
"hai Ji" sapa Vino ketika melihat Fajira berada di kantin.
"eh hai kak" sapanya terkejut.
Duh ngapain nyapa sih kak Vino, bisa berabe ini urusannya. bathin Fajira jengah.
"lagi nelvon ya?"
Fajira hanya membalas sapaan Vino dengan senyum khas miliknya yang manis. Namun sejurus kemudian laki-laki itu mengernyit melihat ekspresi Fajira yang kesal sambil berkemas.
"mau kemana Ji?"
"Mau ke kelas kak"
"kan masih lama, apa boleh kita mengobrol sebentar?"
"hmm maaf ya kak, ada yang harus aku kerjakan"
"aku antar ya. Apa Fajri gak ikut sama kamu?"
"gak kak, dia ikut sama ayahnya"
deg...
"a-ayahnya?"
"iya kak, kebetulan dia juga sudah pindah kerja kesini"
"ah i-iya"
"Aku jalan dulu kak"
"eh Ji tunggu" Vino memegang tangan Fajira untuk memberhentikan perempuan itu. Namun naas Irfan melihat adegan itu dan membuatnya meradang dengan wajah yang memerah.
"sayang" panggil Irfan geram dan membuat Fajira terlonjak kaget.
"Ma-mas" Fajira segera menghempaskan tangan Vino dan berjalan mendekat ke arah Irfan.
Sementara laki-laki itu menatap Vino tajam seolah berkata beraninya kau menyentuh milikku akan ku potong barang kau hingga habis bajing*an!.
Sedangkan Vino sedikit bergidik melihat tatapan Irfan kepadanya. Namun sejurus kemudian matanya membola mengingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Irfan Dirgantara.
"Mas" lirih Fajira sedikit takut melihat tatapan tajam Irfan.
Laki-laki itu hanya menatap Fajira dengar raut wajah kecewa, ia mengambil sapu tangan dari dalam sakunya dan menggenggam tangan Fajira lembut sambil mengusap bagian yang di pegang oleh Vino. Irfan seolah menganggap bekas tangan itu bak kotoran yang hinggap di tangan wanita kesayangannya.
"bagian mana yang dia sentuh lagi sayang?" tanya Irfan lembut.
"gak ada lagi Mas. Itu spontan saja dia memegang tanganku" lirih Fajri.
Irfan menatap tajam laki-laki yang sudah berani memegang wanitanya. Kau akan habis di tanganku. Begitu sorot mata tajamnya mengartikan. Ia perlahan melangkah menuju ke arah Vino.
"Mas" cegah Fajira sambil memegang tangan Irfan.
"masuk ke mobil sayang" ucap Irfan lembut.
__ADS_1
"kita pergi saja yuk. Jangan sampai kamu ribut disini"
Irfan menatap Fajira lamat. Apa kamu mau membela dia sayang, begitu sorot matanya menafsirkan.
"jaga nama baik kamu, ini hanya salah paham Mas, jangan emosi dulu" ucapan Fajira semakin lirih karna melihat tatapan Irfan.
"aku bukan membela dia sayang. tapi kita di lihatin satu kampus Mas. Dan rata-rata mereka kenal sama kamu disini, dan itu gak aman buat aku dan Fajri nanti"
"kamu masuk dulu ya, kita ngobrol di mobil nanti. Aku mau ngomong sama dia sebentar, janji gak akan ribut. boleh ya" Irfan mengelus pipi Fajira lembut.
Hal itu sukses membuat Vino terbakar cemburu. Ia segera mendekati Irfan dan hendak melayangkan pukulan, namun sebelum pukulan itu sampai, Irfan sudah menangkisnya terlebih dahulu dan menyembunyikan Fajira di balik punggung besarnya.
"kamu lihat sayang, Mas belum ngomong apa-apa sama dia, sudah seperti ini. Dia yang mulai duluan" ucap Irfan tergelak sambil mengunci tangan Vino.
"Anda laki-laki bajing*an tuan Irfan. Di saat anda penuh bergelimang harta, istri dan anak anda menderita disini. Laki-laki macam apa anda ha" bentak Vino.
"Sayang apa kamu menderita selama bersama ku?"
"gak Mas. Sudah ya kita pulang, aku takut" lirih Fajira sambil memeluk Irfan dari belakang dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
"kau dengar! dia bahagia hidup bersama saya. Asalkan kau tau mereka tinggal disini adalah pilihan hidup istri dan anak saya. Dan kau seenaknya masuk dan mendekati milik orang. Apa kau tidak punya otak haa?" bentak Irfan dan membuat Vino terdiam.
"kau bisa tanya, istri dan anak saya sudah memegang black card nya masing-masing. Lalu seenaknya kau membual seperti itu. Kau anak Bagaskara kan? pemilik rumah sakit xx"
"i-iya"
"asal kau tau 50% saham saya ada di sana. Jadi sebelum saya bertindak lebih jauh tolong tau diri dan jangan pernah mendekati Istriku lagi"
Bruk ....
"sayang" Pekik Irfan yang melihat Fajira pingsan di belakangnya, tanpa menunggu lama ia segera menghempaskan Vino lalu menggendong Fajri menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Sementara di dalam mobil Fajri sudah bangun dan terkejut melihat Fajira yang tergeletak tidak sadarkan diri berada di kursi belakang.
"bunda" pekiknya.
"ayah Bunda kenapa?"
"Bunda pingsan sayang, Aji tetap di depan ya biar gak jatuh nak"
"tapi Bunda Ayah" ucapnya berkaca-kaca
"Bunda gak papa sayang. Aji duduk bagus-bagus ya"
"Ayah" ucapnya memohon.
"Aji"
"Iya Ayah" Pria kecil itu pasrah sambil melihat Fajira yang terbaring dalam pangkuan Irfan. Mobil melaju hingga tiba di UGD rumah sakit terdekat.
Irfan segera menggendong Fajira dan masuk ke dalam rumah sakit, di ikuti oleh Fajri dan Ray agar segera mendapatkan pertolongan pertama.
"suster, dokter tolong bantu istri saya" teriak Irfan
"silahkan pak bawa langsung ke sana" ucap salah satu perawat menuntun Irfan menuju salah satu bilik UGD yang ada di sana.
Irfan dengan tatapan marah berusaha untuk menghindari Fajri. walaupun hatinya meronta ingin mendekap pria kecil itu.
__ADS_1
"Ayah" panggil Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
Irfan masih mencoba untuk mengendalikan emosinya agar Fajri tidak takut melihat wajah sangarnya nanti. dengan menarik nafas berulang kali meredakan emosi yabg ada di dalam dirinya.
"iya sayang, sini ayah gendong. Bunda gak papa, Aji gak boleh nangis ya"
"Aji takut Ayah"
"sstt... Bunda gak apa-apa sayang"
Mereka menunggu beberapa saat hingga dokter yang memeriksa Fajira keluar dari dalam bilik pasien.
"keluarga ibu Fajira"
"saya dokter, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"istri anda tidak apa-apa, hanya saja ia tidak bisa berada dalam tekanan yang berat, Istri anda juga kelelahan. tekanan darahnya juga rendah, saya menyarankan agar istri bapak bedrest dulu dua atau tiga hari kedepan. Tidak perlu di rawat, asal waktu istirahatnya bisa di kontrol dengan baik.
"tapi tidak ada yang serius kan dokter?"
"tidak, sekarang istri anda sudah sadar. Tunggu apa anda Irfan Dirgantara?"
"iya dokter, terima kasih. kalau begitu saya masuk dulu ke dalam"
"iya silahkan tuan Irfan"
Irfan segera membawa Fajri untuk menemui Fajira yang masih tergeletak lemas di atas brankar rumah sakit.
"sayang" panggil Irfan
"bunda" panggil Fajri bersamaan
"gimana keadaan kamu? maafin aku ya"
"Bunda gak papa, ayah, Bunda baik-baik-bai saja sayang"
"Sini nak" Fajira meraih Fajri yang sudah terisak dalam gendongan irfan.
"sudah jangan nangis lagi sayang"
"jangan sakit-sakit Bunda. Aji belum membahagiakan Bunda lagi" ucap pria kecil itu serak.
"Bunda gak papa sayang. Bunda cuma mau di peluk sama Aji"
Pria kecil itu segera memeluk Fajira dengan erat seolah tidak ingin di tinggalkan barang sebentar saja. Irfan menatap Fajira dengan rasa bersalah. Andai saja ia lebih memilih untuk mendengarkan perkataan Fajira mungkin mereka sudah berada di rumah saat ini.
"Habis ini kita pulang ya sayang" ucap Irfan.
"iya mas"
Setelah Fajira diperbolehkan pulang oleh dokter, mereka segera menuju ke rumah utama keluarga kecil itu. Irfan dengan sigap menggendong Fajira menuju kamar mereka dan membaringkan tuan Putri itu di ranjang.
πππ
TO BE CONTINUE
"Jangan sakit-sakit bunda"
__ADS_1