Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
96. Keadaan Sherly


__ADS_3

"hahaha" Tawa Fajira menggema di dalam kamar itu ketika Fajri menceritakan apa yang sudah ia perbuat kepada Fajira dan Omanya.


Mereka kembali tertawa, termasuk Mama yang juga ikut mendengar cerita Fajri.


"cucu Oma memang pintar. Kita harus bisa menjauhkan pelakor dari keluarga kita sayang!. Jangan sampai mereka mendekat dan mendapatkan ayah atau bunda Aji ya, nak!" ucap oma serius namun masih di barengi dengan tawa.


"iya Oma, Aji gak akan membiarkan pelakor atau apa lah itu namanya, Aji gak akan membiarkan mereka merebut kebahagiaan Aji, Oma!" ucap Pria kecil itu tegas dan serius.


Fajira yang tertawa menjadi berkaca-kaca melihat kesungguhan Fajri. Ia mengusap pelan rambut anaknya yang sudah sangat pandai bersikap dewasa dari umurnya.


"Tapi gak boleh sampai nyakitin orang ya nak. Bersikap sewajarnya saja" ucap Fajira memperingati Fajri dengan lembut.


"iya, Bunda. tapi kalau mereka sudah kelewatan batas, ya Aji gak akan tinggal diam. Boleh kan, Bunda?" Mata polos itu mengharapkan persetujuan dari perempuan cantik yang ada di hadapannya.


"Iya sayang. Sini peluk Bunda nak, Bunda kangen sama Pangeran tampan Bunda" ucap Fajira membentangkan tangannya.


"Dengan senang hati, Ratu ku" Fajri masuk ke dalam pelukan ternyaman yang tidak pernah ia rasakan dari orang lain.


Dengan hati-hati Fajri memeluk bundanya agar tidak mengenai calon Dede bayi yang ada di dalam perut itu.


"apa dedenya ke jepit Bunda?" tanya Fajri ragu untuk memeluk Fajira,namun ia sudah duduk di atas pangkuan wanita cantik itu.


"Gak sayang. Dedenya senang bisa di peluk juga sama abang" ucap Fajira membuat Fajri tersenyum senang dan merona.


"Dede tenang di dalam ya sayang. Abang dan Ayah akan jagain Dede dan Bunda" Ucap Fajri sambil mengelus perut Fajira.


"Duh Oma senang banget punya cucu tampan dan pintar" Mama sebenarnya ingin memeluk pria kecil itu, namun ia juga tidak ingin merusak suasana haru antara ibu dan anak itu.


"Aji juga senang punya Oma yang baik hati dan cantik" Ucap Fajri mengerlingkan matanya.


"eh cucu Oma genit ya" gelak Mama kembali tertawa gemas melihat Fajri yang mengingatkan dengan irfan waktu kecil dulu.

__ADS_1


"hehe. Ampun oma" Fajri kembali memeluk Fajira sambil merasakan usapan lembut yang membuatnya selalu merasa nyaman dan mengantuk.


"Bunda Abang ngantuk" lirih Fajri turun dari pangkuan Fajira dan kembali berbaring sambil memeluk kaki panjang nan mulus itu.


"istirahatlah nak, Mama keluar dulu" ucap mama mengelus kepala Fajri


"iya ma"


Mama berlalu dari sana, meninggalkan ibu dan anak itu agar mereka bisa beristirahat.


Fajira memandang Fajri dengan sedikit khawatir. Sungguh siapapun manusia di dunia ini tidak akan ada yang rela jika kebahagiaannya di renggut.


Tuhan, lindungi keluargaku.


Fajira mengusap lembut kepala Fajri sambil memeluknya. Tanpa sadar ia kembali terlelap dengan membawa rasa lega, karna tindakan Fajri yang di rasa cukup berpengaruh terhadap mental pelakor itu.


Sementara di ruang kerja, Irfan dan Papa sedang berdiskusi mengenai keputusan selanjutnya yang akan mereka lakukan terhadap proyek besar pembangunan apartemen mewah bersama Sherly. Ia bukan takut atau bagaimana, hanya saja irfan sangat tidak ingin istri dan anak-anaknya kenapa-napa.


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Ini sangat merugikan, Bang!" tanya Ayah.


"Berapa total ganti rugi yang akan kamu keluarkan beserta penaltinya?" tanya Papa setelah berfikir lama


"Sekitar 25 miliar Pa" ucap Irfan.


"25 miliar? kenapa bisa sebanyak itu?" Tanya Papa terkejut.


"Itu baru perkiraan akumulasi paling tinggi Pa. Beruntung aku belum memutuskan untuk memulai pembangunan dan membeli bahan-bahannya. Kalau tidak mungkin lebih banyak lagi" Icap Irfan tertunduk.


"Sekarang bagaimana keputusan kamu?"


"Aku belum bisa memutuskan Pa. Makanya aku meminta saran dan pendapat dari Papa,"

__ADS_1


"Kalau kamu mau meminta saran, mungkin Papa bisa memberikannya. Namun untuk mengambil keputusan, lebih baik kamu bertanya kepada Fajira, karna seorang istri lebih pandai untuk mengambil keputusan. Mereka dengan mudah mencerna dan mempertimbangkan hal yang baikan buruknya suatu hal."


Ucap papa berhasil membuat Irfan bungkam. Ia ragu tentang ini, ia merasa sangat tidak mungkin Fajira ikut memikirkan hal ini dalam keadaan hamil muda.


"jangan ragu, bicarakan ini setelah istrimu pulih" papa menepuk bahu Irfan sebelum ia berlalu dari sana.


Membicarakan tentang istri ia jadi merindukan wanita hebat yang selalu menemaninya dari dulu hingga sekarang. Sementara Irfan masih terdiam di dalam ruang kerjanya.


Apa yang harus aku lakukan?, sangat tidak mungkin jika aku melibatkan Fajira dan membuatnya berfikir terlalu keras untuk mengambil keputusan. Jika dia sedang tidak hamil mungkin ini akan lebih mudah, apa lagi dia perempuan yang sangat cerdas dalam hal apapun. Bathin Irfan frustrasi.


Ia memilih keluar dari sana dan menuju ke kamar. Seketika rasa bahagia menyelimuti fikiran Irfan yang sedang kacau ketika melihat anak dan istrinya tengah terlelap. Ia melangkah lebih dekat dan ikut berbaring di belakang istrinya. Irfan hanya menatap dua malaikat yang ada di depannya sambil tersenyum. Perlahan ia juga ikut terlelap sambil menyentuh sebuah gundukan yang kenyal dan besar itu.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Di sebuah rumah sakit ternama, seorang gadis tengah terbaring lemas di salah satu ranjang rumah sakit itu, dengan tangan yang sudah tertanam selang infus. Wanita itu ada Sherly, semenjak siang tadi ia menggigil ketakutan dan terus terbayang dengan tuyul tampan yang ada di hadapannya.


Ketika sampai di rumah, tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga sehingga ia pingsan di depan pintu utama rumah mewah itu.


Sia lan banget tuh tuyul, Lemas banget badan gue. Tapi apa betul dia tuyul asli? atau hanya kerjaan mas Irfan? Apa kemarin dia beneran melemparkan bola matanya. Tapi itu terasa basah tapi tidak berdarah. Hiks... siapa yang berani mengerjai gue bang*sat! terkutuk lah kalian. Jerit Sherly di dalam hati.


Air mata takut yang bercampur dendam itu menetes begitu saja. Ia yang memang sangat takut terhadap hal gaib akan mudah sakit jika sudah melihat langsung walaupun hanya sekelebat saja.


Apa dia peliharaan mas Irfan? kenapa laki-laki itu tidak keluar walaupun gue sudah berteriak dan menggedor-gedor pintu kamarnya. Tolong gue hiks... jangan sampai bertemu dengan tuyul itu lagi huaa.


Apa nanti dia juga akan mengerjar gue jika kembali ke kantor itu lagi?. Sepertinya gue harus mencari cara lain agar Mas Irfan bisa jatuh ke tangan gue. Mas irfan tunggu Aku.


Sungguh wanita ini tak hayal seperti macan yang kehilangan taringnya. Wajah pucat dengan badan yang lemas, terlihat seperti orang yang sedang menunggu ajal dalam waktu dekat. namun dengan kasih tidak tau dirinya ia masih berusaha untuk mencari cara, agar Irfan bisa ia dapatkan


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE.

__ADS_1


Kasihan banget sih pelakor hahaha πŸ˜‚.


jangan lupa tinggalkan jejaknya gais 😁


__ADS_2