Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
132. Kamu Lemah Mas!


__ADS_3

Irfan tidak hentinya merengek kepada Mama Viola agar bisa membujuk pria kecil itu tidur bersamanya. Ia ngin menghabiskan waktu berdua saja dengan Fajira malam ini, hanya untuk malam ini saja.


"Sudahlah Bang! dasar mesum! emang kamu mau apain istrimu sampai harus mengasingkan Fajri? ingat Fajira sedang hamil, jangan sampai anak dan istri kamu celaka!" Omel mama.


Beruntung Fajri dan Fajira sudah berada di dalam kamar, sehingga mereka tidak mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.


"Ayo lah, Ma! malam ini saja. Abang mohon!" ucap Irfan memelas.


"Anak kamu itu pintar, Bang! gak sembarangan orang bisa mengelabuhi dia. Pasti ada saja yang akan ia tanya nanti!" ketus mama yang sudah jengah dengan sikap anaknya.


"Mama nanti cukup memasang wajah sedih aja, Bilang mama takut tidur sendiri soalnya ada yang begini-begitu. Terserah mama mau bilang apa deh. Ya malam ini aja ya! pliis!"


"huh!..."


Mama melengos menuju kamar Irfan. Ia memutar otak, mencari cara, bagaimana cara membujuk Fajri agar bisa tidur dengannya malam ini.


...🌺🌺...


"Ayo lah, Sayang!" bujuk Irfan.


Sungguh semua di luar dugaan, Fajira malah kesal dengannya karna ia sengaja membujuk mama agar bisa mengajak Fajri tidur bersama terpisah dari mereka.


"Kamu keterlaluan, Mas! anak lagi sakit juga, yang ada di fikiran kamu cuma huhah saja! huhah lagi. Apa kamu gak capek?" sungut Fajira berjalan kesana kemari menghindari Irfan.


Laki-laki itu hanya tersenyum menahan tawanya. Ia begitu gemas melihat tingkah Fajira yang seolah menolak, padahal ia juga sangat menginginkannya.


"huh... Aku capek!" ucap Fajira yang menyerah untuk menghindar dari Irfan. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengelus lembut perut buncitnya.


Laki-laki itu terkekeh melihat Fajira yang sudah kesal karna kelakuannya. Ia duduk di tepi ranjang tepat didampingi Fajira dan juga ikut mengelus lembut perut buncit itu. Irfan dengan antusias mengobrol dengan calon anaknya yang tidak lama lagi akan lahir ke dunia ini.


"Anak ayah sayang! Apa Dede mau ayah jenguk, Nak?" tanya irfan sambil mendekatkan telinganya ke arah perut Fajira.


duk...


Irfan merasakan pergerakan pada perut Fajira. Laki-laki itu membesarkan matanya dengan senyuman yang mengembang.


"Dede mau ya? Bilang dong sama Bunda, Dede mau main sama Ayah, Bunda! gitu!"


duk...


Perut itu kembali memberikan signal dan membuat Irfan semakin senang. Ia menatap Fajira yang juga sudah menatapnya.


Tatapan yang dalam, penuh dengan cinta. Terasa sangat memabukkan dan tidak ingin lepas barang sebentar saja.


Irfan mendekatkan wajahnya ke arah Fajira. Perlahan namun pasti, ia sudah sangat ingin mengecup bibir ranum yang selalu memanggilnya sedari tadi. Wajah mereka semakin mendekat, hingga hanya menyisakan beberapa senti saja, Fajira tiba-tiba melengos dengan wajah yang bersemu merah.


"sa-sayang?" ucap Irfan terbelalak.


"Aku capek, Mas! kenyang juga. Apa kamu tega melihat aku sesak berada di dalam kukungan kamu nanti?" ucap Fajira jual mahal.


"Hah?" Irfan hanya menatap istrinya cengo.


"Aku mau istirahat dulu, sana geser!" Fajira mendorong Irfan pelan agar ia bisa beranjak.


Ibu hamil itu perlahan membaringkan badannya dan menghadap ke arah kanan.


"selamat tidur, sayang!" ucap Fajira dan menutup matanya.


Irfan hanya melongo tidak percaya dengan sikap istrinya. Ia masih terdiam dengan raut wajah yang mulai kesal.

__ADS_1


Ah iya aku punya ide, bagaimana caraya agar kamu tidak lagi menolak ku!. Bathin Irfan tersenyum jahil.


"iya, selamat tidur, sayang!" ucap Irfan mengecup kening dan perut Fajira.


Kemudian ia juga ikut berbaring berhadapan dengan istrinya yang sudah pura-pura tertidur.


Perempuan cantik itu sedikit mengintip, melihat apakah Irfan tertidur atau tidak.


Astaga Mas! kenapa kamu gak peka sih? Aku mau di rayu dulu, ini malah tidur! uuh kesal banget aku punya suami gak peka!. Bathin Fajira kesal.


Ingin ia menangis saat ini. Namun apalah daya, ia hanya bisa menutup mata sembari menunggu keajaiban datang.


Tanpa ia duga Irfan malah membuka satu persatu gewang bajunya dan terlihatlah tubuh seksi pria tampan itu.


Glek...


Tahan Fajira!. Bathin ibu hamil itu menjerit.


Irfan telentang, Ia masih berpura-pura tertidur sambil mengusap adiknya yang sudah terlihat menonjol. Hal itu sukses membuat Fajira semakin kesusahan untuk bernafas.


"Ehmmhh..." desah Irfan pelan dan terdengar sangat merdu dan menggoda di telinga Fajira.


Aku sudah tidak tahan!. jerit Fajira semakin menjadi.


Biji kacangnya sudah mulai berdenyut di iringi oleh basahnya Goa kenikma'tan sumber kebahagiaan dalam pernikahan nereka.


Persetan dengan semuanya!. pekik Fajira


Ia bangkit dengan perlahan dan segera duduk di atas adik Irfan yang sudah terasa sangat keras. Laki-laki itu tertawa jahat di dalam hati.


Akhirnya kamu kena sayang! Aku yakin kamu gak akan pernah tahan dengan pesonaku, apa lagi melihat adikku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Bathin Irfan bersorak senang.


"engh... sayang. Kamu gapain?" ucap Irfan layaknya orang yang baru bangun tidur.


"kamu jahat! hiks..."


Bugh... Bugh...


Fajira memukul dada Irfan sambil terisak.


"Kamu jahat, Mas! jahat! hiks..." isak Fajira semakin menjadi dan berhasil membuat Irfan kalang kabut.


"Sayang, turun dulu! Sini cerita sama aku ada apa?" tanya Irfan serius.


"Kenapa kamu malah tidur? bukannya tadi pengen! Aku kesal sama kamu tau gak! bukannya di bujuk, di rayu, malah di tinggal tidur!" Ucap Fajira masih terisak.


"maaf ya, sayang! Kan tadi kamu bilang takut begah..."


"kan kamu bisa bujuk Aku, Mas! kamu gimana sih!" ucap fajira kesal.


"ya sudah, maafin aku ya"


Irfan memegang ke dua belah pipi Fajira dan menatapnya lembut. Sungguh ia sangat menyukai kehadiran bidadari cantik yang akan menemani hidupnya hingga maut datang menjemput.


Perlahan Irfan mendekatkan kepalanya dan mencium bibir Fajira dengan lembut. Ibu hamil itu membalas permainan Irfan dengan sedikit panas. Ia sungguh sudah tidak sabar menanti Irfan untuk segera memasukinya dan memupuk benih cinta yang sudah tertanam di antara mereka.


Ciuman itu terasa semakin panas dan menggairahkan, Irfan membaringkan Fajira perlahan dengan masih berciuman panas. Ia menggerayangi tubuh istrinya dan melepaskan satu-persatu penutup tubuh sintal itu.


Erangan dan desa'han menggema di dalam ruangan yang gelap itu. Di temani oleh temaram lampu tidur, Irfan membisikkan kata-kata yang sangat manis untuk Fajira, sehingga membuat ibu hamil itu semakin terbakar gairah.

__ADS_1


"Mas, Aku udah gak tahan!" desah Fajira yang sudah ingin di masuki oleh Irfan.


"Sabar, sayang!" bukannya menuruti keinginan istrinya, Irfan malah bermain pada lembah beracun milik Fajira. Ibu hamil itu kesal, namun juga menikmati permainan suaminya.


"Massshhh, Ayo lahhh!" desah Fajira, sungguh sensasi kali ini sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Ia bebas berekspresi tanpa takut mengganggu tidur putra kecilnya.


Irfan tergelak, ia segera mengambil ancang-ancang agar bisa memasuki Fajira dengan mudah.


jleb...


Pisang laras panjang itu masuk dengan sempurna, tertanam hingga ke dasar lembah. Ia membiarkannya sebentar sambil mengamati ekspresi frustrasi dari Fajira. Itu sangat terlihat menggoda dan sukses membuat adik kecilnya semakin mengeras.


"Maaaasshhhh!"rengek Fajira sambil mendesah.


Irfan tersenyum jahil. Ia mulai bergerak maju mundur cantik di atas Fajira dengan menjunjung tinggi keselamatan anak dan istrinya. Dengan pelan dan lembut namun pasti ia bermain di sana.


Ingin rasanya ia menghentakkan adiknya, namun sangat tidak mungkin mengingat kondisi Fajira saat ini.


Setelah kamu melahirkan nanti, jangan harap kamu bisa menerima permainan lembut aku lagi sayang!. Tekad Irfan di dalam hati.


"Masshhh, ganti!" ucap Fajira ingin berganti posisi.


Irfan menurut, ia segera telentang sambil merasakan tangan Fajira yang mulai meraba adiknya. Tangan lembut itu mulai mencengkam jamur besar yang keras itu dengan perlahan.


Memang dasarnya ibu hamil itu mesum, Fajira segera duduk di atas Irfan sambil memasukkan pisang itu ke dalam mulut bawahnya.


"enghhhh... Maasssshhhh" des'ah Fajira merasakan kenikmatan yang membuatnya serasa ingin terbang melayang.


Hingga permainan itu selesai Fajira dan Irfan masih tergeletak lemas di atas ranjang mereka. Namun hal yang tidak terduga terjadi.


"Maaashh... lagi" ucap Fajira mengelus lembut adik Irfan yang sudah terkulai.


"sebentar ya, Aku masih capek"


"Ayo lah Mas!" rengek Fajira.


"sebentar saja!" sambungnya.


"sa... hmmpphh" Fajira membungkam mulut Irfan dan membuat empunya mebelalakan mata.


Mereka memulai kembali permainan itu namun tidak seperti awal tadi. Hingga Irfan tumbang di samping istrinya dan sukses membuat Fajira tersenyum geli menatap suaminya yang tengah berbaring lemas itu.


"ah kamu lemah, Mas! meladeni ibu hamil aja kamu udah loyo!" ucap Fajira mengejek suaminya.


Duar!!...


Harga diri Irfan serasa terkoyak mendengarkan ucapan istrinya. Ia menatap Fajira dengan mata yang melotot.


"Ka-kamu bilang apa tadi?" ucap Irfan tidak percaya.


"Kamu lemah Mas!" tantang Fajira dan membuat Irfan semakin meradang.


"Kamu akan lihat berapa perkasanya aku sayang!" ucap Irfan menyeringai.


Fajira membulatkan mata. Sial! senjata makan tuan! fikirnya. Namun Ia tidak merasakan apapun dari serangan Irfan. ketika membuka mata ia menatap Irfan yang sudah terpejam sambil memegang perutnya.


Terdengar dengkuran halus dari mulut Irfan. Ia terkekeh geli sebelum menyusul suaminya menuju alam mimpi yang indah.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


πŸ™„πŸ˜…


__ADS_2