
Setelah selesai makan, mereka sedikit memperbaiki penampilan agar lebih fresh. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 membuat mereka harus bergegas menuju perpustakaan nasional yang memakan waktu sekitar 15 menit dari apartemen. Fajri sudah merengek sedari tadi agar mereka segara pergi ke sana.
"Ayah, bunda Ayo lah, nanti tutup perpustakaannya lagi"
"iya sayang, yuk kita berangkat" ucap Irfan sambil menggendong Fajri
"let's go" teriak Fajri senang.
"mas biar Fajri jalan aja"
"gak papa sayang, Mumpung anak kita belum terlalu berat untuk di gendong. Anggap saja sebagai ganti tiga tahun ini" ucap Irfan tersenyum sendu.
"ya sudah kalau begitu" ucap Fajira sambil mengelus lengan Irfan.
Mereka kembali berjalan menuju lift untuk turun ke bawah.
Ting...
Seperti biasa, Irfan menggendong Fajri dengan satu tangannya dan tak lupa menggenggam tangan Fajira lembut. Mereka segera manaiki mobil dan bergerak menuju perpustakaan nasional.
Sekitar 15 menit mereka tiba di sana dan bergegas untuk masuk ke dalam gedung besar dan megah itu.
"uwaaah ayah, Aji mau perpustakaan seperti ini" ucapnya berbinar ketika melihat deretan buku yang begitu banyak.
"nanti ayah buatkan di rumah kita ya sayang"
"rumah yang mana Ayah"
"rumah ayah sayang, itu sudah ayah alih nama atas nama bunda" ucap Irfan membuat Fajira terkejut.
"kamu serius? jangan bercanda mas"
"aku gak bercanda sayang, besok kamu boleh lihat berkasnya"
"wah Bunda dapat rumah dari Ayah" ucap Fajri berbinar, karna ia tau jika Fajira sangat menginginkan rumah seperti milik Irfan dan sekarang ia sudah mendapatkannya.
"Aji juga dong sayang, Beberapa cabang perusahaan Ayah sudah atas nama Fajri dan bunda" ucap Irfan enteng membuat mereka kembali terkejut.
"kamu jangan mengada-ngada mas!" pekik Fajira pelan, karna tidak mungkin mereka berteriak di dalam perpustakaan
"eh kok gak percaya?, Besok kita lihat lagi ya. Ayah hanya bisa memberikan Aji dan Bunda beberapa perusahaan yang memang dari hasil kerja ayah. dan selebihnya itu milik Opa, jadi ayah gak bisa mengganggu gugatnya. Dan satu lagi, pabrik pembuatan Mesin Cuci dan ginset itu milik Aji semua, terserah mau Aji apakan kalau sudah tidak memproduksi lagi"
"Ayah serius? terima kasih" Fajri berkaca-kaca dan memeluk Irfan erat.
"sstt gak boleh nangis sayang, nanti kita kena marah sama petugasnya"
"iya Ayah"
Mereka segera mencari buku yang di inginkan oleh Fajri. Mereka menemukan 7 buah buku yang membahas tentang pesawat. Fajira juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia mencari beberapa referensi untuk tugas kampusnya.
Irfan senantiasa menemani Fajri yang tengah membaca buku, dahinya mengernyit ketika melihat anaknya membalik buku begitu cepat. Apa Fajri paham dengan apa yang di bacanya?. begitu fikiran Irfan.
"Apa Aji paham sayang?"
"paham ayah, ini Aji sudah baca. Ha rangkaian pesawatnya sudah sampai disini, ini juga sudah. Tapi disini Aji gak menemukan cara menerbangkan pesawat Ayah" Ucapnya menunjuk beberapa bagian-bagian pesawat yang sudah ia buat.
"Aji serius nak?"
"ih serius ayah, ngapain juga Aji kesini kalau hanya untuk membaca saja" ucapnya cemberut
__ADS_1
"ada apa sayang? kenapa cemberut gitu?" tanya Fajira yang membawa beberapa buku di tangannya.
"itu Bunda, Ayah gak percaya Aji bisa membuat pesawat" Adu Fajri
"bukan gak percaya sayang, tapi..."
"sudah lah mas, lihat saja bagaimana anakmu berekspresi. Kamu tadi bertanya apa saja yang bisa di lakukan Fajri kan? itu salah satunya. Gak perlu membaca, pangeran kecilku hanya perlu melihat gambarnya saja"
"itu ayah dengar kata bunda"
Irfan hanya meringis menatap Fajri yang masih asik membolak balikkan halaman buku. Begitu juga dengan beberapa orang yang berada di samping mereka, karna tidak sengaja mendengar pembicaraan keluarga kecil itu.
"bukannya dia Fajri? pemenang lomba cipta karya tahun lalu kan?" ucap salah satunya mereka.
"iya, kabarnya mesin cuci itu tembus sampai pasar luar negeri, bahkan dalam tiga hari sudah ludes terjual"
"kita minta foto yuk" ucap mereka.
"yuk tapi ini di perpustakaan lo, nanti kena tegur. Di luar saja nanti"
"okeh-okeh"
Mereka terus mengamati Fajri dan keluarga kecilnya, namun Irfan yang masih mengenakan masker itu tidak terlalu di kenali oleh orang lain.
"Wah akhirnya Aji menemukan caranya Ayah. Bla... bla... bla.." ia menjelaskan bagaimana cara menerbangkan pesawatnya nanti.
Sementara Irfan kembali meringis melihat cara anaknya menjelaskan apa yang ia dapat. Setelah cukup lama mereka di sana, dan Fajri sudah menemukan apa yang ia cari, mereka langsung keluar dan melanjutkan kegiatan yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Ayah kita jadi ke toko buku?"
"Aji mau beli buku apa sayang?"
"Gimana Bunda?"
"iya boleh, Bunda juga mau mencari beberapa buku"
Tak jauh dari sana ada sebuah toko buku yang cukup besar dan cukup lengkap, sehingga Irfan memutuskan untuk berhenti disana.
"Ayah Aji boleh beli berapa buku?" tanya pria kecil itu dengan penuh harap.
"Aji boleh mengambil buku yang Aji butuhkan" ucap Irfan tersenyum
"bunda" panggil Fajri meminta persetujuan.
"iya beli lah sayang. Kalau perlu buat ayah bangkrut hari ini. Mas jangan lupa siapin beberapa koper nanti untuk membawa buku-buku pulang. hehe" ucap Fajira tergelak.
"iya sayang, pilih dulu ya, nanti kita hitung berapa buah koper yang akan kita beli"
Mereka berkeliling mencari buku, bukan hanya Fajri, Fajira dan Irfanpun juga sama. Tidak lama kurang lebih hanya satu jam saja untuk berkeliling, mereka sudah mengumpulkan begitu banyak buku di dalam keranjang. Dan itu sukses membuat pengunjung di sana menelan ludahnya kasar.
"sultan membeli buku memang seperti ini. aku juga ingin hiks"
"enaknya ambil buku tanpa lihat harga huaa mau jugaa"
begitulah jeritan beberapa pengunjung disana. Ketika hendak berjalan menuju kasir, mata Fajri berbinar ketika melihat buku yang selama ini ia cari di temukan.
"Ayah Aji mau kesana dulu" ucapnya meminta Irfan kembali.
"apa sayang. Aji masih mau beli buku lagi?"
__ADS_1
"iya ayah. Bolehkan satu lagi?"
"boleh sayang"
Fajri berbinar melihat buku pembuatan helikopter disana. Ada tiga macam buku yang masih terbungkus plastik, ia membaca sinopsis yang ada di belakang buku dan memahaminya.
"ayah Aji mau ambil buku-buku ini boleh?"
"boleh sayang, ambil saja. Aji mau yang mana?"
"hmm ketiganya apa boleh?"
"boleh dong, ambil lah"
"terima kasih Ayah" Fajri berkaca-kaca dan memeluk Irfan erat.
"Sama-sama sayang, yuk kita ke kasir"
"iya ayah"
Di depan kasir, Fajira sedang menunggu Irfan dan Fajri, sementara buku yang mereka beli tadi sedang di hitung satu persatu. Banyak orang yang menatap Fajira tidak percaya, namun ia hanya menatap layar ponselnya.
"Bunda, ini tambah tiga lagi ya" ucap Fajri tersenyum.
"ada disini nak?" ucap Fajira terkejut melihat buku yang di berikan oleh Fajri.
"ada bunda" ucapnya berbinar.
"ayah siap-siap bangkrut ya" Ucap Fajri yang melihat tumpukan buku yang sedang di susun oleh pegawai di sana.
"iya nak. Ayah cari uang juga untuk Aji dan Bunda kan"
Pegawai toko hanya meringis mendengar ucapan mereka di tambah dengan macam-macam buku yang di pilih, mulai dari kesehatan, kedokteran, ekonomi, bisnis dan permesinan.
Orang kaya memang susah untuk di mengerti. Bathin mbak kasir menjerit.
"totalnya 37 juta 576 ribu pak. Mau pakai debit atau credit?"
"kredit saja mbak. Ini" Irfan mengeluarkan black card dari dalam dompetnya, dan membuat mbak pegawai kasir itu semakin menjerit.
Aku siapa? Aku di mana? tolong tenggelamkan aku ke dasar bumi tuhan, baru kali ini ada yang belanja pake black card seperti ini dalam 3 tahun kerja ku huaa. Bathin mbak kasir menjerit karna untuk pertama kalinya ia memegang kartu itu.
"ini pak, silahkan. Terima kasih silahkan datang lagi"
"iya sama-sama mbak" jawab Fajira mengambil kartu itu karna Irfan sudah dulu berjalan keluar.
Buku-buku itu di bungkus menggunakan beberapa kardus besar dan di packing se rapi mungkin agar bisa langsung dikirim ke rumah Irfan, agar lebih mudah.
"mas ini kartu kamu" ucap Fajira menyerahkan black card Irfan ketika berada di dalam mobil.
"itu untuk kamu sayang" ucap Irfan tersenyum dan membelai kepala Fajira yang terbengong.
deg....
"...."
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1