
"Lalu apa alasan kamu melamar anak saya mendadak seperti ini? bukankah kalian baru menyatakan cinta dua hari yang lalu?" tanya Pap Riska masih belum melunak.
"apa anda tidak takut jika Putri anda tidak lagi perawan jika saya pacar terlalu lama?" tanya Ray menyerang Papa Riska.
"Kamu yang sopan ya!" hardik Papa.
"yang sopan? kesopanan seperti apa yang anda minta tuan?. Apa saya harus menyembah untuk mendapatkan restu anda?. Jika 'pun saya mau, hari ini juga dah bisa menikahi anak anda dan mendapatkan buku nikah resmi tanpa restu anda!.
Namun saya menghargai Riska karna ia masih memiliki orang tua dan saya juga, untuk itu lah saya jauh-jauh datang kemari dengan niat hati yang baik melamar Putri Bapak untuk menjadi istri saya. Apa seperti ini sambutan anda Tuan yang terhormat?" sarkas Ray yang sudah sangat tidak suka dengan sikap Papa Riska yang terlalu berlebihan.
"saya permisi, Tante. Semuanya!" ucap Ray beranjak dari sana.
"kak. Kakak mau kemana?" cegah Riska yang sudah menangis.
Ray hanya terdiam sembari menguasai emosinya. Ia menatap Riska lembut lalu mengusap kepala gadis manis itu.
"kamu tau bagaimana saya kan Riska. saya hanya butuh istirahat. Dan kamu juga harus beristirahat!" ucap Ray lembut.
"kak!" lirih Riska menahan dirinya agar tidak sampai melewati batas di hadapan kedua orang tuanya.
"Duduk lagi ya!" sambungnya dengan lembut.
Ray menatap tajam Papa Riska. Sungguh jika ia tidak mengingat laki-laki paruh baya itu adalah calon mertuanya, mungkin sudah ia tebas kepalanya sedari tadi.
"Ris!"
"aku mohon kak!" mata bening Riska menyiratkan permohonan.
"baiklah"
Ray pasrah, ia kembali duduk sambil meredam emosi dengan menatap Riska yang tengah tersenyum lembut ke arahnya.
Perdebatan demi perdebatan berlangsung sengit. Ray sangat berusaha untuk menahan emosinya agar tidak bertindak lebih jauh lagi. Sungguh ia ingin membunuh laki-laki yang ada di depannya saat ini.
"Baiklah, saya merestui kalian!" ucap Papa Riska dan beranjak dari sana.
deg...
Jantung Irfan seolah berhenti berdetak mendengarkan perkataan dari Pria paruh baya yang sudah membuat emosinya membuncah.
__ADS_1
Bukan hanya Ray, semua orang bahkan juga terdiam, mencerna apa yang baru saja mereka dengar.
Be-benarkah lamaran saya di terima? apa perdebatan tadi hanya untuk mengujiku? sial! bisa-bisanya saya terpancing emosi karna di permainan seperti ini. Apa ini yang sering di rasakan oleh tuan Irfan terhadap Fajira?. haah... saya merasa berdosa kepada anda tuan. Bathin Ray berdialog.
"By, ayah merestui kita!" pekik Riska setelah sadar dari keterkejutannya.
Ray hanya tersenyum tipis sambil menatap wanita pujiannya. Semakin lama, senyum itu semakin merekah, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan yang tengah melanda hatinya.
Bak kebun bunga yang sangat indah di pandang dan sangat menyejukkan. Begitulah suasana hati Ray dan Riska saat ini.
"kita akan menikah, By!" pekik Riska senang dengan air mata bahagia yang luruh begitu saja tanpa ia tahan.
"Iya sayang!" Ray tersenyum lega. Ia menatap haru gadis yang sangat ia cintai itu.
"Tante, Minggu depan jika tidak ada halangan,saya akan membawa keluarga saya untuk datang melamar Riska, Putri cantik tante. Saya harap, tante juga merestui kami," ucap Ray begitu sopan dan terdengar lembut.
"Iya nak, Mama merestui hubungan kalian. Tolong jaga anak Mama yang manja ini, dia masih sangat kekaanak-kanakan. Semoga hubungan kalian nanti selalu di berikan kelancaran dan kemudahan hingga kapanpun!" ucap Mama Riska berkaca-kaca.
"dan Tolong, jangan panggil tante, karna sebentar lagi kamu akan menjadi anak Mama juga!" sambungnya.
"Baik. Ma. Terima kasih banyak atas do'anya. Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal, Tapi saya hanya bisa memastikan jika anak mama bahagia hidup bersama saya!" ucap Ray tulus dan membuat senyum riska semakin mengembang.
...🌺🌺...
Ponsel Ray berdering. Ia segera beranjak dari kasur hotel yang ia sewa hingga hari minggu besok dan melihat siapa yang tengah menelfonnya malam-malam begini.
Tuan Irfan?. bathin Ray mengernyit dan segera mengangkat panggilan itu.
"halo, Ray?" Sapa Irfan di balik telefon.
"Iya halo tuan. Apa kabar anda selama saya tinggalkan?" ucap Ray tergelak.
"Ahh saya baik, sangat baik. Bagaimana hasilnya? kapan kalian akan menikah? Atau kamu malah di usir oleh orang tua riska? hahaha." ucap Irfan juga ikut tergelak.
"sekarang belum bisa menentukan harinya, tuan. Sepertinya minggu depan anda juga kan berkunjung ke sini dan melamar Riska untuk saya!"
"minggu depan? Ahh boleh, kita akan kesana, itu tergantung dengan kamu bagaimana caranya agar semua jadwal bisa berjalan dengan baik. Tentu kita tidak bisa langsung pulang pergi. Kasihan anak dan istri saya. Cepatlah pulang dan kita bicarakan di sini. Jangan lupa jemput ibumu sebelum minggu depan!" ucap Irfan.
"terima kasih" ucap Ray berkaca-kaca.
__ADS_1
Sungguh jika bukan karna mereka yang membukakan jalan, ia tidak akan bisa melangkah sejauh ini. Atau untuk menyatakan cintanya saja ia tidak akan pernah mampu.
"Sudahlah! kamu laki-laki, jangan menangis!" ucap Irfan yang juga terdengar serak.
"Anda juga sering menangis, jika anda lupa!" ejek Ray.
"hei dasar kurang ajar!"
Mereka tergelak, Ray segera menceritakan apa yang ia alami hari ini, dan hal sukses membuat Irfan kembali tertawa sangat besar bahkan sampai tersedak. Bisa-bisanya asisten pribadi yang terkenal arrogant dan dingin itu, dengan mudah terpancing dan emosi hanya karna satu orang laki-laki yang di sebut dengan Papa mertua.
Hingga malam merayap membawa kebahagiaan bagi dua insan yang tengah di mabuk asmara itu. Ray terpejam dengan hati yang berbunga-bunga. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan kebahagiaan yang setara dengan perasaannya saat ini.
...🌺🌺...
"gimana, sayang? apa kak Ray berhasil?" tanya Fajira yang sudah tidak sabar mendengar cerita suaminya.
"Berhasil, sayang!, ya walaupun harus melewati perdebatan yang panjang. haha" gelak Irfan.
"maksudnya?" tanya Fajira bingung.
"Besok kamu telefon Riska saja ya, Yuk kita istirahat sayang!" Aja Irfan.
Ia memeluk Fajira dari belakang sambil mengusap perut buncit istrinya. Perlahan tapi pasti tangan nakal itu bergerak sesuka hatinya. hinggap di sana, hinggap di sani sehingga membuat Fajira yang baru saja terlelap menjadi kesal.
"Mas! aku ngantuk lo!" rengek Fajira yang terdengar sen'sual di telinga Irfan dan berhasil membuat gairahnya semakin terbakar.
"Sayang..." ucap Irfan dengan suara seraknya.
"aku pengen! sebentar saja!" Irfan segera menyerang Fajira dengan berbagai jenis sentuhan dan belaian.
Ibu hamil itu tak hentinya melenguh, namun ia harus berusaha untuk mengecilkan suaranya agar Fajri tidak terganggu dan bangun dari tidurnya.
"aakkkhhh... Fajira!" desah irfan ketika berhasil mengeluarkan benih yang sudah ia simpan dari tadi pagi.
Malam menemani lelahnya tidur mereka yang selalu diselimuti dengan kebahagiaan. Hingga fajar menjelang menunjukkan sinar mentari yang menembus jendela kaca secara perlahan.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1