Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
171. Curhatan Fajri


__ADS_3

Fajri pulang ke rumah dengan wajah yang cemberut, ia mencari keberadaan Fajira dan langsung memeluk bidadari cantik itu dengan erat.


"Bunda!" lirih Fajri.


"eh, udah pulang sayang?" ucap Fajira membalas pelukan Fajri.


"hmm..." Matanya berkaca-kaca.


"kenapa, sayang? apa ada yang jahat sama abang, nak?" tanya Fajira yang melihat sikap aneh dari putranya.


"abang kangen sama, Bunda!" ucap Fajri lirih.


"kita duduk di sana, yuk!" ucap Fajira mengajak Fajri duduk di salah satu bangku taman yang berada di belakang rumahnya.


"Ada apa, nak? sini cerita sama Bunda!" tanya Fajira lembut sambil menatap manik mata putranya.


"Apa abang salah memiliki ayah yang kaya dan berkuasa?" ucap Fajri dengan air mata yang menetes.


Fajira terkesiap. Ia mengernyit dan bertanya-tanya, kenapa Fajri bisa bertanya tentang hal itu. Apa ia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya?.


"Apa abang di bully di sekolah, sayang?" tanya Fajira. Fajri hanya menggeleng sebagai jawaban.


"terus, apa yang terjadi? apa abang mendapatkan perlakuan yang tidak baik di sekolah?" desak Fajira.


"Mereka bilang, Apa yang Aji punya sekarang itu karna, Ayah. Mereka juga bilang, kalau Dede bisa masuk sekolah karna ayah donatur di sana!" ucap Fajri terisak.


"Sayang, bukankah Aji tau jika semua itu hasil kerja Aji?, Sudah ada buktinya 'kan, sayang?"


"iya, Bunda! Tapi Aji sedih!" Fajri semakin terisak di dalam pelukan Fajira.


"sayang, Mereka berkata seperti itu karna iri dengan kemampuan dan kepintaran, abang! Bukankah abang tau, kita akan lemah jika mendengarkan perkataan orang-orang yang tidak penting itu? biarkan saja mereka, jangan dengar apa yang di katakan orang lain, cukup menerima saran dari mereka saja!" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Fajri lembut.


"Bukankah Ayah juga berperan sayang?, Aji memang membuat terobosan baru dengan segala teknologi canggih, tapi kalau bukan ayah yang membantu Aji, belum tentu produk Aji akan booming seperti sekarang 'kan?"


Fajri mengurai pelukannya, ia menatap manik mata bidadari cantiknya itu.


"Bunda benar, tidak seharusnya Aji mendengarkan ucapan mereka. Tanpa Ayah Aji bukan siapa-siapa! maafin Aji, bunda" ucap Fajri tersenyum.


Hati Fajri terasa lega, ketika mendengarkan ucapan lembut dari ibundanya.


"Jangan sedih lagi ya! Apapun itu Aji harus terima, justru abang memiliki keuntungan yang sangat banyak karna memiliki ayah sebagai orang tua! betul 'kan sayang?" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap air mata Fajri yang masih menetes.


"iya, Bunda! huft... Aji merasa sendiri di sana, karna kak Hanna, bang Ziyyad dan Bagas gak sekolah di sana lagi bunda. Aji jadi gak ada teman ngobrol karna mereka semua sudah besar, berbeda dengan Aji yang masih kecil!" ucap Fajri kembali murung.


"Kasihan anak, Bunda!" Fajira kembali memeluk Fajri.


Ia tahu jika putranya kini merasa kesepian karna masuk ke dalam kelas dengan siswa yang bersaing dengan cukup ketat. Dan pastinya mereka menganggap Fajri sebagai saingan yang tidak boleh di beri celah untuk hidup di kelas itu.


"apa abang mau pindah kelas?" tanya Fajira.


"gak mau, bunda! nanti mereka malah semakin menjelek-jelekkan Aji dan ayah!"

__ADS_1


"terus? apa mau pindah sekolah?"


"janganlah, bunda! belum tentu Aji mendapatkan kemudahan seperti sekarang, jika pindah sekolah!" ucap Fajri cemberut.


"hehe mana tau, Aji mau satu sekolah dengan kak Hanna?"


"apa Bunda mau Aji jauh dari, Bunda?"


"kok gitu, sayang?"


"kak Hanna kan pindah keluar kota sama orang tuanya!"


"oalah, jangan sedih lagi ya sayang!"


"iya, bunda!"


"coba senyum dulu, sayang!" ucap Fajira tersenyum dan di iringi oleh senyuman manis dari Fajri.


Bunda benar, bahkan Aku memiliki banyak keuntungan karna ayah. Aji gak boleh lemah hanya karna mendengarkan perkataan mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka hanya iri dengan apa yang Aji bisa, makanya mereka berbuat jahat seperti itu kepada orang lain! Aji lebih beruntung karna memiliki Bunda di sisi Aji!. bathin Fajri menatap Fajira lembut.


Beban yang ia rasakan seolah luruh karna mendengarkan ucapan ibundanya. Ia selalu merasa baik-baik saja setelah mendapatkan sedikit motivasi dan pembenaran dari bidadari cantikny.


"apa sudah lebih baik?"


"udah, Bunda. Terima kasih!" ucap Fajri tersenyum.


"sama-sama, sayang! ingat pesan Bunda ya!" ucap Fajira mencolek hidung mancung Fajri.


"sekarang, bersih-bersih dulu. Bunda tunggu di ruang makan ya! tadi Dede masak ayah kecap untuk, abang!" ucap Fajira.


"benakah, Bunda? terus Dede dimana?" ucap Fajri berbinar.


"Dede lagi tidur di ruang keluarga!"


"ya sudah, kalau gitu abang masuk dulu Bunda!" ucap Fajri kembali bersemangat.


Ah pria kecilku, sangat cepat berubah jika sudah mendapatkan sebuah pelukan. Tumbuhlah dengan baik dan penuh dengan kebahagiaan, sayang!. bathin Fajira berkaca-kaca.


🌺🌺


Fajri sudah mengganti baju dan membersihkan badannya. Ia segera berlari menuju ruang keluarga dimana Ivanna tengah tertidur dengan cantik.


Muach...


muach...


Ia melayangkan kecupan bertubi-tubi pada wajah cantik itu, berharap adik kecilnya akan terbangun memeluknya dengan erat.


"dek, bangun yuk! abang udah pulang!" bisik Fajri di telinga Ivanna.


"Abang bawain Dede permen kapas!" bisiknya lagi dan sukses membuat mata tajam nan indah itu mengerjab.

__ADS_1


"mau!" ucap Ivanna serak.


"hehe, dengar permen aja Dede bangun, sayang! kata Bunda Dede tadi masak ya, untuk abang?" Tanya Fajri antusias.


"iya, tadi Dede makan ayam kecap, terus makan di kantor sama ayah! tapi abang gak ada!" ucap Ivanna bangkit dan duduk di atas pangkuan Fajri lalu memeluknya.


"Dede kangen!" ucap Ivanna dan memejamkan matanya kembali.


"abang juga kangen sama Dede! Yuk temani abang makan, sayang!" ucap Fajri menggendong Ivanna.


"Yuk!" gadis kecil itu merebahkan kepalanya di bahu Fajri dan kembali memejamkan matanya.


"Bunda?" panggil Fajri ketika melihat Fajira tengah berada di ruang makan.


"iya, sayang? Dede udah bangun, nak?" tanya Fajira.


"sudah, Bunda, tapi sepertinya Dede tidur lagi! hehe," ucap Fajri terkekeh.


"ya sudah, Abang makan dulu, biar Dede sama Bunda saja! itu sudah Bunda sediakan!" ucap Fajira tersenyum dan mengambil Ivanna dari gendongan Fajri.


"terima kasih, Buna! hehe..." ucap Fajri tergelak.


"sama-sama!"


Fajri makan dengan lahap, ah masakan bunda memang terbaik! padahal ia sudah makan ketika jam istirahat tadi sekolah. Namun jika di suguhkan dengan masakan bunda. perut kenyang bisa terasa lapar kembali.


"pelan-pelan makannya, sayang!" ucap Fajira tersenyum.


"hehe masakan Bunda enak banget!" ucap Fajri.


"ya sudah, habiskan ya!"


"iya bunda!"


🌺🌺


"Bunda sudah bilang, jangan belikan dede jajanan sembarangan, bang!" omel Fajira ketika ia melihat Ivanna tengah asik memakan permen kapas yang di belikan oleh Fajri.


"hehe, jangan mara Bunda, sesekali kan gak papa!" ucap Fajri menggaruk tengkuknya.


"Buna jangan marah-marah! nanti Buna lekas tua, Dede makan ini saja dan gak ada yang lainnya" Ivanna menyanyikan lagi Dinda yang tengah viral.


Setelah bernyanyi, ia tergelak bersama dengan Fajri dengan renyah. Fajira juga ikut tertawa melihat anak-anaknya yang kompak untuk menyanggah larangannya. Ia sangat gemas dengan mereka yang mengingatkan kembali dengan masa kecilnya yang penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan sebelum orang tua dan adiknya meninggal.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Aku punya referensi bacaan nih buat teman-teman semua. Ada yang tertarik dengan novel drama misteri di bumbuhi kisah romantis dan perebutan cinta yang siap menghalalkan cara meski itu tindakan berdarah, bisa nih mampir ke novel SAVE YALISA, yang lagi hits! Siapin mental teman-teman, karena akan menguras air mata juga. Kuy mampir, terima kasih πŸ€—πŸ€—


__ADS_1



__ADS_2