Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
181. Lolos?


__ADS_3

Tring,...


Proyektor menembakkan hasil ujian kali ini ke arah dinding polos yang ada di bagian depan ruangan. Semua orang terkejut dengan hasil yang di tampilkan di sana.


Fajri menelisik satu persatu nama yang ada di sana. Dengan jantung yang berdetak lebih cepat, ia hanya menemukan nama dua temannya yang ada di list.


"Kemana namaku?" ucap Fajri yang bingung.


Deg!


Namun mata bulat itu melotot ketika melihat namanya terpampang besar dengan jumlah poin sempurna. Fajri berada di urutan kedua setelah Siswa yang berasal dari Jepang. Tanpa aba-aba, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan lagi.


Ia terpilih untuk masuk ke grand Final dan bersaing dengan 15 peserta lainnya. Fajri terisak sambil menutup wajahnya, ia sangat tidak menyangka jika hari ini setelah sekian lama ia kembali mengukir sejarah didalam hidupnya. Mengalahkan siswa-siswa terhebat yang menjadi perwakilan negara maju dan terkenal dengan fasilitas pendidikan yang sangat unggul.


Setelah di persilakan keluar, Fajri segera berlari dan memeluk Fajira yang juga ikut menangis haru. Mereka saling mendekap satu sama lain untuk menyalurkan kebahagiaan ini.


"Aji lolos, Bunda! Aji lolos!" ucap Fajri terisak di dalam pelukan Fajira.


"iya, sayang. Aji lolos nak!" ucap Fajira memeluk Fajri yang erat.


"hiks, aji capek, Tapi masih ada ujian fisika! otak Aji sudah berasap, bunda!" rengek Fajri manja dan masih terisak.


"hehe, sabar sayang. nanti kita istirahat setelah ini ya!" ucap Fajira mengusap mata Fajri.


"iya, Bunda! hiks, Aji masih gak nyangka bisa lolos!" ucap Fajri berbinar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Semua sudah rezeki, Abang. Usaha gak akan mengkhianati hasil, sayang!" ucap Fajira tersenyum dan mengelus kepala Fajri lembut.


"iya, Bunda benar!"


Fajri mendapatkan berbagai ucapan selamat dari wali murid dan guru. Mereka juga ikut bangga dengan pencapaian pria kecil itu di usianya yang masih sangat kecil.


"kita ke tempat Dede, yuk Bunda!" Ajak Fajri.


"yuk!"


...🌺🌺...


Ivanna masih mengerjakan soal matematika yang cukup sulit untuk tingkat sekolah dasar. Namun gadis kecil itu malah tersenyum ketika melihat 10 buah soal yang ada di hadapannya.


Kalau soalnya semudah ini. Dede pasti akan menang. Tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan soalnya. Seperti ada jebakan yang sering dibilang oleh abang. Kita coba yang mudah saja dulu ya. Bathin Ivanna menahan senyumnya.

__ADS_1


Ia melihat semua soal itu dengan seksama. Ketika ia menemukan rumus yang sesuai dengan soal, barulah ia mengerjakannya dengan cermat. Ia terlihat seperti orang dewasa yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya.


Wah, ini soal yang tadi aku bahas sama Abang sebelum kesini, angkanya gak jauh berbeda dari yang tadi. Bathin Ivanna berbinar.


Ia segera menyelesaikan soal itu dengan baik. Ia mengingat pesan ibundanya sebelum memulai lomba.


"Jangan terburu-buru, akan lebih baik mengerjakannya dengan tenang dan tidak panik. Kalau panik, pasti nanti semua materi yang sudah di pelajari akan hilang." Ucap Fajira tersenyum.


Aku harus membuktikan semua ocehan para ibu-ibu itu. aku akan menunjukkan jika aku bisa menang dalam lomba kali ini. Lihat saja. kalian akan aku buat malu ketika aku berhasil mendapatkan juara. Tidak perlu dapat juara satu, harapan pun jadi!. Bathin Ivanna dendam dengan semua wali murid.


Sebelum pergi lomba, ia memang ditentang oleh para orang tua murid yang merasa anaknya pintar. Mereka menganggap jika Ivanna tidak akan mampu dan hanya membuang kesempatan saja.


Hati lembut gadis kecil itu sempat terpuruk karna merasa kemampuannya tidak dipercayai oleh banyak orang. Tapi ia selalu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama Fajri, Abang kesayangannya.


"Dek, apa yang Dede dapatkan hari ini. semuanya sudah abang lalui, banyak orang yang tidak percaya dengan kemampuan kita. Jadi, Dede harus membuktikan kepada mereka jika kita bisa!. Bungkam mereka dengan bukti nyata, buat mereka malu dengan perkataan mereka sendiri! Kita ini anak genius, anak yang bisa melakukan segala hal! Jangan sedih lagi ya, sayang, kita punya banyak orang yang masih percaya dengan kepandaian yang kita miliki!" ucap Fajri membakar semangat Ivanna.


Ivanna berkaca-kaca ketika mengingat perkataan Fajri. Ia harus membuktikan kepada semua orang jika ia bisa dan mampu, walaupun umurnya masih sangat kecil.


Gadis kecil itu mengerjakan dengan serius setiap soal yang ada. Waktu baru berjalan 90 menit, Ivanna sudah menyelesaikan semua soal. Tak lupa ia memeriksa kembali jawabannya agar tidak salah pilih nantinya.


Finish!


Ivanna sudah menekan tombol selesai dengan keyakinan yang tinggi, jika semua jawaban soal itu benar.


"sudah, pak!" Icapi Ivanna tanpa ekspresi


"masih ada waktu sepupu menit lagi untuk memeriksanya!"


"sudah empat kali saya lakukan!" jengah sudah gadis kecil itu


Ia melihat semua peserta masih mengerjakan soalnya masing-masing, dengan fokus tanpa menoleh sedikitpun. Ivanna menatap Irfan yang berdiri di balik jendela dengan raut wajah cemas. Senyum Ivanna mengembang, ketika melihat Fajri yang juga ikut mengintip untuk melihat keadaannya.


Sambil tersenyum, Fajri membisikkan jika ia lolos dan mengangkat dua jarinya. Ivanna semakin berbinar senang dengan mata yang berkaca-kaca.


"fighting!" ucap Fajri sambil mengepalkan tangannya.


Abang sudah lolos, semoga aku bisa lolos juga! Tuhan, bantu Dede ya!.


"Waktu sudah habis!" ucap panitia.


Semua jawaban otomatis terkunci dengan sendirinya oleh sistem, tanpa bisa di tambah maupun di rubah. Ivanna melihat dua kakak kelasnya belum selesai mengerjakan soal itu. Panitia segera mengumpulkan semua kertas buram milik mereka untuk di cek kembali.

__ADS_1


Ivanna memegang jantungnya yang berdetak lebih kencang. Kemudian ia melihat kearah keluarganya yang sudah menunggu dengan senyuman.


"silahkan perhatikan layar di depan!" ucap panitia.


Sama seperti Fajri tadi, proyektor kembali menembakkan cahaya yang membawa 16 mana peserta olimpiade kali ini.


Tring!...


Deg,...


Nama Ivanna berada pada urutan pertama. Dengan nilai sempurna namanya bersinar terang dengan warna emas yang membalut dengan indah. Di susul dengan dua orang siswa yang berasal dari China dengan selisih 10 poin.


Ivanna termagu, matanya masih menatap lurus nama indah yang terpampang besar di sana.


Apakah ini benar? apa ini mimpi? it-itu namaku? apa ini seriusan? bukan mimpi kan?. A-aku lolos, Aku lolos!. Bathin Ivanna tidak percaya.


Tes,...


Untuk pertama kalinya air mata itu menetes di depan umum, disaksikan oleh banyak orang. Ia menahan tangisnya dengan rasa tidak percaya. Ivanna masih terdiam di atas kursi yang ia tempati saat ini.


Sementara di luar, keluarga Dirgantara sudah bersorak senang sambil menahan haru melihat hasil yang di berikan oleh Ivanna. Mereka tidak menyangka, jika gadis manis itu berhasil mempersembahkan nilai sempurna seperti abangnya.


Semua peserta keluar dengan raut wajah kecewa, sementara Ivanna masih terdiam di sana. Hingga suara Fajri membuyarkan lamunannya.


"Selamat, sayang!" ucap Fajri memeluk Ivanna.


"de-dede lolos, bang! apa yang tadi itu beneran?" tanya Ivanna lirih.


"ia, Dede beneran lolos, Kita lolos sayang!" ucap Fajri memandang lekat wajah adiknya.


"hiks,... akhirnya aku bisa membalas semua perkataan sampah mereka yang pernah meremehkan aku!" pecah sudah tangis Ivanna di dalam pelukan Fajri.


Sementara pria kecil itu terkekeh dan segera menggendong Ivanna keluar dari ruangan itu.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.


Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.😍😍

__ADS_1


Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk


terima kasih πŸ€—.


__ADS_2