
Di sekolah, Fajri terpaksa pergi terlebih dahulu menuju kelasnya karna ia akan mengikuti ulangan pagi ini. Sementara Irfan dan Ivanna berjalan menuju kelas gadis kecil itu.
Dengan wajah dinginnya, mereka berjalan dengan santai dan saling bergandengan tangan.
"Dede nanti gak papa, ayah tinggal, nak?" ucap Irfan.
"gak papa, ayah. Dede harus berani 'kan?" ucap Ivanna.
"iya, sayang! nanti kalau ada apa-apa cepat hubungi abang lewat jam tangannya, ya! kalau Dede mau belanja nanti tinggal di tap-tap saja jam tangannya!" ucap Irfan
Ia memang sengaja melengkapi jam tangan Ivanna dan Fajri dengan barcode yang bisa di scan dan otomatis akan masuk ke dalam tagihan Irfan.
"iya, ayah!"
"bakalnya jangan lupa di makan, sayang!"
"iya, ayah! Dede patuh kok. Nanti gak boleh macam-macam dan aneh-aneh di sekolah. Dede harus jadi anak baik dan rajin belajar agar bisa pintar. Tapi apa Dede bisa satu kelas dengan abang, ayah?" ucap Ivanna penuh harap.
"gak bisa sayang, Dede 'kan masih kecil!"
Tak lama, mereka berhenti di depan kelas Ivanna. Gadis kecil itu merasa tangan i dan menciumnya dengan lembut.
"Dede masuk dulu, ayah. nanti jagain Buna, ya ayah!"
"iya, sayang. Sudah sana masuk lagi! ayah pulang ya?" ucap Irfan berpamitan kepada anak gadisnya.
"iya, ayah. hati-hati!"Ivanna berjalan masuk ke dalam kelas dengan wajah dinginnya.
Sepasang mata yang tak kalah tajam, menatap gadis manis itu. Ia sangat penasaran kemana perginya gadis ini selama dua hari.
Ivanna duduk di bangku dengan tertib dan meletakkan tasnya dengan rapi. Setelah itu ia membuka buku pelajaran untuk hari ini dan membacanya.
"Nana?" panggil Bryan.
Ivanna menoleh karna merasa namanya di panggil. Ia tidak menjawab namun hanya menatap pria kecil yang ada di hadapannya.
"kamu kemana dua hari ini?"
"sakit!"
"apa tadi, ayahmu?"
"hemm!"
Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Hingga guru masuk, tidak ada percakapan antara mereka. Bryan sering kali mencuri tatapan kepada gadis cantik itu.
Entah kenapa wajah cantik Ivanna membuatnya tertarik. Namun ia tidak terlalu menghiraukan apapun yang ada di dalam fikirannya.
πΊπΊ
Bel tanda istirahat telah berbunyi Ivanna menunggu abangnya di kelas, sesuai dengan pesan dari orang tuanya.
"dek?" panggil Fajri sambil membawa bekalnya.
"abang?" Ivanna tersenyum menatap Fajri yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Yuk, kita ke tenda yang biasa!" ajak Fajri.
"yuk, bang!"
Mereka berjalan beriringan sambil membawa kotak bekal masing-masing. Tak banyak yang membawa bekal seperti mereka, namun karna Fajira yang protektif terhadap kesehatan anak-anaknya membuat dua bocil genius itu harus pasrah untuk membawa bekal setiap hari.
Fajri dan Ivanna mengobrol dengan raut wajah dinginnya masing-masing. Tanpa mereka sadari ada satu pasang mata yang juga membawa bekalnya namun takut untuk bergabung dengan mereka.
"Dek, itu teman sebangku kamu bukan?" tanya Fajri menangkap sosok Bryan yang sedang menatap ke arahnya.
"iya, bang!"
"Bryan, sini!" teriak Fajri sambil melambaikan tangannya dan sukses membuat Ivanna terbelalak kaget.
Pria kecil itu mendekat, ia menunduk takut ketika melihat Fajri.
"yuk, gabung makannya bareng kita!" ucap Fajri tersenyum.
"i-iya, terima kasih, bang!" ucap Bryan duduk di samping Ivanna.
"yuk makan, nanti belnya keburu bunyi!" ajak Fajri
"iya!"
Mereka makan dalam keheningan, Ivanna merasa tidak nyaman karna ada laki-laki yang selalu terlihat dingin setiap harinya.
Tepat bel berbunyi ketika mereka selesai membereskan kotak nasi masing-masing.
"besok kalau bawa bekal lagi, gabung aja Bryan!" ucap Fajri.
"sama-sama. Yuk, sayang!, abang antar ke kelas"
Fajri mengantarkan Ivanna dan Bryan menuju kelasnya. setelah itu baru ia bergegas menuju kelasnya yang berada tak jauh dari sana.
...πΊπΊ...
"sayang?" panggil Irfan ketika melihat Fajira tengah memejamkan matanya sambil berdiri di balkon.
Namun ibu muda itu tidak menghiraukannya sama sekali. Irfan langsung melingkarkan tangannya dinpinggang Fajira dan berhasil membuat wanita cantik itu terkejut.
"Mas? sudah pulang?" tanya Fajira tersenyum.
"sudah, sayang. Apa masih sedih?" tanya Irfan lirih.
"sedih? itu pasti Mas! tapi gak ada gunanya untuk menangisi mereka yang sudah pergi. Terkadang aku hanya merasakan rindu yang teramat jika hal yang aku alami dulu terjadi kembali saat ini. Makanya aku tiba-tiba saja melow pagi ini!" ucap Fajira tersenyum.
"Aku gak mau melihat kamu sedih! jika itu terjadi malam kebahagiaan di rumah ini akan terasa memudar, bahkan anak-anak tidak bersemangat pagi ini!"
"Ya, aku juga merasakan seperti itu Mas! Tapi hari ini emosi aku benar-bemar gak stabil. Maafin aku ya!"
"iya, sayang!"
Mereka masih menikmati udara pagi yang begitu menyejukkan hati di tambah dengan pelukan hangat yang semakin melengkapi indahnya pagi hari ini.
πΊπΊ
__ADS_1
"hei, ada juara umum lewat nih!" ucap salah satu murid yang ada di sana.
Fajri hanya memasang wajah dinginnya dan segera duduk di tempat duduknya. Ia mengernyit ketika melihat bangku di sebelahnya sudah kosong.
Tidak masalah, semoga aja ada anak baru yang masuk!. bathin Fajri.
Tak lama, guru masuk dengan membawa satu siswi pindahan. Ia terlihat begitu cantik dengan kulit sawo matangnya. Fajri terkesiap, apa do'anya begitu cepat terkabulkan?.
"selamat pagi Anak-anak!"
"pagi, Bu!"
"baiklah, hari ini kita kedatangan teman baru, dan pindahan dari singapura" ucap Bu guru dan membuat Koas heboh
"Silahkan perkenalkan namanya. nak!" ucap Bu guru dalam bahasa inggris.
"halo, nama saya. Esmeralda, saya berasal dan singapura dan campuran Indonesia. Semoga kita bisa berteman Kedepannya, terima kasih!" ucap Esmeralda tersenyum.
"Fajri, siapa yang duduk di sebelah kamu?" tanya Bu guru.
"Aji sendiri, bu!" ucap Fajri.
"Baiklah, Esmeralda. Kamu bisa duduk bersama dengan Fajri, dia anak paling cerdas di sekolah kita!" ucap Bu guru.
Gadis manis itu berjalan perlahan menuju bangku yang berada di barisan pertama. Ia tersenyum manis menatap Fajri dan segera mengulurkan tangannya.
"Aku, Mera!" ucap Esmeralda.
"hai, aku Fajri, kak!" ucap Fajri kikuk dan membalah uluran tangan teman barunya.
"Senang bertemu dengan kamu, bisa kita berteman?"
"bisa, kak!" mereka tersenyum satu sama lain.
Sementara teman satu bangku Fajri malah menggerutu karna menyesal karna ia pindah dari bangkitnya. Namun akan lebih sial lagi jika ia memutuskan untuk tidak jadi pindah.
Pelajaran di mulai dengan baik dan saling berpelukan jika sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya ibu guru. Namun tidak bagi Mera, ia masih belum paham untuk menggunakan kota kata bahasa Indonesia.
"Apa kakak tidak paham dengan bahasa indonesia?"
"aku belum seperuhnya menguasai bahasa indonesia!"
"apa kakak mau aku ajari?" tanya Fajri.
"boleh, justru itu lebih bagus, soalnya aku tidak terlalu paham dengan penjelasan Bu guru yang menggunakan bahasa Indonesia,"
"baiklah kak. Setiap jam istirahat, kita bisa belajar bersama!" ucap Fajri tersenyum kikuk dengan wajah yang mulai merona.
Hingga Fajri membantu Mera untuk menjelaskan pelajaran dalam bahasa inggris,agar gadis itu bisa paham dengan pelajaran yang tengah di terangkan oleh guru.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Ini belum di koreksi gais, besok aku koreksi lagi π
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya π