
Hari berlalu, bulan berganti, keluarga nan bucin itu masih selalu menebarkan cinta di antara mereka. Fajri pria kecil kesayangan Fajira itu terlihat semakin tampan dan mengemaskan di barengi dengan sifatnya yang semakin terlihat penyayang dan penuh dengan kehangatan, apalagi ia begitu antusias menunggu kelahiran adik kecilnya yang ia panggil dengan sebutan baby girl.
Fajri mendapatkan sebuah kegiatan baru setiap harinya yaitu mengusap perut Fajira yang sudah terlihat sangat buncit. Ia mengelus perut besar itu sambil mengajak calon adiknya berbicara.
Kandungan Fajira sudah masuk pada usia 7 bulan. Ibu muda itu merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi pada dirinya, sangat berbeda ketika hamil Fajri dulu.
Saat ini Fajira dan Fajri tengah berada di dalam kamar dan hendak beristirahat, karna waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Namun pria kecil itu masih belum ingin memejamkan matanya.
"Bunda, kalau Dedenya perempuan, apa abang boleh memanggilnya princes?" tanya Fajri duduk di atas Paha Fajira sambil mengelus perut buncit itu.
"boleh sayang" Fajira tersenyum sambil mengelus kepala Fajri lembut.
"wah, Apa abang juga boleh memberikan nama untuk Dede, Bunda?" Ucap Fajri semakin antusias
"Emang abang mau ngasih nama apa sama Dede?"
"hmm,, Abang mau kasih dede nama Firza atau Fuji bunda. Biar nama kita dekat-dekat"
"Gak! Ayah gak setuju" sergah Irfan cepat. Ia baru saja menyelesaikan pelerjaan.
Fajri mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Irfan. Ia menatap tajam laki-laki bertubuh besar itu karna kesal.
"Masa iya. ayah sendiri yang beda, gak adil banget sih" ucap Irfan memeluk Fajira sambil mengusap lembut perutnya.
"eh Bunda dedenya gerak" pekik Fajri dan Irfan bersamaan, sementara Fajira hanya bisa meringis menahan perutnya akibat pergerakan yang tiba-tiba dari dalam sana, Ia juga menahan kaget karna dua pria tampan itu berteriak secara bersamaan.
"Apa Bunda sakit?" pekik Fajri dengan mata yang membesar melihat ekspresi Fajri.
"Gak papa sayang. Bunda hanya kaget saja" Fajira tersenyum Manis agar Fajri bisa tenang dan tidak meneruskan ke panikannya
"Waah dedenya bergerak lagi, haa berarti dede setuju sama ayah, iya kan sayang" ucap Irfan senang.
Perut Fajira kembali kembali bergerak dan membuat irfan semakin berteriak senang.
"kan apa kata ayah, Dede setuju kalau ayah yang ngasih nama" Wajah Irfan merona karna terlalu senang dengan respons yang di berikan oleh bayi yang ada di dalam kandungan Fajira.
"Bunda, Abang saja ya yang ngasih nama Dede bayi" ucap Fajri memohon
"Nanti abang cari deh nama yang mirip dengan ayah. Boleh ya" sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh pria kecil itu sangat pandai mencari celah bagaimana membuat kedua orang tuanya bisa memberikan apa yang ia inginkan. Irfan hanya menghela nafasnya karna gemas melihat tingkah Fajri.
__ADS_1
"Fajri" panggil Irfan dan membuat Fajri menunduk sedih. Irfan menjadi semakin tidak bisa menahan rasa gemasnya.
"Ya sudah, Abang tolong pilihkan nama yang bagus ya untuk Dedenya" ucap Irfan pasrah namun ia tersenyum gemas sambil mengacak rambut lurus ala oppa korea milik Fajri.
"Ayah serius?" tanya Fajri tidak percaya.
"Serius, sayang. Tapi namanya jangan aneh-aneh ya"
"Siap ayah. hmm berarti awalan namanya huruf I. hmm..." Fajri berfikir keras, mencari nama yang cocok untuk adik kecilnya.
"haa... Abang tau, bagaimana kalau Ivana ayah? Ivana, Irfan sama kan ayah?" ucap pria kecil itu tiba-tiba.
"Ivana? nama yang bagus" ucap Fajira setuju.
"Iya ayah juga setuju, sayang. Ivana ya? Namanya cantik. Hai Ivana" sapa Irfan sambil mengelus lembut perut Fajira.
"Hai Dede Iva" Sapa Fajri dan mencium perut Fajira.
"Yuk kita tidur lagi!" Ajak Fajira.
"Iya Bunda. Besok kita jadi kan pergi membeli perlengkapan dede Iva bunda?" Tanya Fajri sambik berjalan menuju ranjang single mikiknya.
"Jadi sayang. Besok kita pergi sam-sama ya nak"
"Ucap Fajri sebelum menutup matanya
"Malam juga Abang"
Irfan mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur yang terasa remang-remang itu. Ia memeluk perempuan cantik itu dari belakang dan mengusap perut buncit istrinya dengan lembut.
"sayang?" panggil Irfan lirih.
"iya sayang, kenapa?"
Irfan terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia merasa mengalami kerugian yang sangat besar. Fajira hanya bisa mendesah berat, karna ini lah yang dilakukan oleh Irfan hampir setiap malam. Menangis di balik punggungnya sambil meminta maaf.
"Mas, udahlah! yang berlalu biarkan berlalu, jangan kamu sesali apapun yang sudah terjadi"
"maaf"
"sekarang kita tidur ya"
__ADS_1
"iya, sayang"
Fajira paham dengan apa yang dirasakan oleh suaminya, Irfan begitu merasa bersalah karna tidak bisa menemani masa sulit Fajira di Waktu hamil Fajri dulu, walaupun ia sudah mengatakan berulang kali, namun pria cengeng itu tidak juga mau mengerti dan selalu berkaca-kaca jika merasakan perubahan dan pergerakan baru dari calon bayinya.
"Apa dulu putra kita juga seperti ini sayang? apa dia bergerak lincah juga seperti ini?" yang Irfan antusias.
"iya Mas, Fajri juga seperti ini, tapi sepertinya Dede lebih aktif dari abang." ucap Fajira menenangkan Irfan sambil menahan gemasnya.
Ibu hamil itu mengelus lembut tangan Irfan yang ada di atas perutnya, berbanding terbalik dengan keadaan suaminya yang selalu mengucapkan kata menyesal. Fajira lebih cenderung merasakan bahagia yang teramat, karna ketakutannya selama ini tidak terjadi.
Mereka telap hingga pagi menjelang. Dengan saling menghangatkan satu sama lain membuat keluarga kecil itu merasakan banyak kebahagiaan yang muncul di dalam hidupnya.
"engh..." Fajira mengerjab, ia meraba kasur bagian kiri dan kanan, namun tidak mendapati guling hidupnya disini.
Kemana Mas Irfan? Fajri juga tidak ada! Apa aku bangun terlalu siang?. bathin Fajira mengernyit.
Ia melihat Jam, baru saja menunjukkan pukul 05.30. Ini masih terlalu pagi, begitu fikirnya.
Ia bangun dari tempat tidur dengan perlahan, lalu berjalan menuju kamar mandi guna menyegarkan diri terlebih dahulu. Setelah 10 menit, ia menyelesaikan ritual paginya. Fajira berjalan keluar kamar dan menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Ia tersenyum sambil mengusap perut buncitnya.
"sehat-sehat ya nak, Bunda gak sabar menunggu kelahiran Dede. Nanti Dede mirip siapa ya?. Mirip ayah atau mirip bunda? atau dede mirip sama abang? semoga saja sifat dingin dan arrogant ayah tidak turun ya nak hehe" ucap Fajira sambil menuruni anak tangga satu persatu.
Ia mengernyit ketika mendengarkan suara bising yang sangat ia kenal sedang berargumen dari arah dapur. Fajira sedikit mempercepat jalannya menuju sumber suara.
Matanya membola ketika melihat Irfan dan Fajri sudah berlumur tepung, wajah mereka sudah terlihat putih dan lantai pun juga sama. Dapur bersihnya lebih terlihat seperti kapal pecah.
"astoge ayah! abang! kalian ngapain?" pekik Fajira dan membuat dua pria tampan itu terlonjak kaget.
Mereka segera menyembunyikan apa yang tengah mereka buat. Irfan dan Fajri hanya bisa menyengir menatap Fajira yang sudah memasang wajah pasrahnya.
"Kalian ngapain?" Tanya Fajira sambil mendudukkan dirinya di atas kursi, ia memijat kepala yang terasa pusing karna melihat apa yang sedang di lakukan oleh anak dan suaminya.
"...."
πππ
TO BE CONTINUE
Pagi gengs...
Maaf ya kemarin aku gak Update karna sibuk banget.
__ADS_1
Yuk dukung author terus ya, dari pada vote dan poinnya cuma nangkring, sumbangin ke Fajri aja boleh lah ya wkwkwk
terima kasih π€π