Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
182. Kepala Batu


__ADS_3

Kemenangan Fajri dan Ivanna membuat keluarga Dirgantara bersorak gembira. Mereka masih tidak menyangka jika hasil produksi Irfan dan Fajira ini begitu genius, bahkan bisa mengalahkan peserta dari beberapa negara besar yang terkenal dengan standar pendidikan yang berada pada urutan terdepan.


Ivanna masih terisak di dalam gendongan Fajri. Ia sangat tidak menyangka dengan apa yang tengah terjadi hari ini.


Para wartawan sudah menunggu mereka di luar pintu agar bisa mendapatkan sedikit penjelasan ataupun sepatah kata untuk mengisi berita acara mereka pada hari ini.


Ivanna dan Fajri menjadi sorotan begitu banyak kamera, karna berhasil memenangi seleksi Grup E dengan poin yang sempurna.


"Bagaimana perasaan anda saat ini, Nona?" tanya para wartawan berbarengan.


Ivanna terkejut dan menatap dingin para wartawan itu sambil mengahapus air matanya.


"Saya, baik. Sangat baik!" ucap Ivanna datar.


"bisa kamu ceritakan dari mana asal dan sekolah kamu?" ucap mereka bertanya.


"Saya berasal dari salah satu Internasional School di Indonesia!" ucap Ivanna singkat dalam bahasa Inggris yang fasih.


Semua orang terkejut ketika mendengarkan Ivanna menyembutkan asal sekolahnya. Sudah tiga kali mereka mengikuti acara ini, namun baru Ivanna dan Fajri yang berhasil masuk ke grand final olimpiade kali ini.


"ada yang ingin anda sampaikan, Nona?"


"Ya. Semoga tayangan ini sampai ke Indonesia!" ucap Ivanna dalam bahasa Inggris.


"selamat siang ibu-ibu wali murid yang sudah meremehkan kemampuan saya! Hari ini, saat ini, dunia sudah membuktikan jika saya mampu untuk bersaing dengan siswa genius lainnya setingkat Asia. Omongan ibu-ibu, semua saya bayar lunas!" ucap Ivanna tegas dalam bahasa Indonesia.


"permisi!" ucap Ivanna menarik tangan Fajri menuju ke tempat orang tuanya.


Semua wartawan hanya bisa menatap mereka cengo karna dinginnya gadis manis itu. Sementara Irfan dan Fajira terkejut dengan ucapan Ivanna yang sedikit tidak sopan.


Ivanna mengulurkan tangannya ke arah Irfan meminta untuk di gendong. Sama seperti Fajri, otaknya mendadak lelah dan ingin beristirahat sejenak sebelum mengikuti cabang lomba selanjutnya.


"eh Fajri, aku tadi melihat kalau Ayah kamu menjadi sponsor acara ini ya? bukankah yang membuka acara tadi itu Pak Asisten Ray, dia asisten Ayah kamu kan?" ucap Bunga.


"iya, Emangnya kenapa?" tanya Fajri mengernyit.


"bisa saja 'kan. Kamu mendapatkan bocoran soal!" ucap Bunga berhasil menarik perhatian teman-temannya yang lain termasuk guru dan wali murid.


"Bocoran soal? Bukankah kamu melihat ada aparat keamanan untuk membawa flashdisk yang berisi soal ujian? Jika aku mendapatkan bocorannya, mungkin aku akan berada di posisi pertama. Dan satu hal lagi, Gadis yang menggunakan kaca mata tebal yang berada di samping kamu tadi adalah anak kandung dari Founder acara ini. Apa dia masuk 3 besar? tidak! ia hanya menempati posisi ke 5. Jadi sudah pasti tidak ada yang bisa membocorkan soal olimpiade ini termasuk foundernya sekalipun!. Iri? bilang bos! ahay" ucap Fajri tergelak dan berlalu dari sana.

__ADS_1


Bunga kesal ketika mendengarkan ejekan dari Fajri, namun ia hanya terdiam sambil menahan kesal, kepintaran Fajri memang sudah diakui di mana-mana. Bahkan untuk menyisip 1 koma pun dari nilai sempurna laki-laki itu mereka tidak akan mampu. Namun memang dasar manusia yang memiliki iri dan dengki, ia menyangkal kebenaran yang dibeberkan oleh Fajri.


Mereka segera pergi beristirahat untuk menyiapkan diri, karna sore nanti, lomba fisika akan di adakan. Sementara Ivanna mendapatkan jadwal besok untuk mengikuti ujian IPA tingkat SD.


...🌺🌺...


Di dalam kamar, Fajira menceramahi anak-anaknya yang berkata tidak sopan. Sebenarnya itu masih dalam kategori tegas, namun ia merasa jika anak-anaknya belum pantas untuk berkata seperti itu. Apalagi Ivanna yang mengatakan dengan jelas dan di tujukan untuk ibu-ibu yang sudah menjatuhkannya.


Irfan hanya tersenyum tenang melihat mental anak-anaknya yang berkembang baik ketika berada di lapangan. Bahkan ia tidak menghiraukan ocehan Fajira yang sangat panjang dan melebar kemana-mana.


"Pokoknya gak boleh! itu gak sopan, dek!" ucap Fajira ketika Ivanna membantah perkataannya.


"tapi Dede gak salah. Buna! bukankah Buna bilang kalau Dede harus menunjukkan bukti nyata kehebatan Dede?" ucap Ivanna polos.


"iya, tapi tidak untuk berkata yang tidak sopan, Sayang! Dede tau mereka semua orang tua, harusnya Dede bisa menjaga tingkah laku dan cara bicara kamu. Apalagi ini di depan umum!" ucap Fajira tegas.


"tapi, Buna,..." sergah Ivanna, namun ia tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika melihat mata Fajira yang melotot.


"Maafin dede, Buna!" ucap Ivanna penuh sesal sambil sambil menunduk, namun ia masih tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Fajira tadi.


"Dek, perempuan terhormat itu tidak pantas mengeluarkan kata-katanya seperti itu. Ibarat kata, Dede itu Putri mahkota di kerajaan Dirgantara. Bukankah itu sesuatu yang harus di jaga? Bukankah seorang Putri harus bisa menjaga sikapnya dihadapan banyak orang?" ucap Fajira lembut sambil mengelus kepala Ivanna lembut.


"Buna benar, Dede gak seharusnya berbicara seperti itu. Maafin Dede!" ucap Ivanna memeluk Fajira.


"Dede boleh kesal, boleh marah, tapi gak boleh ngomong seperti itu lagi sama orang tua, ya!" ucap Fajira lembut.


"iya, Buna!"


Mereka berpelukan hingga tanpa sadar Ivanna sudah terlelap di dalam dekapan hangat Fajira.


Sementara, Mama dan Papa berusaha untuk menahan tersenyum melihat Ivanna yang tidak berkutik jika Fajira sudah mengomel.


"Pah, Bukankah Ivanna sangat terlihat mirip dengan Irfan. Mama jadi ingat waktu Irfan di posisi Ivanna sekarang," ucap Mama.


"iya, egonya memang tinggi. Tapi kalau kamu sudah ngomong, dia akan diam dan mengalah, tapi apa yang ada di fikirannya juga akan dilakukan!" ucap Papa sedikit tergelak.


"Aku mendengarkannya. Ma, Pa!" ucap Irfan mendelik.


"hehehe, ternyata sifat Ayah menurun ke Dede, banyak lagi! mulai dari sifat dinginnya, arogan, kepala batu, tapi penyayang, terus takut sama Bunda. Hehe,..." ucap Fajri membeberkan sifat sang Ayah.

__ADS_1


Irfan terbelalak mendengarkan ucapan Fajri yang memang benar adanya. Fajira terkekeh sambil memangku Ivanna yang sudah tertidur di dalam pangkuannya.


"Iya, ya. Bunda fikir cuma sifat dingin dan kepala batu ayak yang turun ke Dede, ternyata banyak!" ucap Fajira sedikit menyindir Irfan.


Semuanya tergelak, sementara Irfan sudah memasang ekspresi dingin dengan semburat merah jambu yang terpancar di wajah tampannya.


"Ayah gak usah malu!" ucap Fajira.


"Sudahlah, Ayah mau beristirahat!" ucap Irfan berlalu dari sana dan pergi menuju ruang kerjanya.


"hehe satu lagi. Ayah juga ambekan!" ucap Fajri tertawa.


...🌺🌺...


Wajah dingin Ivanna terpancar dari tadi, memandang seorang gadis berusia dua tahun yang tengah bermain dengan abangnya. Ia cemburu, sangat cemburu dan tidak rela jika Fajri bermain dengan gadis lain selain dirinya.


"dek, sini yuk, main sama Abang!" ajak Fajri.


"Gak!" Ivanna bangkit dari tempat duduknya dan melangkah untuk mencari keberadaan Fajira.


"kemana, sayang?" tanya Fajri.


Gadis manis itu hanya diam sambil melanjutkan langkahnya. Fajri tersenyum, ia tau jika Ivanna tengah merajuk saat ini, di akibatkan oleh gadis kecil yang sedang bermain dengannya.


"Raisa, mamam dulu, nak!" ucap Riska sambil membawa satu piring nasi untuk anak gadisnya.


Ia baru saja datang, karna harus menunggu surat keputusan untuk cuti dari rumah sakit selama beberapa hari. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya kepada Fajri meminta untuk di gendong. Tanpa menunggu lama, ia segera menggendong Raisa tanpa memperhatikan sepasang maya yang menatapnya tajam dengan tatapan yang tidak suka.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.


Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.😍😍


Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk


terima kasih πŸ€—.

__ADS_1


__ADS_2