
Fajira menggendong Ivanna menuju dapur untuk memasak makanan sesuai dengan request dari putri kecilnya dilengkapi dengan beberapa masakan lainnya. Sambil bercanda, Fajira mendudukkan Ivanna di atas meja yang berada jauh dari keberadaan kompor.
"itu apa, Buna?" ucap Ivanna melihat bawang bombai yang tengah di kupas oleh Fajira.
"ini namanya bawang bombai, sayang. Rasanya enak kalau di goreng krispy! Dede mau coba kupas bawangnya?" ucap Fajira.
"Mau, Buna!" ucap Ivanna semangat.
Ia mengambil satu buah bawang bombai dan melihat bagaimana cara Fajira mengupasnya.
srek....
srek...
"sudah, buna!"ucap Ivanna yang selesai lebih dulu di bandingkan Fajira.
"wah, Dede cepat ya kerjanya!" ucap Fajira tersenyum. Ivanna tersenyum dengan wajah yang merona.
Para ART juga tak henti memuji gadis kecil itu, sehingga wajah Ivanna sudah sangat merah dan itu terlihat sangat mengemaskan bagi siapapun yang melihatnya.
"udah, bik! kasihan anakku, wajahnya udah merah banget!" ucap Fajira terkekeh sambil memeluk Ivanna.
"Hehe habisnya, nona muda lucu banget, Nya!" ucap mereka berusaha untuk menahan tawa.
"Bunaa!" rengek Ivanna yang sudah tidak bisa menahan Malunya.
"sudah, bik! sana kerjakan yang lain saja!" ucap Fajira memeluk Ivanna gemas.
Fajira mencampurkan semua bahan yang di perlukan. Ivanna memperhatikan apa yang di lakukan oleh ibundanya dengan seksama.
"apa sudah matang, Bunda?" tanya Ivanna.
"sudah, sayang. Dede mau coba?" tanya Fajira mengambil sendok dan menyiarkannya kepada Ivanna.
hup...
"gimana?" tanya Fajira antusias.
"enak Buna, pas!" ucap Ivanna mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
"gimana kalau kita makan di kantor ayah saja, sayang?" usul Fajira.
"Waaah! boleh, Buna!" mata tajam itu berbinar senang.
Fajira segera membungkus makanan itu untuk di bawa ke kantor Irfan. Tak lupa ia juga bersiap-siap bersama Ivanna, dan segera pergi menuju ke kantor.
__ADS_1
"Buna, apa abang gak ikut makan siang bersama dengan kita?" tanya Ivanna.
"abang 'kan sekolah, sayang!" ucap Fajira.
Ivanna murung, ia menjadi tidak bersemangat ketika mendengar abang kesayangannya tidak ikut makan bersama mereka nanti.
"Jangan sedih, Nanti malam kita bisa makan malam bersama!" ucap Fajira.
"iya, Buna!"
...🌺🌺...
"wah, ini siapa yang masak?" ucap Irfan dengan antusias menyuap makanan itu.
"Dede yang masak, ayah! enak 'kan?" ucap Fajira.
Blush...
Wajah putih Ivanna kembali bersemu mendengarkan pujian dari ayahnya.
"wah, pintar ya anak gadis ayah ini! enak banget!" puji Irfan di iringi kejahilan.
"Ayah, udah dong! jangan puji Dede lagi!" rengek Ivanna.
"eh, kenapa sayang? memang enak kok!"
"hehehe, sini ayah suapin makannya, nak!" ucap Irfan.
Ivanna beringsut mendekat ke arah ayahnya. Dengan wajah yang masih bersemu, ia menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Irfan. Fajira tersenyum, namun ada yang terasa kurang baginya. Ketidak hadiran Fajri membuat separoh warna dalam hidupnya pergi bersama pria kecil itu.
Ingin rasanya ia menjemput Fajri dan makan bersama di kantor ini. Menikmati hidangan yang begitu menggoda di lidah dan saling bercanda satu sama lain. Namun demi masa depan sang anak, ia terpaksa harus merelakan Fajri untuk tidak ikut makan siang bersama mereka saat ini.
Setelah selesai makan, Irfan kembali menuju meja kerja dan menyelesaikan pekerjaan yang sangat banyak.
"Apa ayah sibuk?" cicit Ivanna yang sudah berdiri di samping Irfan.
"iya, sayang. Dede butuh sesuatu, nak?" ucap Irfan menghentikan aktivitasnya.
"dede mau di pangku sama, ayah! Apa boleh?" tanya Ivanna lirih.
"boleh, sayang! tapi dede duduk yang tenang ya, nak!" ucap Irfan menggendong Ivanna dan memangkunya.
"iya, ayah!"
Gadis manis itu hanya duduk dengan tenang di atas pangkuan Irfan, Fajira hanya bisa tersenyum melihat usaha Ivanna yang ingin mencari perhatian ayahnya. Ia mengamati apa yang tengah dikerjakan oleh Irfan dengan seksama. Hingga ia mengernyit ketika melihat angka yang tak sejalan dengan perhitungan yang seharusnya.
__ADS_1
"Ayah!" panggil Ivanna dan berhasil menghentikan pekerjaan ayahnya.
"iya, nak?" Irfan mengernyit.
"coba ayah hitung lagi yang ini, Dede rasa hitungannya gak cocok, yah!" ucap Ivanna menunjuk apa yang ia lihat tadi.
Irfan patuh, ia mengambil kalkulator dan memeriksa kembali proposal proyek yang akan mereka kerjakan pada akhir bulan ini. Wajahnya memerah ketika mendapati kecurangan di dalam proposal itu. Ia segera memanggil Pandu dan penanggung jawab terhadap proposal yang tengah ia periksa.
"terima kasih, sayang. Ayah gak tau kalau tadi Dede gak ngomong! mungkin perusahaan kita sudah rugi banyak, nak!" ucap Irfan memeluk tubuh anak gadisnya.
Fajira mengernyit mendengarkan percakapan anak dan suaminya. Ia berjalan dan ikut memeriksa proposal itu.
"Mas, ini oknumnya keterlaluan dalam memanipulasi data!" ucap Fajira ketika mendapati sekitar 1 miliar dana yang bisa di gelapkan oleh mereka
"Iya, sayang! makanya aku memanggil mereka untuk segera datang ke ruanganku!" ucap Irfan sambil memberikan kode kepada Fajira.
Ibu muda itu paham, ia segera membujuk Ivanna agar mereka bisa pergi dari ruangan itu. Ivanna menurut ketika mendengarkan jika mereka akan pergi membeli eskrim, karna Stok di rumah memangsudah menipis.
"Dede pergi dulu ya, ayah! nanti lebih teliti lagi lo!" ucap Ivanna pamit dengan manis, sambil mengecup pipi dan tangan Irfan.
"iya, sayang! terima kasih ya, nanti Dede bilang aja sama ayah, Dede mau apa! biar ayah belikan ya!" ucap Irfan.
"iya, ayah! terima kasih, dadah!" Ivanna melambaikan tangannya.
"jangan melewati batas, sayang! lakukan sewajarnya! ingat jantung kamu belum terlalu pulih!" ucap Fajira lirih dan mengecup pipi suaminya.
Dua perempuan cantik beda generasi itu meninggalkan ruangan Irfan dengan hati senang. Sementara Irfan kembali memasang wajah dingin, tegas dan menakutkan. Baru saja ia marah-marah karna kedatangan ibu-ibu rempong tadi, sekarang ia kembali marah dengan proposal yang sangat kurang ajar menurutnya.
...🌺🌺...
Sementara di sekolah, Fajri mendapatkan perlakuan yang tidak baik karna kehadiran Ivanna di sekolah. Saat ini, ia merasa sendiri karna Hanna, Ziyyad dan Bagas tidak melanjutkan sekolahnya di sana. Sehingga ia menjadi murid paling kecil dan juga di musuhi oleh beberapa siswa yang memiliki ambisius tinggi.
"eh Fajri, bukannya kemarin lusa adik kamu sekolah ya? bukankah dua hari ini dia tidak masuk?" tanya Syafa sinis.
"adikku lagi sakit, kak! dari kemaren badannya panas!" ucap Fajri dingin. Ia sangat tidak suka jika ada yang mencari perkara dengannya.
"Oowh... Enak ya jadi anak donatur sekolah, Walaupun pendaftaran sekolah sudah tutup tapi masih bisa masuk ya!" ucap Syafa kembali.
"selagi orang tua saya memiliki kekuasaan, kenapa tidak saya manfaatkan! lagian apa kakak kurang kerjaan sampai harus menggangguku?" ucap Fajri jengah.
"huh sombong! punya orang tua kaya aja bangga! Lagian lo masih kecil, apa yang bisa lo lakukan jika lo bukan berasal dari orang kaya?"
"saya dari umur 1 tahun sudah bisa menghasilkan uang! bahkan seumur 3 tahun saya sudah menghasilkan uang 12 miliar? kakak di umur yang sekarang udah menghasilkan apa saja? gak ada ya? kasihan! dasar beban keluarga!" ucap Fajri sinis.
"kurang ajar lo! gua gak percaya! ya gua akui kalau otak lo sangat encer, tapi itu sangat mustahil kalau bukan karna orang tua lo!" ucapnya menantang.
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE