
Andre menendang ban mobilnya dengan kasar. Duda tampan itu nampak benar-benar kesal dan frustasi. Melihat sang putri mahkota yang sama sekali tidak tertarik pada sekretaris cantiknya itu membuat Andre sedikit merasa tertekan. Ditambah lagi si sekretaris cantik yang ia harapkan menjadi istri dan juga menjadi Ibu bagi putrinya pun sama sekali tidak tertarik padanya.
Dalam situasi seperti ini, manakah yang harus Andre pertahankan dan dahulukan? Ego nya sendiri atau keinginan putri mahkotanya? Ah, entahlah! Sungguh pilihan yang sangat rumit.
"Apa yang membuat Anda kesal seperti ini, bos? Katakan pada saya siapa orangnya? Saya tidak akan segan-segan mematahkan tulang orang yang telah membuat bos kesal seperti ini." ucap Leo, sang asisten pribadi yang memiliki dosis humor yang tinggi.
Andre menolehkan wajahnya dan menatap sangar pada asisten pribadinya itu. Rahangnya nampak berdiri tegak dan kedua tangannya mengepal dengan sempurna.
"Sebelum kau melakukan hal itu, maka aku yang akan lebih dulu melakukannya padamu!"
"Jeduaaaaarrrr!!!!!"
"Aaauuuuuuwwwwww!!!!"
Tanpa Leo duga sebelumnya, sang bos dudanya tiba-tiba melayangkan tinjunya pada perut sispacxnya. Tentu saja hal itu membuat asisten pribadi itu terbelalak kaget dan tidak bisa menangkis atau menghindari serangan bos dudanya yang sedang emosi itu.
"Rasakan itu, kamver!" cicit Andre seraya berseringai sinis pada asisten pribadinya itu.
Leo meringis dan memegangi perutnya yang terasa linu dan sungguh terasa sakit. "Aaauwwwhh, mantap sekali tinjuannya, bos!" ucap asisten pribadi itu di sela-sela ringisannya.
"Cih," desis Andre seraya menyandarkan tubuhnya pada mobil mewah miliknya.
"Nampaknya selama saya cuti, Anda sangat berusaha keras berlatih tinju ya, bos. Keren, sekarang Anda sudah mampu meninju dengan kekuatan samsons." ucap Leo yang berhasil membuat Andre berseringai kecil.
"Sialan kau, kamver. Kau pikir aku tidak bisa meninju perutmu itu. Ck, menyebalkan!" decak Andre.
"He he he he, saya pikir begitu, bos." jawab Leo di sertai cengengesnya.
__ADS_1
Andre memutar bola matanya malas dan mendengus kesal. Sementara Leo nampak penasaran pada seseorang yang membuat bos dudanya begitu kesal dan emosi.
"Tapi saya sangat penasaran sekali, bos. Siapa sebenarnya yang sudah berani membuat bos saya sekesal dan semarah ini. Hingga kekesalan dan kemarahannya dilampiaskan pada saya. Ck, benar-benar beruntung orang itu. Kalau sampai saya tahu, akan saya patahkan tul—" Leo belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Diam kau, kamver! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti orang yang telah membuatku kesal. Karena orang itu adalah Mel—" Andre menggantung ucapannya saat ia hendaka menyebut nama Meliza.
Leo tersenyum kecil mendengar ucapan bos dudanya. Kini ia mengerti dan tahu siapa yang telah membuat bos dudanya kesal dan marah.
"Meliza, hi hi hi hi." tebak Leo tepat sasaran.
Sontak saja Andre memelototkan kedua bola matanya dan mengacungkan tinjunya.
"Ups, sorry, bos. Saya hanya menebak. Tapi sepertinya tebakan saya benar." ucap Leo tanpa dosa.
Andre mengacak rambutnya kasar. "Sudah jangan banyak bicara. Aku ingin kau selidiki pria yang sedang dekat dengan Meliza." tegas Andre yang kini nampak sudah tak bisa lagi menyembunyikan segalanya.
Sementara itu di dalam ruangan vvip yang Rumanah tempati...
Meliza dan Rumanah nampak sedang asyik mengobrol. Kali ini Rumanah sudah berganti pakaian, dan yang membantunya adalah Meliza. Sementara Sandrina nampak sedang bermain gadget di sofa malas.
"Sebenarnya aku heran deh sama Pak Andre. Dia itu maunya apa sii? Saat aku mengatakan hendak mengajukan pengunduran diri, bos duda itu terlihat kesal dan tidak setuju. Bahkan dia memberi waktu untukku selama satu bulan. Kau tahu? Dalam satu minggu ini aku harus tinggal di rumah mewahnya. Betapa menyebalkannya lelaki itu, Rumanah." cerocos Meliza dengan ekspresi yang terlihat kesal. Wanita cantik itu sedikit curhat pada Rumanah.
Rumanah tersenyum kecil. "Jangan bicara seperti itu, Mbak Mel. Nanti dia mendengarnya dan akan ngambek lagi seperti anak kecil. Ha ha ha ha." ucap Rumanah disertai tawa renyahnya.
"Ha ha, benar juga. Sebaiknya aku lebih berhati-hati." balas Meliza yang juga nampak tertawa.
"Oh ya, kalau boleh tahu, kenapa Mbak Mel ingin berhenti jadi sekretaris Tuan Andre? Apakah Mbak Mel sudah tidak kuat meladeni sifatnya yang seperti anak kecil?" Rumanah bicara sembari memantau pintu ruangan itu, takut tiba-tiba Andre masuk dan mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Ha ha, bukan seperti itu, Rumanah." sanggah Meliza disertai tawa renyahnya. "Tapi, aku merasa sudah waktunya mencari pasangan hidup, selama ini aku selalu cuek dan tidak perduli dengan hal itu. Tapi setelah kupikir-pikir, aku semakin dewasa dan sudah saatnya mencari sosok seorang pria yang pantas menjadi suamiku." lanjut sekretaris cantik itu yang nampak terbuka pada Rumanah.
Rumanah manggut-manggut tanda mengerti.
"Tapi, Pak Andre tidak setuju dan kini lelaki itu seperti memaksa aku dengan putrinya agar bisa bersatu. Bukan aku tidak suka pada princess, Rumanah. Tapi, aku kasihan pada princess yang hanya menginginkanmu. Lagi pula, aku pun sudah memiliki tambatan hati yang bukan orang Indonesia. Tentu saja aku ingin menikah dan menikmati yang namanya rumah tangga dengan lelaki itu, tapi kenapa Pak Andre selalu saja tidak mengerti dan egois. Ck, aku sangat kesal sekali." celoteh Meliza yang npak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tersenyum kecil, ia sangat mengerti perasaan wanita cantik di hadapannya itu. Ia juga sangat tahu maksud tujuan majikan galaknya, tentu saja karena Andre jatuh cinta pada Meliza dan menginginkan Meliza menjadi istri sekaligus Ibu bagi putri kecilnya.
"Mbak Mel, perlukah saya menjawab kekesalan Mbak Mel ini?" tanya Rumanah yang berhasil membuat Meliza mengerutkan dahinya.
"Kau bertanya seolah kau tahu, Rumanah." ucap sekretaris cantik itu.
"Ya, tentu saja saya tahu, Mbak." jawab Rumanah dengan entengnya.
Meliza menatap intens pada pengasuh putri bos dudanya itu. "Beri aku jawaban yang meyakinkan." pinta sekretaris cantik itu.
Rumanah mengangguk dan tersenyum. "Semua yang Tuan Andre lakukan semata-mata karena dia ingin menjadikan Mbak Mel sebagai istri sekaligus Mommy bagi princess." ungkap gadis desa itu yang berhasil membuat Meliza terhenyak kaget.
"Haahhhhh??? Kau bicara apa, Rumanah? Atas dasar apa kau bicara seperti itu." protes Meliza.
"Saya tahu semuanya, Mbak Mel. Saya tahu jika Tuan Andre jatuh cinta pada Mbak Mel. Jangan mengira saya hanya mengada-ngada, saya bicara seperti ini karena saya mendengar sendiri obrolan Tuan Andre dengan Ferhat tempo hari." tutur Rumanah yang nampak mengungkap semuanya pada Meliza.
Meliza nampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Tentu saja wanita cantik itu pun mulai mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Rumanah. Dan kini, sekretaris itu mulai menyadari perasaan bos dudanya kepada dirinya.
***
Jangan lupa like nya, dears 😍
__ADS_1