
"Sialan lo jala*ng!" teriak Sherly sambil mengangkat tangannya hendak menampar Fajira.
Ibu hamil itu langsung mengangkat tangan berharap bisa menangkis tangan jahanam itu mendarat di pipinya. Beruntung Irfan datang lebih cepat dan megang tangan Sherly dengan sangat kencang, sehingga membuat empunya meringis kesakitan
"sa-sakit!" ringis Sherly ketika merasakan cengkraman tangan itu semakin kuat.
"Mas!" pekiknya ketika melihat siapa yang tengah memegang tangannya.
"Mas, Sakit!" ringisnya kembali.
Irfan segera menghempaskan tangan itu dengan kasar dan membuat Sherly hampir saja terjatuh, beruntung ia masih berpegangan pada meja yang ada di sana.
"kau!" tunjuk Irfan di depan wajah Sherly menggunakan tangan kirinya.
"apa kau tidak mengerti bahasa manusia, hah?" Bentak Irfan dengan sadis.
"Mas" lirih Sherly pucat pasi karna takut melihat ekspresi wajah Irfan yang sudah sangat merah karna amarah yang membuncah ingin segera di lampiaskan.
"Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu! Mulut kau tidak pantas memanggil saya seperti itu!" Sarkas Irfan.
"Mas, sudah!" lirih Fajira menarik tangan Irfan yang hendak berjalan mendekat ke arah Sherly.
"Sayang, kamu gak papa kan?" tanya Irfan ketika menyadari Fajira masih berdiri di belakangnya.
Irfan meneliti bagian tubuh Fajira, berharap tidak ada sedikitpun luka atau goresan terlihat pada tubuh indah istrinya.
"basah? apa kamu di siram oleh dia?" sorot mata yang tengah di selimuti amarah itu berusaha di kendalikan oleh Irfan agar tidak menatap istrinya dengan tajam.
Ia segera membuka jaket yang sedang di gunakan dan memakaikannya ke pada Fajira. Perlakuan Irfan terhadap istrinya membuat seisi restoran mendadak iri. Bagaimana tidak, baru saja ia membentak seseorang, namun masih bisa berperilaku lembut kepada istrinya. Mereka semakin berteriak gemas ketika melihat Irfan mengecup kening dan perut Fajira satu persatu.
"kamu duduk dulu sayang"
"Mas, Kita pulang saja ya. Jangan menambah keributan lagi. Kasihan yang punya restoran, Aku gak papa!"
"Aku harus memberikan dia pelajaran sayang!"
"gak, Mas! Jaga nama baik kamu. Bukankah kita memiliki cara yang paling baik untuk membalasnya" Fajira menatap Irfan dengan penuh harap.
"Kamu benar, Sayang. Pak sakti kemana?" Tanya Irfan
"Tadi keluar, Mas. Aku minta tolong untuk mengambil barang di dalam mobil,"
Irfan segera menelfon beberapa orang bawahannya untuk mengurus kekacauan ini, beruntung mereka sedang berada dekat dengan lokasi restoran. Dalam waktu 5 menit mereka tiba dan segera membereskan apa yang telah terjadi.
"ya sudah, Yuk kita pulang, Sayang!" Ucap Irfan menggandeng tangan Fajira melewati perempuan yang masih ketakutan itu.
"Nantikan kehancuran kau malam ini" ucap Irfan sarkas kepada Sherly.
__ADS_1
"anda perempuan yang terhormat, Nona Sherly. Masih banyak laki-laki di luar sana yang menginginkan Anda. Jika anda hanya mengincar harta suamiku, Sungguh dia tidak memiliki sepersenpun, karna semua harta yang dia miliki sudah di alihkan atas namaku dan anak-anak kami! Jika pun anda mengincar sedikit saja kasih sayang dari suamiku, Sebesar biji bayam pun akan saya haramkan!" ucap Fajira tegas namun dengan tenang.
Semua orang tertegun mendengarkan ucapan Fajira. Irfan memang meminta istrinya agar mengatakan jika ia tidak memiliki harta sepersenpun kepada perempuan gatal yang mendekatinya.
Irfan segera menggendong Fajira karna ia sangat terlihat pucat. Sambil menggendong bidadarinya, irfan melangkahkan menuju pintu keluar. Tak lupa ia mengatakan kepada salah satu orang bawahannya untuk membayarkan tagihan mereka tadi.
"Kita ke rumah Sakit, Pak!" ucap Irfan di dalam mobil.
"Baik tuan"
"Mas, Kita pulang saja. Aku mau istirahat" lirih Fajira.
"Tidak sebelum kita ke rumah sakit!" tegas Irfan tidak ingin di bantah.
Ia sangat geram dengan apa yang terjadi menimpa istrinya. Ia merasa tidak berguna karna selalu membuat anak dan istrinya berada dalam bahaya.
"Maafin aku, sayang" lirih Irfan sambil memeluk Fajira dan mengecupnya lembut.
"Bukan salah kamu, Sayang! Kita juga gak tau kedepannya akan bagaimana. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, selama kita masih saling percaya dan saling mempertahankan, aku yakin semuanya akan baik-baik saja," perlahan Fajira terlelap di dalam pelukan Irfan.
Perempuan cantik itu berusaha agar tidak terlihat lemah, padahal dirinya sangatlah rapuh dan merasa tidak pantas berada di samping Irfan karna status sosial. Namun demi anak-anaknya ia harus berusaha agar bisa sekuat baja dan setegar karang menghadapi ujian dan cobaan di dalam rumah tangganya.
Irfan hanya terdiam mendengarkan perkataan Fajira. Ia masih memikirkan apa kemungkinan terburuk apabila membatalkan kerja sama dengan perempuan jahanam tadi. Jangan sampai keputusannya berakibat fatal untuk anak dan istrinya kelak.
ddrrtt... ddrrtt..
Ponsel Fajira berdering, dan memecah konsentrasi Irfan yang tengah berfikir.
"Sepertinya Nyonya sedang tidur, Tuan!" ucap pak Sakti yang melihat dari spion depan.
"eh iya kah?"
Irfan segera mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang tengah menelfon istrinya.
"halo, sayang" ucap Irfan mengangkat panggilan dari Fajri.
"Halo, Ayah! Bunda mana, Yah?" tanya Fajri dengan nada khawatir.
"kenapa sayang? Bunda lagi tidur, nak"
"Apa Bunda baik-baik saja ayah? Perasaan Aji gak enak dari tadi, Jantung Aji juga berdetak kencang" lirih Fajri menahan tangisnya.
deg...
"Bunda gak papa sayang. Ini ayah mau pulang lagi ya. Nanti Ayah jemput ya, sayang!"
"Iya, Ayah. Tapi Bunda beneran gak papa kan? ayah juga baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ayah sama Bunda baik nak. Abang jangan khawatir ya sayang, Bunda baik-baik aja"
"Syukurlah, Aji sangat khawatir dari tadi, Ayah,"
"ya sudah, lanjut lagi belajarnya nak"
"iya ayah. Dada Ayah"
"dada sayang"
tuut...
Irfan termagu, setelah mendapatkan panggilan dari Fajri.
Begitu kuat ikatan bathin Fajri dan Fajira, lalu bagaimana denganku? Apa mereka juga akan merasakan getaran yang sama jika aku dalam bahaya?.
Perlahan mobil tiba di halaman rumah sakit. Irfan segera menggendong Fajira menuju ke salah satu bilik di dalam UDG rumah sakit ibu dan anak. Fajira segera mendapatkan pertolongan pertama, melihat bagaimana keadaan anak didalam perutnya.
Setelah beberapa lama menunggu dokter yang memeriksa Fajira keluar.
"bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"ibu Fajira baik-baik saja, Pak. Apa beberapa hari ini ibu Fajira mengalami syok atau sesuatu?"
"iya dokter. Apa itu berpengaruh?"
"tidak. Apa istri bapak mengkonsumsi obat penguat kandungan?"
"iya dokter"
"iya, Karna obat itu kandungan ibu Fajira baik-baik saja dan Sudah bisa di bawa pulang. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu"
"iya dokter terima kasih"
Irfan bernafas lega karna mendengarkan kabar jika anak dan istrinya baik-baik saja. Ia segera menemui Fajira yang masih terlelap di ata brangkar itu.
"sehat-sehat sayang, sampai kita bertemu. Kamu yang kuat ya, Nak. Bantu Bunda agar Dede juga bisa kuat" Irfan mengelus perut Fajira lembut.
Ia segera merobah sakunya dan mendial nomor Ray di sana.
"Halo, Ray? Batalkan kerja sama kita dengan Perusahaan PT. Megasindo Besok sudah haru siap. Nanti yang pemakainya akan saya kirim" ucap Irfan tegas namun masih pelan gara tidak membangunkan Fajira.
"...."
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Sebenarnya tadi sore author sudah bisa Update, tapi karna draf nya kehapus makanya ulang buat lagi dari awal. Maaf ya gais.
terima kasih sudah mendukung ceritanya