin.
"Jangan bermimpi! Tuan Andre sudah membenci Anda!" ujar penjaga dengan sinisnya.
Sementara itu Rumanah benar-benar kewalahan dan tak sanggup lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia kini begitu lemah dan tak berdaya.
"Auuuwh!" ringisnya sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. Rumanah takut sekali saat ini, takut terjadi apa-apa pada baby di dalam perutnya itu.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" tanya penjaga yang satunya lagi.
Rumanah menggeleng kecil, "Perutku sangat sakit sekali!" jawabnya dengan suara yang lemah dan bergetar.
"Astaga! Saya akan panggil Tuan ke sini. Tahan sebentar ya, Nona," ucap si penjaga yang kemudian berlari ke luar. Tentu saja ia hendak menemui Andre untuk memberi kabar bahwa Nona muda di kamar sedang dalam bahaya.
"Jangan hiraukan dia! Biarkan saja dia mati! Karena itu adalah keputusannya sendiri!" ujar Luna yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Diam! Anda bisa dihukum pancung oleh Tuan Andre! Anda telah berusaha melakukan pembunuhan terhadap Nona kami!" bentak si penjaga yang memegangi tangan Luna agar tidak kabur.
"Aku tidak peduli! Kalau aku mati, dia juga harus mati!" ujar Luna tak mau kalah.
Rumanah menatap miris pada wanita yang begitu memiliki hati yang jahat dan busuk. Bagaimana ia bisa bersimpati pada mantan istri suaminya atau yang lebih tepatnya Mommy kandung Sandrina, jika sikap dan sifatnya saja seperti itu padanya.
"Padahal, tadinya aku berniat untuk mengakurkan princess dengan Mommy nya. Aku juga merasa kasihan pada wanita ini karena dibenci oleh putrinya sendiri. Tetapi ternyata, wanita ini begitu licik, jahat, pendendam dan begitu busuk. Sepertinya Tuhan telah memberikan jawaban atas apa yang akan aku lakukan. Mungkin, Tuhan memang tidak ingin princess dekat dengan wanita ini," ucap Rumanah di dalam hati.
Andre yang sedang menikmati pesta dengan teman-teman dan rekan bisnisnya tampak terkejut saat tiba-tiba penjaga yang ditugaskan menjaga keamanan di depan kamarnya menghampirinya. Terlebih saat melihat ekspresi tegang dan panik si penjaga yang begitu tergesa-gesa.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau ke sini?" tanya Andre bertubi-tubi.
Si penjaga tampak ngos-ngosan dan begitu tegang. Tentu saja ia pun sangat takut pada bosnya yang pasti akan marah padanya dengan rekannya yang telah lalai menjaga keamanan Nona muda mereka.
"Anu. Nona, Tuan. Nona ... telah terjadi sesuatu padanya," jawab si penjaga itu dengan gugup dan terbata.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu kaget. Ia juga mulai terlihat panik saat penjaga itu mengatakan telah terjadi sesuatu pada Nona muda. Tentu saja ia langsung berlari menuju kamarnya. Sementara teman-teman dan rekan bisnisnya tampak heran namun juga begitu penasaran.
"Ayo kita lihat!" ajak salah satu orang di sana.
Mereka pun berlari menyusul Andre ke lantai lima. Sementara itu, saat Andre berada di lantai tiga, kedua orang tuanya dengan kedua orang tua Rumanah tampak masih mengobrol di ruang keluarga. Tentu saja mereka tampak penasaran karena Andre terlihat buru-buru dan wajahnya begitu panik.
"Hei, Andre! Kau mau ke mana? Sudah selesai kah pestanya?" tanya Papi Dargono seraya beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menghampiri putranya itu.
Tak berselang lama, teman-teman dan rekan bisnis Andre tampak baru saja sampai ke lantai tiga. Tentu saja hal itu semakin membuat keempat orang tua di sana begitu heran dan bertanya-tanya.
Andre hanya mengusap wajahnya dan menepuk pundak Papi nya. Setelah itu ia pun bergegas melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantarkan dirinya ke lantai lima.
"Astaga! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian pun ikut ke sini?" tanya Papi Dargono sembari memegangi kepalanya.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan menantu Anda, Tuan," ucap salah satu rekan bisnis Andre.
"Apaa???" Phoo Boon-Nam yang mendengar ucapan orang itu tampak terbelalak kaget dan refleks ia bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang terjadi pada putri kami?" sosor Maae Lilis yang juga tampak terkejut.
"Sudah jangan banyak bertanya. Mereka mungkin tidak tahu apa-apa. Sebaiknya sekarang kita bergegas ke lantai lima, ya!" ujar Mami Purwati seraya beranjak dari duduknya.
Maae Lilis, Phoo Boon-Nam dan Papi Dargono pun mengangguk mengiyakan. Akhirnya mereka pun bergegas menyusul ke lantai lima.
Sementara itu di lantai lima, Andre tampak terbelalak kaget saat melihat kamarnya yang begitu berantakan tak karuan. Terlebih saat ia melihat sang istri yang terduduk lesu di lantai.
"Darling!" ucapnya sembari berlari menghampiri istrinya yang lemah tak berdaya.
Luna yang masih ditahan oleh anak buah Andre tampak menatap sengit pada mantan suaminya itu. Ia begitu muak melihat kasih sayang dan cinta yang mantan suaminya berikan pada wanita pengganti dirinya.
"Cih! Memuakkan!" desis Luna mengumpat kesal.
"Apa yang terjadi, darling? Kenapa kau tidak menghubungiku?" Andre tampak terlihat panik dan cemas pada kondisi istri cantiknya itu.
Rumanah menggeleng kecil sembari tersenyum nanar, "Maafkan aku, hubby. Wanita itu ... wanita itu mau membunuhku!" ucapnya dengan suara yang lemah dan terbata.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sangat terkejut dengan apa yang istrinya katakan. Dengan cepat ia menolehkan wajahnya pada Luna yang sedang menatap sinis dan tanpa dosa padanya.
"Tak akan kuampuni kau!" desis Andre seraya beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya mendekati mantan istrinya itu.
"Aku hanya ingin kau kembali padaku, Andre. Aku sudah memberikan dua poin padanya. Tetapi, dia memilih poin yang terjadi padanya saat ini. Jangan salahkan aku. Salahkan wanita kampungan dan ja*lang itu!" ujar Luna yang tampak berusaha membela diri.
"Kurang ajar! Kau benar-benar wanita iblis! Aku tidak akan pernah mengampunimu!" umpat Andre seraya melayangkan tangannya pada wajah Luna.
PLAK PLAK PLAK PLAK!!!!!
Tamparan keras itu berhasil melayang pada wajah cantik Luna.
"Aaaaaaarrgh!" pekik Luna meringis kesakitan.
"Aku benar-benar akan membalas apa yang telah kau lakukan pada istriku!" ujar Andre dengan suara yang dingin dan begitu marah besar.
"Saneeeeee! Putriku!" Maae Lilis tampak syok melihat putrinya yang terduduk lemas tak berdaya.
"Astaga! Rumanah! Darah!" desis Mami Purwati yang juga tampak kaget dan syok melihat menantunya tak berdaya.
Dengan cepat Maae Lilis dan Mami Purwati berlari menghampiri Rumanah yang kini sudah tidak sadarkan diri.
"Saneee! Apa yang terjadi padamu, sayang? Sanee, bangunlah Nak! Ya Tuhan." Maae Lilis begitu terpukul dan sangat sedih melihat putrinya seperti itu.
"Ya Tuhan, sepertinya dia mengalami pendarahan, Lis." Mami Purwati berkata dengan nada yang terdengar cemas dan tegang.
"Apaaa? Pendarahan?" Andre yang mendengar hal itu tampak terbelalak kaget dan dengan cepat menghampiri istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan! Cepat siapkan mobil untuk membawa Sanee ke rumah sakit!" perintah Phoo Boon-Nam pada orang-orang di sana.
"Baik, Tuan!" jawab anak buah Andre dengan sigap dan siap.
Sementara itu, Maae Lilis, Mami Purwati dan Andre tampak menangis tersedu-sedu. Mereka tampak sedih dan cemas pada Rumanah. Terlebih saat darah yang mengalir itu semakin banyak dan tiada henti.
"Ayo! Cepat bawa istrimu ke rumah sakit, Ndre!" ujar Papi Dargono yang juga tampak khawatir.
"I–iya, Pap," jawab Andre terbata.
Dadanya begitu terasa sakit melihat sang istri yang lagi-lagi harus terluka oleh mantan istrinya. Air matanya begitu berderai dengan derasnya membasahi wajah tampannya.
"Kau yang kuat, bro! Sisanya akan kami bereskan," ucap salah satu teman baik Andre.
Andre hanya mengangguk sembari mengangkat tubuh istrinya yang lemah tak berdaya.
"Kalian berdua, ikutlah ke rumah sakit. Sementara aku akan mengurus wanita itu ke kantor polisi. Dan princess biarkan bersama Oppa nya," ucap Phoo Boon-Nam pada istri dan besan perempuannya.
__ADS_1
Maae Lilis dan Mami Purwati tampak mengangguk mengiyakan. Mereka pun bergegas melangkahkan kaki mengekori Andre yang begitu cepat membawa istrinya.
"Apakah kau bisa mengurusnya?" tanya Papi Dargono pada besannya.
Phoo Boon-Nam mengangguk mengiyakan, "Ya. Aku sudah biasa mengurus kasus seperti ini. Anda tenang saja," jawabnya penuh percaya diri.
"Kami akan ikut bersama Anda, Tuan," ucap anak buah Andre.
"Baik! Kalau begitu, ayo kita bawa wanita pembunuh itu ke kantor polisi," ajak Phoo Boon-Nam yang tampak marah dan bahkan serasa ingin menghabisi wanita yang telah berusaha membunuh putrinya.
"Ayo kau ikut dengan kami!" ucap anak buah Andre pada Luna.
"Tidak! Jangan bawa aku ke kantor polisi! Aku tidak mau dihukum! Aku tidak salah!" pekik Luna yang tampak berontak.
"Diam! Kau sudah berusaha untuk membunuh putriku! Dan aku sangat menghargai usaha dan kerja kerasmu itu. Untuk itu, aku bawa kau menghadap polisi!" bentak Phoo Boon-Nam yang sepertinya sedang menahan emosi dan amarahnya.
"Pisaunya jangan dibawa, biarkan menjadi barang bukti di sini. Nanti polisi akan mengecek ke TKP," ucap Papi Dargono.
"Baik," jawab anak buah Andre.
Mereka pun bergegas membawa Luna ke kantor polisi. Phoo Boon-Nam yang merasa terpukul dan sakit hati karena putrinya telah dilukai dan berusaha dibunuh oleh Luna tampak berniat untuk memenjarakan wanita jahat itu.
Di mobil, Andre tampak tak sabar ingin segera sampai ke rumah sakit. Beberapa kali ia memarahi Sopian agar menyetir lebih cepat.
"Bisakah kau menyetir lebih cepat lagi? Kau ingin melihat Nona mudamu mati atau bagaimana, hah!?" cicit Andre yang tampak kesal.
"Ba–baik, bos. Ini saya sudah cepat, bos!" jawab Sopian yang tampak tegang dan gemetar.
"Sabar, Ndre. Jangan marah-marah terus, ya. Kau butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi nanti," ucap Mami Purwati menenangkan putranya.
"Apa? Menghadapi apa yang akan terjadi? Memangnya apa yang akan terjadi, Mam? Istri dan anak Andre pasti akan selamat!" protes Andre yang sedang kalut dan frustasi.
Mami Purwati tampak terdiam dan merasa menyesal berkata demikian. Sepertinya dia memang telah salah bicara.
"Kamu wanita yang kuat, darling. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Juga anak kita, dia pasti kuat seperti dirimu," ucap Andre sembari menggenggam tangan istrinya yang pucat, dingin dan tak berdaya.
"Ya Tuhan, darahnya masih mengalir. Kita harus lebih cepat lagi," ucap Maae Lilis yang tampak terlihat panik dan cemas.
"Cepat, Sopiaaan!" bentak Andre yang semakin naik pitam.
"Baik, bos!" jawab Sopian yang tampak ketakutan.
Sopian pun berusaha keras mengendarai mobil dengan cepat namun tidak ugal-ugalan. Tetapi, tentu saja itu sangat sulit untuk ia lakukan. Sementara jalanan pun kini tampak masih ramai karena jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mereka pun telah sampai di rumah sakit Sentosa. Dengan cepat Andre membopong tubuh istrinya dan bergegas ke UGD.
"Cepat tangani istriku!" desak Andre pada suster dan dokter umum di sana.
"Baik, Pak. Tapi, apakah istri Anda sedang hamil?" tanya seorang suster.
"Ya, dia sedang hamil. Aku tidak ingin terjadi apa pun pada istriku!" jawab Andre.
"Ya Tuhan! Sebaiknya langsung kita bawa pada dokter Zahra saja. Sepertinya ini telah terjadi pendarahan yang sangat berbahaya," ucap dokter umum yang begitu kaget dengan kondisi Rumanah.
Mereka pun mendorong tubuh Rumanah di atas brankar. Untuk kesekian kalinya Rumanah berada di rumah sakit itu.
"Apa yang terjadi, Pak Andre?" Dokter Zahra tampak kaget dan heran melihat pasiennya yang baru hamil satu bulan kini tampak pendarahan.
"Ceritanya panjang, dok. Sekarang saya hanya ingin istri dan putri saya selamat, dok! Saya mohon selamatkan mereka," pinta Andre yang tampak memelas dan memohon.
Dokter Zahra mengangguk, "Semoga saja, ya. Semuanya kita serahkan pada Tuhan. Saya dengan rekan yang lain hanya bisa berusaha, selebihnya ... kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa," jawabnya penuh kebijakan.
Andre tampak terlihat lemas dan mengangguk pasrah. Ia pun terduduk lesu dan begitu sedih dengan keadaan yang menimpa istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...