
Rumanah menatap datar wanita yang memakai seragam tahanan di hadapannya. Ia merasa jika wanita itu sedang bingung dan malu untuk bicara. Sekian menit berlalu, wanita itu masih saja diam tanpa kata. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh wanita yang memakai seragam tahanan itu. Namun, sepertinya Rumanah yang harus mengambil kesimpulan. Ia tidak mau hanya diam bagaikan patung dan membuang-buang waktu di sana. Namanya juga orang yang sudah berbuat salah, kemudian dia terbukti salah, ingin minta maafnya juga pasti malu ya, 'kan.
"Ehem!" Sejurus kemudian Rumanah pun mendehem membuyarkan lamunan setiap orang di sana.
Lama-lama ia merasa keram juga berhadapan dengan wanita yang sudah berusaha membunuhnya. Setelah beberapa bulan dari kejadian yang nyaris melayangkan nyawanya, baru hari ini Rumanah kembali bertemu dengan wanita rubah itu.
Sudahkah Rumanah melupakan kejadian itu? Melupakan apa yang Luna lakukan padanya? Tentunya tidak! Rumanah tidak mungkin mudah melupakan apa yang sudah Luna lakukan padanya. Benci, itu sudah wajar. Apalagi yang menjadi korban atas perbuatan Luna adalah janin uang dikandungnya. Tentu saja hal itu sangat sulit untuk Rumanah lupakan.
Andre menolehkan wajahnya pada istrinya. Menatap penuh selidik dan tampak penasaran dengan apa yang akan istrinya lakukan.
"Tidak mungkin kau akan mengamuk di sini, darling. Kau terlalu jelek jika harus mengamuk dan mencaci wanita ini. Tapi, dapat kulihat jika kau begitu menyimpan semua rasa yang bersarang di dalam benakmu. Kau memang hebat, darling!" ucap Andre di dalam hati.
Sementara itu Luna tampak mengusap wajahnya lalu menatap sang putri kecilnya yang hanya diam dan menatapnya datar. Tidak ada kehangatan yang terpancar di wajah cantik gadis kecil itu. Mungkin memang benar, princess Sandrina sudah menganggap jika Mommy nya sendiri adalah orang jahat. Tapi, alangkah kasihan sekali Luna jika putrinya benar-benar menganggapnya sebagai orang jahat.
"Sepertinya sudah lima belas menit kita berada di sini, hubby. Jika tidak ada yang ingin bicara, lebih baik kita pulang saja. Tak ada gunanya hanya membuang-buang waktu seperti ini," ucap Rumanah penuh sindiran.
Andre mengangguk kecil mengiyakan. Ia masih menatap penuh selidik pada istri cantiknya itu. Sementara Luna kini tampak gusar dan ketar-ketir. Ia sangat ingin meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada ketiga orang di sana, terutama pada Rumanah yang sudah hampir meregang nyawa akibat perbuatannya itu. Namun rasanya lidahnya itu begitu kaku dan kelu.
"Bunda mau pulang?" tanya si cantik Sandrina sembari menatap penuh tanda tanya pada Bunda nya.
Rumanah tersenyum kecil lantas mengusap wajah cantik putri sambungnya itu, "Jika tidak ada yang ingin bicara, maka Bunda akan pulang saja," jawabnya kembali menyindir.
Luna mendongakkan wajahnya dan mengusap wajahnya kasar, "Tidak, jangan pulang dulu sebelum kau mendengar ucapanku," ucapnya sembari meremas jari jemarinya.
Rumanah menatap sinis pada wanita di hadapannya, "Silakan," balasnya singkat.
"Mommy mau minta maaf? Mommy Menyesal?" tiba-tiba si cantik Sandrina bertanya demikian pada Mommy nya. Hal itu membuat Rumanah dan Andre tampak membulatkan mata dan saling beradu pandang.
"Sumpah! Smart ini anak gue!" desis Andre di dalam hati.
"To the point. Princess memang detektif yang hebat," ucap Rumanah di dalam hati.
Luna melongo sembari menatap tak percaya pada putri kecilnya itu. Ia benar-benar tak menyangka jika Sandrina akan bertanya seperti itu padanya. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan jika ternyata putrinya itu memiliki pemikiran luas dan perkiraan yang sangat tepat sasaran.
"Kecerdasan Daddy nya nyangkut juga pada anaknya ini. Ck, anak ini ternyata benar-benar cerdas." Luna pun ikut bermonolog dengan hati dan pikirannya.
Andre mengacak gemas puncak kepala putrinya. Sebenarnya ia gemas dan rasa ingin tertawa lepas, tapi ia harus menahannya agar Luna tidak tersinggung dan tentunya tidak mengganggu yang lainnya.
"Emh, benar yang princess katakan. Sebenarnya Mommy ingin minta maaf pada princess dan pada—" Luna belum selesai bicara, tiba-tiba saja sipir yang menunggunya kini menyela ucapannya tanpa kompromi.
"Waktu Anda sudah habis, Bu Luna. Sudah dua puluh menit Anda berada di sini. Sekarang, ikut saya kembali ke sel," ucap sipir yang berhasil membuat Luna tersentak kaget. Ralat, bukan Luna saja yang kaget, Rumanah dan Andre juga ikutan kaget.
"Astaga, cepat sekali. Tapi aku belum selesai, Bu." Luna tampak memelas pada sipir yang menunggu dirinya.
"Dari tadi Mommy diam saja. Selama dua puluh menit hanya membuat Bu polisi menghitung waktu yang tiada arti," cicit Sandrina dengan wajah datar dan terkesan jutek.
Luna tampak menelan ludahnya kasar dan menatap tak percaya pada putrinya. Ia baru menyadari jika ternyata memang putrinya itu begitu cerdas dan suka menyindir.
"Tolong berikan waktu selama sepuluh menit lagi pada kami, Bu. Dia benar-benar belum mengatakan apa-apa sedari tadi." Rumanah berkata tegas dan penuh penekanan, lebih ke jalur pemaksaan, sih.
Bu sipir melirikkan matanya pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Untuk sesaat ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Hingga pada akhirnya ia pun mengiyakan, "Baiklah. Tetapi jika sudah sepuluh menit, tidak ada kata tambah menambah lagi, ya!" ucapnya memberi penegasan.
Rumanah mengangguk dengan pasti. Sang suami yang tampak heran pun kini mulai menyerukan suaranya.
"Kenapa harus ditambah, sayang? Kau sangat ingin bicara dengannya?" bisiknya sangat pelan. Tetapi dapat didengar oleh kedua telinga milik Luna.
__ADS_1
Rumanah tersenyum santai lalu menyentuh lembut punggung tangan suami tampannya itu. Andre memang tampan, Luna saja sampai menyesal karena telah menyia-nyiakan mantan suaminya itu dan telah mengkhianati pria yang kini duduk di hadapannya.
"Aku ingin ceramah di depan dia, hubby." Rumanah menjawab dengan suara yang sangat pelan.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan tercengang mendengar ucapan istrinya, "Perlukah kita panggil Ustadz untuk mensyahadati wanita ini?" tanyanya berkelakar.
"Tidak perlu, sayang. Kau panggil saja tukang ruqyah, ya! Sepertinya dia memang harus diruqyah agar jin hitam yang ikut dengannya cepat minggat," jawab Rumanah yang tampak menahan tawanya.
Andre terkekeh kecil dan hampir saja ia tertawa terbahak-bahak. Dalam situasi seperti ini, mereka berdua masih saja menyempatkan diri untuk berkelakar. Dasar!
"Ehem," deheman Luna berhasil membuat Andre dan Rumanah menolehkan wajah dan menghentikan kekonyolan mereka.
"Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Karena waktu semakin bergulir, aku ingin mengatakan jika aku menyesal telah melakukan itu padamu, Ru–Rumanah. Aku minta maaf karena telah melukaimu. Aku juga minta maaf pada kau, Andre. Aku benar-benar merasa bersa—" belum sampai Luna menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.
"Kamu minta maaf seperti ini hanya karena kamu merasa kesepian di penjara dan akhirnya menyesal, atau karena kamu benar-benar merasa bersalah dan menyesali semua perbuatanmu?" tanya Rumanah penuh desakan.
Luna tampak tersentak kaget dan menatap kaku pada Rumanah yang terkesan menyelidikinya. Tentu saja ia merasa tegang karena sepertinya Rumanah sedang mengujinya.
"Emh, tentu saja karena aku sangat merasa bersalah padamu, Rumanah. Aku sangat menyadari kesalahanku kepadamu, kepada princess dan pada mantan suamiku. Aku ... aku ingin minta maaf pada kalian," tutur Luna panjang lebar. Ia begitu terlihat serius dan mengiba pada ketiga orang di hadapannya.
Andre yang mendengar setiap kata yang diucapkan oleh mantan istrinya itu tampak tersenyum sinis dan seperti tidak percaya. Ya, mungkin karena Andre sudah tahu bagaimana watak wanita yang pernah ia cintai itu.
"Cih! Aku benar-benar tidak yakin. Dia pasti hanya sedang berakting agar aku dan istriku iba padanya." Andre bicara di dalam hati.
Sementara itu Rumanah tampak menatap serius dan penuh selidik pada wajah dan netra hitam milik Luna. Sebenarnya ia begitu kesal dan geram pada wanita licik di hadapannya itu, tetapi sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meluap-luap. Ia berusaha menahan kekesalannya agar tidak sampai mengamuk di sana.
Mungkin berhak saja Rumanah mengamuk, mencaci, memarahi dan menjambak rambut wanita berusia tiga puluh tahun di hadapannya itu. Tapi, itu tidak akan Rumanah lakukan. Ia masih memiliki hati nurani dan harga diri.
"Jika aku tidak ingin memaafkan, kau mau apa!" Rumanah bertanya dengan wajah yang sinis.
Luna terdiam sejenak, sepertinya ia sedang berpikir keras.
"Ya, benar sekali, sayang. Mommy pasti akan semakin menyesal dan sangat bersedih. Mungkin juga Mommy akan merasa tidak tenang seumur hidup," ucap Luna membenarkan ucapan putri kecilnya itu.
Rumanah menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. Kemudian ia melirikkan matanya pada suaminya yang juga sedang menatap padanya.
"Princess sayang, Mommy kangen banget sama princess. Princess mau tidak duduk di sini," ucap Luna dengan netra berkaca-kaca. Ia menepuk pahanya, memberi syarat pada putri kecilnya agar duduk di atas pangkuannya.
Sandrina terdiam dan hanya menatap datar. Kemudian ia menatap bergantian pada Bunda dan Daddy nya. Tentu saja ia seperti ingin memberi kode pada kedua orang tuanya itu. Memberi isyarat sebuah pertanyaan, boleh apa tidak. Dan Rumanah menjawab dengan senyuman serta anggukkan. Sementara Andre pun turut mengizinkan putrinya untuk duduk di pangkuan Mommy nya.
Sandrina pun beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya mendekati Mommy nya.
"Cantiknya putri Mommy," ucap Luna memuji putri kecilnya itu.
Sandrina mengangguk lalu tersenyum. Kemudian ia pun duduk di pangkuan Mommy nya.
"Boleh Mommy cium princess?" tanya Luna sembari mengusap lembut wajah cantik putrinya.
Sandrina mengangguk, "Boleh, Mom. Cium princess gratis, kok!" jawabnya dengan kelakarnya yang berhasil membuat Luna, Rumanah dan Andre tertawa kecil mendengar ucapannya.
"Menggemaskan sekali," desis Luna yang kemudian menciumi pipi chubby putrinya itu.
Rumanah dan Andre hanya menjadi penonton di sana, mereka membiarkan Luna melepas rindu dengan putri kecilnya.
"Princess tidak marah kah pada Mommy?" tanya Luna sembari memainkan anak rambut milik putri kecilnya itu.
__ADS_1
Si cantik Sandrina menggeleng kecil, kemudian ia menolehkan wajahnya pada Bunda dan Daddy nya, "Princess tidak marah kok pada Mommy. Bunda dan Daddy bilang, kita gak boleh marah dan gak boleh benci," jawabnya yang berhasil membuat Luna tercengang.
"Ya Tuhan! Ternyata benar, aku memang kurang baik menjadi seorang ibu. Rumanah dan Andre sukses mendidik putriku menjadi anak yang baik. Aku ... aku memang tidak berguna," ucap Luna di dalam hati.
Tak terasa air mata Luna mengalir membasahi wajahnya. Ia begitu terharu dan sedih melihat putrinya yang kini berada di atas pangkuannya. Ia juga begitu sedih saat membayangkan jika dia hidup bahagia dengan putri dan mantan suaminya. Tapi, itu semua hanya bayangan dan hayalan. Nyatanya kini, mereka sudah menjalani hidup masing-masing. Mantan suaminya sudah memiliki istri yang begitu baik dan serasi dengannya. Sementara dirinya, kini hanya sedang menjalani hukuman atas segala yang telah ia lakukan.
"Maaf, waktu sudah berjalan sampai sepuluh menit, Bu, Pak. Jadi, saya harap kalian dapat mengerti." Sipir memberitahu jika waktu temu mereka sudah berakhir.
Rumanah dan Andre mengangguk tanda mengerti, tentunya mereka tidak bisa menawar dan minta menambah waktu lagi.
"Baik, Bu. Kami sudah selesai," jawab Rumanah.
Luna tampak menciumi pipi chubby putrinya dan memeluknya erat-erat. Ia begitu rindu dan seakan tak ingin berpisah lagi dengan putrinya itu.
"Ayo, princess. Kita sudah harus pulang," ajak Andre yang sedari tadi diam.
Sandrina mengangguk mengiyakan, "Mom, princess pulang dulu, ya. Nanti princess ke sini lagi jenguk Mommy," ucapnya pada sang Mommy yang masih menitikan air mata.
Luna mengangguk kecil serta tersenyum nanar, "Ya, sayang. Jangan lupakan Mommy, ya. Mommy janji, nanti Mommy akan keluar dari sini dan akan menjadi Mommy yang baik," ujarnya sembari mengusap lembut wajah cantik putrinya.
Sandrina mengangguk mengiyakan, lalu ia pun mencium pipi Mommy nya.
"Semoga kau benar-benar akan berubah," ucap Andre di dalam hati.
"Mudah-mudahan saja semua yang kau katakan bukanlah bualan semata. Aku berharap setelah ini kau menjadi wanita yang baik dan berharga," celoteh Rumanah dalam hati.
Setelah di rasa cukup, Rumanah dan Andre pun bergegas meninggalkan tempat itu. Sebelum berpisah, Luna berlutut di hadapan Rumanah dan mantan suaminya. Ia menangis sesenggukan dan meminta maaf. Tentu saja hal itu membuat Rumanah terharu dan merasa iba.
Rumanah memaafkan Luna, tapi ia tidak akan membiarkan Luna bebas dari hukumannya. Ia hanya berpesan pada Luna agar memikirkan kesalahannya dan introspeksi diri.
"Darling, kau benar-benar hebat. Bisa menyembunyikan kemarahanmu, bisa memaafkan wanita yang sudah membuat putri kita meninggal," ucap Andre saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Rumanah tersenyum kecil, "Aku hanya tidak ingin melukai hatiku sendiri, sayang. Aku mungkin bisa saja tidak dendam pada wanita itu, tapi ... untuk melupakan semua yang telah dia lakukan, tentu saja aku belum bisa. Jadi, aku hanya mendoakan yang terbaik baginya. Aku ingin dia berubah, aku ingin princess tidak selalu melihat buruk tentang Mommy nya," ujarnya panjang lebar dan penuh kebijakan.
Andre tampak tersenyum kecil dan mengusap lembut wajah cantik istrinya. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan telah memberikan jodoh yang baik pengganti mantan istrinya itu.
"Perfecto! Kau memang istri yang sempurna," puji Andre sembari menatap penuh cinta.
"Kesempurnaan itu hanya Milik Tuhan, sayang. Jadi, jangan membuatku melenceng. Hehehe," ucap Rumanah disertai cengengesnya.
Andre terkekeh dan mencubit gemas hidung istrinya, "Kau ini bisa saja! Aku bukan hanya memujimu, sayang. Tapi aku juga memuji Tuhan," ujarnya.
Rumanah manggut-manggut sambil tersenyum, "Sip lah. Yang penting jangan memuji wanita lain di hadapanku!" balasnya sembari menatap penuh ancaman pada suaminya.
Andre terkekeh lalu memeluk istrinya penuh cinta, "Tidak ada yang berhak aku puji, sayang. Kau yang terbaik dan paling terbaik," ujarnya.
"Sekarang, tugas kita apa, sayang?" tanya Rumanah disertai senyum usilnya.
Andre terdiam sejenak, "Emh, apa, yaaaaa???" jawabnya berpikir keras.
Sandrina yang duduk di depan bersama sopir tampak tersenyum dan menolehkan wajahnya ke belakang, "Tugas Bunda dan Daddy sekarang adalah ... membuat adik bayi untuk princess!" ujarnya bersorak ria.
Andre dan Rumanah saling beradu pandang dan tersenyum geli. Mereka tahu jika Sandrina memang sangat ingin punya adik. Kemarin sempat akan memiliki adik, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Dan sekarang, gadis kecil itu terus mendesak Bunda dan Daddy nya agar memberikan adik bayi untuknya.
*Tidak boleh menyimpan dendam, tapi mengingat semua kejadian dan tak melupakan, itu boleh-boleh saja*
__ADS_1
☺️☺️☺️☺️☺️☺️
BERSAMBUNG...