Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Goyangan patah-patah


__ADS_3

Masih di dalam kamar, Rumanah yang hendak mandi dan bersiap-siap melakukan aktivitas di pagi hari nampaknya sedikit tergganggu oleh suaminya yang jail dan pemaksa.


"Ayolah bangun, suamiku sayang. Sampai kapan dirimu akan membuang-buang waktu di pagi hari ini? Seperti tidak ada kegiatan saja!" Rumanah bicara dengan ekspresi yang terlihat kesal. Pasalnya, sedari tadi sang suami menahannya untuk mandi dan beraktivitas.


Andre tersenyum serta mengusap lembut wajah cantik istrinya itu. "Ini masih jam tujuh, darling. Apa yang akan kau lakukan di waktu se pagi ini? Princess pasti sudah bangun dan diurus oleh Mami. Jadi, jangan terlalu sok sibuk, istriku sayang." balasnya yang tetap menahan istrinya.


Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. Tampaknya ia pasrah dan malas berkomentar. Daripada pusing menghadapi suaminya yang manja, Rumanah pun memilih menyambar gawainya dan membuka laman sosial medianya.


"Apa yang kau lihat? Jika tidak ada yang penting, letakkan gawaimu dan pandangilah wajahku. Kau terlalu tidak sopan jika memainka gawai saat sedang bersama suamimu ini!" teguran keras dari sang suami membuat Rumanah semakin kesal.


"Ck, apa-apa salah. Malas sekali lah!" decak ya dalam hati.


Dengan pelan Andre meraih gawai di tangan istrinya. Sebenarnya tidak ada yang ingin dia lihat, namun tiba-tiba saja manik matanya menangkap sebuah pesan WhatsApp yang baru saja masuk ke gawai istrinya itu.


Klonteng!


"Pesan dari siapa, hubby? Mbak Meliza kah?" tanya Rumanah seraya hendak merebut gawainya. Namun dengan cepat Andre menghalangi dirinya. "Astaga!" desisnya.


Andre menatap intens sebuah nomor yang belum ada namanya. Ya, ternyata pesan dari nomor baru yang menghubungi Rumanah.


"Nomor baru, nomor siapa ini. Hmmm, sepertinya istriku semakin tenar dan banyak yang kenal. Sebaiknya aku buka saja pesan WhatsApp ini," ucap Andre dalam hati.


"Pesan dari siapa sih, sayang? Sini biar aku saja yang melihat. Kamu sangat tid—" Rumanah tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba terdengar dering di gawai milik Andre.


Ddrrrttt...


"Nah, handphone kamu bunyi, hubby. Sini handphone-ku!" ucap Rumanah seraya merebut gawai di tangan suaminya.


"Ah, siapa yang menelpon sepagi ini." desis Andre seraya meraih gawainya dan membiarkan Rumanah menguasai gawai miliknya sendiri.


Sementara Andre menjawab telepon masuk, Rumanah buru-buru membuka pesan WhatsApp yang masuk beberapa menit yang lalu.


"Siapa ini?" lirih Rumanah seraya menatap pesan WhatsApp di ponselnya.


"Hai, selamat pagi. Jangan lupa tersenyum ya, aku tahu kau sangat tersiksa berada dalam ancaman Luna. Tapi, tenang saja. Aku yang akan menyelamatkan dirimu. Bye."


Seperti itu pesan yang dikirim oleh nomor baru. Entah siapa?


"Hah?" Rumanah refleks membulatkan kedua bola matanya penuh dan menutup mulutnya yang menganga.


Diliriknya sang suami yang tampak terlihat serius bicara dengan seseorang di seberang sana. Entah bicara dengan siapa pria tampan itu, tapi sepertinya memang sedang membicarakan hal yang sangat penting.


Dengan pelan Rumanah turun dari ranjangnya, handphone berlogo apel kroak itu berada di tangannya.


"Sepertinya ini ... ah, mungkinkah ini kekasihnya Luna? Astaga, untuk apa dia ngechat aku kayak gini. Dan, dari mana dia tahu nomorku? Ini aneh sekali. Padahal, aku tidak menyebarkan nomorku. Hanya suamiku dan Ferhat yang memiliki nomorku." Rumanah bicara dalam hati. Kini ia duduk di sofa menghadap jendela.


Jari jemarinya ingin mengetik, tapi dia sedikit ragu. Pasalnya, dia tidak tahu siapa orang itu. Dalam beberapa menit, Rumanah masih mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Abaikan atau balas pesannya? Sungguh ia sangat bingung.


"Apa yang orang ini inginkan? Tunggu! Apa jangan-jangan Ferhat yang memberikan nomor teleponku pada orang ini? Astaga, awas saja jika itu terjadi!" cerocos Rumanah dalam hati.


Setelah mendapatkan keputusan, Rumanah pun memutuskan untuk tidak menanggapi pesan dari orang misterius itu. Tak ada nama ataupun foto profil dari nomor baru itu.


"Siapa yang menelpon, sayang?" tanya Rumanah seraya melingkarkan tangannya pada perut sixpack suaminya.


"Ssssttttt!" Andre memberi kode agar Rumanah tidak berisik dan mengganggunya.

__ADS_1


Rumanah tersenyum lalu mengangguk, tangannya yang mungil dan lentik tampak bermain di wajah tampan suaminya. Sedangkan sang suami masih berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana.


"Aku mau mandi,ya." Rumanah berbisik pada telinga suaminya sembari memainkan jari jemarinya pada dada bidang yang sedikit berbulu itu.


Andre terlonjak, bergidik dan memejamkan mata sejenak. Dasar istri nakal, mungkin begitu batinnya berucap.


"Bye!" ucap Rumanah seraya beringsut dari tempatnya.


Andre menatapnya tajam dan mengisyaratkan kekesalan juga kegemasan. Sementara sang istri tampak tersenyum usil dan berlalu meninggalkan suaminya yang sedang sibuk dengan lawan bicaranya entah siapa orangnya.


Beberapa menit kemudian, Rumanah sedang berendam di dalam bathub berisi air hangat. Tak lama setelah itu, sang suami menyusul ke dalam.


"Darling, kenapa kau usil sekali, hah?" semprot Andre seraya meloncat masuk ke dalam bathub yang sudah diisi oleh mermaid cantik yaitu Rumanah.


Rumanah terlonjak kaget, ia lupa tidak mengunci pintu kamar mandi tadi. Sudah dapat ditebak jika sang suami akan menghukumnya habis-habisan. Astaga!


"Kenapa kamu masuk sih, sayang. Sudah tahu aku lagi mandi. Mau ganggu, ya? Sorry, ya. Aku gak akan terganggu. Ingat ya, hari ini pernikahan Mbak Meliza. Dia akan menikah pukul sembilan, sementara sekarang sudah pukul setengah delapan. Sebaiknya Anda bergegas mandi juga, sayang. Jangan membuang-buang waktu," cicit Rumanah yang tampak cuek pada suaminya. Tangannya sibuk membaluri tubuhnya dengan sabun.


"Lho, ini kok airnya hangat, darling? Apakah kau sakit? Tumben sekali tidak memakai air dingin." alih-alih menjawab, Andre malah mengalihkan pada yang lain.


Rumanah membuang napasnya kasar. "Ya, mahkota saya yang sakit." jawabnya malas-malas.


Andre terlonjak kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "What? Kenapa? Apakah mahkotamu terluka? Astaga, aku minta maaf. Tapi, sepertinya aku menginginkannya lagi. Ka belum lupa bukan pada goyangan patah-patah yang kau katakan beberapa menit yang lalu?" ucapnya antusias.


"Astaga, jangan aneh-aneh, deh! Kita pasti akan hadir di acara pernikahan Mbak Mel, 'kan?" seloroh Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


Andre mengangguk mengiyakan.


"Ya sudah, jika begitu, ayo kita mandi, kenapa Anda masih diam dan membuang-buang waktu! Sebentar lagi jam delapan, lhoooo." wanita cantik itu tak henti mengoceh dan mengomel ria. Tangannya masih sibuk pada tubuhnya sendiri.


Andre tersenyum manis dan menangkap tangan mungil istrinya. "Santai, aku pernah menikah. Biasanya akan sedikit ngaret. Jadi, kita tidak akan terlambat barang sedikit pun!" ucapnya dengan enteng dan santai.


"Ayolah sayang, tunjukkan padaku bagaimana kau bergoyang patah-patah. Ah, aku tidak sabar menantikannya." Andre mendesak. Tanpa ragu ia menarik tubuh istrinya agar menindihnya.


"Astaga, sudah berapa kali aku katakan jika aku tidak bisa. Aku hanya bercanda dalam hal itu. You know bercanda? Beeercaaandaaaaa!" sosor Rumanah dengan kekesalannya yang Haqiqi.


Dengan sebal wanita cantik itu bangkit dari tempatnya dan keluar dari bathub. Berjalan pelan menuju shower lalu mengguyur tubuhnya di sana.


"


Andre mengusap lembut wajah cantik istrinya. Tergurat tegang di wajah itu, namun hal itu tidak jadi masalah bagi Andre. Siapa pun Rumanah, dari mana pun asalnya, ia akan tetap mencintai istrinya itu.


"Darling, coba sini aku bisikin," ucap Andre seraya mendekatkan wajahnya pada telinga istri cantiknya itu.


"What happened?" tanya Rumanah sedikit ragu.


"Not a big problem, darling." Andre menjawab dengan senyuman usilnya.


Rumanah menggeleng kecil dan sedikit menghindari. "I'm very scared and curious!" ucapnya.


(Aku sangat takut dan penasaran)


"Bahasa inggrismu sangat luwes, darling. Since when are you taking lessons?" (Sejak kapan kau kursus)


Rumanah terdiam sejenak dan tersenyum kaku. "Ini gawat, aku lupa jika aku masih harus terlihat bego. Astaga!" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"What do you think, darling?" tanya Andre penuh selidik.


Rumanah menggeleng kecil. "No!" jawabnya.


"What?" desak Andre.


"Emh, itu ada sarang, hubby." Rumanah berkata sembari menunjuk pada langit-langit kamar mandi.


Refleks Andre mendongakkan wajahnya dan menatap objek yang istrinya tunjuk. "Sarang apa, darling?" tanyanya.


Rumanah tersenyum. Ditangkapnya wajah tampan suaminya. "Sarang ... heooooo!" ucapnya seraya menunjukkan jari jemarinya yang membelit membentuk love. Ia tersenyum manis dan menawan.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tidak mengerti. "Apa ini?" tanyanya dengan tatapan heran.


Rumanah terkekeh dan menepuk kesal dada bidang suaminya. "Ini adalah cinta, hubby. Hi hi hi," ucapnya disertai tawa kecilnya.


"Hah? Cinta? Kenapa cinta bisa sekecil ini?" tanya Andre seraya menangkap tangan mungil istrinya.


Rumanah tak berhenti tertawa. Ia sungguh geli melihat ekspresi suaminya yang tampak penuh keheranan.


"Kamu pernah nonton drama Korea gak?" tanya Rumanah dengan tawa yang sedikit tertahan.


Andre menggeleng. "No!" jawabnya.


"Ha ha, pantas saja kamu nggak tahu. Ya sudah itu tidak penting, sekarang hubby mandi gih. Aku sudah selesai," ucap Rumanah seraya melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya.


Andre tersenyum kecil. Bukan Andre namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Jangan lupakan goyangan patah-patah, darling!" ucap Andre seraya menangkap tubuh istrinya lalu membawanya ke bawah shower kembali.


"Argh, apa yang Anda pikirkan? Aduh! Sudah lupakan soal patah-patah. Karena aku benar-benar tidak tahu, astaga!" cicit Rumanah berusaha keras menghalangi suaminya.


"No no no! Apa yang keluar dari mulutmu maka harus kau lakukan!" tegas Andre penuh penekanan. Pria tampan itu tampak merentangkan kedua tangan istrinya dan menekannya pada dinding.


"Aaaaaaa! Apa yang Anda lakukan, astaga! Saya sudah kedinginan. Hwww!" pekik Rumanah minta ampun.


"Kau kedinginan, maka aku yang akan menghangatkanmu, sayang." Andre bicara sembari mengendus-enduskan hidungnya.


"Ya ampun, ini bukan saatnya, hubby!" sanggah Rumanah seraya menghalangi suaminya.


"Ketika aku menginginkannya, maka di mana dan kapan pun, tetap menjadi waktunya!" tegas Andre penuh paksaan.


Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya berat. "Anda ingin saya goyang patah-patah?" tanyanya.


Andre mengangguk. "Yes, i want!" jawabnya semangat.


Rumanah tersenyum tipis lantas mengangguk. "Baik, kalau begitu bersiaplah. Jangan salahkan saya kalau Anda mengalami patah tulang. Astaga!" cicit Rumanah yang tampak kesal setengah mati.


Andre terkekeh kecil mendengarnya. "He he he, aku masih kuat perkasa, darling. Tidak mungkin sampai patah tulang. Tapi, mendengar hal itu membuatku semakin tertantang. Dan, sebaiknya jangan banyak bicara. Sekarang waktunya kau berikan goyangan patah-patah untukku." ucapnya penuh desakan.


Rumanah terdiam pasrah dan malas lagi untuk menolak.


"Emmmh!" Rumanah bergumam.


"Bagaimana? Apakah hubby sudah siap?" tanya Rumanah dengan senyuman genitnya.

__ADS_1


Andre tersenyum serta mengangguk. "Siap, goyang patah-patah." jawabnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2