Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
103. Kelakuan Irfan


__ADS_3

Malam menjelang, Fajri masih saja menempel kepada Fajira karna kondisi tubuhnya yang lemas karna demam. Bukan Irfan namanya jika tidak membuat pria kecil itu kesal.


Ia selalu merengek meminta agar bisa bergantian memeluk Fajira, sehingga membuat pria kecil itu menangis kesal sambil memeluk bundanya dengan erat.


"Sayang, Ayo lah gantian kita nak. Ayah juga mau di peluk sama Bunda," Ucap Irfan mencolek-colek pinggang Fajri.


"gak mau ayah! Bunda, Ayah jahat! huaaa" rengek Fajri menepis tangan Irfan dengan kesal.


"Ayo lah sayang. Gantian kita! ayah juga kangen ini sama bunda!"


"Bunda, Ayah huaa hiks... kepala Aji pusing Bunda!" tangis pria kecil itu semakin keras berbarengan dengan sakit kepala yang kembali menderanya.


"Mas!" panggil Fajira sambil melotot.


"hehehe, Ayo lah sayang. Aku juga pengen di peluk" Irfan memelas sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"tu kan Bunda, Ayah colek-colek Aji terus! Geli Bunda, Sakit juga! hiks..." Adu Fajri.


"Mas, Udah lah. Anak lagi sakit juga malah di becandain!" Garang Fajira menatap Irfan.


"pukul ayah bunda" Ucap Fajri dalam isaknya sambil mengedip-ngedipkan mata.


"gak boleh pukul-pukul, sayang!" tolak Fajira sambil membelai kepala Fajri lembut.


"tapi ayah... Aduh.. kan Bunda, Ayah jahat" keluh Fajri ketika merasakan jari Irfan kembali mendarat di pinggangnya.


Plak!!


Fajira memukul lengan Irfan agar Fajri bisa lebih tenang dan tidak menangolis lagi.


"udah ya nak, Bobo lagi yuk"


"iya bunda" dalam tangisnya Fajri mencibir ke arah Irfan yang sudah tersenyum masam.


"wleeek"


"Sayang" panggilnya memelas ke arah Fajira.


"sabar, Ayah! Gantian ya" ucap Fajira.


"gak mau!" ucap Irfan dan Fajri bersamaan dan sukses membuat Fajita terlonjak kaget.


"ayah kan sudah besar, kata Bunda kalau sudah besar harus mengalah sama anak kecil. Aji kan masih kecil, Ayah, jadi ayah sana dulu Aji mau di peluk sama bunda!" Ucap pria kecil itu sambil menguap dan memeluk Fajira semakin erat.


"jangan erat-erat sayang. Nanti dedenya kegencet"


"eh maaf Bunda. Maafin abang ya dek" Fajri mengusap perut itu dengan lembut dan tersenyum kearah Fajira.


"Kita bobo lagi ya sayang" ajak Fajira


"gak mau Bunda, Nanti Bunda ninggalin Aji lagi seperti tadi" ucap Fajri memelas.


Irfan hanya tersenyum manis sambil mengelus kepala Fajri lembut. Ia begitu suka melihat wajah cemburu dan possesif itu, terlihat sangat mengemaskan, begitu fikirnya.

__ADS_1


"Ayah jangan ganggu abang lagi ya!" ucap Fajira mewanti-wanti.


"iya sayang. Sini ayah juga mau peluk Bunda dan Aji. Kita damai ya nak"


Irfan mengambil posisi duduk sambil bersandar pada sandaran tempat tidur. Fajira bersandar di dadanya dan Fajri berada di tengah antara mereka.


"Abang besok main hujan lagi ya, nak!" ucap Irfan.


"Gak mau Ayah! nanti abang sakit lagi" ucapnya lirih, walaupun di dalam hatinya ia sangat menginginkannya kembali.


"gak papa sayang, coba dulu ya. kan kata dokternya kalau gak biasa, Abang akan sakit terus kalau kena hujan, sayang!" Ucap Irfan memberi pengertian kepada Fajri.


Pria kecil itu menatap Fajira lekat, ada parasaan penuh harap terpancar dari matanya. Sungguh Fajri tidak akan pernah melakukan sesuatu tanpa seizin Fajira.


"Aji Mau main hujan lagi?" tanya Fajira menatap Fajri


"Apa boleh Bunda?"cicitnya pelan lalu kembali memeluk Fajira .


"Boleh sayang. Tapi gak boleh lama-lama ya, Nak!" Ucap Fajira tersenyum dan membelai lembut tubuh yang sedang panas itu.


"Bunda serius?" mata polos itu mebatap dengan penuh harap.


"iya sayang. Tapi gak boleh sering-sering nak"


"iya Bunda terima kasih" Fajri terlihat sangat senang sambil menciumi ayah dan bundanya bergantian.


"sekarang kita tidur ya nak!" Ucap Irfan memeluk Fajri.


"iya, Ayah"


Perlahan pria kecil itu kembali terlelap di dalam pangkuan orang tuanya. Irfan menatap Fajira dengan lamat, ia masih belum puas karna kejadian tadi siang yang membuatnya harus kembali bermain dengan sabun. Begitu juga dengan perempuan cantik itu, Ia menatap Irfan lembut dengan gairah yang mulai mendera tubuhnya.


Tangan mulus itu perlahan mengusap pipi Irfan dengan lembut. Ia mengusap rahang tegas itu sambil tersenyum.


"Aku pengen" lirih Irfan.


"Sabar ya sayang. Fajri baru saja terlelap"


"iya sayang, Jangan sampai gagal lagi ya. Aku gak kuat" ucap Irfan memelas.


"semoga saja" Fajira tersenyum gemas. ketika mengingat kejadian tadi siang..


"ah iya sayang, Besok sore ada rapat pemegang saham. Apa kamu mau ikut?"


"rapat pimpinan saham?" tanya fajira mengernyit.


"Iya sayang, kamu punya 20% saham di perusahaan"


"ka-kamu serius? 20%. Itu banyak banget sayang" senyak Fajira dengan mata yang membola.


"iya karna memang saham yang aku miliki sudah atas nama kamu dan Fajri"


"kamu gak bercanda kan sayang?"

__ADS_1


"apa aku terlihat bercanda?"


"apa itu tidak terlalu berlebihan Mas?"


"gak ada yang berlebihan untuk anak dan istri sayang. Semua apa yang aku punya itu milik kamu dan anak-anak kita. Jadi jangan pernah sungkan untuk menggunakan uang kita. Beli apapun yang kamu butuhkan sayang" ucap Irfan lembut dan berhasil membuat Fajira berkaca-kaca.


"terima kasih, Mas. Aku pikir dari awal kamu hanya menginginkan Fajri saja. Aku gak tau kalau cinta kamu juga besar untukku"


"Apa ini yang membuat kamu ragu untuk menerimaku?"


"iya, Sayang. Maafin aku"


"gak papa, Aku paham. Jangan jadikan beban ya. Sekarang kita sudah bersama, jangan takutkan apapun" Irfan tersenyum dan mencium kening Fajira lembut.


"iya sayang"


Entah siapa yang memulai, bibir itu saling beradu satu sama lain. Mereka menyesap, melum*at dan saling mengeksplor salah satu pusat kenikmatan itu.


Fajira melepaskan pagutan mereka ketika pasokan udara terasa menipis. mereka menyatukan dahi masing-masing dengan nafas yang menderu.


"Sayang Aku sudah gak kuat!"


"geser Fajri dulu sayang. Atau Kita main di sofa saja"


"iya sayang"


Irfan meperbaiki posisi tidur Fajri dan segera menggendong Fajira menuju ranjang single milik pria kecil itu.


Irfan meraup kenikmatan yang hanya bisa ia dapatkan dari istrinya dengan perlahan. Ia seolah tidak pernah merasa cukup dan menginginkannya lagi jika berhubungan dengan perempuan cantik itu.


Dengan perlahan Irfan memasuki Fajira setelah berpamitan terlebih dahulu kepada anak yang ada di dalam kandungan istrinya.


Akhirnya setelah lebih satu minggu, bahkan hampir dua minggu aku berpuasa, Ahhh... nikmat banget. Kenapa kamu selalu bisa membuat aku bertekuk lutut walau hanya dengan tatapanmu saja. Aku mencintaimu istriku ibu dari anak-anakku. Bathin Irfan berdialog dengan dirinya.


Mereka berpacu dalam memupuk benih cinta, berharap anak yang ada di dalam rahim Fajira bisa lahir dengan sehat dan selamat. Menjadi anak yang berbakti di berguna di kemudian hari.


Hingga keduanya sama-sama melenguh karna kenikmatan yang sudah mencapai puncaknya.


"terima kasih sayang" Ucap Fajira tersenyum mengecup kening Irfan dan membuat laki-laki itu tergelak.


"sama-sama istriku, bidadariku" gelak pria tampan itu gemas melihat tingkah laku istrinya.


Irfan menggendong Fajira menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka. Setelah selesai mereka segera kembali ke tempat tidur dan beristirahat. Irfan memperlakukan Fajira bak seorang ratu dan membuat perempuan itu tersenyum senang dan tersanjung.


Mereka terlelap dalam malam yang menebarkan kehangatan, menjadi saksi bisu betapa Irfan sangat mencintai istri dan anaknya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


morning gais πŸ€—


Yuk dari pada vote dan poinnya cuma nangkring, sini bagi untuk fajri aja wkwkwk

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak πŸ€—πŸ€—


__ADS_2