Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sanee Village


__ADS_3

Andre menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan yang ada di kebun bunga milik mertuanya. Keringat deras mengucur di seluruh tubuhnya. Kaos bekas mertuanya yang ia kenakan tampak basah karena keringat. Seperti yang istrinya inginkan, pria tampan itu tampak benar-benar mengangkut keranjang berisi bunga sampai sepuluh kali. Ia benar-benar ngos-ngosan dan kelelahan.


"Ya Tuhan, suamiku yang tampan kenapa ngos-ngosan begini?" ucap Rumanah seraya mendudukkan bokongnya di sisi suaminya.


Andre mengatur napasnya dan menolehkan wajahnya pada sang istri yang tersenyum manis padanya. "Jangan banyak bicara, darling. Sebaiknya kau usap keringat suamimu ini." cicitnya seraya beringsut bangun dari rebahannya.


Rumanah terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya. Tampak manja dan ingin diperhatikan.


"Sayang sekali, aku tidak membawa tissue, sayang." Ucap Rumanah dengan senyuman usilnya.


Andre menaikkan kedua bola matanya dan mengerucutkan bibirnya. "Tak masalah. Kau bisa mengusapnya dengan bajumu ini!" balasnya sembari menarik baju yang dikenakan istrinya.


Sontak saja Rumanah tersentak kaget dengan tindakan suaminya. "Hei, apa yang kau lakukan. Astaga!" desisnya sembari menahan tangan suaminya agar tidak mengelap keringat menggunakan bajunya.


"Aku hanya ingin kau mengusap keringatku, sayang." Jawab Andre seraya ngusel pada perut rata istrinya.


"Astaga!" desis Rumanah sembari menahan kepala suaminya agar tidak terus-menerus mengusel perut ratanya. Tentu saja ia geli dan malu jika para pekerja ayahnya melihat kegilaan suami tampannya itu.


"Bersihkan keringatku, darliiiiing," manja Andre sembari menarik tangan istrinya dan mengusapkannya pada wajah tampannya.


"Aaaaaa, apa yang kau lakukan, hubby!" pekik Rumanah sembari menarik tangannya.


Andre terkekeh. "Kenapa? Kau jijik pada keringatku?" tanyanya sedikit sewot.


Rumanah secepat kilat menggeleng. "No! Itu tidak benar. Emh, aku hanya tidak ingin mengotori wajahmu, hubby!" jawabnya sembari menatap minta pengertian dari suaminya.


Andre tersenyum kecil dan kini ia mengerti. "Yes, aku mengerti. Sorry, aku hanya bercanda." ucapnya sembari mengacak rambut istrinya.


Rumanah mengangguk seraya tersenyum.


"Permisi, Nangsaw, Tuan. Ini minuman dinginnya," ucap seorang pelayan saat datang membawa dua gelas minuman.


"Oh iya. Terima kasih." Balas Rumanah sambil tersenyum dengan manis. Ia memang wanita yang ramah dan berbaik hati pada siapa pun.


Rumanah meraih segelas minuman dingin yang pelayan berikan padanya. Lalu ia berikan pada sang suami yang sepertinya sangat menginginkan minuman dingin itu.


"Ini, minum dulu biar seger." Ucap Rumanah dengan senyuman manisnya.


Andre mengangguk. Secepat kilat ia menyambar minuman yang istrinya berikan. "Ini yang ditunggu-tunggu sedari tadi, darling." Ucapnya.


Senyuman manis kembali Rumanah lemparkan pada suami tampannya itu. Sementara segelas minuman dingin masih di tangannya, ia hanya menatap penuh cinta wajah suaminya yang tampan.


"Aaah, segar!" desis Andre saat ia telah meneguk minuman dingin di tangannya.


"Pasti kamu capek, ya." Rumanah bicara sambil mengusap lembut wajah tampan suaminya menggunakan tissue. Kebetulan pelayan tadi membawa tissue juga.


Andre tersenyum manis tanpa beban. "Tidak, darling. Karena melihat senyuman manismu, tatapan tenangmu, dan keceriaanmu, membuat semua lelahku hilang." Jawabnya sembari menangkap tangan lentik istrinya lalu mengecupnya lembut.


Muach!


Manik mata Rumanah berbinar namun senyuman manisnya begitu menampakan jika ia sangat tersipu dengan perlakuan suami tampannya itu.


"Jangan pernah pergi, ya. Aku sungguh bisa berhenti berpikir jika kau tega meninggalkanku." Ucap Andre dengan tatapan seriusnya. Tangannya masih menggenggam tangan mungil istri cantiknya yang masih berusia sembilan belas tahun.


Rumanah menggeleng kecil. "Aku tidak akan meninggalkan pria yang sudah menikmati keperawananku. Pria yang sudah memberikan cinta dan kasih sayang padaku. Pria yang sudah membuatku jatuh cinta," ujarnya dengan senyuman yang manis.


Andre tersenyum. "Manis sekali. Aku sangat bahagia mendengarnya, darling." Ucapnya sembari meraih wajah cantik istrinya dan menatap dalam manik mata hitam pekat itu.


Senyuman manja masih terukir di wajah cantik Rumanah. Wajahnya begitu merona indah saat sang suami menatapnya penuh cinta. Ia tersipu malu dan seakan tak sanggup berlama-lama saling tatap dengan suami tampannya itu.


"Emh, habiskan minumannya, hubby. Aku akan mengajakmu ke villa ala-ala Thailand. Apakah kau tertarik?" ucap Rumanah sembari mengerjapkan matanya dan melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.

__ADS_1


Andre membuka manik matanya lebar-lebar. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia begitu berbinar mendengar villa yang sedari tadi membuatnya penasaran.


"Tentu saja, darling. Dan, apakah kita bisa tiduran di sana? Sepertinya aku sangat butuh rebahan. Meluruskan tulang punggungku yang sepertinya sedikit bengkok karena membawa beban yang berat tadi. He he he," ucap Andre diiringi cengengesnya.


Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Ya, sayang. Tentu saja bisa! Di villa memang ada kamar dan fasilitas lainnya. Kamu tenang saja, villa-nya sudah persis dengan villa yang pernah kita kunjungi di pantai tempo hari." katanya.


Andre tersenyum sumringah dan secepat kilat ia bangun dari duduknya. "Let's go! Aku sudah tidak sabar, darling. Di mana sebenarnya villa itu. Sedari tadi manik mataku berkeliaran mencari villa yang kau maksud. Tapi, aku tidak menemukannya," ucapnya penuh semangat.


Rumanah tersenyum kecil dan bergegas bangun dari duduknya. "Ya sudah, jika begitu, ayo kita ke sana. Aku tidak mau membuatmu mati penasaran. He he he," ucapnya sembari mengusel kepalanya pada dada bidang suaminya.


Andre terkekeh mendengar ucapan istrinya. Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun berjalan bersama menuju sebuah villa yang berada di belakang perkebunan bunga itu.


"Tadi aku sudah ke sini, darling. Aku cari-cari letak villa-nya, tapi tidak ada." Ucap Andre sambil mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Rupanya dia sudah berusaha keras mencari villa sedari tadi.


Rumanah tersenyum. "Benar, di sini memang tidak ada. Dan, ini batas kebun bunganya. Pasti kamu sudah mencarinya ke setiap sudut, bukan?" balasnya.


Andre mengangguk.


"Dan villa-nya, ada di...," lanjut Rumanah seraya kembali melangkahkan kakinya.


Di belakang tanaman bunga Krisan, terdapat tanaman berdaun kecil yang biasa digunakan untuk menjadi pagar. Tanaman itu berderet dengan rapi dan tertata. Sehingga tidak ada yang dapat dilihat dari belakangnya.


"Sini!" ucap Rumanah seraya membuka sebuah pintu pagar besi penghubung kebun bunga ke villa yang bersifat tersembunyi.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu tercengang saat melihat sebuah villa yang begitu indah dan mewah. Villa berarsitektur Thailand yang begitu mempesona.


"Woaaah! Lagi-lagi kau membuatku terkejut, darling." Seru Andre dengan tatapan kagumnya.


Rumanah tersenyum. Digapainya tangan suaminya lalu menggandengnya sambil berjalan.


"Selamat pagi menjelang siang, Nangsaw, Tuan." Sapa seorang pengawal yang menjaga villa tersebut.


"Kalau Phoo dan Maae bertanya, katakan aku sedang honeymoon di villa, ya." Ucap Rumanah pada pengawal yang tersenyum gemas mendengar ucapan Nona mudanya.


Sementara Andre tampak tercengang mendengar ucapan istrinya. "Honeymoon? Hahay, menarik sekali." Ucapnya dalam hati.


"Baik, Nangsaw. Apakah Anda membutuhkan sesuatu? Sepeti makanan atau semacamnya?" kata si pengawal.


Rumanah terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras. "Boleh. Aku ingin nasi liwet, sambal terasi, ikan nila bakar, ya. Jangan lupa lalapannya. Buah-buahan dan minumannya juga." Jawabnya panjang lebar.


"Baik, Nangsaw." Balas si pengawal disertai anggukannya.


Rumanah mengangguk lantas tersenyum. Setelah dirasa cukup, ia pun kembali mengajak suaminya untuk melanjutkan langkah kaki mereka.


Di depan villa yang diberi nama Sanee Village, terdapat kolam ikan hias yang begitu cantik dan pastinya mahal-mahal. Air mancur dan patung-patung menjadi objek yang menambah kecantikan kolam ikan itu. Di sisi kirinya, sebuah kolam yang tak terlalu luas, sepertinya tidak ada ikannya di dalam kolam itu. Airnya jernih dan dihuni oleh bunga teratai yang sangat cantik dan segar. Andre merasa seperti sedang di Thailand. Bedanya, tidak ada patung sesembahan di sana. Karena, Phoo Boon-Nam bukan penganut agama Hindu-Budha atau Konghucu.


Lampu-lampu hias yang jika malam tiba, akan menerangi area villa itu, berjajar dengan rapi di sekeliling villa. Pohon-pohon khas Thailand dan Indonesia tampak menjadi penyejuk di dekat villa. Aroma bunga yang harum dari kebun bunga depan villa, tampak tercium sampai ke villa itu. Sementara kolam renang, tepat berada di bawah villa. Andre benar-benar kagum dengan keindahan villa milik mertuanya itu.


"Darling, apakah semalam Leo dan Sopian tidur di villa ini?" tanya Andre penuh curiga. Rasanya ia tidak rela jika asisten pribadi dan sopirnya yang lebih dulu menikmati villa di hadapannya itu.


Rumanah menggeleng dengan senyuman. "Tentu saja tidak, hubby. Villa ini tidak pernah ditiduri oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke villa ini. Hanya keluarga dan jika ada tamu penting saja." Jawabnya yang berhasil membuat Andre menautkan kedua alisnya heran.


"Lantas, di mana mereka tidur? Katanya di villa." Tanya Andre penasaran.


"Memang di villa. Tapi bukan yang ini, di belakang villa ini, ada villa lagi. Tapi lebih kecil dan minimalis. Mereka tidur di sana," jawab Rumanah menerangkan.


"Oooooh," desis Andre sambil manggut-manggut tanda mengerti.


"Ya sudah, sekarang kita naik, yuk!" ajak Rumanah seraya ngelendot manja pada lengan suaminya.


Andre mengangguk. Di hadapannya, tangga kayu yang kokoh berjajar dengan rapi.

__ADS_1


"Darling," panggil Andre yang tampak belum melangkahkan kakinya.


"Ya?" sahut Rumanah.


Andre tersenyum manis dan melepaskan tangan istrinya yang melingkar di lengannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun mengangkat tubuh istrinya. Hal itu membuat Rumanah sedikit tersentak kaget namun tidak banyak komentar.


Dengan pelan Andre melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Sementara Rumanah tampak berpegangan dengan kuat pada suaminya. Ia kembali teringat ucapan suaminya yang katanya lelah dan tulang punggungnya bengkok karena membawa beban berat.


"Hubby, apakah tidak apa-apa? Bagaimana dengan punggungmu?" tanya Rumanah dengan raut wajah yang terlihat panik.


Andre tersenyum lantas menggeleng. "Don't worry, darling." Jawabnya enteng.


Rumanah mengangguk tanpa menjawab.


"Selamat pagi, Nangsaw. Selamat datang di villa." Sapa penjaga di depan pintu utama villa.


Rumanah mengangguk. "Pagi juga. Apakah kami sudah bisa masuk?"


"Sudah, Nangsaw. Villa-nya selalu bersih dan terawat," jawab penjaga dengan ramah.


"Baik, terima kasih." Balas Rumanah disertai senyumannya.


"Sepertinya kau bisa beristirahat untuk sesaat, penjaga. Karena kami ada di dalam," ucap Andre mengusir dengan halus.


Penjaga itu menggeleng kecil dan tersenyum. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan. Tapi, sesuai dengan peraturan, saya tidak bisa meninggalkan villa sebelum tiba waktu istirahat dan diganti oleh penjaga yang lain. Than tidak pernah membiarkan penjaga meninggalkan villa walau ada orang di dalamnya." Jawabnya dengan ramah dan penuh hormat.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia tidak mengira jika perintahnya bisa dibantah seperti itu. Tapi, ia pun tidak bisa protes ataupun marah. Karena, penjaga di hadapannya memang bukan anak buahnya. Dan, ia juga paham bagaimana patuhnya anak buah pada bosnya.


"Oh begitu. Baiklah, aku mengerti." Katanya. "Tapi, jangan salahkan kami jika tiba-tiba kau mendengar sebuah rintihan, erang*an, desah*an dan mungkin jeritan di dalam villa ini. Aku khawatir kau resah saat itu terjadi. Mungkin saja villa ini akan sampai terguncang dan bergoyang." Lanjutnya memberikan sebuah kode keras.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu tercengang mendengar ucapan suaminya. Sementara si penjaga tampak tersenyum geli dan masam. Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksud oleh suami Nona mudanya.


"Baik, Tuan. Saya sangat mengerti. Sekalipun saya mendengar hentakkan dan genj*otan, saya tidak akan resah. Jadi, Anda tenang saja." Jawab si penjaga itu yang tampak menyindir.


Andre tersenyum kecil dan mengangguk. Sementara Rumanah tampak memutar bola matanya dan menggeleng pelan. Selepas itu, mereka pun masuk ke dalam villa yang sangat aestetic.


"Wow, keren sekali, darling. Hummm! Aku tidak sabar ingin melihat kamarnya." Sorak Andre yang tampak tidak sabaran.


"Ini kamarnya, sayang. Benar-benar dekat dengan pintu utama, bukan? Astaga. Aku rasa penjaga itu benar-benar akan mendengar apa yang kita lakukan." Ucap Rumanah dengan raut wajah panik.


Andre tersenyum, ia masuk mengikuti istrinya. "Memangnya apa yang akan kita lakukan, darling?" godanya sembari menangkap tubuh istrinya yang sedang merapikan sprei yang sudah terpasang di ranjang.


"Aaaaaw, ish! Ngagetin aja, sih!" desisnya sambil memegang tangan suaminya yang melingkar di pinggang rampingnya.


Andre terkekeh. "Aku sangat tertarik dengan ucapanmu tadi, darling. Seketika tulang punggungku lurus dan tidak pegal lagi." Ucapnya sambil menciumi pipi mulus istrinya.


Rumanah mengerutkan keningnya tak mengerti. "Ucapanku yang mana, sayang?" tanyanya.


"Yang kau katakan pada penjaga di pintu pagar tadi," jawab Andre sembari menghirup aroma harum tubuh istrinya.


Rumanah terdiam dan tampak berpikir keras. Sesaat kemudian ia pun mulai dapat mengingat apa yang ia katakan.


"Ah, itu. Emh, sepertinya kau perlu melihat ini, hubby. Kau pasti akan terpukau." Ucapnya mengalihkan. Secepat kilat ia melepaskan tangan suaminya dan berjalan menuju jendela.


Secepat kilat pula Andre menangkap tangan istrinya dan menariknya hingga membuat sang istri memutar tubuhnya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Sudah macam serial India saja.


"Jangan kau pikir aku lupa, darling." Ucap Andre sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah tampak menelan ludahnya kasar dan menatap lugu manik mata suaminya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2