
"dorong terus, Nyonya! iya, begitu! terus dorong!" ucap dokter membantu Fajira untuk melahirkan.
"aaarrkkkhhhhh..... Maaass!!" pekik Fajira sambil berusaha mengeluarkan anaknya. Ia menggenggam erat tangan Irfan berusaha untuk mencari sedikit kekuatan untuk melahirkan anaknya.
Aku harus kuat! aku bisa, nak cepat keluar ya! Bunda udah gak kuat!. Bathin Fajira menguatkan dirinya.
Irfan? jangan tanyakan lagi, Laki-laki itu hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan Fajira. Ia pasrah jika harus di cakar, bahkan di cekik oleh ibu hamil itu.
"Semangat sayang! sebentar lagi anak kita akan lahir! kamu yang kuat! Aku disini, sayang!" ucap Irfan tersedu dan berusaha untuk menguatkan hatinya.
Badan yang bergetar hebat menyaksikan langsung bagaimana Fajira bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya. Fikirannya jauh menerawang,engingat bagaimana Fajira berjuang sendirian ketika melahirkan Fajri.
Teriakan dan erangan Fajira, Irfan dan dokter menggema di dalam ruangan itu. Fajira sudah kehilangan banyak tenaga karna menahan rasa sakit akibat kontraksi yang ia alami sebelum melahirkan, ditambah lagi sekarang. Bagaimanapun ia harus kuat demi anaknya yang sudah sangat mendesak ingin keluar.
"Ayo, Nyonya! sedikit lagi! dorong terus, Nyonya!" ucap dokter semakin bersemangat karna kepala bayi itu sudah terlihat.
"Sedikit lagi, Nyonya!" teriak dokter itu semakin bersemangat karna ia menjadi orang pertama yang bisa menatap wajah cantik Nona Muda keluarga Dirgantara.
Fajira menarik nafasnya dalam-dalam dan mengejan dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Aaaaarrrkkkkkkhhhhh....." teriak Fajira mengajan.
ooeeekkkk... ooeeekkk... ooeekk...
Tangis bayi cantik itu pecah ketika berhasil keluar dari perut ibundanya. Fajira terkulai lemas sambil menangis. Begitu juga dengan Irfan yang sudah melorot ke lantai dengan tangis bahagia yang menyelimutinya.
Sungguh hari ini akan selalu ia ingat, hari dimana istrinya meregang nyawa hanya untuk melahirkan anak mereka.
Dengan sisa tenaga, Irfan bangkit dan memeluk tubuh lemas Fajira. Ia mengecup seluruh wajah pucat itu tanpa tertinggal satu inci pun..
"terima kasih, sayang!, terima kasih! Aku mencintaimu! Terima kasih!" Mereka hanya bisa terisak sambil menggenggam satu sama lain.
"silahkan, nyonya!" Ucap dokter membaringkan Bayi kecil itu di atas dada Fajira.
Tangis bahagia menyelimuti mereka. Hilang sudah rasa sakit yang mereka rasakan tadi, ketika melihat wajah anggota baru keluarga Dirgantara.
Irfan semakin terisak melihat, Putri kecilnya yang begitu mirip dengan Fajri.
"Dia sangat mirip dengan Fajri, Mas!" ucap Fajira lirih namun senyuman manisnya tidak luntur sedikitpun di wajah cantik itu.
"Iya, sayang! Dia Putri kecil kita!" Ucap Irfan berusaha untuk menahan tangis dan menguasai dirinya kembali.
"Dia sangat cantik, seperti kamu!, lihatlah! bibir mungilnya dengan bulu mata yang melentik, dia akan mengalahkan kecantikan semua wanita di masa depan!" ucap Irfan dengan senyum yang mengembang.
"iya, dia sangat mirip dengan Fajri versi perempuan!" Ucap Fajira lirih dengan tersenyum.
Dokter membantu Putri kecil Fajira agar bisa mendapatkan Asi untuk pertama kalinya. Hisapan kuat gadis kecilnya membuat Fajira sedikit meringis. Mereka masih mengamati wajah cantik itu sambil menyentuh kulit lembutnya.
Setelah selesai, Fajira segera di bersihkan dan di bawa ke ruangan khusus sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap. Begitu juga dengan Putri mahkota Dirgantara, ia di bawa menuju ruangan khusus bayi untuk di periksa bagian vitalnya dan memastikan jika bayi cantik itu dalam keadaan baik.
__ADS_1
Irfan mengecup kening Fajira sebelum ia berlalu dari sana.
"aku keluar dulu sayang. Baik-baik disini ya!" ucap Irfan dengan berat hati harus meninggalkan Fajira di dalam ruangan itu.
"Iya sayang! perhatikan Fajri!" lirih Fajira sebelum ia terlelap.
"iya, sayang!"
Irfan berjalan keluar dari ruangan itu. Wajah bahagianya tidak bisa di sembunyikan lagi. Ketika berada di luar, Ia di sambut oleh keluarganya yang sudah tidak sabar menanti kabar, bagaimana keadaan anggota baru keluarganya.
Terutama Fajri, pria kecil itu sudah menangis terisak di dalam pangkuan Papa. Karna membayangkan bagaimana keadaan ibundanya di dalam sana.
"Bagaimana Nak? bagaimana keadaan anak dan istrimu?" tanya Ibu Nurma dengan wajah cemas.
"Mereka baik-baik saja, Bu. Anak dan istriku sehat. Mereka sehat!" hanya itu yang keluar dari bibir Irfan.
Setelah itu Irfan ambruk, ia pingsan karna kelelahan dan menahan beban mental yang teramat, melihat istrinya. Beruntung Ray yang sudah berada di sana langsung menyambutnya.
"Ayah?" pekik Fajri.
Pria kecil itu terpekik dan langsung meloncat dari pangkuan Papa, ketika melihat Ayahnya tidak sadarkan diri.
"Ayah bangun! Ayah!" pekik Fajri membangunkan Irfan.
"Aji sama kakek, ya! Biar ayah om bawa ayah dulu untuk di periksa oleh dokter!" ucap Ray memenangkan Fajri.
"Aji disini saja, nak! tungguin Bunda!" kekeh Ray.
Ia bisa merasakan betapa khawatirnya pria kecil itu. Melihat kedua orang tuanya yang sedang tidak baik-baik saja, membuat Fajri semakin terisak.
Hingga perawat datang, dan meminta pria kecil itu untuk masuk ke dalam ruangan dimana Fajira tengah terbaring lemas.
"tuan muda Fajri?" panggil perawat.
"Ada apa, sus?" Tanya mama.
"Nyonya Fajira ingin bertemu dengan tuan muda, Nyonya!" ucap perawat itu tersenyum.
Tangisan Fajri berhenti seketika mendengar nama Fajira.
"sa-saya, Fajri! Apa Bunda saya baik-baik saja, suster?" tanya Fajri yang masih terisak.
"Bunda Tuan Muda baik-baik saja! Yuk, ikut kakak!" ucap perawat itu menggendong Fajri dan membawanya menuju ruangan Fajira.
"Bagi keluarga yang ingin melihat keadaan Nona muda, silahkan lihat di bagian ruang khusus bayi! permisi!" ucap perawat itu sebelum masuk ke dalam ruangan.
Jantung Fajri berdetak lebih kencang ketika melihat kondisi Fajira yang sedang terbaring lemas di atas brankar rumah sakit. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak membuat bidadari cantik itu khawatir.
"Bunda?" lirih Fajri ketika melihat Fajira tengah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aji? Anak Bunda? Sini, bunda kangen, nak!" ucap Fajira lirih sambil tersenyum, ketika melihat Fajri yang sudah berada di dekatnya.
Perawat itu meletakkan Fajri di atas kursi tunggu yang ada di sana, Namun Fajira meminta agar anaknya bisa duduk di atas brankar itu.
"Terima kasih, kakak!" ucap Fajri tersenyum dengan wajah sembabnya.
"sama-sama. Nanti panggil saya saja kalau Nyonya dan Tuan muda membutuhkan sesuatu! permisi!" perawat itu berlalu.
Betapa beruntungnya Aku dua hari ini, walaupun harus mendengarkan teriakan Tuan Irfan setiap saat, tapi hari ini aku bisa melihat tuan muda Fajri dan nyonya Fajira dari dekat. Mereka bak jelmaan bidadari dan pangeran yang ada di kayangan. Semoga kalian sehat dan selalu di lindungi oleh tuhan!. Bathin perawat itu.
Fajri dan Fajira saling memandang satu sama lain. Ada perasaan lega dalam hati Fajri ketika melihat ibundanya dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa Abang menangis, sayang?" goda Fajira karna melihat wajah tampan putranya sudah tidak berbentuk lagi. Mata sembab dengan hidung merah dan rambut yang berantakan.
"Abang khawatir sama Bunda dan Dede. Karna dari kemaren Aji belum bertemu sama Bunda. Gak ada yang membolehkan Aji untuk masuk ke sini!" pecah sudah tangis Fajri sementara Fajira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sekarang kita sudah bertemu 'kan? Bunda baik-baik saja!. Sini peluk bunda, nak!"
Fajri segera berbaring di samping Fajira, Ia memeluk perut yang sudah mengecil itu dengan hati-hati.
"Selamat ya, sayang! Aji sudah jadi Abang! Dedenya cantik banget," ucap Fajira lirih.
Fajri kembali bangun dan menatap Fajira. Wajahnya terlihat berbinar mendengarkan ucapan ibundanya.
"Betul, Bunda?" tanya Fajri.
"iya sayang. Apa abang belum lihat dedenya?"
"belum, bunda!" wajah tampan itu kembali suram.
"Gak papa, nanti bisa kita lihat sama-sama. Tadi kenapa Aji berteriak sayang? kedengaran sampai sini!" tanya Fajira.
"Ayah tadi pingsan, Bunda! Waktu sampai di luar, tiba-tiba ayah jatuh! untung ada om Ray di sana, makanya Aji nangis!" Ucap Fajri kembali tersedu.
Deg...
"sudah, nak! Ayah gak papa! Ayah hanya kelelahan saja. Sekarang Abang tidur sama Bunda di sini ya!" ucap Fajira lembut sambil mengusap wajah Fajri.
"Iya, bunda."
Pria kecil itu kembali berbaring di samping Fajira dan memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama, ia sudah terlelap karna kelelahan dan menangis. Fajira menghela nafasnya lega, dari kemarin semenjak ia berada di dalam ruangan ini fikirannya hanya tertuju kepada Fajri.
Ia ikut memejamkan matanya sambil memeluk Fajri dengan perasaan bahagia. Saat ini yang ia fikirkan, bagaimana kondisi Irfan yang pingsan di luar sana. Namun karna rasa lelah dan sakit yang masih terasa di tubuhnya, Ia terlelap menyusul Fajri yang sudah memasuki alam mimpinya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Aku usahakan Update 1 episode lagi nanti malam, gais. Jangan lupa tinggalkan jejak. terima kasih π€
__ADS_1