
Fajri dan Ivanna sudah melakukan konferensi pers untuk menjawab rasa penasaran para wartawan saja. Dengan di dampingin oleh irfan dan Ray, mereka dengan tenang tampil di hadapan banyak orang dan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh para wartawan. lebih dari setengah jam mereka melakukan tanya jawab, hingga akhirnya selesai di karnakan mereka harus kembali ke Indonesia.
"Tuan muda?" panggil Ray ketika mereka sedang menuju ke bandara.
"iya, om. Ada apa?" tanya Fajri.
"Menteri pendidikan dam kebudayaan sudah menyebut kedatangan kita di bandara!" ucap Ray.
"benarkah?" ucap Fajri dan Ivanna terkejut.
"Wah!" mata mereka berbinar karna merasa sangat tersanjung dengan apa yang di ucapkan oleh Ray tadi.
"Setelah ini, Tuan dan Nona muda, harus menyediakan tenaga ekstra, karna akan ada banyak hal yang terjadi jika mendapatkan persetujuan dari Nyonya Fajira," ucap Ray kembali
"Dede gak mau, Om. Nanti kalau kecapean wajah Dede cepat keriput, nanti gak cantik lagi!" ucap Ivanna berbisik.
"hehehe, Nona masih terlihat cantik kok, sampai tua bahkan lebih cantik lagi!" ucap Ray menggombal.
"Om mau Dede pukul ngomong seperti itu? kan gak boleh, Om sudah punya istri!" ucap Ivanna marah dengan semburat kemerahan di wajahnya.
"ada apa dek?" tanya Fajira mengernyit.
"gak papa, Buna!" ucap Ivanna tersenyum.
Ray dan Fajri hanya bisa tersenyum melihat ekspresi marah Ivanna yang terlihat sangat mengemaskan. Bukannya takut, ia terlihat semakin manis dengan wajah malunya.
"Sudah, Om! Dede gak mau dekat-dekat sama Om lagi, Om buaya soalnya!" ucap Ivanna santai namun berhasil membuat Riska dan Fajira terbelalak kaget mendengarkan ucapan anak gadis itu.
"dek!" seru Fajira dengan melotot.
Ivanna menampilkan wajah kesalnya, karna paras cantik yang ia miliki, membuat dirinya lelah menghadapi gombalan dan rayuan oleh orang sekitarnya. Termasuk dari Bryan, teman sebangku yang begitu sangat menyebalkan.
Hingga mereka tiba di bandara, dan segera pergi menaiki pesawat pribadi untuk segera terbang ke Indonesia, dengan membawa tiga medali hasil dari kerja keras mereka.
...πΊπΊ...
Benar saja, Bapak menteri pendidikan sudah menanti kedatangan mereka di bandara Seo-Ta bersama dengan beberapa jajarannya dan tak lupa dengan wartawan yang ingin mencari berita.
Irfan sudah mengerahkan seluruh team keamanan mereka untuk mengawal keluarganya nanti, terutama Fajri dan Ivanna. Mereka turun dengan perlahan sambil mengalungkan medali emas itu di leher masing-masing dan berjalan sambil tersenyum bangga.
"Selamat datang, anak-anak bapak," sapa Bapak menteri sambil mengalungkan rangkaian Bunga ke leher para siswa utusan yang ada di sana.
"Terima kasih atas sambutannya, pak. Kami merasa tersanjung karna di sambut langsung oleh, Bapak!" ucap Fajri sedikit membungkukan badan.
__ADS_1
"Justru, bapak yang berterima kasih karna anak-anak sekalian, karna sudah bisa mengharumkan nama negara kita," ucap Pak menteri.
Mereka sedikit berbasa-basi sebelum kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
...πΊπΊ...
Saat ini, Fajri, Irfan dan Ray sedang berada di ruang kerja, mereka menyaksikan bagaimana ponsel Fajri yang selalu berdering menandakan adanya pesan masuk dari berbagai sosial media milik pria kecil itu.
"Sepertinya, Tuan muda mendapatkan endorsment yang cukup banyak," ucap Ray tidak menyangka.
"huft, bagaimana ini Ayah? apa Aji terima saja?" tanya Fajri.
"Kamu mau ngasih tarif berapa nak?, mampu gak mereka membayar kamu nanti?" ucap Irfan yang sudah membayangkan berapa banyak pundi-pundi yang akan di dapatkan oleh anaknya.
"Ya, itu bisa di sesuaikan, Ayah. Apa Aji ambil saja semua endorsment itu, tapi Aji gak mau yang terlalu ribet," ucap Fajri.
"Ya, kalau Tuan muda ingin dan masih sanggup membagi waktu, rasanya tidak akan susah. Nanti akan saya carikan produk yang memang akan kamu pakai sehari-hari biar gak ribet," ucap Ray.
Fajri terdiam dan memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk kedepannya.
Kalau di pikir-pikir uang masuknya juga lumayan sih, pasti mereka berani membayar Aji lebih mahal. Apalagi yang menawarkan itu situs belajar online, tapi kalau seandainya ribet dan mengganggu jadwal Aji bagaimana ya? Apa Aji bikin management saja untuk mengatur semuanya?. Bathin Fajri.
"bagaimana kalau kita buat manajemen untuk endorsment ini, Ayah, Om? nanti bisa di sesuaikan dengan jadwal yang Aji berikan, biar mereka yang mengaturnya," ucap Fajri mengusulkan.
"ya, saya setuju, Tuan muda. Nanti akan saya carikan orang yang bisa menghendel semua endorsment yang masuk!" ucap Ray.
"Carikan juga gedungnya sekalian, Om. Biar mereka punya tempat yang nyaman untuk bekerja sekalian sama fasilitasnya, tapi yang dekat dari sini aja, Om!" ucap Fajri.
"baiklah, Tuan muda. Segera saya siapkan!" ucap Ray tersenyum.
Ia begitu bangga dengan anak genius yang ada di hadapannya ini. Walaupun ia harus menghendel begitu banyak pekerjaan, tapi semua pemikiran berasal dari Fajri, sehingga ia hanya menjalankan dan memerintahkan yang lain untuk melakukan pekerjaan yang tidak sempat ia kerjakan.
tok,... tok,... tok,...
"silahkan masuk, Nyonya!" ucap Ray.
"ih, berapa kali harus aku katakan pada kakak, jangan panggil aku Nyonya!" ucap Fajira kesal.
"Jangan panggil dede, nona muda juga!" sambung Ivanna yang berada dalam gendongan Fajira.
Ray menghangat, ia hanya mengingat bagaimana posisinya saat ini. Karna mereka tengah membahas pekerjaan, berbeda lagi jika tengah santai, mungkin Ray tidak akan sungkan untuk memukul kepala Irfan.
Ivanna segera turun dari gendongan Fajira dan memeluk Fajri dengan erat. Kangen, begitu ucapnya manja. Fajri tersenyum gemas dan mengusap kepala Ivanna dan mencubit pipi tembamnya.
__ADS_1
"lagi bahas apa sih? lama banget!" keluh Fajira yang begitu penasaran.
"Aji akan buat cabang baru, bunda. Untuk mengurus endorsment, termasuk nanti punya dede juga," ucap Fajri tersenyum.
"cabang baru lagi? untuk endorsment? Abang yakin mau menerima pekerjaan itu nak?" tanya Fajira.
"iya, Bunda. Makanya Abang mau buat kantor yang tidak jauh dari sini, jadi mereka yang akan menghendel semua sesuai dengan jadwal yang Abang berikan nanti. Jadi Abang rasa gak kan menggangu waktu makan, belajar, waktu bermain, waktu bersama keluarga dan waktu istirahat, bolehkan, Bunda?" ucap Fajri tersenyum penuh harap.
"Bunda gak masalah, tapi Bunda takut nanti Abang kelelahan, terus waktu untuk keluarga kurang, Abang juga latihan tae kwon do, Juga ikut belajar naik kuda, memanah dan menembak. Apa gak capek nanti, sayang?" ucap Fajira menatap Fajri.
"Asal pelukan Bunda masih terasa hangat, dan senyuman Bunda masih mengembang, lelah Aji akan hilang seketika," ucap Fajri tersenyum.
"aih, dasar bocil!" ucap Irfan.
"Ih, emang ayah saja yang bisa berkata seperti itu kepada, Bunda? Aji juga, wleek!!" ucap Fajri mencibir Irfan.
"Sayang, kamu belahan jiwaku, jangan takutkan aapapun selama kita bersama!" ucap Ivanna yang begitu hafal kata-kata Irfan yang selalu di ucapkan kepada Fajira.
"pfftt,..." Ray tidak sengaja keceplosan karna tidak bisa menahan tawanya.
Irfan menatap laki-laki yang lebih besar dari padanya dengan tatapan dingin. Ah, sungguh anak-anaknya memang sangat luar biasa. Irfan hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat Ivanna dan Fajri tertawa.
"Sudah, jangan gangguin, ayah terus!" ucap Fajira yang juga ikut menahan tawanya.
"Sayang, apa anak-anak sudah tidur? aku kangen!" ucap Ivanna dengan manja kepada Fajri, ia kembali meledek ayahnya yang sudah merona malu.
"Dede?" panggil Irfan yang terdengar horor di telinga Ivanna.
"hehe, Ayah, dede bercanda kok! tapi 'kan ayak memang seperti itu!" ucap Ivanna mengedip-ngedipkan matanya imut.
Irfan tidak menjawab, ia segera meraih Ivanna dan menggelitik anak gadisnya itu sampai puas.
"hahaha, Ayah ampun! ampun Ayah! haha geli!" tawa Ivanna terdengar sangat renyah.
Setelah puas bermain, mereka kembali serius untuk membahas semua keperluan untuk membuka cabang ke duanya setelah perusahaan antivirus yang baru saja didirikan beberapa waktu lalu.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
Aku gemas banget sama Ivanna ππ
yuk tinggalkan jejak ππ
__ADS_1