
"Kita mau kemana, sayang?" tanya Safira mengernyit ketika Fajri tiba-tiba saja membawanya keluar rumah dan meninggalkan anak-anak mereka.
Apalagi tadi, ketika Ivanna dan Fajira sang mertua, mendandaninya dengan begitu cantik malam ini.
"Sudah, anak-anak biar sama, Bunda dan mama saja! Sebentar lagi, Fajri akan datang menjemputmu!" ucap Fajira tersenyum.
"Kamu akan tau nanti, sayang!" ucap Fajri tersenyum sambil menggenggam tangan Safira lembut.
Muach,...
Satu kecupan mendarat di tangan mulus itu. Fajri begitu terpesona melihat betapa cantiknya Safira malam ini. Balutan dres putih selutut, menambah kesan indah pada Ibu muda itu, walaupun tubuhnya masih gempal, tapi Fajri lebih menyukai istrinya yang gemuk itu.
"Jangan diet ya, sayang! Aku lebih suka kamu yang seperti ini!" ucap Fajri membuat Safira mengernyit.
"Kenapa? Sayang, kamu itu figur masyarakat. Bagaimanapun, orang-orang pasti akan memperhatikan kamu dan apa yang ada di sekitarmu termasuk aku. Bagaimana kalau mereka bilang aku gak bisa merawat diri? itu akan menimbulkan asumsi yang gak bagus, terus nanti banyak pelakor yang memiliki tubuh yang aduhai mendekatimu bagaimana?" ucap Safira kesal.
"Hahaha, jangan seperti itu, aku jadi gemas melihat, sayang!" ucap Fajri terkekeh gemas.
Ia menekan kemudi otomatis dan menarik tengkuk Safira lalu melumaat bibirnya dengan lembut. Mereka terhanyut hingga mobil berhenti di salah satu apartemen yang baru saja di beli oleh Fajri.
"Hmmpphh,..." suara Safira tertahan sambil mendorong tubuh pria tampan itu.
Mata mereka beradu dengan tatapa penuh damba. Fajri menyatukan kening mereka dan tersenyum.
"Aku begitu mencintaimu, istriku!" ucap Fajri merona dan tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, suamiku!" ucap Safira merona senang.
"Kita, masuk yuk! Aku sudah menyiapkan surprize untuk kamu di kamar kita!" ucap Fajri memeluk pipi Safira lembut.
Ia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya yang baru saja menjalani operasi. Perlahan ia membimbing Safira untuk masuk ke dalam gedung apartemen dan menuju lift.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya!" sapa security sambil membungkuk.
"Malam, pak!" ucap mereka serentak dengan ramah dan tersenyum.
Laki-laki paruh baya itu merasa begitu tersanjung karena sapaannya di balas oleh orang terpandang itu dengan ramah.
Semoga, Tuan dan Nyonya selalu di berikan kebahagiaan dan kesehatan sampai kapanpun!. Batin securuty itu sambil berdo'a.
Fajri segera mengajak Safira menuju lantai 5 gedung apartemen mewah itu.
"Sayang, aku belum pernah ke sini 'kan?" tanya Safira mengernyit.
"Belum, ini baru aku beli beberapa waktu lalu. Dekorasinya juga sudah aku ganti sesuai dengan seleramu!" ucap Fajri tersenyum manis.
"Jadi, kamu memiliki berapa apartemen?" tanya Safira tidak percaya.
"Di kota ini, setiap gedung apartemen, aku memiliki kamar di sana, sayang. Ada yang dua, ada yang tiga ada juga yang satu!" ucap Fajri terkekeh.
"Hah? bukannya di kota ini banyak gedung apartemen, sayang?" Tanya Safira terkejut.
"Ia, makanya kalau aku capek tinggal pulang. Kalau aku ngambek, tinggal pergi!" ucap Fajri terkekeh.
__ADS_1
Safira hanya terdiam mendengarkan ucapan suaminya. Ia bahkan tidak bisa mengira, berapa harta kekayaan yang dimiliki oleh Fajri.
Gak penting tentang harta, yang jelas aku hanya ingin memiliki kamu sampai kapanpun. Itu sudah sangat lebih dari cukup. Tuhan, sehatkanlah suami dan anak-anakku selalu, agar kami bisa terus bersama. Batin Safira tersenyum.
Ting,...
Lift terbuka, Fajri segera membimbing Safira dengan hati-hati menuju kamar mereka, mengingat Ibu muda itu baru saja melahirkan.
"Coba buka pintunya!" ucap Fajri tersenyum.
"Pinnya berapa, Mas?" tanya Safira.
"Coba kamu tebak!" ucap Fajri tersenyum.
Safira berfikir sambil menatap Fajri, berharap ia bisa mendapatkan jawaban dari wajah tampan itu.
Apa tanggal ulang tahunku? Ah mana mungkin, nanti aku yang terlalu ke geeran. Tapi gak ada salahnya juga untuk mencoba!. Batin Safira.
Ia menekan enam digit tanggal lahirnya.
Ting,...
Matanya membola ketika pintu itu terbuka. Safira menatap Fajri dengan rasa tidak percaya, ingin rasanya ia menangis saat ini, karena ini sangat membuatnya terkejut.
"Apartemen ini, untuk kamu!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup kening Safira.
Ia membimbing istrinya untuk masuk ke dalam ruangan mewah bernuansa biru, putih dan bercampur sedikit warna pink. Dengan mata yang berembun, Safira menatap sekelilingnya dengan rasa yang masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
"Beberapa apartemenku sudah atas nama kamu dan anak-anak kita. Ada beberapa lagi atas nama Ivanna dan Bunda!" ucap Fajri memeluk Safira dari belakang.
"Beneran, sayang. Apapun akan aku berikan tanpa kamu minta, ya walaupun sekarang belum tau gunanya untuk apa," ucap Fajri tersenyum.
"Masih ada beberapa lgi aset yang aku berikan untukmu, nanti akan kita lihat berkasnya. Termasuk juga saham 15 persen di perusahaanku, itu sudah menjadi milikmu!" ucap Fajri terkekeh gemas melihat ekspresi Safira.
"Jangan bercanda, Fajri!" teriak Safira dengan air mata yang menetes.
"Apa tampang ku terlihat bercanda, sayang?" ucap Fajri serius.
"Kenapa kamu memberikan semua itu kepadaku?" tanya Safira terisak di dalam pelukan Fajri.
Bagaimana tidak, 15 persen saham di perusahaan Fajri itu senilai dengan 7 triliun rupiah. Hanya dengan status istri, ia bisa mendapatkan itu semua dengan mudah.
"Itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang sudah kamu berikan, apalagi dengan mengandung dan melahirkan anak untukku, untuk kita. Jika kamu mau, aku tinggal menelfon pengacaraku untuk mengalihkan semua harta yang aku punya atas nama kamu dan anak-anak!" ucap Fajri terkekeh.
"Jangan! Jangan memberiku hartamu! berikan semuanya kepada anak-anak kita! Cukup kamu selalu ada untukku, untuk keluarga kita. Aku tidak menginginkan apapun lagi, selain cintamu!" ucap Safira lirih sambil menatap Fajri lekat.
"Itu adalah hal yang paling utama dan tidak bisa lagi untuk di tawar, sayang. Justru aku takut, kamu menyerah dan meninggalkan aku!" ucap Fajri dengan wajah yang jelas terlihat takut kehilangan.
"Semoga tuhan selalu menjaga cinta kita, sayang!" ucap Safira tersenyum.
Cup,...
Entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah berpagut mesra, saling *******, dan menyalurkan cinta satu sama lain.
__ADS_1
Wajah Fajri memerah karena hasratnya yang sudah naik dan berada pada level paling tinggi. Ia menatap Safira dengan penuh damba, namun ini muda itu hanya tersenyum manis melihat suaminya.
"Aku masih nifas, sayang. Puasa dulu, ya!" ucap Safira berjalan ke arah sofa.
Fajri berjalan dengan langkah gontainya. Ia duduk disamping Safira dan mengelus adiknya yang sudah mengeras.
"Sayang?" lirih Fajri.
"Gak boleh, sayang. Adik kamu nakal, ihh!" ucap Safira tersenyum.
"Bantuin!" rengek Fajri.
Dengan pasrah, Safira membantu Fajri semampunya, tanpa ada adegan celap-celup seperti biasanya. Hingga Fajri mendapatkan pelepasan setelah satu minggu tidak mengeluarkan mayonesnya.
"Sudah?" tanya Safira tersenyum gemas.
"Sudah, terima kasih, sayang!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup bibir ranum Safira.
"Ah iya, Aku sampai melupakan tujuan utama kita kesini!" ucap Fajri membereskan miliknya.
"Apa, Mas?" tanya Safira mengernyit.
"Ah, sebentar. Yuk kita ke kamar dulu!" Ucap Fajri sambil menggendong Safira.
Ibu muda itu hanya bisa pasrah mengikuti keinginan suaminya. Fajri membaringkan Safira di atas ranjang yang di taburi kelopak mawar, di temani cahaya lampu remang-remang yang terasa begitu romantis.
"Ah, sayang banget keadaan kamu tidak mendukung suasana!" ucap Fajri tersenyum kecut.
"Sabar, ya. 30 hari lagi, aku selesai!" ucap Safira terkekeh.
"Masih pukul 8 malam. Safira tunggu di sini, ya. Fajri akan menyiapkan kejutan untuk istri Fajri yang cantik ini!" ucap Fajri tersenyum.
"Baiklah, Fajri. Safira akan menunggu Fajri dengan tenang di sini!" ucap Safira tersenyum.
"Tunggu, ya. Safira gak boleh kemana-mana!" ucap Fajri terkekeh.
"Iya, Safira gak akan pergi tanpa Fajri!" Ucap Safira semakin tergelak.
Fajri dengan wajah yang semringah berjalan keluar dari kamar dan mengunci pintu itu, agar Safira tidak mengintip apa yang akan ia lakukan.
Beberapa orang tiba-tiba saja masuk ke dalam apartemen mewah itu dan membantu Fajri untuk menyiapkan makan malam romantis di balkon apartemen mewah itu.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
Aku punya rekomendasi bacaan lagi ni gais, Ceritanya bagus dan gak kalah seru dari anak sultan. Yuk kunjungi, mana tau suka!
Santi rela menjadi istri pengganti dari tunangan mendiang kakaknya sendiri, atas permintaan Sania. Selain menikah tak berdasarkan cinta, ia pun harus rela merawat suaminya yang menjadi cacat akibat kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya.
Rasa cinta Barley yang begitu besar, membuat Barley selalu membangikan antara Santi dan Sania, tak hanya mendapat perlakuan buruk dari suaminya tapi juga dari suaminya sendiri.
Sanggupkah Santi mempertahankan rumah tangganya, dan mampuhkah Barley menghapus bayang-bayang Sania dalam diri Santi, saksikan kelanjutanya di novel: Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat.
__ADS_1