
Plaak!!...
Tangan mulus dan cantik milik Hanna mendarat indah di bahu Fajri, ia merasa sangat kesal sekaligus iba ketika melihat kondisi pria kecil itu yang cukup membuatnya meringis
"udah dibilangin jangan pergi masih aja ngeyel! kan seperti ini jadinya!" ketus Hanna membuat Fajri menunduk sambil cemberut.
Pria kecil itu mengusap bahunya. Memang tidak keras, tapi ia merasa Hanna memang pantas untuk memarahinya, karna tidak mendengarkan larangan dari gadis manis itu.
Irfan melotot melihat putra kebanggaannya itu mati kutu di hadapan Hanna. Ia berusaha untuk menahan senyum agar masih terlihat dingin dan berwibawa di hadapan orang tua gadis manis teman Fajri ini.
Apa mereka punya hubungan lain? Kemana keberanian kamu sayang? kenapa malah mati kutu di hadapan gadis itu?. bathin Irfan terkejut.
"Hanna!" panggil Papa Hanna sedikit melotot ke pada anaknya karna berbuat tidak sopan.
"Adek kesal ayah! Adek udah bilang sama Aji jangan pergi, masih aja gak mau dengar. Sakit seperti ini kan rugi sendiri!" delik Hanna melihat Fajri.
"Aji lagi sakit lo kak, kenapa di marahin sih?" rengek Fajri manja dan terlihat sangat mengemaskan.
"sakit 'kan? salah sendiri siapa suruh gak dengar larangan orang!" ucap Hanna sambil melipat kedua tangannya di dada.
Hanna merengek dan memaksa orang tuanya untuk pergi menjenguk Fajri setelah pulang sekolah tadi. Matanya berkaca-kaca mendengarkan cerita dari Bagas dan Ziyyad mengenai kondisi Fajri.
Disinilah dia sekarang, membawa satu keranjang buah kesukaan pria tampan itu, sambil mengomelinya.
Fajira tersenyum gemas melihat tingkah dua bocil yang tengah berbincang itu.
huaa mereka sangat mengemaskan!. Itu lihat, astaga abang! kamu memang mirip banget sama ayah. pasti udah pasrah aja kalau bunda marah! hehehe gemees. Bathin Fajira tanpa sadar ia mencubit paha Irfan dan membuat empunya meringis.
"ssshhh... sakit sayang!" ucap Irfan menahan tangan Fajira yang hendak mencubitnya lagi.
Hilang sudah wajah dingin yang dari tadi dipertahankan oleh Irfan. Laki-laki itu hanya sibuk mengelus paha yang terasa sakit dan menahan tangan Fajira agar tidak kembali mencubitnya.
"Aku gemas, sayang!" ucap Fajira tersenyum tanpa rasa bersalah setelah menghancurkan harga diri suaminya.
Kedua orang tua Hanna hanya menatap mereka kikuk dan segan ke arah Irfan dan Fajira, karna anaknya yang bertindak tidak sopan kepada putra mahkota itu.
"Maafkan Anak kami, Tuan. Nyonya" ucap Papa Hanna merasa tidak enak.
"eh gak papa, Pak. Jangan sungkan ya Panggil saja Bunda Fajri" ucap Fajira tersenyum.
Ia kembali Manatap Hanna yang tengah mengupaskan jeruk dan menyuapi Fajri dengan telaten.
"Apa jeruknya manis, Ji?" tanya Hanna dan kembali menyuapkan jeruk itu kapada Fajri.
Hap...
Fajri menerima suapan itu dengan senang hati.
"iya, kak. Manis seperti kakak" ucap Fajri tersenyum.
Blush...
__ADS_1
"kamu nanti kakak tabok ya, kalau ngomong seperti itu lagi!" ucap Hanna garang dengan wajah yang merona.
"Ciee kakak malu nii," goda Fajri semakin menjadi.
Sungguh mulut manisnya itu bukan hanya berfungsi pada Fajira. tetapi juga kepada Hanna. Gadis manis yang sudah mencuri perhatiannya semenjak mereka pertama kali mereka bertemu.
"Fajri!" teriak Hanna dengan wajah yang semakin merona.
"eh, Maafin Ana, Ayah, Bunda! habisnya Fajri ngeselin!" sambung gadis itu terkejut dan cemberut.
"hehe Gak papa sayang, Lanjutkan saja ngobrolnya" ucap Fajira kembali meremas paha Irfan.
"sayang, sakit lo!" delik Irfan yang kembali kaget.
"Aku gemas, sayang. Mereka terlihat sangat cocok dan serasi. apa kita jodohkan saja mereka?" pekik Fajira senang.
"hus... Main jodoh-jodohin saja anak orang. Sayang, anak kita itu masih kecil, masih bocil masa iya udah di jodohin!" ucap Irfan kaget dan gemas dengan pemikiran istrinya.
"ihh, tapi mereka lucu sayang" rengek Fajira.
Orang tua Hanna hanya melihat Fajira dan Irfan dengan tatapan terkejutnya.
Apa seperti ini kehidupan orang kaya? Mereka menampilkan image sangar di luar tapi bobrok di dalam. Apa tadi mau menjodohkan duo bocil ini? apa aku gak salah dengar? pangeran mahkota akan di jodohkan dengan upik abu?. bathin Papa Hanna bertanya-tanya.
Mereka kembali berbincang ringan agar bisa saling berkenalan dan tentunya membahas bagaimana pergaulan anak-anak mereka.
"Berarti Aji besok gak sekolah ya? Padahal besok itu kita ulangan Harian lo, Ji" ucap Hanna memanas-manaskan Fajri.
"gak boleh sayang. 'Kan abang masih sakit" ucap Fajira tersenyum.
"Tapi besok ada ulangan, Bunda!" protes Fajri.
"ulangan susulan saja ya, sayang! Besok Bunda minta tolong sama pak sakti untuk mengantarkan surat izin Abang, Ya!"
"iya Bunda."ucap Fajri pasrah.
"berarti tahun ini Aku yang akan jadi juara umum di sekolah ya, hehe" ucap Hanna tertawa.
"eh mana boleh seperti itu. Aji tetap juara umum dong"
"boleh lah, kan Aji gak ikut ulangan harian. Kalau ulangan susulan 'kan nilainya dikurangi" ucap Hanna.
"iya ya! Ya sudah deh, gak papa kalau tahun ini kakak juara umum, Asal kakak bahagia, Aji juga bahagia. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karna sudah menjenguk Aji. Tapi tahun depan Aji harus juara umum lagi" ucap pria tampan itu sambil tersenyum.
"iih!" delik Hanna.
Nilai Fajri dan Hanna hanya berselisih koma saja, sehingga jika Fajri lengah, Hanna bisa mengejar nilainya.
Gadis manis itu menatap Fajri dengan meringis, Fajri terlihat kuat dengan luka seperti itu. Jika ia yang mengalaminya mungkin akan menangis selama tujuh hari tujuh malam, bahkan hingga sembuh, ia akan terus menangis.
"Apa itu sakit?" tanya gadis kecil itu dengan tangan yang terulur hendak menyentuh gundukan perban putih yang sedikit kemerah-merahan yang ada di kepala Fajri.
__ADS_1
"ih jangan di pegang kak! sakit loh!" cemberut Fajri sambil mengelak ketika merasakan tangan Hanna mendekat ke arahnya.
"sshh... apa itu di jahit?" desis Hanna sambil bertanya dan bergidik.
"iya, Kata dokternya ada 3 jahitan" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"uluh-uluh. cup cup cup... jangan nangis Yaa, Itu makanya besok ini, dengarkan orang kalau ngomong, biar gak seperti ini lagi" ucap Hanna lembut mengelus bahu Fajri.
"iya, Terima kasih kakak sudah menjenguk Aji" ucap Fajri terharu.
"iya, sama-sama. Cepat sembuh ya"
...πΊπΊ...
"istirahat lagi, Nak!" muach... ucap Irfan membaringkan Fajri di atas kasur.
Hanna dan keluarganya baru saja pulang, sehingga Irfan memilih untuk mengajak anak dan istrinya beristirahat.
"iya, Ayah. Terima kasih" ucap Fajri tersenyum
"sama-sama, sayang. Tidur ya, Ayah mau menyelesaikan kerjaan sedikit lagi,"
"iya, Ayah"
Fajira mendekat ke arah dua pria tampannya. Ia mengusap lembut punggung Irfan dan tak lupa mengecup lengan kekar itu.
"Jangan terlalu dipaksakan untuk bekerja, Mas. Kamu juga butuh istirahat"
"iya, kerajaanku hanya tinggal sedikit lagi. Kamu istirahat ya, temani pria tampan ini. Sepertinya anak kita sedang berbunga-bunga karna di kunjungi oleh ayang bebebnya" ucap Irfan tergelak.
"Ayah!" teriak Fajri dengan wajah yang merona.
Kesal sudah Fajri, ketika Irfan masih saja menggodanya. Ia merengek dan melemparkan bantal ke arah Irfan.
"sudah! sudah!" lerai Fajira.
Ibu hamil itu naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring lalu memeluk pria kecil itu.
"sudah! yuk kita bobo lagi, sayang"
"iya bunda"
Memang benar apa yang di katakan oleh Irfan tadi. Fajri merasa senang ketika Hanna menjenguk dan memberikan sedikit perhatian kepadanya. Ia memejamkan mata sambil tersenyum dan memeluk bidadari cantik itu.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
aaih bocil wkwk..
Udh penghujung minggu nih, jangan lupa dukung Aji terus ya onty onlen.
__ADS_1
terima kasih π€π€