Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
65. Pencarian Fajira Part 1


__ADS_3

drrttt... ddrrtt...


"halo pak, ada apa?" tanya Irfan mengangkat panggilan dari Pak Sakti driver Fajira.


"i-itu tuan, Nyonya menghilang!" ucap Pak Sakti panik


"APAAAAA?!! bagaimana bisa?!!" teriak Irfan kaget.


"Tadi Nyonya hanya memenuhi panggilan dosen ke gedung belakang tuan. Sudah lama saya menunggu, namun nyonya tidak kunjung datang, Ketika saya melihat ke sana tidak ada satupun pintu gedung itu yang terbuka," Ucap Pak sakti takut.


"Kau! kau! apa sudah kau cek semua gedung di sana?" teriak Irfan


"sudah tuan, Tidak ada satupun gedung yang terbuka"


Irfan segera mematikan panggilan telefon dan memanggil Ray untuk segera pergi ke ruangannya.


"Ray keruangan saya sekarang" ucap Irfan dengan emosi yang membuncah.


tok... tok... tok...


"Masuk,"


"Ada apa tuan?,"


"Fajira hilang Ray, sekarang tolong kau jemput Fajri ke sekolah dan pastikan dia aman. Setelah itu kau kembali kesini, saya akan melacak di mana keberadaan Fajira. Kerahkan semua anggota yang tidak berguna itu untuk mencari istriku"


deg...


Ray terkejut mendengar penuturan Irfan.


"Baik tuan, saya akan mengerahkan semua anggota kita untuk mencari nyonya Fajira. Saya permisi"


Ray berlalu dari sana dan segera menuju ke sekolah Fajri untuk menjemput pria kecil itu. Sementara Irfan berjalan menuju kursi kebesarannya.


"siapa yang berani bermain dengan ku? akan ku buru kalian sampai ke lubang semut sekalipun!!" mata Irfan memerah menahan amarah yang membuncah.


Ia kembali meraih ponselnya dan menghubungi salah satu body guard yang menemani Fajira kemarin.


πŸ“ž"Kau dimana ha? bukankah kau saya tugaskan untuk menjaga istriku ketika di luar?" bentak Irfan


πŸ“ž"ma-maaf tuan, kami di markas karna pemimpin memanggil kami"


πŸ“ž"Kau lebih mematuhi pemimpinmu dari pada saya ha? kau tau istriku hilang. Sekarang kalian cari istriku di manapun dan harus ada di rumah saya hari ini. Kalau tidak kepala kau ku tebas. Paham?" teriak Irfan.


tut....


Emosi Irfan membuncah ia serasa ingin melahap orang saat ini. Ia segera meraih laptopnya dan mengotak-atik komputer lipat itu dengan serius.


"Terkutuklah kau bajing*an."


Irfan mulai mencari Fajira dengan meretas cctv yang ada di kampus itu. Entah bagaimana caranya yang jelas ia bisa menemukan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Lama Irfan berputar dengan benda itu akhirnya ia menemukan Fajira yang memang berjalan menuju gedung belakang sesuai dengan perkataan Pak Sakti. Ia terus manatap rekaman cctv dengan nanar dan fokus.


*flashback on*


"Ji lo di panggil dosen tuh di gedung belakang" ucap salah satu mahasiswa.


"dosen? siapa?" tanya fajira mengernyit.


"gue lupa namanya, coba lihat dulu aja"


"okeh thanks"


Mahasiswa itu berlalu sambil tergesa, Fajira memilih menemui drivernya terlebih dahulu untuk memberitahu jika ia akan menemui salah satu dosen di gedung belakang.


"Pak, saya pergi ke gedung belakang dulu ya,"


"saya antar saja Nya,"

__ADS_1


"Gak papa pak, saya gak lama kok,"


"Tapi Nya?!"


"Sudah pak, saya pergi dulu ya,"


"hati-hati Nya, Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya,"


"Iya pak"


Fajira bergegas untuk pergi ke gedung belakang. Ketika sampai ia celingak-celinguk melihat gedung itu yang terkunci dengan gembok. Ia mengitari gedung untuk melihat sisi sampingnya, berharap ada seseorang di sana.


"gak ada orang kok disini"


Tiba-tiba datang seseorang yang menyekap Fajira dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius dan memasukkannya keladam mobil. Setelah itu mereka melajukan mobil dengan biasa agar tidak menaroh kecurigaan orang lain.


*Flashback Off*


Irfan semakin meradang melihat apa yang di alami oleh Fajira. Namun semua cctv seolah sudah di kunci dengan keamanan yang ketat, bahkan Irfan tidak lagi bisa meretasnya


"****! Apa mereka sengaja memberikan aku petunjuk begitu? aarrgghhhhh...!!"


Ia membanting semua barang yang ada di depannya. Perlahan air mata itu menetes dan mengalir deras membasahi pipi Irfan.


"hiks... dimana kamu sayang. Baru saja kita merasakan kebahagiaan, malah seperti ini. Tuhan kembalikan istriku" teriak Irfan frustrasi.


ceklek...


"tuan, Tuan Muda Fajri sudah aman. Apa langkah selanjutnya yang akan kita ambil?," Ucap Ray yang baru saja kembali menjemput Fajri.


"Kita akan mencari laki-laki ini," ucap Irfan menunjuk layar laptopnya memperlihatkan wajah laki-laki yang berbicara kepada Fajira tadi.


"baik tuan"


"Beritahu kepada beberapa orang kepercayaan kita untuk mencari laki-laki itu" Irfan berjalan keluar di ikuti oleh Ray.


"Fitri kau batalkan semua jadwalku sampai minggu depan" ucap Irfan tanpa menoleh.


Mereka segera menuju ke mobil dan memutuskan berkeliling untuk mencari Fajira. Beruntung Irfan sudah menyalin nomor plat mobil yang sempat terlihat di dalam rekaman tadi.


"kemana kamu sayang?" ucap Irfan panjang jalan.


Nyonya, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa anda dengan mudah terkecoh seperti ini. Bathin Ray frustrasi.


Drrtt... ddrrtt....


Ponsel Irfan berdering, ia segera mengangkat panggilan itu.


πŸ“ž"hallo" ucap Irfan.


πŸ“ž"halo tuan, Laki-laki itu sudah kami temukan. Dia sudah kami amankan di markas"


πŸ“ž"baik saya akan ke sana sekarang. Teruskan untuk mencari keberadaan istriku. Malam ini juga dia harus pulang,"


πŸ“ž"ba-baik tuan,"


tut....


"ke markas Rey"


"baik tuan"


Ray segera membawa mobilnya menuju markas bodyguard yang menjadi kepercayaan Irfan. Setelah hampir 30 menit mereka sampai di sana.


"selamat datang, tuan," sapa laki-laki yang menjadi Pemimpin bodyguard itu.


"kau!!"


Bugh...

__ADS_1


Bugh...


Plaak!...


Irfan menghajar laki-laki itu tanpa ampun. Lalu Irfan memegang kerah baju laki-laki tegap yang sudah tersungkur di lantai.


"kenapa kau menyuruh mereka untuk pergi ke markas dan meninggalkan istriku sendiri haa?" bentak Irfan.


"ma-maaf tuan"


"sekarang kau kerahkan semua anak buah yang kau punya untuk mencari keberadaan istriku, dan malam ini dia harus kembali ke rumah dengan utuh tanpa lecet sedikitpun. Jika tidak kepala kau ku penggal!" Ucap Irfan tajam ke pada laki-laki itu.


"ba-baik tuan"


Irfan melepaskan kerah baju sambil menghempaskan laki-laki itu dan melanjutkan perjalanannya ke dalam markas.


Kalau tidak mengingat anda sudah menyelamatkan nyawa Putri saya, saat ini anda bisa saya bunuh tuan!. Batinnya bengis menatap Irfan


"ini dia tuan Irfan, Laki-laki yang sudah menyuruh Nyonya untuk pergi ke gedung belakang" ucap salah satu body guard yang ada di sana.


Irfan menatap bajing*an itu tajam, ingin rasanya ia membunuh laki-laki itu saat ini juga.


"Apa sudah kalian geledah?"


"sudah tuan"


"buka pintunya"


"baik tuan"


Mereka bergegas membuka pintu sel besi itu, tanpa menunggu lama Irfan segera masuk ke dalam dan menendang laki-laki itu hingga ia tersungkur.


"dimana istriku?!" bentak irfan.


"sa-saya ti-tidak tau tuan" ucapnya terbata-bata karna takut dan lemas. Sebab body guard Irfan juga memukulinya.


"kau yang meminta Fajira menuju gedung belakang kampus! Dimana teman-teman kau yang lain Ha?" teriak Irfan menggema membuat seisi ruangan itu bergidik.


"sa-saya tidak tau tuan. Saya hanya di suruh karna mereka mengancam akan membunuh ibu sayang" ucapnya terisak


"kau! Saya tidak suka orang yang berbohong. Atau saya juga akan membunuh ibu kau, jika kau tidak mengaku"


"hiks... jangan tuan, saya berani bersumpah. Jangan bunuh ibu saya tuan, hanya dia yang saya punya hiks..." laki-laki itu semakin terisak.


Hati Irfan melunak, ia teringat dengan Fajri yang begitu menyayangi Fajira. Ia berdiri lalu berbalik dan meninggalkan laki-laki yang sudah tidak berdaya itu.


"Kau juga seorang anak, apa yang kau rasakan jika ibumu di culik oleh orang yang sama sekali tidak kau ketahui?" ucap Irfan dingin.


"maafkan saya tuan!, saya sudah tidak memiliki pilihan lagi"


"saya akan menahan ibumu sampai istriku bisa di temukan"


"ja-jangan tuan" isaknya hendak menggapai kaki Irfan.


Namun sayang, Irfan sudah melangkah keluar dan pintu kembali di gembok.


"obati dia" ucap Irfan kepada Ray.


deg...


"ba-baik tuan" Ray memerintahkan bawahannya untuk mengobati laki-laki itu dan juga menjemput ibunya.


Semenjak anda bertemu dengan Nyonya Fajira, anda tidak se kasar dulu tuan. Bahkan anda terlihat lebih manusiawi di bandingkan sebelumnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Semua wanita menginginkan sebuah cinta dan kesetiaan,. Namun semua itu tidak berlaku untuk sosok wanita bernama Jessica, ia lebih suka menjadi duri dari pada harus menjadi bunga mawarnya. Ia tak pernah menyesal menjadi orang ketiga dalam sebuah rumah tangga yang utuh.

__ADS_1


Jessica mempunyai alasan di balik semua tindakannya. Apa kira-kira alasan Jessica melakukan semua ini? Yang penasaran langsung saja ikutin novel ketiga othor Tie tik dengan judul 'Jerat Cinta Jessica'



__ADS_2