Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
249. Empat Anak Lebih Baik


__ADS_3

Hai gais. Sedikit mengganggu ya. Karna nama anak Safira dan Fajri sama dengan cerita sebelah, jadi aku akan menggantinya saja, dari pada menimbulkan permasalahan, karna masih dalam tema cerita yang sama.


Nama anak Fajri aku rubah menjadi, Narendra dan Nayla. Semoga gak ada yang sama ya. Aku hanya takut, jika ada Fans fanatik yang membaca karyaku. πŸ˜…


Maaf atas ketidaknyamanannya πŸ€—πŸ€—


🌺🌺


Sudah tiga hari Safira berada di rumah sakit. Hari ini mereka akan kembali ke kediaman Dirgantara dengan perasaan bahagia dan penuh suka cita.


Media sudah banyak menunggu di luar rumah sakit untuk mendapatkan sedikit informasi mengenai baby twins yang membuat gempar satu Indonesia bahkan dunia.


Fajri dan yang lainnya sepakat untuk menyembunyikan wajah dede kembar, demi keamanan anak-anaknya seperti Ivanna dulu.


Para wartawan sudah berebutan ketika melihat Fajri berjalan sambil menggendong Safira. Sementara si kembar di gendong oleh Fajira dan Hersy.


Tim keamanan sudah berjaga di depan pintu keluar tak lupa juga dengan mobil Limousin yang bisa membawa mereka semua.


"Bentar lagi, si kembar juga jadi artis! atau kakak bisa dapat endorsan yang banyak," ucap Ivanna terkekeh setelah mobil berjalan meninggalkan area rumah sakit.


"Gak boleh! kakak harus banyak istirahat, biar cepat pulih!" ucap Fajri tegas.


"Biar bisa ambah lagi ya, bang!" ucap Fajira terkekeh geli.


"Ah, iya Buna. Pasti jadi makin rame kalau kakak dan Abang punya anak banyak!" ucap Ivanna juga ikut berbinar.


"Hus! bersarkan ini dulu, baru bikin lagi!" ucap Fajri juga ikut tertawa.


"Ihh," ucap Safira mencubit pinggang Fajri.


"Aw aw aw, sakit, sayang!" ucap Fajri terkekeh sambil mengusap pinggangnya.


Safira hanya bisa mendelik sebal ke arah Fajri yang masih terkekeh. Mereka tertawa karna begitu merasa bahagia, dengan kehadiran baby twins yang menjadi pelengkap rumah besar itu.


Setelah ini, tidak ada lagi keheningan dan kesunyian di sana, yang ada hanya tangisan dari Narendra dan Nayla yang terdengar nyaring memenuhi segala penjuru rumah.


Tak lama mobil mewah itu berhenti di halaman rumah Dirgantara dengan di ikuti oleh beberapa awak media, yang memang begitu memburu berita tentang anak-anak sultan itu.


"Bang, lebih baik kita ngasih sedikit informasi deh, kasihan mereka!" ucap Ivanna yang memperhatikan gerbang utama melalui cctv.


"Nanti abang buat story aja dek! sekarang kamu istirahat ya!" ucap Fajri tersenyum mengelus rambut Ivanna.

__ADS_1


"Nanti aja, Dede mau main sama si kembar dulu!" ucap Ivanna berbinar senang.


"Ah, jangan di ganggu, dek! mereka baru tidur!" ucap Fajri sok garang namun ia tertawa setelah melihat Ivanna mendengus sebal.


Mereka tengah berada di ruang keluarga, karena semua penghuni rumah ingin melihat bagaimana rupa Narendra dan Nayla, termasuk juga para ART.


"Kalian beruntung bisa melihat anak-anak! Jadi jangan sampai ada yang membocorkannya. Jika ketahuan, lihat saja apa yang akan saya lakukan!" ucap Fajira tersenyum.


"Baik. Nya!" ucap mereka serempak.


Semua orang terkagum melihat dua bayi kecil yang begitu mengemaskan itu.


"Wah, Tuan kecil sangat mirip dengan Tuan Fajri waktu kecil!" ucap mereka kagum.


Mereka membandingkan foto masa kecilnya Fajri yang ada di sana dengan Narendra kecil yang masih terlelap di dalam pangkuan Fajira.


"Iya, Nona kecil juga sangat mirip dengan, Nyonya Safira!"


"Wah, pasti mereka juga akan sangat pintar dan bisa mengalahkan, Tuan Fajri!"


"Itu harus, Mbak! Bagaimanapun Anak memang harus bisa lebih baik dari orang tuanya!" ucap Fajri tersenyum sambil membelai kepala Safira.


"Benar, tuan! apa Tuan dan Nona kecil akan memecahkan rekor IQ tertinggi? bukankah, Tuan Fajri pemilik IQ tertinggi nomor dua di dunia?" ucap mereka semakin berdecak kagum.


"Iya, asal anak-anak sehat, itu adalah hal yang paling membahagiakan untuk kita semua!" ucap Ibu panti tersenyum.


Setelah itu Fajri segera membawa Safira menuju kamar dan beristirahat. Sementara anak-anak dan yang lainnya masih berada di ruang keluarga.


Fajri menatap Safira lekat dengan mata yang berkaca-kaca. Ini sudah menjadi kelakuan Fajri semenjak anak-anaknya lahir. Tangan lembut Safira, kembali mengusap mata Fajri yang basah karena rasa harunya. Ia hanya tersenyum menunggu kata terima kasih yang sudah lebih dari seribu kali ia dengarkan selama tiga hari ini.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah mau mengandung dan melahirkan anak-anak kita. Semoga mereka bisa menjadi anak yang hebat dan berguna untuk orang banyak!" ucap Fajri tercekat.


"Aamiin, jangan berterima kasih, Mas! Aku merasa kamu bukan suamiku! Narendra dan Nayla anak kita, kewajibanku untuk mengandung dan melahirkannya. Tanggung jawab kita berdua untuk membesarkan mereka. Bimbing aku agar bisa menjadi ibu dan istri yang bisa kamu banggakan!" ucap Safira tersenyum dan mengelus rahang tegas Fajri.


"Kamu sudah membuat aku bangga, Sayang! Kamu wanita hebat dan kuat yang aku temui, kita sama-sama belajar ya!" Ucap Fajri mengecup tangan Safira dengan lembut.


"Iya, Mas!"


"Empat anak lebih baik!" ucap Fajri tersenyum genit.


"Hus! aku baru aja melahirkan, kamu udah ngomong tentang anak lagi! 5 tahun minimal, untuk aku hamil lagi!" ucap Safira mendelik.

__ADS_1


"Ah lamanya? 4 tahun ya, sayang! kita membutuhkan banyak keturunan. Kalau gak, jerih payah kita selama ini siapa yang akan menikmatinya?" keluh Fajri menyandarkan kepalanya di bahu Safira.


"Sudah, seberapa di kasih saja nanti, sayang! pokoknya minimal 5 tahun untuk aku hamil lagi!" ucap Safira mengelus kepala Fajri dengan lembut.


"Iya deh!" ucap Fajri pasrah.


Mungkin karena terlalu lelah, Fajri terlelap sambil menindih tubuh Safira. Ibu muda itu hanya terdiam sambil tersenyum dan mengelus kepala Fajri. Ia paham jika suami tampannya ini, pasti kelelahan dan kurang istirahat, karna Fajri memang menjadi ayah siaga untuk anak-anaknya.


"Sayang, pindah dulu ya, badan kamu berat!" bisik Safira di telinga Fajri.


"Sayang?" panggil Safira kembali.


"Engh. Apa aku ketiduran?" tanya Fajri yang sudah bangun.


"Iya, istirahat dulu, ya! Mau aku peluk?" ucap Safira merentangkan tangannya.


Fajri tersenyum, ia masuk kedalam pelukan Safira dan langsung terlelap karena merasakan betapa nyamanya dekapan hangat dari istri.


Tidurlah, sayang!. Kamu sudah menjadi suami dan ayah yang siaga untuk aku dan anak-anak kita. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku!. Batin Safira.


Ia tersenyum dan ikut menyusul Fajri yang sudah lebih dulu terlelap.


Sementara, di bawah, para oma-oma masih sibuk membicarakan masa depan cucu mereka. Apalagi Nayla, mereka menyiapkan begitu banyak hal yang akan di lakukan oleh gadis kecil itu nanti.


"Nayla, harus jadi dokter. Biar rumah sakit ada yang nerusin, Ivanna sudah mewarisi perusahaan, Mas Irfan. Narendra pasti akan mewarisi perusahaan, Fajri!" ucap Fajira.


"Duh jangan, Ji! Nayla harus jadi pebisnis biar bisa nerusin T-grup yang udah makin besar!" ucap Hersy.


"Aduh, sudah jangan berantem!" lerai Ibu.


"Biarkan anak-anak menentukan masa depan mereka, ingin jadi seperti apa. Kita hanya bisa mengarahkan dan mendukung pilihan mereka nanti!" ucap Ibu menengahi.


"Benar kata ibu, sayang! Biarkan anak-anak memilih Masa depan mereka!" ucap Irfan mengelus kepala Fajira lembut.


"Baiklah, tapi kita memang harus mengarahkan anak-anak agar tidak salah langkah!" ucap Hersy tersenyum.


"Betul, kita sama-sama mendidik dan membesarkan mereka!" ucap Fajira tersenyum.


Ivanna, gadis itu melihat Nayla yang terlelap di dalam pelukannya. Wajahnya tidak henti tersenyum melihat bayi kecil itu.


Aku gak sabar untuk mendandani mereka, agar terlihat semakin keren. Apa aku adakan saja photoshoot untuk Narendra dan Nayla? aku harus bicarakan ini sama abang dan kakak dulu!. Batin Ivanna berbinar.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2