Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
47. Kebersamaan Part 4


__ADS_3

"Mas ini kartu kamu" ucap Fajira menyerahkan black card Irfan ketika berada di dalam mobil.


"itu untuk kamu sayang" ucap Irfan tersenyum dan membelai kepala Fajira yang terbengong.


deg....


"ta-tapi..."


"sudah simpan ya"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mengukir kebahagiaan selanjutnya. Perjalanan tanpa rencana ini terlihat lebih menyenangkan dari pada harus di atur dengan waktu tertentu. Mereka tak hentinya tersenyum bahagia dengan apa yang telah dilalui hari ini.


"terima kasih" ucap Fajira bersandar di bahu Irfan, sementara Fajri sudah terlelap di dalam pangkuannnya.


"ini sudah kewajiban aku sayang" Pegangan tangan itu tidak terlepas sedari tadi dan saling terpaut.


"kamu tau Mas, Aku merasa nyaman hari ini berada di dekatmu"


"iya sayang? syukurlah. Akhirnya usahaku tidak sia-sia" ucap Irfan tersenyum manis.


"iya, karna kamu tidak berbuat mesum seharian"


"hehehe sayang, gak mungkin juga aku berbuat mesum jika ada Fajri di sini. Tapi mungkin bisa di coba karna anak kita sedang tidur" ucap Irfan genit.


"ah sudahlah, sekali mesum tetap mesum" Fajira memberi jarak dari Irfan dan langsung di cegat oleh laki-laki itu.


"eh jangan jauh-jauh. Maafkan aku sayang. Sini Aku mau peluk kalian lagi" ucap Irfan terkekeh.


"gak mau" ketus Fajira


"ayo lah sayang, uluh uluh" bujuk Irfan dengan kembali mendekat kepada Fajira. Perempuan itu hanya mendelik kesal ke arah Irfan.


Duh gusti apa dia tuan Irfan yang bersama saya? Atau saya salah jemput orang. Bathin pak Budi mengernyit mendengar manisnya Irfan membujuk Fajira.


"sayang"


"hmm"


"Apa kamu sudah siap jika kita menikah, sungguh aku tidak ingin jauh-jauh dari kalian" Irfan merengkuh tubuh Fajira dan mengecup kepalanya lembut.


Fajira hanya terdiam mendengarkan perkataan Irfan, hatinya kembali goyah, padahal tadi di atas pesawat ia sudah memantapkan hati untuk menikah dengan Irfan.


"sayang"


"apa orang tuamu setuju kita menikah Mas? Aku gak mau nanti ketika kita sudah menikah, orang tua kamu malah membawa perempuan lain untuk menjadi madu ku"


"sudah sayang, aku sudah membicarakan ini kepada Mama. Dan beliau setuju. Rencananya hari ini mereka akan mengunjungiku, namun karna kita pergi, jadi mereka mengundur jadwal keberangkatan"


"Aku takut nanti tidak bisa menjadi istri kamu. Karna aku gak mau mengobati traumaku. Biarkan ini menjadi hukuman untuk kamu karna kejadian di masa lalu" ucap Fajira tersenyum jahil.


glek...


"gimana mas? kamu kuat kan?" sambung Fajira sambil mendongak melihat wajah tampan yang tengah berfikir keras itu.


"akan aku coba sayang, Asal tiap hari aku bisa meluk kamu aja sudah"


"yakin?"


"gak begitu yakin sayang. Tapi apa kamu gak terfikirkan untuk berobat? biar aku yang menanggung biayanya"


"belum ada Mas, aku mau nyiksa kamu dulu. Baru nanti aku berobat"


deg...


"kejamnya kamu sayang" rengek Irfan


"kan juga karna ulah kamu"


"Hah? ya sudah, Jadi kamu mau kan menikah dengan ku?" pasrah Irfan.


"iya, aku mau"


deg...


"sayang" panggil Irfan termagu.

__ADS_1


"hmm"


"ka-kamu bilang apa tadi"


"apa?"


"coba ngomong lagi aku gak dengar"


"ngomong apa sih?"


"kamu jawab apa tadi?"


"pertanyaan yang mana?" ucap Fajira masih mengerjai Irfan


"kamu mau jadi istriku?" lirih irfan takut


"iya aku mau" ucapnya serius.


"kamu serius sayang?" pekik Irfan tidak percaya.


"ya sudah gak usah aja kalau gitu"


"eh jangan sayang. Terima kasih sudah menerima lamaranku" Irfan kembali memeluk Fajira dan Fajri dengan erat.


"huh katanya orang kaya nomor 2 se asia, tapi melamar perempuan gak ada romantis-romantisnya" celetuk Fajira sedikit kesal.


"hahaha ... eh maaf tuan saya keceplosan" ucap Pak Budi terkejut dan tertawa lepas.


"pak Budi" Irfan menatap pak budi dengan mata elangnya yang tajam seolah bisa menembus jantung drivernya itu


"ampun tuan"


"Sudah lah Mas hehe" Fajira terkekeh melihat laki-laki paruh baya itu.


"akhir nya penantian panjangku terbalaskan. Aku akan secepatnya mengurus pernikahan kita, aku akan mengatakan kepada dunia jika aku akan menikahi perempuan hebat dan mengumumkan Fajri sebagai penerus keluarga Dirgantara" ucapnya senang.


"Aku gak setuju Mas" cegah Fajira.


"kenapa sayang?"


"iya sayang, kamu benar. Tapi aku akan mengumumkan jika kita sudah menikah"


"iya aku setuju Mas. Kita mampir makan dulu ya. Aku sudah lapar"


"iya sayang, Pak resto terdekat"


"baik tuan"


Pak Budi berhenti di salah satu restoran yang cukup mewah, dan segera memesan ruang privat untuk mereka makan.


"pak Budi juga ikut sekalian yuk. Kita makan sama-sama"


"eh gak usah nyonya saya makan di luar saja"


"gak papa Pak, Saya gak suka di tolak lo"


"aduh saya gak enak Nya"


"masuk Saja pak" Ucap Irfan merendahkan harga dirinya.


"eh? terima kasih banyak tuan, tapi..."


"pak" panggil Irfan dingin.


"ba-baik tuan"


Mereka segera melangkah kedalam ruangan yang sudah di pesan oleh pak Budi. Laki-laki paruh baya itu merasa sangat beruntung karna bisa makan satu meja dengan Irfan.


"terima kasih banyak tuan, dan nyonya karna mengizinkan saya untuk ikut makan disini" ucap Pak Budi berkaca-kaca


"gak perlu sungkan Pak, gak ada salahnya jugakan, iya kan Mas" ucap Fajira tersenyum.


"iya sayang"


Sebenarnya Fajira hanya ingin menguji calon suaminya itu, apakah ia masih memiliki rasa sosial kepada orang lain apa tidak. Dan sekarang sudah terbukti jika ia mau makan bersama dengan drivernya.

__ADS_1


Huft... kalau pertemuan pertama kita baik-baik saja aku gak akan mengulur waktu untuk kita bersama. Aku yakin kamu laki-laki yang berhati hangat Mas, Mas ku sayang. Hahaha geli woii. Fajira tersenyum menatap Irfan yang tangah memilih menu makanan untuk mereka.


Siang itu mereka makan dengan sedikit mengobrol tentang Pak budi dan kehidupannya, lebih tepatnya Fajira yang bertanya. Tanpa ia sadari wajah Irfan sudah di tekuk karna perempuan itu tidak pernah bertanya tentang dirinya sama sekali.


"Mas kenapa gak dimana? apa gak enak?" ucap Fajira mengelus lengan Irfan.


"Enak sayang, lanjut aja makannya"


Fajira menyuapinya Fajri yang masih terlihat mengantuk karna kelelahan berkeliling seharian. Namun dalam mata yang sayu ia tetap mengunyah makanannya dan sesekali memejamkan mata lalu tersentak. Hal itu sukses membuat fajira gemas sekaligus kasihan dengan putranya.


"Mas, bungkus satu ya makanannya untuk putraku"


"putra kita sayang" sergah Irfan cepat.


Entah mengapa ibu muda itu sangat suka mengerjai Irfan dan membuatnya kesal.


"iya putra kecilku"


"huh!" dengus Irfan.


Perlahan Fajira memberikan Fajri minum dan membersihkan mulutnya.


"habis ini kita kemana lagi Mas?"


"kamu mau kemana sayang?"


"gak tau, aku kan ikut aja"


"Aji suka ke taman bermain gak sayang?"


"hehe kalau itu nanti kamu tanya sendiri sama anakmu Mas. Aku gak bisa jawab kalau pertanyaannya seperti itu"


"apa kita ke apartemen dulu sambil menunggu Fajri bangun? soalnya flight kita jam 7 sayang, sekarang masih jam 3. Paling tidak jam 6 kita sudah di sana, masih ada 3 jam lagi kan"


"iya Mas, kita ke apartemen saja dulu. Aku juga mau berbaring"


"ya sudah. Pak habis ini kita ke apartemen ya"


"iya tuan"


Mereka segera menghabiskan makanan itu dan tidak lupa untuk membungkus satu porsi untuk pria kecil yang sudah kembali terlelap itu. Setelah selesai Irfan dan keluarga kecilnya segera kembali ke apartemen untuk beristirahat sejenak melepas penat seharian berjalan mengitari perpustakaan dan toko buku.


Setibanya di apartemen Irfan membaringkan Fajri di atas kasur di dalam kamarnya, sementara Fajira duduk di atas sofa ruang tamu sambil bermain ponsel.


"sayang" panggil Irfan tersenyum. Dan sukses membuat Fajira curiga.


"apa Mas?"


"mau peluk boleh" Icap Irfan hati-hati.


"hanya peluk ya! gak boleh yang lain"


"iya sayang"


Mereka saling berpelukan satu sama lain. Fajira berusaha untuk mengendalikan detak jantung dan rasa takutnya. Perlahan Irfan mengurai pelukan mereka dan menatap Fajira dengan hangat. Kepala itu semakin mendekat menepis jarak di antara mereka.


Cup...


Mereka beradu mulut sejenak menyalurkan rasa yang menyeruak dalam diri masing-masing. Fajira terhanyut dan terbuai dengan permainan Irfan seolah melupakan rasa trauma yang ia derita. Perlahan irfan membaringkan Fajira dan mulai menc*umbunya.


Namun sejurus kemudian badan Fajira melemah karna sekelebatan bayangan masa lalu itu kembali menghantuinya.


"mas" ucap Fajira lirih dengan nafas yang menderu.


"ma-maafkan aku sayang. Maafkan Aku. Apa kamu terbayang kejadian itu lagi?"


"hmm bangun lah dulu mas. Beri jarak sedikit" ucap Fajira masih berbaring di sofa.


"aku ke kamar mandi dulu sayang"


Irfan berlalu meninggalkan Fajira dengan air mata yang menetes. ia lemah terhadap sentuhan Irfan namun bayangan itu selalu menghantuinya.


Sepertinya aku harus menemui psikolog atau psikiater untuk membantu menghilangkan trauma ini.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2