Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
167. Jarum Besar


__ADS_3

Kondisi Ivanna sudah lebih baik dari sebelumnya, hanya saja kepala gadis kecil itu masih terasa pusing dan ia selalu bergantung pada Irfan.


Seorang psikolog anak sudah datang dan memeriksa keadaan Ivanna, apakah benar hasil diagnosa Fajira tadi atau tidak.


"Memang ada sedikit gangguan kecemasan yang terjadi pada Nona muda, namun itu bukan hal yang serius, Nyonya! Anda cukup membangun rasa percaya diri pada Nona muda, dan memberikan penyadaran jika apa yang terjadi bukan salahnya. Hanya itu saja, Nyonya, selebihnya dalam keadaan baik. Bahkan jika saya katakan, nona muda memiliki mental dan konsidi psikologis yang sangat sehat!" Begitulah keterangan dari paikolog anak itu.


Fajira dan Irfan bernafas lega, walaupun di hati mereka masih terselip rasa cemas, namun kondisi Ivanna tidak seburuk yang sempat mereka fikirkan.


Kini gadis kecil itu tengah berada di ruang keluarga sambil menonton televisi bersama dengan Fajri, yang sudah kembali dari kantor. Ivanna bersandar pada dada Fajri sambil memainkan tangan lembut abangnya.


"bang?" panggil Ivanna lirih.


"iya, sayang? Dede butuh sesuatu?"


"apa kemarin Abang sudah perbaiki kesalahan yang Dede buat?"


"sudah, sayang! Jangan di fikirkan, ya. yang penting Dede harus sembuh dulu!" ucap Fajri membelai lembut kepala adiknya.


"Maafin Dede ya, bang!" ucap Ivanna sendu.


"Gak papa sayang, justru abang berterima kasih sama Dede, karna kejadian kemarin Abang bisa tau dimana letak kekurangan program abang, sayang! terima kasih ya!" ucap Fajri mengecup kepala Ivanna dengan lembut.


Ia sudah mendapatkan penjelasan dari Bunda mengenai apa yang tengah di alami oleh Ivanna. Walaupun perkataan Fajri tidak di buat-buat, karna selepas kejadian semalam, Fajri bisa menemukan dimana letak kekurangan program pengamanan data miliknya.


"Abang jangan sakit juga ya! Dede gak mau lihat abang sakit!" ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, sayang! abang selalu berusaha sehat untuk Dede, untuk Bunda, ayah dan semuanya!" ucap Fajri melayangkan kecupan sana sini di wajah cantik Ivanna.


"Dede sayang, Abang!" Ivanna memeluk Fajri erat.


"Abang lebih sayang, dede!" Fajri membalas pelukan hangat itu.


Fajira dan Irfan tersenyum melihat anak-anaknya yang saling menyayangi satu sama lain.


"Mungkin akan lebih seru jika kita memiliki satu atau dua anak lagi ya, Mas!" ucap Fajira tersenyum.


"iya, sayang! tapi mereka sudah cukup bagiku!" ucap Irfan tersenyum.


Ia paham dengan keinginan Fajira untuk menambah anak, namun dirinya masih belum siap untuk menyaksikan Fajira yang harus menahan sakit letika melahirkan anaknya nanti.


Mereka segera bergabung di ruang keluarga sambil bercerita banyak hal, untuk menghibur gadis kecil yang tengah bersedih itu.


...🌺🌺...


"Permisi Tuan! di luar ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan anda!" ucap penjaga kepada Irfan.


"siapa?"


"saya tidak tau Tuan! mereka mengatakan ingin meminta maaf kepada Tuan dan Nyonya atas kejadian kemarin!"

__ADS_1


"kejadian kemaren?" ucap Fajira dengan mata yang membola.


Fajri dengan santai menguping pembicaraan orang dewasa tersebut. Keningnya mengernyit bingung memikirkan apa masalah yang tengah di hadapi oleh orang tuanya.


Irfan dan Fajira melangkah menuju monitor cctv untuk melihat siapa yang ingin menemui mereka.


"Mas, bukannya mereka ibu-ibu yang kemarin?" ucap Fajira melotot.


"ngapain mereka kesini? dari mana alamat rumah kita bisa di dapat?" tanya Irfan.


Ia segera meraih gagang telepon dan menghubungi satpam dan mengatakan untuk tidak memperbolehkan mereka masuk ke dalam pekarangan rumah.


"Biarkan saja mereka masuk, Mas!" ucap Fajira.


"gak, sayang! mereka hanya datang ke sini hanya untuk menjilat!" ucap Irfan dingin.


Fajira bungkam, walaupun ia merasa sakit hati dengan ucapan ibu-ibu kemarin, namun bukankah keputusan Irfan sangat tidak adil jika menyangkut suami mereka. Namun ia hanya diam, karna Irfan si keras kepala ini tidak akan mendengarkan apapun jika keputusannya sudah bulat.


Penjaga itu segera pergi keluar rumah dan mengatakan jika Irfan tidak bisa di ganggu saat ini. Dengan halus penjaga itu mengusir mereka, agar bisa pergi dari rumah mewah majikannya.


...🌺🌺...


Pagi menjelang, Ivanna merengek sambil mengekori Fajira kemanapun bidadari cantinya itu pergi. Semalam suhu tubuh Ivanna sudah kembali normal, sehingga ia merengek untuk di izinkan pergi ke sekolah.


"Dede harus istirahat dulu, sayang!" ucap Fajira memberikan pemahaman kepada Ivanna.


"Ayah!" rengek Ivanna.


"Dengar kata Bunda, Dek! Gimana nanti kalau kepala Dede pusing, atau tiba-tiba Dede pingsan?" ucap Irfan serius.


"Hah? Dede gak mungkin pingsan, ayah!" rengek Ivanna.


Fajri hanya tersenyum menatap adik kecilnya. Ia sudah siap dengan menggunakan seragam biru putih dengan dasi yang bertengger rapi, tak lupa ikat pinggang bermerek yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa abang boleh sekolah, Buna?" ucap Ivanna menangis.


"Abang 'kan gak sakit, sayang! Dede 'kan masih belum pulih!"


"gini saja, Dede ikut ayah ke kantor ya nak?" ucap Irfan.


"Itu sama saja, Mas! Biarkan Ivanna istirahat terlebih dahulu!" sergah Fajira cepat.


"gak mau, Buna! Dede mau ikut ayah saja! Dede ikut ayah!" ucap Ivanna kekeh dan memeluk leher Irfan erat.


"Huft... ya sudah. nanti kalau demam lagi Bunda masukin ke rumah sakit, ya!" ucap Fajira.


"Buna 'kan dokter, kenapa harus ke rumah sakit?" tanya Ivanna polos.


"iya, tapi kalau pasiennya bandel, nanti tinggal bunda carikan saja dokter galak, biar di suntik pake jarum yang besar!" ucap Fajira menakuti Ivanna.

__ADS_1


"gak mau! huaa!" teriak Ivanna memeluk Irfan kembali.


Fajira menahan tawanya, ketika melihat ekspresi horor sang suami. Sementara Fajri hanya bisa menggeleng melihat kelakuan bunda dan adiknya.


"sudah, sayang! Dede dirumah saja dulu ya, istirahat. Harus nurut sama Bunda loh!" ucap Irfan mengusap kepala Ivanna.


"Dede gak mau di suntik pake jarum besar ayah! hiks..." ucap Ivanna terisak.


"nah, dengar kata Bunda ya! biar gak di suntik pakai jarum besar!"


"iya, ayah!"


Ivanna mengulurkan tangannya kepada Fajira, meminta untuk di gendong. Setelah itu mereka segera menuju ke ruang makan untuk sarapan, sebelum berangkat menuju ke kantor dan sekolah.


Ivanna masih cemberut sambil memakan makanannya. Sementara Fajira hanya menggeleng sambil menahan tawanya melihat kelakuan Ivanna pagi ini.


"Dede nanti ikut Bunda ke super market ya, sayang!" ucap Fajira.


"wah, mau Buna, Dede mau!" ucap Ivanna semangat.


"ih giliran mau pergi belanja aja senang kamu, dek!" ucap Fajri terkekeh.


"ih, abang gak boleh iri ya sama Dede! wleek!" ucap Ivanna mencibir.


"iih, lidahnya!" ucap Fajri melotot namun bibirnya masih tersenyum.


"Buna, mau ngapain ke super market?" tanya Ivanna.


"mau beli garam, sayang!"


"Hah? Buna ke super market cuma untuk beli garam aja?" tanya Ivanna melongo.


"memang Dede mau beli yang lain?"


"mau!, Dede mau kue sus sama coklat yang banyak!" ucap Ivanna berbinar.


"kue sus boleh, tapi coklat cuma boleh satu saja! Dede mau giginya bolong?" ucap Fajira.


"gak mau, Buna!"


"ya sudah, nanti habis makan kita pergi ya, sayang!"


"siap, Buna!" ucap Ivanna hormat.


Ia segera menghabiskan makanannya dengan semangat, karna sudah membayangkan cemilan favoritnya yang seolah sudah berada di tenggorokannya.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2