
Warning : Terdapat beberapa adegan yang harus dihindari bagi kalian yang belum cukup umur dan bagi yang belum memiliki suami atau istri.
______________
Suasana pagi, pagi yang sangat membuat seorang gadis desa yang manis itu merasa hidupnya akan berkahir di pagi itu. Gemericik air hujan yang mampu tertangkap oleh indera pendengarannya begitu membuat suasana semakin terkesan menyejukkan. Ya, baru saja hujan yang turun dari langit berhasil membasahi bumi. Kebetulan, jendela kamar duda tampan itu sedang terbuka lebar-lebar saat itu. Ya, Andre memang selalu membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamarnya.
Kala hati ingin menjerit, gemericik hujan menyejukkan hati. Kala jiwa ingin berontak, angin pagi seakan memintanya untuk menolak. Bagaikan seorang budak di zaman penjajahan dan di zaman jahiliyah. Dua kaki terikat kuat, dua tangan pun tak mampu menolongnya. Kesulitan ini, begitu membuat seorang gadis yang manis itu semakin tertekan dan seakan pasrah pada kenyataan.
Tak ada tenaga lagi yang ia keluarkan, setelah beberapa saat gadis desa itu berontak dan berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan majikan galaknya itu, gadis desa yang mungkin sedang malang itu kini tampak pasrah dan berdiam diri seraya menatap rintik hujan yang membasahi bumi.
Hujan, mungkin salah satu tanda bahwa seorang gadis yang manis itu sedang dalam zona kesedihan. Entah sedih yang seperti apa, sungguh hanya gadis desa itulah yang dapat merasakannya.
"Apakah kau masih ingin berontak dan berusaha melepaskan diri?" tanya seorang pria dewasa yang sedang menatap tajam pada gadis desa itu.
Rumanah menggeleng. Tak dapat ia ucapkan sepatah kata pun pada majikan galaknya itu. Lisan dan hatinya nyaris tidak dapat berinteraksi.
"Kau sangat menggemaskan dan membuatku penasaran, Annabelle." duda tampan itu mengusap wajahnya dan melum*at bibirnya sendiri. Dan jujur, Rumanah sangat terpesona melihat ketampanan majikan galaknya itu.
"Tuan, sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan? Saya—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Andre menyelanya.
"Sepertinya kau sangat penasaran dan tidak sabaran, Annabelle." ucap duda tampan itu yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu, Tuan." elak gadis desa itu.
Andre tersenyum usil serta mendudukkan bokongnya di samping pengasuh putrinya yang juga sedang duduk di sana. Dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat, gadis desa itu tampak lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Annabelle," ucap Andre setengah berbisik pada telinga Rumanah. Dan, argh! Hal itu membuat Rumanah merasa geli dan merinding.
"Ya, Tuan? Jangan membuang-buang waktu yang sangat berharga. Mungkin di bawah sana putri Anda sedang menunggu untuk segera berangkat ke sekolah. Dan mungkin saja di perusahaan Anda, seseorang yang sangat bermanfaat bagi kesejahteraan perusahaan Anda sedang menunggu kedatangan Anda. Jadi, sebaiknya sekarang lepaskan saya dan mari kita mulai beraktivitas di pagi hari yang dingin karena terpaan hujan ini." ujar Rumanah panjang lebar.
Andre tersenyum kecil dan begitu gemas pada gadis desa yang ternyata memiliki bibir yang mungil dan tipis. "Kau sudah pintar bermonolog sekarang, Annabelle." ucap duda tampan itu seraya mencubit gemas dagu pengasuh putrinya yang nyaris berbentuk seperti apel. Sedikit bulat namun lancip dan terdapat belahan di ujung dagunya kala ia sedang bicara atau tersenyum.
Ternyata, banyak keistimewaan yang ada dalam tubuh gadis desa itu. Namun, tak banyak orang yang tahu. Sebab, Rumanah tak pernah menonjolkan keistimewaannya. Istimewanya Rumanah, sampai-sampai hal itu membuat Andre tak ingin melepaskan kesempatan emas ini. Di mana air hujan menjadi peran utama yang membuat suasana erotis dan sensual semakin tercipta di sana.
Rumanah menyunggingkan senyuman tipisnya. Sejujurnya ia sangat senang karena sang majikan galak yang tempo hari begitu sering memalingkan wajahnya dan memarahinya, kini seolah tertarik padanya. Namun, tidak berhak bagi Rumanah untuk terlalu percaya diri. Mungkin saja, gadis desa itu hanya menjadi santapan duda tampan itu di saat sedang bosan.
Duda tampan itu menatap wajah manis Rumanah yang berpaling darinya. Seketika, denyut di jantungnya semakin menjadi kala ia melirik pada sebuah objek yang bernama bibir. Bibir ranum itu... mungil, tipis, serta berwarna merah muda. Nyaris alami tanpa polesan liptin.
"Annabelle," panggil majikan galak itu dengan suara yang lembut.
Rumanah menoleh dan menatap wajah tampan majikan galaknya. "Ya?" ucapnya.
Andre tersenyum seraya menatap lekat wajah manis gadis desa itu. Sementara Rumanah pun tampak tak berpaling dari menatap wajah tampan majikan galaknya itu. Ya, Andre memang tampan. Seluruh dunia pun pasti mengakui itu. Dan, wanita normal mana yang tidak gemetar dan terpaku saat duda tampan nan gagah itu mendekatkan wajahnya pada wajah...
__ADS_1
"Dag dug, dag dug." jantung Rumanah berdugem tiada henti. Wajah tampan Andre semakin mendekati wajahnya. Manik matanya yang hitam pekat nyaris terpacu untuk terpejam.
"Ada apa dengan jantungku?" ucap Rumanah dalam hati.
"Cupppp!!!"
Sebuah kecupan manis berhasil mendarat pada bibir ranum Rumanah. Ah, dengan manisnya Andre mencium bibir tipis itu. Dan sang pemilik bibir tampak terpaku serta menatap penuh harap pada sang pencium itu.
"Hah, dia mencium bibirku? Ada apa ini? Ada angin dari mana? Astaga, kenapa jantungku? Kenapa hatiku? Kenapa semua orang tidak ada di hadapanku. Ah, kenapa aku hanya melihat majikan galak ini di hadapanku? Dan kenapa aku ingin melakukan lebih? Aaaaaaaah, aku harus bagaimana? Bahagia atau bersedih?" cerocos Rumanah dalam hati.
Andre tersenyum kecil. Melihat Rumanah yang diam saja dan nyaris terlihat pasrah, membuat Andre semakin beranu dan semangat. Hingga tanpa Rumanah duga sebelumnya, majikan galak itu kembali mendaratkan bibirnya pada bibir ranum gadis desa itu.
Seketika Rumanah terpejam, menerima kecupan manis yang majikan galaknya berikan padanya. Namun, kali ini tidak hanya mencium dan mengecup. Tetapi, majikan galak itu berusaha menghisap serta melum*at bibir ranum yang sungguh lezat dan manis rasanya. Tentu saja lezat dan manis, karena duda tampan itulah orang pertama yang menikmati bibir ranum gadis desa itu.
"Uuuuh, apa ini? Ciuman bibir? Astaga, kenapa aku diam saja? Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku sangat senang mendapatkannya." ucap Rumanah dalam hati.
"Gila, rasanya enak sekali. Manis dan begitu lezat. Apakah gadis desa ini tidak pernah melakukan ciuman? Astaga, bahkan dia diam saja tanpa membalas luma*tanku." ucap Andre dalam hati.
Andre terus melum*at serta menghisap bibir ranum yang hanya diam saja. Tentu saja Rumanah tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa. Pasalnya, gadis desa itu memang tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Dan kini, kenapa rasanya gadis desa itu tidak ingin mengakhiri permainan itu?
Oh indahnya. Dalam suasana pagi yang dingin diguyur hujan, keringnya jiwa yang merana seakan telah basah oleh siraman bibir yang majikan galaknya berikan.
__ADS_1
***
Makin gemes deh! Kira-kira, setelah ini Rumanah bakalan menyesal gak ya?