Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
252. Makan Malam romantis


__ADS_3

Dekorasi yang begitu indah, di temani bintang malam, membuat suasana romantis tercipta begitu saja. Fajri tersenyum ketika rencananya sudah berjalan 80 persen. Wajah tampannya merona, ketika mengingat bagaimana wajah cantik Safira bisa bersinar memancarkan aura kebahagiaan ketika melihat kejutan yang ia siapkan.


"Semuanya sudah selesai, Tuan!" ucap Aksa berbisik.


Mereka melakukan dekorasi dengan hati-hati agar tidak terlalu menimbulkan suara berisik dan membuat Safira memaksa untuk segera keluar dari kamar.


"Terima kasih, silahkan kamu keluar dan bawa yang lain juga, bonus kalian akan saya kirim besok!" ucap Fajri yang juga ikut berbisik.


"Terima kasih, Tuan! Kami permisi terlebih dahulu, semoga makan malam romantisnya berjalan dengan baik. Saya akan Stay di luar, jika anda membutuhkan sesuatu!" ucap Aksa tersenyum.


"Iya, terima kasih!"


Setelah kepergian Aksa dan yang lain, Fajri melangkah menuju kamarnya kembali. Ketika ia membuka pintu, ia melihat jika Safira tengah melakukan video call dengan Ivanna untuk melihat bagaimana keadaan anak-anak di rumah.


"Sayang?" panggil Fajri tersenyum.


"Iya, Mas. Apa sudah selesai?" tanya Safira tersenyum.


"Sudah! Kamu lagi nelvon siapa?" tanya Fajri mengecup bibir Safira.


"Abang!" teriak Ivanna dari balik telefon.


"Eh, masih tersambung ya?. kamu bocil sana tidur, jangan begadang! ntar cepat tua, mau?" ucap Fajri terkekeh.


"Gila, ya! Dasar pasangan mesum!" ketus Ivanna dan mematikan panggilan itu.


Safira menatap Fajri dengan tajam. Ia tidak membenarkan apa yang baru saja dilakukan oleh suami tampannya ini.


"Kamu ya, Mas! kebiasaan seperti itu, apa lagi di depan Ivanna. kamu melarang dia untuk pacaran, tapi kamu mempertontonkan hal yang tidak senonoh di hadapannya!" omel Safira membuat senyum Fajri semakin melengkung.


"Jangan marah-marah, nanti aku semakin gemas! Kamu habis operasi, lagi nifas juga. Atau mau aku gerayangin sampai pagi?" ucap Fajri genit.


"Dasar mesum!" ketus Safira dengan wajah yang merona.


"Hahaha, Aku mau ganti baju dulu, sayang. Apa kamu juga ingin berganti pakaian?" tanya Fajri genit.


"Huh, gak usah!" ucap Safira ketus.


Fajri berganti pakaian di hadapan istrinya. Walaupun perut sixpack Fajri sudah tidak terlalu berbentuk, namun Safira selalu dibuat kesusahan untuk menelan air ludahnya ketika melihat tubuh indah Fajri.


"Sudah, sayang! Yuk, kita pergi!" Ajak Fajri.


"Kemana?"


"Ke balkon aja, gak jauh-jauh kok!" ucap Fajri tersenyum.

__ADS_1


"Sayang, kenapa mataku harus di tutup?" tanya Safira mengernyit.


"Namanya juga surprise, sayang! Aku gendong saja ya, biar kamu gak susah untuk berjalan!" ucap Fajri.


Safira hanya mengangguk dengan mata yang sudah tertutup. Fajri segera menggendong Safira dan keluar dari kamar dengan wajah yang begitu merona karena senang.


Ia kembali menurunkan Safira tepat di pintu balkon, angin malam yang sejuk membuat siapa saja merasakan ketenangan, ketika angin itu membelai kulit mereka.


"Aku menyiapkan sesuatu untuk kamu. Gak mewah, tapi hanya ada kita berdua disini!" ucap Fajri memeluk Safira dari belakang.


"Kamu jangan aneh-aneh, sayang! Boleh aku buka penutup matanya?" tanya Safira mengernyit.


"Boleh. Biar aku yang membukakannya!"


Fajri dengan perlahan membuka dasi yang ia gunakan untuk menutup mata Safira. Ibu muda itu mengerjab menyesuaikan cahaya yang ada di hadapannya.


Deg!.


"Happy anniversary yang pertama, sayang!" ucap Fajri tersenyum sambil memeluk Safira dari belakang.


"Mas, ini?" Safira tercekat.


Apa yang terjadi pada hari ini, sangat membuatnya tidak tau harus berkata apa lagi. Surprize dari Fajri berhasil membuat Safira benar-benar terkejut.


"Walaupun terlambat, setidaknya masih di bulan yang sama. Terima kasih sudah melahirkan anak yang sehat untukku. Terima kasih karena kamu memilih untuk bertahan dan kuat untuk mendampingiku. Terima kasih karena kamu mau menyerahkan hidupmu yang berharga hanya untukku dan anak-anak kita!" ucap Fajri tercekat.


Mereka bertatapan dengan air mata yang menggenang. Hanya ada senyuman manis yang menghiasi wajah Safira dan Fajri.


"Jangan berterima kasih terhadap apapun yang aku lakukan! Aku ikhlas menjalaninya. Mencintaimu, mengandung anak kita, membesarkan mereka, adalah hal yang aku inginkan dari dulu, Mas. Percaya atau tidak, aku pernah menghayalkan hari ini akan terjadi. Menjadi istri seorang Fajri! Justru aku yang takut, jika kamu akan berpaling. Namun aku yakin, jika kamu tidak mudah untuk berpaling hati!" ucap Safira tersenyum sambil mengusap kepala Fajri.


"Aahh, ini begitu emosional! Tapi, satu hal, Kamu haru percaya kepadaku, sayang. Karna itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Fajri terkekeh namun terlihat jelas, jika matanya tengah berlinang saat ini.


"kita duduk, yuk!" ajak Fajri.


Ia menggenggam tangan Safira dengan lembut dan menuntunnya untuk duduk di kursi.


Safira sangat merasa tersanjung dengan perlakuan Fajri selama mereka menikah. Jangankan untuk marah, meninggikan suaranya pun, Fajri tidak pernah. Bagaimana ia bisa berpaling dari pria tampan dan sempurna ini. sungguh ia tidak akan pernah mampu.


"Makanannya sedikit dingin! apa perlu kita panaskan lagi?" tanya Fajri.


"Gak usah, Mas! hmm, Terima kasih!" ucap Safira tersenyum.


"Sama-sama, sayang. Ah, kenapa anak-anak lebih dulu lahir. Padahal besoknya adalah hari pernikahan kita!" keluh Fajri.


"Jangan seperti itu, Tahun depan juga kita bisa merayakannya bersamaan!" ucap Safira tersenyum.

__ADS_1


"Ah, aku jadi merindukan mereka!" ucap Fajri tersenyum dengan wajah yang merona.


"Aku juga, Mas! Tapi kalau harus pulang sekarang, rasanya aku masih ingin di sini beberapa saat!" ucap Safira lirih.


"Boleh, setelah makan kita akan duduk di sini sambil bercerita. Habis itu, baru kita pulang, ya!" ucap Fajri tersenyum.


Makan malam romantis itu berjalan dengan baik. Tak banyak hidangan yang tersedia di atas meja, hanya dua porsi steak masakan Fajira, air soda dan air putih untuk Safira.


"Mas, Ivanna bercerita, jika perusahaan Ayah akan di ambil alih olehnya dalam waktu dekat," ucap Safira.


"Huft, itu baru rencana, sayang. Karena Ivanna masih terlalu kecil untuk memimpin perusahaan besar milik Ayah. Aku juga tidak mungkin menjalankan semuanya sendiri. Sementara Ayah, sudah tidak mungkin untuk pergi keluar kota, mengingat kondisi kesehatannya yang menurun belakangan ini!" terang Fajri.


"Semoga, Ayah bisa sembuh lagi. Aku kasihan melihat Ivanna yang harus belajar tentang bisnis setiap malam. Dia terlihat semakin tidak memiliki teman!" ucap Safira sendu.


"Temannya banyak, sayang. Hanya saja, mereka masih sekolah, sementara Ivanna sudah kuliah, bahkan hampir tamat. Dia gadis yang kuat, aku yakin, dede bisa membuat perusahaan bisa lebih maju lagi!" ucap Fajri tersenyum.


Mereka berbincang cukup lama sambil menikmati pemandangan malam yang begitu indah. Fajri menatap Safira lekat dan membawanya berdiri. ia memeluk Safira dari belakang


"Sayang, Jangan takutkan apapun, karena hatiku hanya untukmu, milikmu! Makanya, aku alihkan sebagian hartaku atas nama kamu dan anak-anak, dan mungkin akan aku tambah lagi. Karena ketika aku berniat untuk selingkuh atau mendua, maka aku akan kehilangan semuanya. Hartaku, kamu dan kebahagiaan anak-anak kita!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup bahu Safira.


"Iya, sayang! Aku akan selalu mendampingimu, sampai kapanpun!" ucap Safira juga ikut menggenggam tangan Fajri.


Malam yang begitu indah, menjadi saksi, betapa mereka saling mencintai dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.


"SAFIRA, AKU MENCINTAIMU!" teriak Fajri dan membuat Safira terkejut dan tersenyum.


"FAJRI, AKU JUGA MENCINTAIMU!" teriak Safira sekuat dan semampunya.


Tanpa mereka sadari, begitu banyak pasang mata yang menyaksikan bagaimana perlakuan romantis Fajri kepada Safira. Apalagi teriakan mereka yang saling mengungkapkan cinta masing-masing, membuat penghuni hotel dan apartemen yang ada di sekeliling mereka, merasa terharu, melihat momen langka ini.


Mereka menyalakan senter dari ponsel masing-masing secara bersamaan dan membuat Fajri dan Safira terkejut. Mereka hanya tertawa bersama sambil melambaikan tangan kepada semua orang yang menyaksikan momen romantis itu.


Hari ini, kemarin, dan seterusnya, aku akan selalu bahagia dan berterima kasih kepadamu. Kamu adalah sumber kebahagiaanku. Akhirnya aku mengerti indahnya cinta, itu semua karena dirimu, Safira Putri Andika. Batin Fajri tersenyum senang.


...🌹......!TAMAT!......🌹...


.


.


.


Masih semangat, gak nih? Aku takut nanti, kalau bikin cerita Ivanna malah gak ada yang baca, kan sedih 😩😩


Maaf Kalau endingnya gak bagus πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Beberapa bonus chapter akan menyusul, sebagai pengiring untuk masuk ke cerita Ivanna yang akan terbit tahun 2022.


__ADS_2