
Setelah insiden adu mulut tadi, Fajira kembali ke dalam kamar dan hanya terdiam sambil mengelus kapala Fajri lembut dan berbaring di sampingnya.
Ceklek....
Irfan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggang. Ia segera berjalan menuju ruang ganti dan memakai bajunya.
"sayang" panggil Irfan lembut sambil berjalan ke seberang Fajira.
"iya Mas"
"apa masih itu? hmm trauma kamu?"
"masih belum reda, tapi sudah mendingan" ucap Fajira tersenyum
"maafin aku ya"
"iya istirahat dulu yuk, Fajri akan lama tidur sepertinya"
"iya sayang. Tapi apa kamu gak mau pergi jalan-jalan gitu sayang?"
"Aku gak hobi jalan-jalan, palingan Fajri nanti"
"aku akan rencanakan pernikahan kita secepatnya sayang. Atau kamu mau ikut merancangnya?"
"aku serahkan semuanya kepada kamu Mas, aku gak mau yang terlalu mewah sampai berhari-hari dan pastikan gak ada kamera yang masuk nanti"
"hanya itu?"
"iya hanya itu"
"ya sudah nanti Mas akan buat sesuai keinginan kamu sayang" Irfan tersenyum manis ke arah Fajira
"terima kasih mas" Tangan Fajira terulur untuk menyentuh kening Irfan lembut
"Aku mau bertanya lagi boleh" Irfan meraih tangan Fajira dan menggenggamnya lembut.
"boleh Mas, Kamu mau nanya apa?"
"apa kamu sedang dekat dengan laki-laki?" pertanyaan Irfan membuat Fajira terdiam.
"iya belakangan ini ada satu laki-laki yang memang berniat sama aku mas"
"terus kamu terima?" ucap Irfan terbelalak
"hmm awalnya sih mau aku terima, dia tampan seperti oppa-oppa korea itu lo mas" Fajira sengaja memancing-mancing Irfan
"lebih ganteng mana dari aku?" bibit-bibit cemburu sudah mulai timbul.
"hmm,,, dia ganteng banget sih menurut aku. Dia juga tinggi dan pintar. Dia lembut juga kalau ngomong sama aku"
Memerah sudah wajah Irfan mendengarkan mulut manis Fajira memuji laki-laki lain.
"sayang" panggil Irfan dingin.
"dia juga tau kalau aku sudah punya Fajri Mas, Tapi dia mau tuh menerima aku dan Fajri" tambah Fajira yang tidak menghiraukan ekspresi Irfan saat ini.
"Tapi sayangnya Fajri gak mau sama dia Maaaas..." jantung Fajira berdetak kencang ketika mendapati Irfan sudah mengukungnya.
"mau ngomong apa lagi tentang dia?" ucap Irfan dingin.
"eh Ma-mas, ja-jangan seperti ini, a-ada Fajri lo. atau nanti traumaku kambuh lagi" Fajira gugup dengan wajah yang memerah.
"kamu mau sama dia?" desak Irfan
__ADS_1
"i-iya kalau kamu gak cepat datang tentu aku mau" Fajira menyengir kuda melihat ke arah Irfan yang sudah meradang.
"kamu... kamu harus aku hukum sayang karna berani memuji laki-laki lain di depan suami kamu sendiri"
"cih suami, calon Mas. kalau kata orang selagi jalur kuning belum melengkung dia masih hmpphh...."
Irfan membungkam bibir Fajira dengan panas. Sungguh laki-laki sangat terbakar api cemburu saat ini
"hmmpphhh..." Fajira memukul bahu Irfan sekuat tenaga yang ia bisa, karna kondisinya saat ini masih belum stabil
Beruntung Irfan yang menyadarinya langsung melepaskan pagutan itu dan berbaring di samping Fajira.
"maafkan aku sayang. Aku tidak mengizinkan kamu untuk memuji laki-laki lain di hadapanku" lirih Irfan.
plak...
"dasar possesif!. sana pindah lagi, aku sudah gemetaran ini" Fajira memukul tangan Irfan yang tengah melingkar di badannya
"iya sayang" pasrah Irfan.
Mereka terdiam sambil menatap satu sama lain. Semakin kesini, Irfan lebih pandai mengendalikan hasratnya asalkan Fajira tidak macam-macam atau memancing dirinya. Irfan masih menatap Fajira dingin, ia masih tidak rela jika Wanita yang ia cintai membicarakan laki-laki lain di hadapannya. Sadarlah wahai tuan mesum, anda yang memulainya tadi. Fajira hanya tersenyum geli melihat tingkah Irfan yang possesif.
"sayang" panggil Irfan kembali
"hmm"
"kita akan menikah minggu depan" celetuk Irfan
"Hah? kamu ngapain Mas? itu cepat banget" Fajira terkejut.
"bukankah lebih cepat lebih baik?"
"ta-tapi... hah Ya sudahlah toh gak ada untung juga aku mengeluarkan pendapat" Fajira segera memejamkan matanya lalu terlelap.
Semoga hari tidak akan pernah berakhir, apapun yang terjadi.
πππ
"Ayah apa kita akan pulang?" Ucap Fajri ketika mereka sudah berada di dalam pesawat.
"iya sayang, kapan-kapan lagi kita pergi main ya. Nanti Aji dan Bunda akan ayah ajak keliling dunia, Aji mau kan sayang?"
"mau Ayah" ucap Fajri tersenyum semangat
"Duduk bagus-bagus ya, kalau Aji ngantuk nanti bobok ya nak"
"iya Ayah"
Pesawat sudah melayang di udara dan membawa keluarga kecil itu menuju kota seberang. Fajira sudah terlelap dan berada di antara pria tampan itu, Irfan dan Fajri masih bercerita mengenai apa yang akan mereka lakukan untuk selanjutnya.
"ayah, halaman rumah ayah kan luas, apa boleh Aji mencoba untuk menerbangkan pesawat disana?"
"boleh sayang, itu rumah kita, rumah Aji juga. Jadi Aji boleh melakukan apa saja di rumah itu"
"betul Ayah?"
"betul nak"
"kalau pabrik itu Aji bagi dua terus Aji buat untuk tempat memproduksi pesawat mainan Aji apa boleh yah?
"boleh sayang, nanti kita bicarakan dengan om Ray dan kepala pabrik ya nak"
"iya ayah terima kasih"
__ADS_1
"sama-sama sayang. Apapun untuk Aji. Nanti malam tidur di rumah kita ya. Ayah sudah menyiapkan perlengkapan sekolah Aji dan bunda"
"iya ayah"
Selama dua jam kurang lebih pesawat mengudara dan akhirnya mendarat di kota x tempat mereka menetap.
"sayang tidur di rumah saja ya" Ucap irfan di dalam mobil.
"rumah kamu Mas?"
"rumah kita sayang"
"perlengkapan aku dan Fajri gak ada di sana Mas. Besok pagi aku takut keteteran"
"Semuanya sudah aku siapkan sayang, termasuk barang-barang kamu juga"
"eh? kok mas gak bilang, terus siapa yang mengambilnya ke rumah?"
"aku minta tolong sama Ray sayang"
"ap-apa? kamu jangan bercanda mas" mata Fajira melotot ke arah Irfan.
"emangnya kenapa sayang? kan dia gak macam-macam" Irfan mengernyit.
"ah iya gak macam-macam, berarti gak papa ya kalau dia melihat dan memegang dalemanku"
deg...
"gak mungkin sayang, palingan dia mengajak bi Yuri untuk kesana"
"Hmm. Nanti aku tidur dimana?"
"kita tidur bertiga sayang" ucap Irfan genit.
"jangan macam-macam mas" ucap fajira melotot
"mana berani"
Mobil mendarat di rumah mewah nan megah itu, mereka segera keluar dari mobil dan berjalan menuju kamar Irfan. Perlahan Fajira membaringkan Fajri dan segera mengganti pakaiannya. Fajri terbiasa tidur hanya menggunakan singlet dan celana pendek saja. Setelah itu Irfan dan Fajira bergantian untuk membersihkan badan masing-masing.
"Mas kamu tidur di tepi sana, Aku di tepi sini"
"gini aja sayang, Aji tidur di tepi dan kamu di tengah"
"gak mau" sergah Fajira cepat
"Ayo lah sayang"
"no tidak! bobok lagi sana Mas" ucap Fajira mendorong Irfan pergi ke sisi ranjang.
Perlahan Fajira berbaring di samping Fajri, dan memeluk bocah tampan itu dengan gemas, Irfan yang tak mau kalah juga ikut memeluk mereka dengan lembut dan tersenyum.
Terima kasih tuhan atas semuanya. Jangan pisahkan kami lagi walaupun segudang masalah yang menerpa. Jaga hati kami selalu karna ada anak yang menjadi tanggung jawab kami. Jangan pernah tinggalkan aku lagi sayang, sungguh aku lebih baik menerima hukumanmu dari pada harus kehilangan lagi.
πππ
TO BE CONTINUE
Aku mau ngasih visual Fajri nih gais.... Duuuh anak cantik mengkek siapaa inii ππ gumush bangeet π
kata Fajri "yuk dukung Aji terus ya kak π€π€"
@for_gomroni
__ADS_1