Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
76. Ada Apa dengan Hanna? (Fajri)


__ADS_3

Di sekolah, Fajri berjalan gontai karna hari ini ia hanya di antar oleh driver saja tanpa Ayah ataupun Bunda. Namun terselip rasa takut mengingat wajah Irfan yang pucat, sebelum ia tinggalkan tadi.


"apa ayah akan baik-baik saja?" Ia berulang kali menghela nafas beratnya.


"hai Kak Hanna" sapa Fajri girang ketika melihat gadis cantik itu berjalan masuk ke dalam kelas mereka.


Namun perempuan itu hanya menatapnya sebentar dan mengacuhkan pria kecil itu.


Kok kak Hanna gak balik nyapa Aji ya? Apa Aji ada salah?. bathin Fajri mengernyit.


"Kakak kenapa?" Tanya Fajri polos ketika sudah berdiri di dekat meja gadis itu.


"Kita gak usah temanan aja" ucap Hanna ketus.


deg...


"ke-kenapa? apa Aji berbuat salah sama kakak?" ucap Fajri terkejut.


"iya, Kamu sudah berbohong sama Aku"


"A-Aji bohong tantang apa, kak?"


"Kamu bilang bukan orang kaya, tapi..., Sudahlah pokoknya aku gak mau temanan lagi sama kamu" ucap Hanna sedikit mendorong Fajri.


Pria kecil itu hanya menatap Hanna dengan raut wajah sedih. Lengkap sudah penyebab kesedihannya saat ini. Ayah yang sakit, Bunda yang tidak bisa mengantarkannya dan Hanna yang sudah tidak ingin bermain lagi karna alasan yang sangat tidak masuk akal.


Walau begitu, Fajri tidak akan memaksa siapapun untuk berteman dengannya. Pria kecil yang sedang di rundung kesedihan itu memilih untuk kembali berjalan menuju kursinya dan sesekali menengok ke arah Hanna.


Apa hanya karna Aji kaya, Kak Hanna gak mau berteman lagi dengan Aji?. Tapi kata Bunda gak boleh memaksa orang untuk berteman dengan kita. Kok Aku jadi sedih ya. Bathin Fajri kecewa.


"haaaah...." ia menghela nafas beratnya agar bisa meredakan sesak yang tengah ia rasakan saat ini.


Tak lama guru masuk dan memulai pembelajaran. Fajri menatap gurunya dengan fikiran yang melayang kesana kemari. Hingga ia di kejutan dengan suara ibu Rully yang memanggil dirinya.


"permisi bu, Saya mau memanggil Fajri sebentar" ucap ibu Rully masuk ke kelas Fajri.


"eh iya bu silahkan. Fajri itu di panggil sama ibu Rully, nak"


"iya bu" pria kecil itu berjalan mengikuti ibu Rully dan masih sempat melihat ke arah Hanna yang juga menatap kepergian Fajri


Namun gadis kecil itu segera mengalihkan wajahnya ke arah yang lain ketika mendapati Fajri juga tengah menatapnya.


Apa segitu gak maunya kak Hanna berteman dengan Aji?, Bunda Aji sedih ini. Mau pulang!! hiks.... Bathin Fajri menghiba.


"Fajri langsung ke ruangan ibu ya nak, ibu ada yang terlupa tadi"


"iya bu"


Dalam perjalanannya, Fajri bertemu dengan Fandi teman pertamanya di hari perdana masuk sekolah.


"Hai Fajri" sapa Fandi.


"hai bang, Abang mau kemana?"

__ADS_1


"mau ke ruangan bu Rully. Kamu kemana?"


"sama, Aji juga mau ke ruangan bu Rully"


"Apa kamu juga ikut lomba?,"


"lomba apa bang?," tanya fajri mengernyit.


"itu, lomba cerdas cermat tingkat kota"


"Ih, Aji pikir ada apa, Karna Aji di panggil sama bu rully saat jam pelajaran"


"Kata yang lain sih sekolah kita selalu berada di urutan dua untuk lomba cerdas cermat kali ini"


"iya kah? Bukankah yang lain kita selalu menang bang?"


"iya, makanya hanya anak yang benar-benar terpilih saja yang bisa mengikuti lombanya,"


"Ah iya. Yuk kita ke kantor"


Mereka berjalan sambil berbincang banyak hal tentang lomba yang akan di adakan. Hingga mereka tiba di ruangan bu Rully, Fajri terkejut ketika mendapati Hanna juga ada di sana.


"eh kakak juga ikut lomba?" tanya Fajri kaget.


"iya"


"Semoga kita menang nanti kak"


"udah sana jangan dekat-dekat. Aku orang miskin nanti kamu ketularan miskin" Ucap Hanna, namun suaranya terdengar bergetar disana.


"Sudah lengkap semua?" ucap ibu Rully yang baru saja datang. Fajri segera mengambil posisinya sambil menatap Hanna dengan sedih.


"Terima kasih kepada anak-anak yang sudah datang memenuhi panggilan ibu. Anak-anak ibu terpilih menjadi utusan sekolah kita untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kota, yang akan di adakan dua minggu lagi. Kita akan mengadakan tambahan pelajaran membahas soal-soal tahun lalu, sebagai gambaran bagaimana bentuk soal dalam lomba ceedas cermat besok. Apa anak-anak ibu siap untuk mengikuti lomba?"


"siap" ucap semua murid yang berjumlah 15 orang.


"bu, Aji sepertinya harus menanyakan hal ini kepada Bunda. Karna Ayah sedang sakit. Nanti Aji takutnya bunda gak bisa menemani Aji,"


"Lombanya masih dua minggu lagi nak,"


"Nanti Aji tanyakan sama Bunda dulu Bu,"


"Ya sudah, tanyakan lah dulu kepada Bunda Aji, Tapi ibu berharap Fajri bisa ikut dalam lomba kali ini"


"iya bu, Aji juga berharap seperti itu ucapnya menunduk.


Hanna hanya menatap Fajri dengan perasaan bersalah, sungguh ia tidak ingin menjauhi pria kecil nan manis itu. Namun karna ia merasa berbeda kelas sosial dari Fajri, maka ia memutuskan untuk tidak mendekati pria kecil itu lagi agar tidak ada yang membullynya nanti.


Maafin Aku Ji, kita gak mungkin berteman. Bathin Hanna sedih.


Mereka kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung dan akan di sambung dengan pelajaran tambahan untuk persiapan lomba.


🌺🌺

__ADS_1


Di kediaman Irfan, laki-laki itu kembali terduduk lemas di lantai kamar mandi setelah mengeluarkan isi perutnya. Padahal sedari tadi ia sudah lebih tenang ketika berada di dalam pelukan Fajira. Namun ketika perempuan itu hendak berjalan keluar, Irfan terbangun dan kembali mengeluarkan cairan bening itu.


"Mas, kamu gak papa?" tanya Fajira menahan senyumnya, karna sudah tau apa penyebab suami tampannya mual-mual seperti ini.


"lemas sayang. Peluk"


Tanpa menunggu lama, Fajira memeluk Irfan sambil terkekeh. Ia kembali mengingat bagaimana keadaannya ketika hamil Fajri dulu. Sungguh miris namun ia harus tetap bersyukur dan bahagia.


"Kuat kaka sayang"


"iya coba dulu"


Irfan berjalan menuju kamar dan berbaring di atas ranjang. Fajira duduk di tepi tempat tidur sambl membalurka. minyak angin ke tubuh Irfan.


"Mas?" panggil Fajira merona.


"hmm?"


"Aku ada kabar bagus" ucapnya senang.


"apa sayang? bagaimana hasilnya?" tanya irfan antusias dengan sisa-sisa tenaganya.


Fajira menyerahkan sesuatu yg ia genggam dengan jantung yang berdetak kencang.


"Positif" ucap Fajira senang.


"Ka-kamu serius?" tanya Irfan melongo ketika melihat alat kecil itu.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Irfan tersenyum dan meraih Fajira agar bisa ia peluk.


"terima kasih sayang. Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk bisa mendampingi kamu saat hamil. Terima kasih"


"hehehe, sepertinya kamu yang akan aku dampingi, Mas"


"kenapa?" .


"karna kamu terkena sindrom cauvade. Aku yang hamil, kamu yang ngidam"


deg...


"a-apa kamu seperti ini waktu hamil Fajri, sayang?"


"iya kurang lebih"


"maafkan Aku" lirih Irfan.


"sudah gak papa, yang berlalu jadikan pembelajaran ya Mas. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu dapatkan"


"iya sayang" muach... muach...


Irfan tak henti mencium dan mengecup fajira, hingga ia kembali terlelap di dalam pelukan istrinya yang terasa sangat nyaman. Walaupun wajahnya terlihat pucat, namun rona bahagia selalu terpancar di wajah tampanya. Fajira juga merasakan kebahagiaan yang teramat, karna hamil kali ini, ia bisa di dampingi oleh sosok seoranh suami yang begitu mencintainya.


Semoga kedepannya kamu memang membuktikan perkataanmu,Mas. Dan Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Semoga Aku kuat untuk meladeni Ngidam kamu nanti, hehehe.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2