Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
212. Fajri dan Safira


__ADS_3

Safira sudah menunggu hampir satu jam di dalan ruangan Fajri. Ia begitu gelisah, karna secepatnya ia membutuhkan bantuan dari Fajri menyangkut masa deoan adik-adiknya di panti.


"Duh, apa kak Fajri masih sibuk? apa aku minta bantuan Ivanna saja? Aduh, tuhan tolong aku!" ucap Safira gelisah.


Ceklek,...


"Safira?" panggil Fajri memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa.


"Kak? syukurlah kakak sudah selesai!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


"duduklah dulu, Apa yang terjadi sampai kamu mau menunggu kakak di sini? bukankah kamu ada kuliah pagi?" tanya Fajri.


"Kak, ini aku ada proposal untuk meminta kakak jadi donatur di Panti. Aku gak tau harus ngapain lagi. Ada yang mengungkit lahan bangunan di panti, kak. Mereka menuntut untuk semua anak Panti pindah, atau ibu harus membayar 500 juta sebagai pengganti lahan! Mereka akan menagihnya hari ini, Dan ibu, baru memberitahukan hal ini kepadaku. Aku mohon bantu kami, kak! Tabunganku juga tidak cukup sebanyak itu!" ucap Safira sambil menahan tangisnya.


Fajri segera menghubungi Joe untuk mengurus masalah ini hingga tuntas. Jika memang tidak bisa Fajri meminta untuk mencarikan bangunan yang besar untuk di tempati oleh anak panti.


"kamu yang tenang, ya! Jangan risau. Kakak akan mengurus semuanya" ucap Fajri lembut.


"terima kasih banyak, kak!" ucap Safira terisak.


Begitu beruntung aku bisa bertemu dengan mereka, orang kaya yang mau membantu orang lain tanpa berfikir panjang. Semoga kakak dan keluarga selalu di berikan rezeki dan kesehatan. Bathin Safira terenyuh.


"Indah, tolong panggil manajer keuangan, segera!" ucap Fajri melalui interkom.


"kamu sudah makan? sebentar lagi waktu makan siang!" tanya Fajri.


"kalau masalah seperti ini, gak akan bisa makan aku, kak!" ucap Safira lirih.


Walaupun Fajri sudah mengerahkan beberapa orang kepercayaannya. Namun Safira masih belum tenang, jika masalah ini belum selesai.


Tak lama dua orang bagian keuangan datang ke ruangan Fajri.


"Pak, Bisa tolong cairkan dana 1 Miliar hari ini?" tanya Fajri.


"sa-satu miliar, Tuan? mungkin hari ini tidak bisa, besok baru bisa di proses Tuan!" ucap manajer keuangan itu takut.


"Biasanya bisa kan?"


"dalam jumlah kecil, bisa Tuan, Jika 1 Milyar mungkin besok pagi baru bisa cair, kecuali diproses sejak pagi tadi, Tuan!" terang manajer itu sedikit takut.


"huh, baiklah. saya hanya menanyakan itu saja, silahkan!" ucap Fajri.


"permisi, Tuan, Nona!" ucap mereka berlalu dari sana.


Fajri tidak memegang apa-apa pagi ini. Dompet dan ponselnya sudah di sita oleh Ivanna, sampai perempuan ular itu angkat kaki dari negara ini.


"Fira, Apa kamu bisa menghubungi Ivanna?"


"Ivanna sedang ada praktek di labor, kak!"


Fajri memilih untuk menelfon Fajira melalui telefon kantor dan meminta uang 1 milyar untuk calon menantunya.


"Emangnya uang kamu kemana, bang?"


"dompet Abang di sita sama Dede, Bunda!" ucap Fajri sendu.

__ADS_1


"hahaha, rasain kamu!. Ya sudah. Abang, butuh berapa.?" tanya Fajira setelah mengejek anaknya.


"1 milyar aja, Bunda!"


"Bunda transfer dulu!" ucap Fajira mematikan panggilan telefon.


Fajri hanya menggaruk tengkuknya karna ia terlihat seperti orang miskin yang tidak memiliki apapun. Ia lebih memilih untuk kehilangan dompet dari pada ponsel, karna di sana sudah tersedia keperluan Fajri mengenai keuangan.


Tring,...


Ponsel Safira berdering, ia langsung melihat siapa yang tengah mengiriminya pesan. matanya melotot ketika melihat jumlah fantastis yang dikirim oleh Fajira.


"Kak, ini terlalu banyak!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca ketika uang sejumlah 5 miliar masuk ke rekeningnya.


"Gak papa. Anggap saja Bunda menjadi donatur di panti!" ucap Fajri yang juga tidak tau berapa uang yang di kirim oleh ibundanya. Namun ia bisa menebak, jika fajira mengirim lebih banyak dari yang ia perkirakan.


"terima kasih, kak!" ucap Safira sesegukkan.


"sudah, jangan menangis!" ucap mendekat ke arah Safira dan mengelus punggung gadis itu.


"Lebih baik sekarang kita makan siang dulu, sembari menunggu hasil dari orang suruhanku, bagaimana?" Ajak Fajri.


"sepertinya aku harus segera ke panti, kak! Aku harus memberitahukan hal ini kepada ibu, agar beliau tidak terlalu memikirkannya," ucap Safira menghapus air matanya.


"baiklah!, mari kakak antar!" ucap Fajri.


"terima kasih, kak!" ucap Safira semakin mengagumi laki-laki hebat yang ada di hadapannya.


Mereka segera keluar dari ruangan itu sambil bergandengan.


"Kak, bisa kosongkan jadwalnya hari ini?" tanya Fajri kepada sekretarisnya.


"Minta Aksa untuk menggantikanku!" ucap Fajri.


"Baik, Tuan!"


"terima kasih, kak!"


Fajri kembali berjalan dan meninggalkan kantor sambil menggenggam tangan Safira. Sementara perempuan cantik itu hanya terdiam dan mengikuti langkah Fajri.


Biarkan sebentar saja, Kak. Entah kapan aku bisa merasakan genggaman tangan kakak yang terasa hangat ini. Bathin Safira.


Di dalam lift, Fajri sesekali mencuri pandangan kepada gadis manis yang ada di sampingnya ini.


Ivanna memang pandai memilih calon kakak iparnya. Cantik, baik, bahkan begitu menyayangi adik-adiknya. Bahkan mereka bukan bertalian darah, sudah seperti saudara kandung, apa lagi anaknya sendiri. anak kami!. Bathin Fajri dengan wajah merona.


Aku menang buta, bahkan dia lebih indah di pandang dari pada kak Hanna dan Zwetta. Ah, sepertinya aku memang harus membuka hati untuk Safira. Bathin Fajri berdialog.


Tanpa sadar pintu lift sudah terbuka, Safira berjalan lebih dulu dan menarik tangan Fajri menuju loby. Semua karyawan terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Ternyata berita itu bukan hal yang main-main!"


"Mereka terlihat serasi, apa lagi calon istri, Tuan Fajri sangat terlihat cantik dan begitu menenangkan! walaupun harapanku pupus untuk menjadi Nyonya Fajri. Tapi mereka begitu serasi!"


"lihatlah, wajah Tuan Fajri merona! aaa, manis banget!"

__ADS_1


Begitulah jeritan karyawan Fajri yang ada melihat keuwuan yang di tampilkan oleh Fajri dan Safira.


"Kak, Ayo!" ucap Safira ketika tangannya semakin berat.


"Ah, iya. Maaf kakak melamun!" ucap Fajri semakin merona sambil menggaruk tengkuknya.


"Apa kakak sakit?" tanya Safira terkejut ketika melihat wajah Fajri.


"Eh, Gak kok. Yuk!" Ajak Fajri salah tingkah.


Namun ketika hendak berjalan keluar, Fajri di kejutkan dengan kehadiran Zwetta. Ia melihat gelagat perempuan itu hendak memeluknya, ia segera memeluk Safira dari belakang senggang ia bisa menghindari serangan dari Zwetta.


Deg!


Jantung Safira berdetak begitu kencang ketika meraskan pelukan hangat dari Fajri. Begitu juga dengan Zwetta yang sangat terkejut ketika melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Fa-Fajri? ka-kamu?" ucap Zwetta tidak percaya.


"Kenapa kakak datang kesini?" tanya Fajri sambil mengecup lembut kepala Safira.


Semua karyawan yang melihat adegan itu menjerit karna iri melihat sikap manis Fajri, terekspos begitu saja tanpa ada yang di tutupi.


"Kamu ngapain peluk-peluk dia, Ji?" ucap Zwetta marah.


"bukankah satu dunia tau, jika Safira gadis cantik ini adalah calon istriku?" ucap Fajri.


"Kakak!" panggil Safira lirih, ia merasa malu saat ini.


"ta-tapi, ..."


"Abang!" teriak Ivanna dengan ekspresi yang sangat garang dan menakutkan.


Semua orang terkejut dengan kedatangan Ivanna, apalagi Fajri yang sudah berjanji tidak akan menemui gadis ular itu lagi.


"Abang!" ucap Ivanna menahan gemasnya ketika melihat Fajri tengah memeluk Safira dengan mesra.


Safira segera melepaskan pelukan Fajri, ketik melihat Ivanna, namun pria tampan itu tidak mau melepaskannya dengan mudah.


"Sudah, sana pergi! biar Dede yang mengurus wanita ular ini!" ucap Ivanna tersenyum smirk.


"jangan lupa share lock!" ucapnya lagi.


"Abang makin sayang, sama kamu! Ayo calon istriku!" ucap Fajri segera keluar dari gedung dan berangkat menuju panti.


Kini tinggallah, Ivanna dengan wajah penuh dendam, dan Zwetta dengan wajah yang penuh amarah. Apalagi ia di hadapkan dengan bocah yang berjarak 10 tahun di bawahnya.


"Hai, kita bertemu lagi! apa saya lupa mengatakan untuk menjauhi Fajri? Sekarang dengan beraninya anda masih menunjukkan batang hidung di hadapan saya!" ucap Ivanna tersenyum smirk.


"Tidak ada yang merekam kejadian ini! bagi kedapatan, tunggu saja akibatnya!" ucap Ivanna mengancam.


Ia menatap Zwetta yang masih diam membeku di tempatnya berdiri tadi. Ivanna tidak akan pernah takut dengan siapapun kecuali keluarganya. Di berkali ilmu beladiri yang sudah mengenakan Sabuk Hitam di beberapa cabang, membuat Ivanna berani dan mampu membuat musuh bertekuk lutut.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


triple update gak ya?


Aku lagi gemas ini, pen cakar si Zwetta πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2