
Fajira Keluar dari kamar mandi menggerutuki kebodohannya tadi. Sementara Irfan tersenyum senang karna bisa mendapatkan jatah paginya dengan lancar walaupun harus menahan rasa sakit akibat ketidak sengajaan Fajri yang menginjak Adiknya.
"kamu jangan Senyum terus, Mas" delik Fajira jengah.
"hahaha maaf sayang, Aku lagi senang soalnya" Irfan tergelak sambil membantu Fajira memakai bajunya.
Plak...
Tangan cantik itu melayang dan mendarat cantik di lengan Irfan. Sungguh ia kesal tapi juga tidak menolak kenikmatan yang diberikan oleh Irfan.
Kenapa aku harus kesal padahal aku juga tidak menolak kenikmatan itu. Huh ego kamu besar sekali Fajira. Batin Fajira menggerutuki dirinya sambil merona.
"sayang," panggil Irfan
"hmm..."
"eh masih kesal? muach," ucap irfan mengecup bibir mungil istrinya.
"ihh"
"hehehe... Masa percobaan ku udahan ya sayang. Aku selalu gak tahan melihat kamu," Ucap Irfan genit sambil mengerlingkan matanya.
"ih gak mau, Mas. Kamu mah gak pernah puas kalau sudah begituan,"
"haha, bukan begitu syaang. Aku selalu puas dengan pelayanan kamu, tapi kamu seolah menjadi candu yang membuat aku selalu ketagihan, aku selalu menginginkannya lagi dan lagi"
Plak...
Fajira memukul mulut manis Irfan yang berfungsi dengan baik untuk membuatnya selalu merona.
"Sakit sayang," ucapnya cemberut.
"Tapi nanti kita ke rumah sakit ya. Aku pengen punya anak lagi," sambungnya dan menggendong Fajira di depan seperti saat menggendong Fajri.
"Kamu beneran mau punya anak lagi?" Tanya Fajira menatap manik mata Irfan.
"Iya sayang, Aku mau punya lima"
"Heeiii!! 3 cukup mas!"
"Gak mau! aku mau lima. Atau aku tambahan jadi 6,"
"ihh... Seberapa di kasih aja deh mas" delik Fajira.
"hahaha,,, Love You sayang"
"hmm"
"jawab dong. Love You to Mas, gitu"
"I Hate You, Mas" delik Fajira
"haha. Jangan bohongi hati kamu sayang. Love You to, istriku" laki-laki itu tersenyum manis.
Irfan menurunkan Fajira ketika keluar dari kamar. Mereka berjalan ke bawah menuju ke dapur karna cacing yang ada di dalam perut sudah meronta agar mereka segera di beri makan. Ia menggandeng tangan Fajira mesra dan lembur agar istrinya tidak terjatuh atau bagaimana nantinya.
"bentar lagi mau makan siang, Mas,"
"iya sayang, lihat dulu apa yang ada untuk mengganjal perut,"
"iya. Atau mau aku buatkan sandwich?"
__ADS_1
"boleh, sayang. Tapi satu saja ya, nanti aku malas makan siang"
"iya"
Mereka segera berjalan menuju dapur dan Fajira segera membuat dua buah sandwich untuk Irfan dan dirinya. Seperti biasa, bukan Irfan namanya jika tidak mengganggu Fajira. Ketika perempuan cantik itu tengah menyiapkan bahan, Irfan malah memeluknya dari belakang.
"Mas, lepasin dulu, gak enak dilihat sama yang lain. Ada Mama sama Papa juga"
"Gak papa sayang, Mereka pasti paham"
"hekm... enak ya pengantin baru" Terdengar suara deheman dari belakang.
"Eh Mama" ucap Irfan tersenyum. Sementara Fajira segera melepaskan tangan irfan dari pinggangnya dan tersenyum malu.
"ngapain kamu gangguin Fajira, bang?"
"Abang harus menjaganya Ma, biar gak hilang lagi"
"ceh... dasar bucin! kamu jangan mau di modusin sama dia Ji, Bahaya mah kalau dekat-dakat sama buaya darat" Celetuk Mama dan berlalu dari sana
"Iya Ma. Jira juga Risih mah kalau dekat-dekat dengan buaya darat, haha," gelak Fajira.
"Udah Mas, aku mau masak kamu sana temui Fajri dulu, dia pasti merasa bersalah sekarang" sambungnya
"eh iya ya, aku sampai lupa sayang"
"Ya sudah, sana cari anakku dulu"
"Iya sayang. muaach" Irfan meninggalkan bekas kecuapnnya di leher Fajira yang terbuka.
"Mas!" sentak Fajira
"hahaha" Irfan berlari dari sana sebelum di amuk oleh Fajira.
Sementara Irfan mencari keberadaan Fajri yang berada di depan televisi. Benar saja pria kecil itu masih terlihat murung karna merasa bersalah kepada ayahnya.
"Sayang," Panggil Irfan, Fajri menoleh ketika mendengar namanya di panggil. Mata bening itu langsung berkaca-kaca ketika melihat Irfan mendekat ke arahnya.
"Hei, jagoan ayah kenapa ini?" Ucap iefan memangku pria kecilnya
"Hiks... maafin Aji ayah, Aji udah jahat sama ayah, Apa ayah gak papa?" Isak Fajri tertahan.
"Ayah gak papa sayang, tadi sudah di obatin sama bunda"
"Apa masih sakit? boleh Aji lihat?" ucapnya memohon.
"eh,,, Udah gak sakit lagi sayang. Ayah sudah gak papa. Aji udah sarapan siang?" Ucap Irfan tergagap.
"hmm? Udah ayah tadi di suapin sama Oma, Ayah udah makan?"
"Belum syang, Ayah lagi menunggu Bunda masak dulu,"
"Bunda masak apa, Ayah?"
"sandwich"
glek...
"Yuk kita ke tempat Bunda Ayah, Aji masih lapar" ucap Fajri menarik tangan Irfan menuju ke dapur.
"kan tadi Aku udah makan sayang"
__ADS_1
"iya, Tapi masih lapar, Ayah"
"hahaha"
Irfan tergelak melihat tingkah lucu Fajri yang sangat mengemaskan baginya. Padahal pria kecil itu selalu mengeluh dengan badannya yang gembul, namun jika Fajira memasak sesuatu, ia tidak akan tahan hanya melihat saja tanpa mencicipi.
"Bundaa" panggil Fajri sambil teriak dan berhasil mengagetkan Fajira.
"eh sayang, ada apa nak?"
"Aji mau sandwich ya"
"apa Aji belum sarapan?"
"udah bunda, Tapi Aji masih lapar" cicitnya dengan wajah merona.
"hehehe, yaudah duduk bagus-bagus di meja ya sayang. Ini sudah hampir matang"
"Yeeei,,, Maaci Bunda. Ayo Ayah!" Teriaknya
Irfan memangku Fajri dan duduk di salah satu kursi di sana. Fajira membuat tiga buah roti isi itu, karna dia tau jika Fajri sudah mencium aroma makanan yang satu ini pasti akan memintanya, tidak peduli seberapa kenyang perut gembul itu, Ia akan meminta kembali hingga dapat.
Siang itu mereka makan dengan penuh kebahagiaan, sambil mendengarkan cerita Fajri. Hingga salah satu penjaga datang dan menginfokan sesuatu.
"permisi Tuan, Nyonya"
"iya pak, ada apa?" tanya Irfan mengernyit.
"di luar wartawan semakin banyak tuan. Tadi saya juga membaca di media sosial, berita tentang Nyonya semakin memburuk. Bahkan ada yang memberitakan jika Nyonya lari bersama laki-laki lain" Ucap penjaga itu dengan hati-hati.
"bapak serius?"
"iya tuan,"
"apa kerjaan orang kaya itu selalu memberikan klasifikasi, Mas?" ucap Fajira lirih.
"Nanti akan aku urus bersama Ray, sayang. Kamu yang tenang ya,"
"iya, Aku gak masalah kok,"
"Biarkan saja mereka pak. Perketat penjagaan, jangan sampai ada yang masuk, ataupun berani mengambil gambar"
"baik tuan. Permisi Tuan, nyonya"
"iya silahkan, Pak,"
Penjaga itu berlalu, Irfan segera menghubungi Ray agar bisa datang ke rumahnya jika sudah tidak da pekerjaan yang mendesak, agar mereka bisa mencari jalan keluar untuk menyelesaikan berita yang simpang siur ini.
"Bunda, ada yang mau Aji omongin nanti, sama ayah juga"
"Apa sayang?" tanya Fajira.
"hmm, Nanti saja Aji bilang ya bunda"
"oke nak"
Mereka menghabiskan makanan itu hingga tandas. Berhubung Fajira sudah tidak sempat lagi memasak untuk makan siang, sehingga bibi mengambil alih pekerjaan Fajira itu.
Mereka masih berada disana hingga Mama, Papa dan Anaya imut bergabung di meja makan. Siang itu terasa begitu hangat bagi Fajira yang sudah lama tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Semoga Ayah, Bunda dan adek tenang di sana. Jira rindu kalian.
__ADS_1
πππ
TO BE CONTINUE