
Pesawat mendarat di Bandara Soetta Jakarta. Irfan menggendong Fajri yang masih mengantuk dan menggandeng tangan Fajira yang lemas karna mabok perjalanan. Di luar sudah ada orang kepercayaan Irfan yang akan menjemput dan mengantarkan mereka berkeliling nanti.
"sayang mau istirahat dulu?" tanya Irfan kepada Fajira.
"pintu keluar sudah dekat kan mas? aku istirahat di mobil saja nanti"
deg...
"kamu manggil aku apa barusan?" ucap Irfan berhenti.
"apa? nanti saja aku pusing ini beneran"
"ya,, ya sudah yuk driverku sudah menunggu di luar"
Mereka kembali berjalan menuju pintu keluar dan langsung di sambut oleh Pak Budi. Tanpa menunggu lama keluarga kecil itu segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
"aku mau istirahat sebentar mas, gak kuat, pusing banget. Apa boleh ceck in dulu di hotel terdekat?" ucap Fajira lemas.
"iya sayang" Irfan tersenyum ketika mendengarkan panggilan baru Fajira kepadanya.
"pak kita ke apartemen"
"baik tuan"
Dari bandara mereka membutuhkan waktu sekitar 20 menit menuju apartemen mewah Irfan. Fajira sudah lebih dulu terlelap di dalam mobil begitu juga dengan Fajri. Ini Adalah perjalanan jauh pertama bagi pria kecil itu sehingga ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Begitu juga dengan Fajira yang sudah lama tidak kemana-mana membuatnya kembali merasakan mabuk perjalanan.
"pak tolong gendong anak saya" ucap irfan menyerahkan Fajri.
"eh iya tuan" Ucap Pak Budi terkejut.
Irfan segera menyerahkan Fajri dengan hati-hati agar ia tidak terjaga. Setelahnya Irfan menggendong Fajira dan langsung melangkah ke dalam gedung dan menuju lantai 15 dimana kamarnya terletak.
"bunda... Bunda" ucap Fajri terbangun karna merasakan ada yang berbeda dengan orang yang menggendongnya.
"Aaaaaa ... om siapa turunin Aku, om siapa? Bugh.... Bugh... Bugh... bundaa hiks turunin" Fajri terus meronta dalam gendongan pak Budi yang meringis menahan sakit, sementara Irfan sudah lebih dulu berjalan menuju kamarnya.
"tuan muda, aduh sakit atuuh. Saya bukan orang jahat, Tuh tuan irfan sudah keluar"
"Ayah" panggil Fajri menangis.
"om itu... mau culik Aji" ucapnya tersedu, namun menatap pak Budi dengan garang.
"sayang itu bukan penculik nak. Dia pak Budi driver ayah"
"eeh?" Fajri menatap pak Budi dari atas sampai bawah. Sepertinya baik, begitu fikirnya
"maaf kan Aji pak budi, Aji fikir pak Budi penculik tadi" ucap Fajri sopan dan masih sesegukan, membuat laki-laki paruh baya itu terkejut sekaligus terharu.
"iya tuan muda tidak apa-apa, Justru sikap tuan muda tadi sudah bagus. Tidak mau di gendong sembarangan orang"
"iya maafin Aji ya pak Budi. Panggil Aji aja pak jangan tuan muda" Fajri tersipu.
"hehe gak papa tuan muda, kalau begitu saya pamit dulu tuan untuk mengambil barang di dalam mobil"
"biarkan saja barang yang ada di dalam mobil itu pak, bapak istirahat dulu, nanti saya panggil lagi"
"iya tuan, saya permisi dulu. Mari tuan muda"
"iya pak"
Pak Budi berlalu menyisakan ayah dan anak yang saling berhadapan.
"Bunda mana ayah?"
"Ada lagi tidur di dalam kamar"
__ADS_1
"apa kita gak jadi pergi ke perpustakaan nasional?"
"jadi sayang, kita tunggu Bunda bangun dulu ya. Kita turun ke bawah yuk, cari makanan dulu"
"iya Ayah"
Irfan meninggalkan Fajira yang terlelap dan pergi bersama Fajri untuk mencari makanan, walaupun belum masuk waktu makan siang tetapi perut mereka kembali lapar karna perjalan yang cukup jauh.
"ayah, bunda gak apa kita tinggal?"
"gak apa sayang, hmm kita beli makanan di resto bawah saja ya. Aji mau beli cemilan?"
"hmm apa boleh Aji beli jajanan di mini maket Ayah??" cicit Aji.
"boleh sayang, kenapa Aji seperti itu nak?" Irfan terkekeh melihat ekspresi Fajri.
"Gak papa Ayah, Nanti Kalau bunda marah Ayah belain Aji ya" ucanya tersenyum.
"emang Bunda gak bolehin Aji beli apa?"
"ciki-ciki ayah, tapi kalau roti atau makanan yang mengenyangkan boleh, tapi kalau pake bumbu-bumbu perasa itu gak boleh. Nanti kata Bunda Aji jadi gak pintar lagi gitu"
"iya itu betul kata Bunda sayang"
"tapi Aji mau coba satu aja, boleh ya Ayah"
"ya sudah ini hanya rahasia kita berdua saja ya"
"iya ayah terima kasih"
Ting....
lift terbuka, Irfan segera melangkah menuju resto yang ada di lantai dasar dan memesan beberapa makanan untuk mereka dan pak budi. Sembari menunggu pesanan, Ayah dan anak itu melangkah menuju mini market yang berada tak jauh dari sana untuk membeli beberapa cemilan dan ciki-ciki yang akan di inginkan oleh Fajri.
Irfan memang mulai memanjakan Anaknya dengan memenuhi semua keinginan putra sematawayangnya. Namun jika Fajira tau ia akan habis kena amuk oleh ibu muda itu.
Sementara Fajira sudah terbangun dari tidurnya. Ia cukup merasa asing deh tempat itu.
Apa ini di hotel? mana mereka?.
"Aji? Mas?" panggil Fajira yang masih memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"kemana mereka" Fajira perlahan keluar dari kamar dan meneliti ruangan mewah itu.
"apartemen?"
Ceklek....
Fajira terkejut karna mendengar pintu terbuka, beruntung yang masuk adalah Irfan dan Fajri.
"Bunda sudah bangun?" ucap Fajri meminta turun dari gendongan Irfan dan memeluk Fajira.
"Aji dari mana nak?"
"Aji cari makanan tadi sama ayah, bunda. Apa Bunda masih pusing?"
"sedikit sayang"
"Yuk kita makan dulu sayang biar bertenaga nanti untuk jalan-jalan" ucap Irfan.
"sini mas, biar aku aja"
Fajira mendudukkan Fajri di atas kursi makan, dan menghidangkan makanan itu satu persatu.
"Aji habis makan apa sayang?" tanya Fajira ketia mencium aroma berbeda dari tangan Fajri.
__ADS_1
deg...
jantung Fajri berdetak lebih cepat mendengar pertanyaan Fajira.
"hmm. tadi aku makan kue Bunda"
"apa ciki-ciki?"
deg ...
"makan dulu yuk, nanti keburu dingin" ucap Irfan mengalihkan pembicaraan. Sementara Fajira malah menatapnya dengan garang.
"Aji"
"maaf Bunda, Aji cuma penasaran saja, soalnya Aji lihat iklan ciki-ciki itu menggoda banget di lidah Bunda makanya Aji coba gak banyak kok cuma satu aja" ucapnya dengan ekspresi mengemaskan.
"sayang, gak ada salahnya jugakan Fajri mencoba makanan yang seperti itu"
"iya kamu bisa ngomong begitu karna belum begitu tau tentang kondisi Fajri. Aku bukan tidak ingin memberikan kesempatan untuk memakan kue seperti itu, hanya saja Aku takut jika Fajri sakit karna lambungnya gak kuat untuk menerima makana seperti itu"
Fajri berkaca-kaca mendengarkan perkataan Fajira barusan.
"Maafkan Aji Bunda" ucapnya meraih tangan Fajira.
"Aji gak salah, tuh Ayah yang salah. Kalau Ayah gak membelikan Aji makanan yang seperti itu, Bunda gak akan marah"
"sayang" panggil Irfan.
"sudah! Bunda tidak terima alasan apapun"
Fajri tersedu di dalam pelukan Fajira sungguh ia lupa dengan hal yang satu ini. Fajira mengelus lembut kepala Fajri hingga tahbisannya reda.
"masih mau makan ciki-ciki lagi nak?"
"gak mau Bunda. Maafin Aji"
"bilang sama Ayah, jangan belikan Aji ciki-ciki lagi, nanti Bunda kirim list makanan apa saja yang bisa Aji makan"
"iya Bunda"
Mereka melanjutkan makan siang itu dengan drama ciki-ciki yang membuat Irfan merasa cemas karna takut Fajri akan kenapa-napa.
"Sayang cobaan ini deh enak" ucap Irfan menyodorkan satu potong daging ke mulut Fajira.
Hap....
"iya enak" Fajira menerima suapan itu dan sukses membuat Irfan tersenyum senang.
"Aji juga mau Ayah"
"boleh sayang, ini aaa" Fajri juga menerima suapan itu dengan senang hati. Sungguh hari ini hati Fajira menghangat karna kebersamaan mereka, ia berharap agar ini tidak segera berakhir.
Apa aku harus menerima kamu dalam waktu dekat? melihat Fajri yang selalu memancarkan kebahagiaan membuat hatiku semakin melemah, tanpa sadar aku mulai mencintaimu Irfan ayah dari anakku. Katakanlah sekali lagi dan aku akan menerimamu.
πππ
TO BE CONTINUE
Babak baru gais, Fajira sudah mulai mencintai Irfan, yuk simak terus bagaimana kelanjutannya.
terima kasih banyak untuk para readers dan author semuanya yang sudah mendukung ceritaku ini. Maaf jika alurnya kadang ngambang gak jelas wkwkwk
Akuu mau ngasih referensi bacaan nih untuk mengisi waktu sembari menunggu anak sultan milik CEO Update. yuk kunjungi mana tau suka. Ceritanya keren banget, gak boong, Aku sudah baca ππ
__ADS_1
sayang kalian π€π€