
"Mas?" ucap Fajira senang sambil berjalan mendekat ke arah suaminya.
Namun sejurus kemudian Fajira mamatung ketika mata indah itu menangkap sesuatu yang berbeda dari anaknya.
Deg...
"Fajri..." lirih Fajira sambil menutup buya terkejut, ketika melihat kaki kecil putranya di balut oleh perban berwarna bata.
Praang!!
Rantang susun itu terjatuh begitu saja dan menumpahkan isi yang ada di dalamnya.
"Fajri" pekik Fajira, ia berjalan cepat dan mendekat ke arah Irfan.
"stooop! tetap disana, Sayang!" pekik Irfan ketika melihat Fajira hendak berlari.
Laki-laki itu berjalan dengan cepat ke arah Fajira. Sementara Ray sudah siap siaga di dekat ibu hamil itu jika terjadi sesuatu yang berbahaya kepadanya nanti.
"Astaga, nak! kenapa bisa seperti ini?" Pekik Fajira dengan air mata yang mengalir melihat keadaan Fajri.
Ia semakin terpekik melihat perban yang melekat di kepala Fajri. Segera ia mendekap pria kecil itu di dalam gendongannya. Fajira membawa Fajri masuk kedalam rumah dan membaringkannya di atas sofa.
"Fajri! sayang, ini Bunda nak, hiks... kenapa Aji bisa seperti ini" tangis Fajira semakin menjadi ketika mendapati Fajri tidak kunjung bangun.
"Sayang, Aji bangun nak. Ini bunda! Bunda di sini, sayang!" Fajira memeluk tubuh kecil itu sambil mengusap kepala Fajri lembut.
"engh... hiks bundaa... Sakit! Kepala Aji sakit, kaki Aji juga" tangis Fajri kembali pecah setelah mendapati Fajira berada di dekatnya.
Ia memeluk tubuh gempal yang tengah terisak itu dengan erat.
"Bunda disini, sayang. kenapa Aji bisa seperti ini, nak? Apa ada yang jahatin Aji? sini bilang sama bunda" ucap Fajira masih mendekap Fajri erat.
"Hiks... Aji jatuh dari atas meja bunda" Pria kecil itu terisak di dalam pangkuan Fajira.
"Maafin Aji, Bunda. Maafin, Aji!" ucapnya dengan penuh rasa bersalah karna membuat Fajira khawatir dan menangis.
"Kenapa Aji manjat-manjat nak? Astaga! Mana yang sakit? sini kasih tau sama bunda!" ucap Fajira memeluk Fajri semakin erat.
"Hiks... kepala Aji sakit Bunda, Kaki Aji juga" isak Fajri tertahan.
"Kita pindah ke kamar ya, sayang" Ajak Fajira dan Fajri hanya mengangguk sambil menangis.
Ray segera menggendong Fajri sementara Irfan membantu Fajira untuk menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar mereka.
"Hati-hati, sayang!" ucap Irfan, Fajira hanya terdiam sambil menatap putra kecilnya yang tengah kesakitan itu.
__ADS_1
Hingga mereka tiba di dalam kamar, Ray membaringkan Fajri di atas ranjang dan di susul oleh Fajira. Ibu hamil itu memeluk anaknya dengan lembut, dengan masih menjaga agar kepala putranya tidak kembali terbentur.
"Ray, Kamu tunggu di luar! Mana tau saya membutuhkan kamu lagi nanti" ucap Irfan mulai merangkak keatas tempat tidur.
Fajira termenung dengan air mata yang masih menetes, namun tangannya tidak berhenti mengelus punggung kecil yang masih terisak itu. Ia mengingat firasat yang tiba-tiba saja menghampirinya beberapa jam yang lalu.
"Maafin Aji, Bunda. Aji udah membuat Bunda nangis!" ucap Fajri menatap Fajira lamat.
"Kenapa Aji bisa seperti ini? coba sini cerita sama Bunda!" tanya Fajira lembut dengan masih berusaha untuk menepis air matanya.
"tadi, Aji lagi bantuin bapak penjaga sekolah untuk memperbaiki bell, bunda. Terus waktu Aji selesai memperbaikinya, Aji loncat dari aras meja, terus jatuh. Gak tau kenapa bisa seperti ini. Maafin Aji udah bikin Bunda sedih, " ucap Fajri sesegukan sambil menatap Fajira dengan penuh penyesalan.
"Bunda memang mengajarkan Aji untuk selalu berbuat baik kepada orang lain dan saling tolong menolong, tapi bunda gak suka jika Aji harus seperti ini. Bunda sudah sering bilang 'kan sama Aji?" Ucap Fajira lembut sambil mengelus kepala Fajri.
"Iya Bunda. Maafin Aji" pria kecil itu mengeratkan pelukannya kepada Fajira namun tetap berhati-hati dengan keberadaan calon adiknya.
Tangan Irfan terulur mengusap kepala Fajri. Fajira yang menyadari itu langsung menepis tangan suamiya dan sukses membuat Irfan melotot tidak percaya.
"Kamu masih punya hutang penjelasan dengan ku" ucap Fajira tajam dengan mata tajamnya.
"sa-sayang"
"cih..." Fajira berdecak karna tidak menginginkan Irfan kembali berbicara.
Fajira berusaha agar membuat pangeran tampan itu tertidur, ia harus menyelesaikan suatu hal dengan suami tampannya itu.
🌺🌺
Tidak ada lagi wajah cantik yang mengemaskan, yang ada hanya wajah garang yang tidak terima dengan keputusan suaminya.
Setela Fajri terlelap, Fajira mengajak Irfan menuju kamar ganti yang cukup kedap suara, sehingga jika ia berteriak pun hanya terdengar sayup-sayup dan di pastikan tidak akan membangunkan Fajri.
"Sayang, bukan aku gak mau memberitahukan kamu tentang keadaan Fajri. Tapi kamu lagi hamil! Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita. Tolong mengertilah!" ucap Irfan berusaha untuk sabar.
"harusnya kamu bilang dari awal, Mas!. Bahkan malah berbohong denganku! Aku kecewa sama kamu" ucap Fajira dan melangkah pergi.
Bugh...
Fajira memukul dada bidang Irfan cukup keras.
Namun Irfan tidak semudah itu melepaskan fajira yang hendak beranjak dari kamar ganti barang sedikitpun.
"Sayang. Aku minta maaf ya" ucap Irfan memeluk Fajira dari belakang.
"Aku benci sama orang yang berbohong, Mas! Apa lagi kamu berbohong mengenai kondisi Anak kita!" Fajira berusaha untuk melepaskan pelukannya irfan
__ADS_1
"Aku minta maaf, Sayang! Tolong pahami keadaanku!" lirih irfan membuat Fajira terdiam.
"lalu apa kamu memahamu keadaanku? memahami perasaan ku yang tidak tenang? Apa kamu memahaminya?" Lirih Fajira sambil membuka plester yang ia gunakan unthk membalut luka di jarinya tadi.
Irfan melotot melihat luka sayatan di tangan mulus istrinya. cukup panjang dan sedikit membuatnya bergidik.
"Sayang..."
"kamu gak bisa bohong tentang hal ini, Mas! karna aku memiliki firasat yang kuat terhadap kalian!"
"Maafin Aku, sayang! Maafin aku!" Irfan bersimpuh di hadapan Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bangun lah, Mas! Jangan buat aku berdosa karna sikapmu seperti ini"
"Tidak sebelum kamu memaafkan Aku!"
"huft... Ya sudah, Jangan ulangi lagi! bagaimanapun ke adaanku, kamu harus mengatakan hal apapun, sayang!" ucap Fajira lembut sambil membantu Irfan untuk berdiri.
"iya, Maafin aku. Aku akan proses mereka yang sudah mencelakakan anak kita sayang!" ucap irfan menatap Fajira tegas.
"gak usah. Mas! lagian kamu dengar sendiri jika Fajri sendiri yang melompat dari atas meja"
"tapi..."
"sudah, Mas! aku gak mau berdebat lagi!"
"baiklah. Apa kamu baik-baik saja? Aku panggilan dokter ya?"
"Aku gak papa, Mas. Aku hanya lapar dan mengantuk"
"Apa sambal tadi masih ada?"
"Masih"
"Aku minta bibi mengantarkan makanan ke sini ya"
"iya"
Tidak susah bagi Irfan untuk menaklukan hati ibu hamil yang satu ini. Dengan hanya memeluk sembari meminta maaf, Fajira akan tenang dengan sendirinya.
Ia menarik nafas lega, karna Fajira tidak lagi membahas kejadian Fajri tadi. Ia segera mengajak istri cantiknya untuk keluar dari sana dan kembali berbaring di atas kasur.
Fajira terlelap setelah mendapatkan usapan lembut di kepalanya. Mata bulat itu perlahan terpejam dengan emosi yang sudah mulai mereda.
Tidurlah sayang! jangan takutkan apapun!.
__ADS_1
🌺🌺
TO BE CONTINUE