Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
158. Ibu dan Anak


__ADS_3

Pagi menjelang, mentari masih terlihat malu untuk menampakkan diri. Ivanna, gadis kecil itu sudah heboh membangunkan seisi rumah, karna ia ingin pergi ke sekolah lagi bersama dengan abangnya.


"Abang, Ayo bangun! kita pergi sekolah, nanti terlambat!" ucap Ivanna mengguncang tubuh Fajri yang masih terlelap.


"Abang! ihh, ayo bangun!" ucap Ivanna kesal.


"Dek! Sekarang hari minggu, sayang! kita gak sekolah!" ucap Fajri serak.


"astaga, ini baru jam 4 pagi dek! sini tidur lagi sama abang!" pekik Fajri terkejut ketika melihat jam dinding, ia membaringkan Ivanna dan segera memeluk gadis cantik itu.


"Ha? Jadi hari minggu abang gak sekolah?" Tanya Ivanna dingin.


"gak, sayang. Sekolahnya dari hari senin sampai sabtu. Sekarang bobo ya! nanti ayah sama Bunda bangun!" ucap Fajri kembali memejamkan matanya.


"Abang? Dede? ngapain kalian berisik? ini masih terlalu pagi untuk bangun!" ucap Fajira serak dan masih memejamkan matanya sambil memeluk Irfan. Ia tidur di atas sofa bed yang berada tak jauh dari kasur.


"Dede mau sekolah Buna!, yuk, kita sekolah!" rengek Ivanna berusaha lepas dari pelukan Fajri.


"sekarang hari Minggu, sayang. sekolahnya libur! Nanti ya, kita jalan-jalan keliling komplek, tapi tidur dulu!" ucap Fajira kembali terlelap.


"Baiklah ibunda ratu! hehe..." Ivanna terkekeh di dalam pelukan Fajri.


Ivanna memejamkan matanya, namun setelah beberapa saat ia tidak kunjung tertidur juga. Gadis kecil itu menatap wajah tampan yang tengah mendekapnya dengan lembut.


"tidur, dek!" ucap Fajri dan berhasil mengejutkan gadis manis itu.


Fajri tersenyum ia mengelus pelan punggung Ivanna agar adiknya bisa kembali terlelap. Setelah memastikan Ivanna tertidur, Fajri segera menyusul adiknya menuju alam mimpi.


...🌺🌺...


Sesuai janji Fajira, mereka melakukan jalan pagi di hari Minggu yang indah ini. Irfan, Fajri dan Fajira berjalan berdampingan, berbeda dengan gadis manis itu. Ia sudah terlihat kelelahan walaupun berjalan sedikit saja. Kini ia tengah di gendong oleh Irfan dengan wajah dingin yang sudah terpancar dari wajahnya.


"Ayah, coba lihat itu! ada yang jual bubur ayam! Kita sarapan disana saja ya?" Ajak Fajira.


"wah, Abang mau Bunda! Boleh ya Ayah?" tanya Fajri dengan mata yang berbinar.


"Ya, sudah! Yuk, kita kesana!" ajak Irfan


Mereka segera mampir di kedai kecil yang masih sepi itu. Aroma khas bubur ayam tercium dan membelai hidung mereka. Tanpa menunggu lama, Fajira segera memesan 3 porsi dan mengambil tempat duduk masing-masing.


"Buna, kok cuma tiga pesannya?" tanya Ivanna mengernyit.


"Dede makannya sama bunda saja ya, sayang!"


"kok gitu?" protesnya.


"nanti kalau Dede pesan sendiri gak habis lo! mubadzir,"


"huh!" Ivanna mendengus sebal.


Gadis kecil ini memiliki sifat sedikit pembangkang dan juga keras kepala dari pada Fajri. Memang anak Irfan banget!, begitulah Mama menyebut gadis kecil ini.


Tak lama pesanan mereka segera datang, Ivanna mengernyit melihat sajian yang ada di hadapannya.


"Buna, itu apa?" tanya gadis kecil itu mengernyit.

__ADS_1


"ini bubur ayam, sayang. Bunda 'kan sering bikin ini!" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Ivanna lembut.


"apa rasanya sama?" tanya Ivanna semakin mengernyit.


"kita coba dulu ya!" Fajira mencoba bubur itu dan meresapi rasa nikmatnya.


Glek...


"Buna, Dede mau. Dede mau!" ucap Ivanna menarik tangan Fajira.


"Sebentar, ya! masih panas, sayang!" beruntung Fajira selalu membawa kipas angin portabel, jadi ia bisa mendinginkan bubur itu tanpa harus meniupnya terlebih dahulu.


"ini sayang, buka mulutnya!"


hup...


Ivanna menerima suapan itu, wajahnya mengernyit tidak suka.


"Buna, kok rasanya gak sama? punya Buna lebih enak!" celetuk Ivanna yang sukses membuat mereka melotot kaget.


Fajira segera membekap mulut gadis kecil itu sambil membesarkan matanya.


"gak boleh ngomong gitu, sayang!" bisik Fajira.


"hhhmmmppphh...." teriak Ivanna dalam keadaan mulut yang masih di bekap.


"gak boleh ngomong gitu lagi, ya!"


"iya, Buna!" ucap Ivanna cemberut.


"mauuu!"


Fajira menyuap anak gadisnya hingga bubur itu tandas, sementara Irfan dan Fajri hanya menggeleng saja menyaksikan drama pagi, yang selalu menghiasi hari mereka.


Hingga bubur ayam itu tandas, Fajira segera membayar tagihannya tak luma membungkus satu porsi untuk ibu yang masih berada di rumah. Ia melihat pedagang bubur ayam itu memasang wajah masamnya karna mendengarkan perkataan Ivanna tadi.


"ini, Pak! Lebihnya untuk bapak saja!" ucap Fajira ramah.


"terima kasih!" ketus pedagang itu.


"Anda jangan kurang ajar sama istri saya!" bentak Irfan dan membuat pedagang itu terkejut.


"Sudah, Mas! Yuk kita pergi!" Fajira segera menarik Irfan sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.


"buburnya emang gak enak kok, Bunda!" ucap Ivanna sedikit keras membuat wajah pedagang itu semakin masam.


Fajira dan Fajri kembali membesarkan matanya ketika mendengarkan perkataan Ivanna yang memiliki hoby memancing keributan.


"dek, gak boleh seperti itu!" peringatan pertama keluar dari mulut Fajira.


Ivanna terdiam, ia sangat tidak suka jika ada yang kurang ajar kepada bundanya.


"Tapi kakek tadi jahat sama Buna, Dede gak suka!" ucap Ivanna menjawab perkataan Fajira.


"Sudah, dek!" ucap Fajri.

__ADS_1


"Dedek gak suka, bang! Masa iya bunda diketusin seperti itu, 'kan gak sopan namanya!" sungut Ivanna kesal.


"kamu juga sering ketus sama Bunda, dek!" Delik Fajri.


"mana ada? dede kan anak yang baik dan patuh, ia 'kan, buna?"


"Iya, sayang!" ucap Fajira.


"baik, patuh? kamu kan sering ngomong sama Bunda, hmm... gak! iya! gak mau! kalau gak pasti udah melototin orang!" ucap Fajri menirukan gaya Ivanna.


"Mana ada ihh. Itu abang aja yang..."


"sudah!" ucap Fajira tegas dan menghentikan perdebatan itu.


Terkadang ia tidak habis fikir dengan tingkah anak gadisnya yang terkesan dingin namun tidak menolak untuk berdebat dengan siapapun.


"tapi, Buna... hhmphh" mulut Ivanna di bekap oleh Irfan agar tidak menambah masalah baru.


"Sudah, dek! Nanti Bunda marah!" bisik Irfan.


"Tapi, Ayah, kan yang Dede bilang itu benar!" bisik Ivanna.


"iya, benar! jangan mancing kemarahan Bunda lagi, sayang!"


"baiklah!"


Wajah Ivanna kembali berubah pada mode dingin. Ia hanya menatap sekelilingnya dengan tatapan datar. Fajira hanya meringis karna mendapatkan anak dengan jenis yang tergolong langka.


Apa aku salah Ngidam waktu hamil? kenapa aku mendapatkan anak yang super seperti ini. Huh... Aku jadi ingin memiliki anak yang normal saja. Bathin Fajira meringis.


Mereka segera berjalan pulang ke rumah, dengan saling diam satu sama lain. Hingga perkataan Ivanna membuat senyuman Fajira merekah sempurna.


"Abang, nanti kita belajar, ya! Ajarkan Dede membaca, menulis, berhitung, apapun itu. kalau abang mau mengajarkan Dede cara membuat pesawat juga boleh. mana tau Dede bisa buat robot berbi yang besar!" ucap Ivanna menatap Fajri serius.


"wah, akhirnya anak bunda mau belajar, syukurlah. Nanti kita belajar bersama-sama ya, sayang!" pekik Fajira senang.


Mereka berjalan cepat agar bisa sampai di rumah dan langsung mengajarkan gadis kecil itu berbagai macam hal. Ia merasa sangat antusias karna usaha mereka mengenalkan pelajaran kepada gadis itu berhasil.


"kita mandi dulu, habis itu baru belajar ya, sayang!" ucap Fajira menggendong Ivanna menuju kamarnya.


"abang juga mandi ya, sayang!"


"iya, Bunda!"


Mereka segera bergegas untuk membersihkan badan. Tak lama, sekitar 20 menit acara bermain air itu selesai.


Fajira segera menggendong Ivanna menuju ruang perpustakaan yang sudah tersedia meja belajar di sana. Begitu juga dengan Fajri dan Irfan, wajah mereka berbinar ketika mendengarkan permintaan gadis kecil itu.


Dengan telaten Fajira mengajarkan anaknya, mulai dari huruf dan angka, cara membacanya dan masih banyak lagi. Ivanna yang memang sudah pintar dengan cepat menghafal dan memahami apa saja yang di terangkan oleh Fajira.


Wajah ibu muda itu berbinar senang melihat kemajuan anaknya. Ingin rasanya ia menangis saat ini. Namun semua harus sirna ketika ia mendapatkan panggilan tugas dari rumah sakit jika ada pasien yang menderita sakig jantung, harus mendapatkan penanganan cepat karna tidak ada dokter jantung yang bisa di hubungi.


Fajira segera bersiap dan pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk bertugas.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2