Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
156. S2 : Pergi Ke Sekolah


__ADS_3

Ivanna menatap kagum keadaan sekolah yang sangat mewah itu. Matanya menelisik setiap keadaan dan melihat objek yang menarik di matanya.


Wajah berbinar itu berusaha untuk ia sembunyikan di balik ekspresi datar dan dinginnya. Ia mengikuti Fajri menuju ruang kelas yang berada di dekat kantin.


"Nah, kelas Abang disini, sayang! yuk kita masuk!" ajak Fajri.


Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Semua mata menatap kearah dua bocil yang tengah bergandengan tangan itu.


"eh Fajri itu siapa?, adek kamu kah? wah cantik banget!" ucap salah satu siswa laki-laki yang ada di kelas itu.


Blush...


Wajah cantik Ivanna merona, namun ia hanya menatap datar semua orang yang tengah menyapanya.


"Dede duduk di sini ya, Abang mau cari kursi tambahan dulu!" ucap Fajri.


"iya, bang!"


Fajri keluar dari kelas untuk mencari kursi tambahan. Sepeninggal Fajri, Ivanna hanya menatap datar apapun yang ia lihat. Matanya tertuju pada sebuah gitar yang berada di sudut ruangan.


Apa boleh aku bernyanyi disini?. tanya Ivanna di dalam hati.


Ia duduk dengan manis, tanpa mau menanggapi ocehan orang yang ada di sampingnya.


"Wah ternyata adiknya Fajri cantik, ya! ini pertama kali aku melihat wajah adiknya!" ucap salah satu siswa.


"iya. cantik banget! mirip Fajri tapi versi cewek!"


"hai, dek. Namanya siapa?" tanya mereka.


Ivanna hanya menatap dingin ke arah mereka. Ada rasa takut yang muncul, melihat semua orang menatapnya penasaran.


Abang lama lagi! ihh aku takut, Bunda mana ya?. Bathin Ivanna.


"kok sombong sih?" tanya salah satu siswi sambil mencolek pipi Ivanna.


"ih jangan pegang-pegang!" ketus Ivanna.


Ia sangat tidak suka jika ada yang memegang dirinya, apalagi orang asing dengan kehigienisan tangan yang tidak jelas.


"eh kok galak banget sih? beda banget sama abangnya!" ucap siswi tadi terkejut dengan sikap Ivanna.


"iya lah, orangnya aja berbeda!" ketus Ivanna.


Tak lama Fajri datang dengan pak sakti, tak lupa ia juga membawa sebuah kursi. Matanya menangkap wajah masam Ivanna, ia yakin jika adik manisnya merasa terganggu dengan orang-orang yang melihat ke arahnya.


"Kenapa, sayang?" tanya Fajri lembut.


Ivanna tidak menjawab, ia hanya memeluk Fajri dari samping sambil menatap tajam orang yang sudah mencolek pipinya tadi.


"Pipi Dede di colek ama onty itu, bang!" Adu Ivanna kepada Fajri.


Para siswa yang mendengar perkataan Ivanna terkejut. Pasalnya baru kali ini mereka menemui anak kecil yang tidak suka di ganggu.

__ADS_1


"terus?"


"Dede gak suka! tangan kakak itu kan gak tau bersih atau gak nya! Handsanitizer Dede sama Bunda!" ucap Ivanna.


Fajri gemas dengan adiknya yang super bersih ini. Ia merasa tidak enak dengan teman sekelasnya yang sudah berwajah masam.


"kakak itu gemas sama Dede, karna kamu cantik banget! gak boleh marah ya!" ucap Fajri mengelus kepala Ivanna lembut.


"tapi 'kan dede gak suka di pegang, bang!"


"ya sudah, Nanti abang bilang sama kakaknya ya!"


"hmm..."


Tak lama guru Matematika masuk ke dalam kelas Fajri. Ia tidak terkejut lagi dengan kehadiran Ivanna, karna Fajira sudah meminta izin terlebih dahulu kepada kepala sekolah dan guru yang akan masuk ke dalam kelas Fajri pada hari ini.


Anak donatur paling besar mah bebas mau ngapain!. Bathin murid-murid di dalam kelas.


"baiklah anak-anak, kali ini kita akan belajar tentang teorema Pytagoras" ibu guru menerangkan apa itu pythagoras dan bagaimana cara penyelesaian soal mengunakan rumus ini.


Ivanna tertarik dengan apa yang di jelaskan oleh guru itu, otak cerdasnya berjalan dengan sangat baik. Bahkan ia sangat antusias untuk menjawab pertanyaan dari ibu guru.


"Apakah anak-anak ibu paham?"


"paham!"


"baiklah. kalau begitu, ibu akan memberikan sebuah soal. Bagi yang bisa menyelesaikannya. akan ibu beri nilai tambahan. Silahkan ada yang mau?" tanya ibu guru.


"Buk?" panggil Ivanna.


"apa Nana juga boleh menjawab?" cicit Ivanna dengan wajah yang merona.


"Apa Nana paham dengan pelajarannya?" tanya ibu guru dengan tersenyum. Ia tidak bisa meragukan bibit premium dari Fajira dan Irfan ini.


"Apa boleh di coba dulu?"


"Boleh, Silahkan!"


Ivanna turun dari tempat duduknya dengan hati-hati. Fajri membiarkan saja apa yang di inginkan oleh adiknya. Ia kembali mengingat bagaimana dirinya beberapa tahun silam, ketika ikut pergi kuliah bersama dengan ibundanya.


Ivanna menatap soal yang ada di papan tulis. Tangan kecilnya memegang spidol yang berukuran cukup besar itu. Otaknya berfikir, mengingat bagaimana ibu guru menerangkan pelajaran tadi.


"bu, Nana belum bisa baca!" ucap Ivanna dengan wajah yang tertekuk. Namun ia paham dengan angka yang di terangkan oleh guru tadi.


"soalnya 3x, 4x, dan 15 merupakan tripel Pythagoras. Nilai x adalah?" Ucap ibu guru membacakan soal yang ada.


"Bisa ibu bantu tuliskan?"


"boleh!"


"(3x)² +(4x)² \= 15²


9x² + 16x² \= 225

__ADS_1


25x² \= 225


x² \=  225/25


x² \= 9


x\= √9


x\= 3" ucap Ivanna satu persatu mengurutkan jawaban yang ia ketahui.


Semua orang terkejut ketika Ivanna berhasil menjawab soal yang cukup menguras otak itu, apalagi dengan umurnya yang masih 4 tahun.


"apa benar jawabannya bu?" cicit Ivanna.


"benar, jawaban Ivanna memang benar. Wah, tepuk tangan dulu untuk Ivanna, silahkan kembali lagi nak!" ucap Ibu guru itu masih tercengang.


Prok.. prok... prok...


Begitu juga dengan Fajri, Ia tidak menyangka jika adiknya sangat pandai dalam bidang hitung menghitung itu.


"wah, Dede hebat! nanti ajarkan abang ya!" ucap Fajri tang memang susah untuk menangkap pelajaran yang satu ini.


"ih abang kan lebih pintar dari Dede, kenapa malah minta di ajari?" ucap Ivanna cemberut manja.


"hehe, ayo lah, nanti pulang sekolah kita belajar ya!"


"iya deh"


Mereka kembali mendengarkan penjelasan guru untuk pelajaran selanjutnya. Ivanna begitu antusias mendengarkan penjelasan dari guru. Bahkan ia lebih aktif dibandingkan siswa yang ada di kelas itu. Ia bepacu dan adu kepintaran dengan abangnya. Ivanna menjawab dengan bermodalkan pengetahuan yang ia miliki.


Di luar jendela, Fajira tersenyum sambil menatap kedua anak pintarnya. Apa lagi ketika ia melihat Ivanna yang begitu mengemaskan ketika menjawab pertanyaan yang di berikan oleh ibu guru.


Setidaknya, gadis kecil itu sedikit tertarik dalam hal akademik, bukan hanya makan tidur dan bermanja dengan kedua orang tua dan abangnya.


Hingga pelajaran berakhir, Fajri dan Ivanna tetap berada di dalam kelas dan membuka bekal yang mereka bawa dari rumah tadi. Fajira masuk ke dalam kelas sambil tersenyum bangga melihat anak-anaknya. Ia tidak akan membahas apapun tentang keputusan putrinya nanti.


"Anak Bunda pintar ya. Abang dan Dede. Bunda bangga!" ucap Fajira antusias.


"benarkah?" tanya Fajri dan Ivanna berbarengan, mereka menatap Fajira dengan wajah berbinar.


Sungguh mereka sangat menginginkan kata-kata itu keluar dari mulut orang tua mereka.


"iya dong, Sekarang makan dulu. Nanti pulang sekolah kita ke perusahaan ayah. Siapa mau ikut?" tanya Fajira.


"Abang!"


"Dede!"


Mereka terlihat antusias ketika mendengar Fajira akan mengajak mereka pergi ke perusahaan ayahnya.


Fajira menemani dua bocilnya pada jam istirahat. Hingga pembelajaran kembali di mulai, ia terpaksa duduk di luar sambil memangku laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang mulai menumpuk.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2