
Setelah jam pelajaran selesai, Ivanna segera kembali pulang bersama dengan dua orang temang stau kelompoknya, Yaitu Wirda dan Tuti.
Mereka mengikuti mobil Ivanna hingga menuju ke rumah mewah Dirgantara. Ketika mobil Ivanna masuk ke dalam pekarangan rumah, dua orang temannya harus menjalani beberapa protokol keamanan rumah itu.
"Yuk, Masuk!" ajak Ivanna setelah dua orang temannya selesai menjalani pemeriksaan.
"Buna?" Panggil Ivanna.
"Udah pulang, sayang?" ucap Fajira datang dari arah dapur.
"sudah. Buna!" ucap Ivanna mencium tangan dan pipi Fajira lembut.
"Dede, bawa teman!" ucapnya tersenyum.
"oh ya?" ucap Fajira antusias.
"Pagi, Nyonya!" ucap mereka kikuk.
"Pagi. Panggil Bunda saja ya. sama seperti Ivanna," ucap Fajira tersenyum.
"Dede mau bikin makalah, Buna!"
"Mau bikin dimana, sayang?"
"di perpustakaan aja, bolehkan?" ucap Ivanna berbinar.
"Coba lihat dulu, ada bang di dalam tadi!" ucap Fajira.
"Abang? bukannya tadi Abang ke kantor, Buna?" tanya Ivanna mengernyit.
"Balik pulang lagi, banyak paparazi katanya! suruh duduk dulu temannya, sayang!" ucap Fajira tersenyum dan kembali ke dapur.
"Eh duduk dulu ya. Aku mau cek, Abang di dalam," ucap Ivanna dengan ekspresi biasa saja.
Ia berjalan menuju perpustakaan dan melihat apakah benar Fajri ada di dalam.
"Bang?" panggil Ivanna ketika mendapati Fajri tengah berada di dalam sambil mengotak atik komputer.
"Hai, sayang. Udah pulang?" tanya Fajri mengernyit.
"Sudah, bang. Hmm Dede mau ngajak teman-teman bikin makalah, apa Abang terganggu?" tanya ivanna sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Iya, masuk aja. Asal gak berisik!" ucap Fajri tersenyum.
"Maaci, abang, muach!" ucap Ivanna mengecup pipi Fajri.
Fajri hanya menggeleng melihat tingkah Ivanna, yang masih terlihat mengemaskan.
πΊπΊ
Saat ini mereka tengah berada di perpustakaan sambil membuat makalah. Sementara Fajri masih fokus melihat keadaan perusahaannya dan perusahaan Irfan. Senyumnya terbit ketika melihat semua terkendali dan masih aman-aman saja. Namun raut wajah tampan itu berubah ketika melihat video Ivanna yang yeng tengah viral.
"dek?" panggil Fajri sambil menghela nafasnya.
"Apa, bang?" ucap Ivanna mengernyit.
"Apa tadi Dede di wawancarai sama wartawan? ini viral lagi!" ucap Fajri menggeleng.
"Iya. Dede kesal, soalnya mereka gak pernah bosan ngomongin strata terus, strata lagi," keluh Ivanna sambil mengetik.
__ADS_1
Sementara, Wirda dan Tuti hanya menyaksikan bagaimana Adik kakak itu berbincang. Bahkan mereka lebih sering mencuri-curi pandang kepada Fajri.
Hening, hanya terdengar suara ketika keyboard di dalam ruangan itu. hingga suara ponsel Fajri membuat mereka terkejut.
"Iya?"
"Redam saja, saya tidak ada satupun berita yang mencuat!" ucap Fajri tegas dan mematikan ponselnya.
"Jangan membuat berita lagi, sayang!" ucap Fajri kembali menghela nafasnya.
"Iya, bang. Tapi nanti jalan ya, sama kakak!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"minta kakak yang ke sini saja. Abang malas keluar!" ucap Fajri.
"iih!" delik Ivanna.
Mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga jam makan siang datang. Fajri segera mengajak Ivanna dan teman-temannya untuk makan siang bersama.
"duduklah, anggap saja rumah sendiri!" ucap Fajri tersenyum kepada Dua teman Ivanna.
"i-iya, Tuan!" ucap mereka sungkan.
πΊπΊ
Ddrrtt,... ddrrtt,...
Ponsel Fajri berbunyi, dan memaksanya harus bangun dari tidur sore yang terasa begitu nyaman.
"Halo?" ucap Fajri dengan suara seraknya.
"Fajri?" terdengar suara lembut di telinga Fajri.
"Aku di Indonesia, Ji. Pesawatku baru saja mendarat di bandara," ucap Zwetta.
"Terus, siapa yang menjemput kakak?" tanya Fajri sambil bangun dari tidurnya.
"hmm, apa kamu tidak sibuk?" ucap Zwetta sedikit sungkan.
"tunggu di sana, Aji siap-siap dulu!" ucap Fajri.
"Maaf karna sudah merepotkan, kamu!"
"jangan sungkan kak! Kalau begitu Aku tutup dulu ya!"
"iya, Ji. terima kasih ya!"
"iya."
Fajri segera bergegas untuk menjemput Zwetta. Terbesit di dalam benaknya, mengenai tujuan Zwetta datang ke Indonesia.
"Nanti saja aku tanyakan kepadanya!" ucap Fajri menuruni tangga satu persatu.
"Kemana, bang?" tanya Fajira yang tengah duduk di ruang keluarga bersama dengan Ivanna dan Safira.
"Mau ke bandara, Bunda. Jemput kak Zwetta. Abang pergi dulu!" ucap Fajri pamit.
Ia bahkan melupakan kecupan untuk Bunda dan adiknya. Ivanna sedikit kesal karna mendengarkan jika Fajri akan menjemput perempuan di bandara. Bahkan dari tadi ia sudah membangunkan abangnya untuk menemui Safira pun, susah.
Fajri segera menaiki mobil dan menuju bandara. Ia berkendara selama 20 menit agar bisa sampai di tempat Zwetta tengah menunggu.
__ADS_1
"kak?" panggil Fajri melambaikan tangannya ketika melihat keberadaan Zwetta.
"Hai, Fajri!" Ucap Zwetta senang.
Ia segera memeluk Fajri ketika jarak mereka sudah dekat. Pria tampan itu membeku, ini untuk ke dua kalinya ia di peluk oleh Zwetta. Jantung Fajri mulai berdetak lebih kencang karna situasi ini.
"kak, lebih baik kita langsung pergi. pasti kakak capek banget!" ucap Fajri sambil melepaskan pelukan itu.
"ah, iya. Tapi aku belum boking hotel," ucap Zwetta.
"hmm, mungkin kakak bisa menginap di apartemenku saja selama disini!" ucap Fajri menawarkan.
"apa kamu gak keberatan?" tanya Zwetta senang.
"gak kak. Tapi kaka tinggal sendiri di sana, nanti aku kirim orang untuk bersih-bersih," ucap Fajri membuat wajah Zwetta kecewa.
Aku pikir Fajri akan tinggal bersamaku, ternyata tidak! bukannya Fajri tinggal bersama orang tuanya? kenapa dia tidak mengajakku ke sana?. Bathin Zwetta bertanya-tanya.
"Masuk, kak!" ucap Fajri membukakan pintu untuk Zwetta.
"terima kasih,"
Fajri segera menjalankan mobil menuju apartemen mewahnya yang berada tak jauh dari kantor, agar ia bisa beristirahat jika tidak sempat untuk pulang ke rumah.
"kakak ada perlu apa ke Sini?" tanya Fajri.
"Ah, aku hanya ingin liburan saja, lagian proyek kita sudah hampir selesai, Dan,..." Zwetta memotong ucapannya sambil menatap Fajri.
"dan apa kak?" tanya Fajri mengernyit.
"Gak jadi! Hmm apa kamu sibuk?" tanya Zwetta.
"iya, kak. Beberapa hari kedepan aku sibuk, karna jadwal hari ini sudah di atur ulang!" ucap Fajri.
"kalau kakak mau jalan-jalan, nanti Aji bisa minta tolong sama Ivanna untuk menemani kakak pergi!"
"boleh juga. terima kasih!" ucap Zwetta tersenyum.
Perlahan, mobil memasuki area loby apartemen mewah itu. Fajri segera menurunkan barang-barang Zwetta dan meminta tolong kepada perjaga untuk memindahkan mobilnya.
Mereka segera menuju ke lantai 15 menggunakan lift dimana kamar Fajri berada.
"silahkan masuk, kak!" ucap Fajri setelah membuka pintu.
"Ini Apartemen kamu, Ji?"
"iya, Aku datang ke sini hanya sesekali. Tiap dua hari ada yang membersihkannya," ucap Fajri duduk di atas sofa sambil menguap.
"apa kamu mengantuk?"
"iya kak," perlahan mata Fajri kembali terpejam di atas sofa.
Entah kenapa ia merasa sangat ngantuk hari ini. Zwetta yang melihat Fajri terlelap sambil menengadah, berinisiatif untuk merebahkan kepala berharga itu di pangkuannya.
Ia menatap dan mengelus wajah tampan Fajri dengan lembut, agar pria tampan itu bisa semakin terlelap. Hingga mata Zwetta tidak mampu lagi untuk ia tahan Gadis manis itu terlelap dengan masih memangku kepala Fajri, hinggap malam menjelang.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Hayo loo π