Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Siapa yang mencariku


__ADS_3

Rumanah masih menunggu sang suami yang belum juga membalas pesan darinya. Tentu saja ia sedikit merasa heran pada suaminya yang begitu lama membalas pesan. Padahal, whatsapp nya itu masih aktif sedari tadi. Hingga Rumanah mengirim pesan lagi dan lagi pada suaminya itu. Tapi tetap saja, sang suami belum juga membalas pesan darinya.


"Sepertinya dia memang ketiduran. Kalau gitu aku tidur saja ah. Tapi sepertinya tidak enak kalau tidur sendirian. Sebaiknya aku tidur di kamar princess saja, deh!" ucap Rumanah yang putus asa dengan balasan suaminya.


Ia mengira jika sang suami benar-benar sudah tidur. Dan hal itu memang wajar bagi Andre. Sebab, pria tampan itu memang sangat mudah sekali tidur. Sekali nempel bantal dan kasur, bisa langsung merem.


Sudah biasa ditemani tidur oleh sang suami, membuat Rumanah sedikit tidak enak dan tidak nyaman jika harus tidur sendirian. Ia pun bergegas menurunkan kakinya dari ranjang. Melangkahkan kakinya ke luar kamarnya lalu berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai tiga.


Tanpa dia sadari, gawai yang ia letakan di atas ranjang itu ternyata berbunyi. Ya, sebuah panggilan video masuk ke dalam gawainya. Tentu saja Andre yang menghubunginya. Namun sayang, Rumanah sudah berjalan jauh dari kamar dan tentunya ia benar-benar tidak tahu kalau sang suami menghubunginya.


"Ceklek!"


Rumanah membuka pintu kamar putri sambungnya dengan sangat pelan. Di dalam, Sandrina tampak masih mengobrol dengan Omma nya yang ternyata ada di sana juga.


"Selamat malam," sapa Rumanah yang berhasil membuat Mami Purwati dan Sandrina menolehkan wajahnya.


"Malam, Bun. Kok belum tidur? Bunda kesepian, ya?" sahut si cantik Sandrina sembari tersenyum usil dan meledek.


Rumanah tersenyum lalu mendudukkan bokongnya di sisi ranjang putri kecilnya, "Belum, sayang. Bunda ingin tidur bersama princess, boleh kah?" jawabnya seraya menatap manis wajah cantik putri kecilnya itu.


Sandrina mengangguk, "Boleh, Bun. Tapi, kita bertiga dengan Omma, ya!?" Gadis kecil itu berkata sembari menatap Omma nya.


"Tidak, kalian tidur berdua saja. Omma akan tidur bersama Oppa," tolak Mami Purwati dengan cepat dan tanpa basa-basi.


Rumanah menatap datar wajah Mami mertuanya itu. Sudah dua bulan lebih ia tinggal dengan wanita tua di hadapannya itu. Ia sudah tahu bagaimana dan seperti apa Mami mertuanya itu.


"Jangan marah dong, Mam. Ya sudah tidak apa-apa kalau Mami tidak ingin diganggu oleh Rumanah," kekehnya sedikit menyindir.


Mami Purwati mendelikan matanya, "Ngomong opo to ndooo!" sosornya. Ia kini menautkan kedua alisnya, "Mami tidak ingin tidur berdesak-desakan. Sekarang, lebih baik kalian cepat tidur, ya!" ujarnya sembari menurunkan kakinya dari ranjang.


Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk, "Sepertinya itu karena Mami sudah lama tidak berdesak-desakan dengan Papi, ya!" ledeknya tanpa dosa.


Mendengar ledekan menantunya itu, Mami Purwati tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan terdiam mematung di dekat ranjang. Sementara Sandrina tampak senyum-senyum kecil melihat ekspresi Omma nya itu. Walaupun ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Bunda nya pikirkan, tapi ia begitu geli melihat ekspresi wajah Omma nya itu.


"Ya sudah, sekarang Mami sudah bisa berdesak-desakan dengan Papi. Sementara kami akan tidur," ucap Rumanah yang semakin berani meledek Mami mertuanya itu.


"Astaga! Kenapa putraku berjodoh dengan wanita seperti ini, ya! Dia benar-benar kurang ajar;" cicit Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah terkekeh, ia meraih bantal lalu dipeluknya.


"Ya sudah, kalau gitu Mami benar-benar akan berdesak-desakan dengan Papi. Emh, princess bobok ya, sayang. Temani Bunda mu ini. Kasihan dia tidak bisa capit-capitan dengan Daddy mu! Hahaha!" ucap Mami Purwati disertai tawa ngakaknya.


Rumanah begitu geli mendengar candaan Mami mertuanya itu. Ia pun tak kuasa menahan tawa. Sementara si cantik Sandrina hanya senyum-senyum kecil tak mengerti dengan apa yang kedua orang di hadapannya pikirkan.


Setelah dirasa cukup, Mami Purwati pun bergegas keluar dari kamar cucunya itu. Ia benar-benar akan tidur dengan suaminya. Biasanya dia memang tidur bersama princess, tapi kali ini Rumanah yang menemani gadis kecil itu. Ah, ralat. Rumanah yang ditemani oleh gadis kecil yang cantik itu.


"Princess sayang, Bunda ingin tahu bagaimana perasaanmu akhir-akhir ini. Emh, maksud Bunda ... bagaimana dengan Mbak Septi? Apakah dia baik dan menyenangkan?" tanya Rumanah sembari menaikkan kakinya pada ranjang. Ia rebahan di samping putri sambungnya itu.


"Eeemmmmmh, itu...." Sandrina tampak seperti sedang berpikir keras. Bola matanya yang hitam itu menatap langit-langit kamarnya.


Ya, selama beberapa hari ini Sandrina memang terlihat sudah akrab dengan pengasuhnya itu. Sebenarnya awalnya gadis kecil itu menolak. Ia merasa jika sang Bunda sudah cukup baginya. Karena sang Bunda memang selalu ada untuknya.

__ADS_1


Namun, dengan berbagai alasan, Andre dan Rumanah membujuk serta menjelaskan pada gadis kecil itu bahwa mereka perlu menyewa jasa pengasuh yang tinggal di rumah itu. Dengan kepandaian Sandrina, akhirnya gadis kecil itu pun menyetujui keinginan kedua orang tuanya.


"Berat sekali ya pertanyaan Bunda?" selidik Rumanah penuh desakan.


Gadis kecil itu menggeleng dengan cepat, menatap datar netra hitam milik Bundanya, "Tidak, Bun. Sebenarnya Mbak Septi itu baik sekali. Tapi, tidak sebaik Bunda. Pokoknya Bunda itu tidak ada duanya dan tidak ada yang bisa mengalahkan," jawabnya sembari memuji Bunda nya.


Rumanah tersenyum kecil lantas mengusap lembut puncak kepala putrinya, "Bunda tidak sedang meminta untuk dipuji seperti ini, sayang. Bunda hanya ingin jawaban jujur dari Princess. Bunda juga wajib tahu bagaimana dan seperti apa Mbak Septi itu. Jika princess ada uneg-uneg, bisa ceritakan pada Bunda, ya!" ujarnya penuh penjelasan, berharap sang putri bisa memahami.


Gadis kecil itu terdiam dan nampak mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Bunda nya itu. Hingga beberapa detik kemudian ia pun baru dapat menjawab pertanyaan dari Daddy nya.


"Dia baik, Bun. Princess senang, kok. Terima kasih ya, Bunda dan Daddy sudah mencarikan pengasuh yang baik untuk princess. Pokoknya sekarang Bunda dan Daddy harus fokus membuat adik bayi yang lucu untuk princess!" jawabnya sembari mendesak dan memaksa Bunda nya agar cepat memberikan adik untuknya.


Rumanah tersenyum lantas mengangguk, "Sama-sama, sayang. Bunda dan Daddy sangat minta maaf sekali kalau sampai saat ini kami belum bisa memberikan adik bayi untuk princess. Tapi, Mami janji, nanti akan memberikan adik bayi yang lucu dan menggemaskan untuk princess, ya!" ujarnya panjang kali lebar kali tinggi.


Sandrina mengangguk mengiyakan. Ia pun memeluk Bunda nya itu dengan manja dan penuh cinta.


❤️


❤️


❤️


Rumanah melangkahkan kakinya ke kamarnya. Ia bangun pukul enam tepat. Saat bangun, ia langsung teringat pada suaminya yang semalam tak membalas pesan darinya.


"Aku penasaran, apakah pria itu membalas pesan dariku? Atau benar-benar tak peduli dan tidak membalas sama sekali?" gumam Rumanah dengan penampilan yang awut-awutan karena baru bangun tidur.


Wanita cantik itu pun membuka pintu kamarnya, ia langsung menuju pada ranjang. Merebahkan tubuhnya kembali untuk sesaat sambil melihat gawainya yang ternyata banyak panggilan masuk ke dalam aplikasi WhatsApp nya.


Dengan cepat ia membuka pesan yang masuk ke dalam aplikasi WhatsApp nya. Sang suami ternyata membalas pesan darinya.


"**Kenapa kau selalu cantik, darling? Apa memang kau terlahir sebagai wanita cantik? Astaga. Aku bicara apa. Nyatanya, kau memang cantik dan menarik. Dan kau sudah membuatku mabuk kepayang dan merindukanmu.


Darling, aku ingin mencium bibirmu itu. Ya Tuhan! Aku tidak kuaaaaaaaaaaattt**!"


Rumanah tampak menutup mulutnya dan membulatkan kedua bola matanya penuh. Ternyata sang suami begitu kelabakan sendiri. Sejurus kemudian ia terkekeh kecil saat membaca pesan berikutnya.


"Please! Video call, ya! Aku ingin melihat semuanya. Muach! Come on, beby. Aku ingin merasakannya malam ini walau kita sedang berjauhan!"


Banyak sekali pesan yang Andre kirimkan pada istrinya. Berupa pesan suara, pesan ketikan, dan juga beberapa foto dirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Rumanah tak kuasa menahan tawa.


"Hahaha! Dasar pria mesum! Bisa-bisanya dia berpikir melakukannya walau sedang berjauhan. Memangnya aku sudah gila? Hahaha," ucap Rumanah di sela-sela tawanya.


Wanita cantik itu pun mulai menggerakkan jari jemarinya, mengetik beberapa kata yang ia kirimkan pada suaminya itu. Selepas membalas pesan suaminya, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Sepertinya hari ini suamiku pulang. Oh ya, sudah lama aku tidak melayani suamiku. Sekarang, sudah mau dua bulan setelah aku keguguran. Emh, sepertinya aku punya ide bagus. Aku akan memberikan hadiah pada suamiku nanti malam kalau dia pulang. Tentunya hadiah yang sangat dia inginkan," ucap Rumanah saat ia telah selesai mandi. Menatap pantulan wajahnya di cermin.


Ya, Rumanah dan Andre memang sengaja dan harus libur melakukan pergulatan di atas ranjang karena Rumanah waktu itu masih masa pembersihan rahim. Tentunya ia menunggu sampai empat puluh hari. Dan saat ini, sudah empat puluh hari lebih setelah Rumanah mengalami keguguran.


Seperti yang ia lakukan di pagi-pagi biasanya, wanita cantik itu akan menyiapkan sarapan untuk putri kecilnya. Ya, walaupun sudah ada Septi, tapi ia tidak mau melupakan kewajibannya sebagai seorang Ibu. Tidak semua pekerjaan harus dilakukan oleh pengasuh dan para pembantu di rumahnya. Begitu pikir Rumanah.


"Sep, aku akan ikut mengantar dan menemani princess ke sekolah, ya," ucap Rumanah pada pengasuh putrinya yang sedang menyiapkan bekal.

__ADS_1


"Pasti Bunda kesepian, ya? Hehehe," ledek Septi yang sudah akrab dengan majikannya itu.


Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk, "Terkadang, sih. Sebenarnya aku juga lagi mikir-mikir, ini. Selama aku belum punya beby, masa setiap hari aku akan seperti ini. Diam di rumah tak ada kerjaan. Paling mengobrol dengan Omma dan Oppa. Kalau tidak, menonton drama Korea atau membaca novel online. Hmmm, sangat membosankan sih sebetulnya. Tapi ... mau bagaimana lagi, ya," celotehnya panjang kali lebar kali tinggi.


Rumanah menyuarakan kejenuhannya selama menjadi seorang istri. Ah tidak-tidak. Maksudnya selama tugasnya diambil alih oleh pengasuh Sandrina yaitu Septi. Tentunya dia memang tidak ada kegiatan lain selain diam di rumah menunggu putri dan suaminya pulang.


"Ya itu lebih enak to, Bun-Bun. Kalau saya jadi Bunda, saya pasti akan senang sekali. Tidak melakukan pekerjaan apa-apa, bisa santai-santai, bisa happy-happy. Beuh! Pokoknya enak banget deh!" balas Septi yang malah tidak memberikan saran apa-apa. Ia malah membayangkan dia jadi Rumanah.


Rumanah tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak kecil, "Ck!" decaknya sambil mendudukkan bokongnya di kursi depan meja makan. Kebetulan kedua mertuanya belum ada di sana.


"Sekarang kau bisa bicara seperti itu, Sep. Tapi jika kau benar-benar menjadi seperti aku ... pasti kau bosan juga!" seloroh Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Hehehe, mungkin juga ya, Bun." Septi malah nyengenges tanpa dosa.


°


°


°


Seperti yang Rumanah ucapkan pada Septi, ia benar-benar ikut mengantarkan putrinya ke sekolah. Ia juga setia menunggu di sana, persis seperti saat ia menjadi pengasuh si cantik Sandrina dan saat sebelum ada Septi.


"Belajar yang benar ya, sayang. Bunda menunggu di luar, ya. Nanti pulang sekolah, kita akan pergi ke pameran, ya!" ucap Rumanah pada putri kecilnya sebelum masuk kelas.


Sandrina mengangguk seraya tersenyum ceria, "Horeee! Bunda janji, ya!" desaknya.


"Ya, Bunda janji. Tapi kalau tidak ada halangan, ya!" jawab Rumanah sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.


Sandrina mengangguk mengiyakan. Setelah selesai, gadis kecil itu pun masuk ke dalam kelasnya. Sementara Rumanah dan Septi duduk di tempat menunggu.


"Kenapa whatsapp suamiku belum aktif juga, ya? Apakah pria itu lupa membaca charger?" gumam Rumanah dalam hati.


Saat ia membalas pesan suaminya tadi, ternyata whatsapp suaminya sedang luring. Ia pikir gawai suaminya itu sedang low batery. Tapi, kenapa lama sekali.


"Mbak, benar Bundanya Sandrina?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Rumanah dan Septi.


Rumanah mengangguk, "Ya, benar. Ada apa, ya?" jawabnya seraya menatap heran pada pria di hadapannya itu.


"Kebetulan sekali, itu ada yang mencari Anda di depan," kata pria itu.


Rumanah tampak mengerutkan dahinya, "Yang mencari saya? Siapa, ya?" tanyanya.


"Sebaiknya saya saja yang menemuinya, Bun," ucap Septi mengambil alih.


"Ah, tidak usah, Sep. Kamu tunggu di sini saja, ya. Mungkin kirimannya si Daddy kali," ujar Rumanah sembari beranjak dari duduknya.


Wanita cantik itu pun melangkahkan kakinya ke depan, sesuai dengan apa yang pria tadi katakan padanya. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Ia tampak mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Memutar tubuhnya dan mencari sosok yang mencarinya tadi. Namun, benar-benar tidak ada.


Hingga pada saat itu...


"Hah? Apa ini? Aaaaaa!" pekik Rumanah saat tiba-tiba dua pria berdiri di hadapannya dan satu orang di antaranya menangkap tubuhnya lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2