
Andre menghempaskan bobot tubuhnya di atas ranjangnya. Senyumnya mengembang saat ia mengingat wajah kesal pengasuh putri cantiknya itu. Sejak kejadian sebelum operasi itu, Andre memang sering menggodai dan mengusili pengasuh putri cantiknya itu. Sehingga hal itu membuat Rumanah selalu mendengus kesal dan ngeromet bagaikan burung beo. Dan sekarang, wajah kesal Rumanah tampak membuat Andre gemas dan nyaris ingin melihatnya lagi.
"Ternyata kau banyak bicara dan pemberani juga, Annabelle," ucap Andre seraya menatap kosong langit-langit kamarnya. Seketika bayangan tubuh bug*il Rumanah kembali menari-nari di dalam pikirannya. Dan hal itu semakin membuat duda tampan itu uring-uringan dan ingin melihatnya kembali. Ternyata, ucapan Rumanah bukan hanya sekedar ancaman, namun menjadi kenyataan.
"Aaaiishhhh, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku memikirkan gadis desa itu. Oh ya ampun, sudah seperti pengangguran yang tidak memiliki kesibukan saja kau, Andre! Bisa-bisanya kau menyempatkan diri untuk memikirkan gadis desa itu." racau Andre seraya beringsut dari tempatnya.
Merasa penat dan gerah, duda tampan itu pun akhirnya berjalan ke kamar mandi lalu merendam dirinya di dalam.bathub. Setelah itu, entah apa lagi yang duda tampan itu lakukan di dalam. Mungkin saja meraih shampoo lalu mengocok mister penpen miliknya sembari membayangkan tubuh mungil dan montok milik Rumanah. Ah, entahlah!
Sementara itu, Rumanah tampak melangkah dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar asuhannya yang sangat menyayanginya itu. Bayangan wajah ceria princess Sandrina tampak sudah bergelayut manja di dalam pikirannya.
"Selamat sore, dewi peri datang." ucap Rumanah saat ia membuka pintu kamar asuhannya.
Sontak saja yang berada di dalam kamar menolehkan wajah mereka masing-masing dan bersorak ria saat melihat siapa yang datang.
"Dewi periiiii!" Sandrina meloncat dari ranjang dan langsung berlari menghampiri pengasuhnya itu. Seperti biasa, gadis kecil itu akan langsung memeluk hangat pengasuhnya yang baru saja kembali setelah tiga hari menjadi penghuni rumah sakit.
"Rumanah, selamat datang kembali." sorak Meliza yang juga beranjak dari duduknya lalu melangkah menghampiri gadis desa itu. Sekretaris cantik itu menyambut kedatangan Rumanah dengan meniup terompet kecil yang menyemburkan saweran-saweran plastik gemerlapan. Tentu saja hal itu membuat Rumanah merasa senang dan tersanjung.
"Oh astaga, ini dia yang sudah kita tunggu-tunggu sedari tadi." timpal Ferhat yang ternyata telah hadir dan menanti kedatangan Rumanah ke rumah itu. "Selamat datang, Rumruuuuuum!" sorak pria tampan itu seraya menangkap tubuh Rumanah lalu menggendongnya tanpa minta izin terlebih dahulu.
"Aaaaaaaaa! Ferfer, apa yang kau lakukan?" pekik Rumanah yang sangat terkejut saat Ferhat berputar sembari menggendongnya. Tentu saja hal itu membuatnya sedikit merasa takut.
"Ini sambutan yang meriah untukmu, Rumrum." jawab Ferhat yang masih berputar.
"Oh Ya Tuhan, kau membuat kepalaku pusing delapan keliling, Ferfer." sungut Rumanah.
"Ha ha ha ha ha, tujuh keliling, Rumanah." sosor Meliza.
"Ha ha ha ha, itu maksud saya, Mbak Mel." balas Rumanah.
__ADS_1
"Ha ha ha ha, gokil!" Ferhat tertawa dan menghentikan putarannya.
"Yeaaay, akhirnya dewi peri kembali berkumpul bersama kita. Horeeeeee!!!!" sorak Sandrina seraya meloncat dan meniup terompet kegirangan.
"Yeeaaaaaayyyyyy!!!!" timpal Meliza dan Ferhat.
Meliza kembali meniup terompet, sementara Ferhat kembali berputar. Kehebohan itu terjadi berlangsung cukup lama, sehingga hal itu membuat mereka tidak menyadari kehadiran seorang duda tampan yang sedang mematung di ambang pintu.
"Astaga, apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa seperti sedang memeriahkan pesta rakyat." ucap Andre seraya menatap syok pada keempat orang yang sedang merayakan kebahagiaan mereka.
"Ehem!" Andre mendehem, namun hal itu tidak membuat keempar orang di sana sadar dan peduli padanya.
"Astaga, mereka tidak menyadari kedatanganku." desis Andre seraya melipat tangannya di dadanya.
"Ehem, hem hemm heeemmmmm!" kembali Andre mendehem. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Untung saja tidak ia beri nada seperti Nise Sebyen. Hi hi.
Tetap saja, dehemannya sia-sia. Keempat orang itu masih asyik dengan kegaduhan mereka. Ferhat yang asyik menggendong Rumanah seraya berputar dan sesekali menari. Dan Meliza dengan Sandrina, masih asyik meniupi terompet yang menyemburkan sampah di kamar itu.
"Woyy woy wooooyyyyy!" Andre menggedor pintu seraya berwoy woy.
"Astaga, Pak Andre." ucap Meliza yang tampak tersentak kaget.
"Hai, mantan Abang ipar." ucap Ferhat yang masih menggendong Rumanah. Kuat sekali pria muda itu.
"Daddy, sini masuk, ayo kita bergembira menyambut kedatangan dewi peri." si cantik Sandrina mengajak Daddy nya untuk ikut menghebohkan kegembiraan mereka.
Rumanah tersenyum kecil saat Andre melemparkan tatapan tajamnya.
"Cih, dia tersenyum begitu. Bangga ya, bisa digendong oleh Ferhat." desis Andre dalam hati.
__ADS_1
Andre mengusap wajahnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar putri cantiknya. "Hng, kalian sudah macam aktor dan aktris India yang sedang beradu akting di film romantis, Ferhat, Annabelle." cicit duda tampan itu seraya menatap tajam pada pengasuh putri cantiknya.
Rumanah tersenyum kecil, sementara Ferhat tampak terkekeh.
"He he he, tentu saja, Bang. Namun sayangnya, aktris India nya terlalu bantet dan terlalu kurang tinggi. Ha ha ha ha ha ha!" ucap Ferhat di iringi tawa ngakaknya.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan mengerucutkan bibirnya kesal. Sementara Meliza dan Sandrina tampak tertawa renyah mendengar kelakar Ferhat. Dan Andre, hanya tersenyum kecil melihat wajah kesal Rumanah.
"Turunkan aku!" pinta Rumanah dengan ekspresi kesalnya.
"Ha ha, kau tidak boleh ngambek, Rumrum. Karena kami sudah bersusah payah menyambut kedatanganmu." ucap Ferhat seraya menurunkan Rumanah dari gendongannya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Menyebalkan!" dengusnya kesal.
"Ha ha ha." Ferhat tampak masih tertawa. Sedangkan yang lain sudah berusaha menghentikan tawa mereka.
"Sudah, Uncle!" pinta Sandrina yang berhasil membuat Ferhat menghentikan tawanya.
"Ada apa, princess?" tanya Ferhat seraya mengusap matanya yang berair karena terlalu ekstream tertawa.
"Jangan tertawa lagi, kasihan dewi peri." ucap Sandrina penuh penekanan.
Ferhat tersenyum kecil, sementara Rumanah tampak tersenyum lebar karena dibela oleh asuhannya itu.
"Oh, begitu. Siap laksanakan, princess." jawab Ferhat seraya memberi hormat pada keponakannya.
"Cepat minta maaf!" perintah Sandrina.
"What? Kenapa Uncle harus minta maa?" tanya Ferhat yang nampak tak mengerti.
__ADS_1
"Karena Uncle telah melakukan kesalahan dan melukai hati dewi peri. Kata dewi peri, kalau kita membuat kesalahan, maka kita harus meminta maaf. Jadi, cepat minta maaf pada dewi peri!" jawab gadis kecil itu yang berhasil membuat Andre terjingkat dan terpukau.
***