Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
135. Ketegangan


__ADS_3

Pesawat mendarat dengan selamat setelah cukup lama mengudara. melintasi berbagai macam kota yang ada di Indonesia. Ray masih setia menggenggam tangan Riska agar dirinya tidak tersesat di negeri orang. Eh bukan, agar pujaan hatinya tidak hilang dan terlepas dari jangkauannya.


Jantung Ray, berdetak lebih kencang ketika melihat sekelompok orang yng mulai melambai dengan bersorak gembira ke arah mereka.


Apa mereka keluarga Riska? kenapa banyak sekali?. Bathin Ray mengernyit.


Hal yang paling membuatnya yakin karna Riska 'pun juga ikut melambai ke arah mereka.


"By, Maaf ya mereka terlalu antusias. Maklum aku sudah lebih dari 3 tahun gak pulang, hehe," ucap Riska tergelak.


"Mama...!" teriak Riska berlari menuju ke arah orang tuanya dan melepas genggaman tangannya dari Ray.


Pria tampan itu membeku di tempat dengan mata yang membola, ketika melihat tatapan tajam Papa Riska mengarah kepadanya.


Tatapan itu seolah menyiratkan, kau apakan anak gadisku? setan!, dan membuat tubuh Ray mendadak kaku.


Kenapa saya menjadi pengecut seperti ini? untung tuan Irfan tidak ada disini, bisa mampus aku jadi bahan ledakan mereka nanti!. bathin Ray meringis.


Bepergian tanpa pengawalan ketat seperti biasanya, membuat Ray sedikit kikuk dan bingung. Karna biasanya semua hal sudah atur oleh bawahannya. Ia dan Irfan hanya tinggal mengikuti arahan dari mereka saja.


Sementara di hadapannya, terlihat Riska sudah terisak di dalam pelukan orang tuanya. Ia sungguh merindukan kehangatan keluarga yang sudah tiga tahun lebih tidak ia rasakan.


"Hiks... Dede rindu!" isak Riska.


"kami juga merindukanmu!" ucap mereka bergantian.


"bukannya kamu datang berdua ya, nak?" tanya Mama Riska.


"eh?" Riska menoleh, ia tidak mendapati Ray di dekatnya.


Matanya menelisik sekeliling, mencari keberadaan pria tampannya. Riska berusaha untuk menahan tawa ketika melihat Ray masih terdiam membeku dan berada cukup jauh darinya.


Ia segera menghampiri Ray, dan tersenyum manis di hadapan pria tampan itu.


"kak, nanti jangan pegang-pegang aku ya! bisa berabe kalau ketahuan. Yuk aku kenalkan dengan keluarga ku!" ucap Riska tersenyum namun pandangannya tertunduk.


Ray menyadari sesuatu, Riska terlihat beda saat ini. Mulai dari cara berpakaian maupun sikapnya.


"Apa ini karna berada di lingkungan keluarga, kamu jadi sedikit menjaga jarak, sayang?" tanya Ray pelan.


"Nanti kamu akan paham, by!" Ucap Riska.


"kamu manggil aku apa?" tanya Ray mengernyit.


"by. Hubby. Ayok lah, mereka sudah melotot melihat kita!" ucap Riska berjalan di depan ray.


Pria tampan itu segera menarik kopernya dan berjalan mengikuti Riska.

__ADS_1


Dag... Dig... Dug....


Detak jantung Ray yang semakin terasa dentumannya hingga ke kepala dan terdengar oleh telinga. Nafasnya semakin tercekat ketika melihat tatapan sangar seorang ayah yang tidak rela jika anak gadisnya di bawa begitu saja oleh orang yang tidak di kenali.


Ia pernah berada di situasi itu, memberikan tatapan tajam kepada calon adik iparnya, seolah menusuk jantung laki-laki yang berani meminang adik kesayangannya.


Sial! Ayo lah Ray! anggap saja dia rivalmu! jangan pernah takut untuk menghadapi siapapun kecuali ibumu! Ayo Ray!. Ucap pria tampan itu menyemangati dirinya.


"By, nanti salimnya cium tangan ayah saja, dan semua laki-laki. Kalau sama perempuan cukup mengatupkan kedua belah tangan dan tersenyum. Paham by?" ucap Riska.


"pa-paham, sayang!"


"Apa kamu gugup, by?" tanya Riska jahil.


"iya lumayan!"


Mereka semakin dekat dengan keluarga Riska yang menatap Ray dengan tatapan kagumnya.


Pria tampan dengan tinggi 179 cm itu terlihat sangat mencolok di antara keluarga Riska. Apalagi dengan otot kekar yang tercetak jelas pada kaos bermerek yang ia kenakan.


"Selamat sore, tuan dan nyonya!" sapa Ray kikuk dan membungkuk hormat.


Semua orang terkejut dan mengernyit bingung melihat sikap Ray yang memanggil mereka dengan sebutan tuan dan nyonya.


"by!" ucap Riska memberikan kode.


Papa Riska hanya menatap pria perawakan campuran dan terkesan sombong itu dengan seksama. Apa dia seagama dengan anakku?. begitu fikirnya.


"Pa?" panggil Riska menyadarkan pria paruh baya itu.


"Sore" Papa menjabat tangan Ray, tanpa di sangka pria tampan itu mencium tangannya dan membuat Papa melototkan matanya.


"Sore, Tante!" Sapa Ray dengan mengayunkan ke dua tangannya di dada.


"so-sore nak!"


Ia juga menyapa semua orang yang ada di sana. Mereka datang menjemput Riska dan dirinya sebanyak 10 orang. Dengan membawa dua mobil berisikan 8 orang.


"yuk kita pulang" Ajak Mama yang merasakan suasana yang canggung setelah Ray menyapa semua orang.


Mereka segera pulang menuju kediaman Riska. Dan di sinilah awal mula status baru yang akan ia sandang beberapa hari lagi.


...🌺🌺...


Suasana mencekam sangat terasa di dalam rumah yang terbilang cukup mewah itu. Hanya ada keheningan dan ketegangan yang menyelimuti mereka.


Tatapan Ray yang begitu tajam, berusaha untuk menjinakkan tatapan bapak mertua yang terkenal galak kepada laki-laki yang ingin menimang anak gadisnya.

__ADS_1


Riska hanya bisa menahan tawanya saat ini. Ia merasa lucu dengan tingkah Ray yang terlihat cukup tegang dan sedikit takut ketika berhadapan langsung dengan orang tuanya.


Laki-laki tampan itu sebentar lagi akan menjadi suamiku, akan menjadi pemandangan indah ketika aku mulai untuk membuka mata. Ahh tampan banget!. bathin Riska.


"hekm... Nak Ray, Sudah lama kenal dengan anak Mama?" tanya Mama Ina dan berhasil memecah keheningan.


"sudah, Tante. Hampir dua tahun, semenjak saya kenal dengan Fajira," ucap Ray santai.


Entah mengapa tiba-tiba ia merindukan ibunya yang ada di kampung.


"brapa umur nak Ray sekarang?"


"saya sudah 30 tahun, tante!"


"ah iya, Berbeda 8 tahun ya sama Riska. Hmm kerjaan nak Ray apa?"


"saya hanya karyawan swasta, Tante. tapi saya bisa menjamin kehidupan yang layak untuk Riska nantinya!" ucap Ray tegas.


"orang tua masih ada?"


"hanya ibu, ayah sudah lebih dulu meninggalkan kami" ucap Ray sedikit sendu.


"ah iya"


Suasana kembali hening tanpa ada yang memulai untuk berbicara.


"sudah ngapain saja kalian berdua? apa anak saya sudah kamu hamili?" ucap ayah membuat semua orang kaget.


"Ayah!" seru Riska tidak terima dengan pertanyaan ayahnya.


"diam kamu!" tegas ayah melotot kepada Riska.


"Maaf Tuan! kenapa anda malah bertanya seperti itu? bukankah anda lebih tau bagaimana sifat anak yang sudah anda besarkan dengan baik? Saya tersinggung dengan pertanyaan anda. Apa saya terlihat seperti laki-laki bajingan?." ucap Ray mengernyit.


"Saya datang kesini berniat baik untuk melamar Putri anda untuk saya jadikan istri. Karna itu yang saya takutkan. Saya seorang laki-laki dewasa, makanya saya berani datang jauh-jauh kesini untuk melamar Putri anda, sebelum saya tidak mampu lagi untuk menahan diri!" ucap Ray tegas dan terselip rasa tidak suka terhadap pertanyaan dari calon mertuanya itu.


Suasana menjadi tegang, mata Riska sudah terlihat berkaca-kaca. Inilah alasannya kenapa tidak ada laki-laki yang ingin menjalin hubungan dengannya walaupun hanya sebatas pacaran saja. Ayahnya galak! begitu fikir mereka.


Ayah melotot mendengar jawaban tegas dari Ray. Ia sedikit takut melihat tatapan mata tajam itu ketika menatapnya. Berbeda dengan di awal sebelum Papa melontarkan pertanyaan.


"Lalu apa alasan kamu melamar anak syaa mendadak seperti ini? bukankah kalian baru menyatakan cinta dua hari yang lalu?"


"..."


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2