Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
247. Bertaruh Nyawa


__ADS_3

...Selamat hari ini, untuk seluruh Ibu yang ada di dunia ini πŸ€—πŸ˜πŸŒΉ...


...***********...


Keringat dingin membasahi wajah tampan Fajri, mengingat Safira sedang berada di ruang operasi untuk melahirkan anak-anak mereka. Wajahnya yang pucat pasi, menandakan jika ia begitu cemas dengan tiga nyawa yang tengah bertaruh untuk hidup di dalam sana.


Tak hanya keringat dan wajah pucat, Fajri juga gemetaran karena rasa takut yang begitu menggoncangnya. Persis seperti Irfan dulu, untung saja ia tidak pingsan saat ini. Begitu juga dengan Ivanna, wajahnya tak kalah pucat dan khawatir.


Dokter tidak mengizinkan satu orangpun berada di dalam ruangan operasi itu. Sehingga mereka hanya bisa mondar-mandir di depan pintu yang tertutup rapat dengan lampu merah yang masih menyala.


Sejak dokter memutuskan jika Safira harus melahirkan secara caesar, Fajri begitu shock dan berusaha untuk mempersiapkan diri. Namun semua usahanya sia-sia, ia sangat tidak siap untuk menghadapi hari ini.


Tiba-tiba saja pintu operasi terbuka, beberapa orang perawat tengah berlarian keluar dan masuk ke dalam ruang operasi itu.


Janggung mereka berdetak kencang, menerka apa yang tengah terjadi. Air mata Fajri tumpah ketika mendengarkan ucapan perawat itu.


"Tolong hubungi pihak PMI, kita membutuhkan golongan darah AB secepatnya! pasien harus di tangani dengan segera!" ucap salah satu suster tergesa-gesa.


Deg!


Ya tuhan, selamatkan istri dan anak-anakku! Aku mohon!. Batin Fajri.


Bahkan mereka tidak sempat bertanya kepada dua orang perawat itu, karena mereka begitu tergesa.


"Abang?" panggil Ivanna lirih.


Ia bergerak untuk memeluk Fajri yang sudah terisak di depan pintu ruangan itu. Tanpa menunggu lama, Fajri segera mendekap Ivanna dengan erat, mereka menangis bersama dan saling menguatkan.


"Kakak dan anak-anak pasti selamat! Dede yakin!" ucap Ivanna di sela tangisnya.


Fajri tidak menjawab, ia hanya menangis, meminta sedikit kekuatan dari Ivanna.


Sementara para orang tua, mereka juga sudah terisak, walaupun belum mengetahui bagaimana kondisi Safira dan anak-anaknya. Apalagi Mama yang tidak berhenti menangis, ketika mendengarkan ucapan para perawat tadi.


"Semoga saja itu bukan, Safira!" ucap Fajira berusaha untuk menguatkan dirinya.


Bagaimana tidak, sedari tadi tidak ada Ibu hamil lain yang masuk kedalam ruangan itu selain Safira. Bahkan mereka juga memastikan sebelum operasi berjalan, jika tidak ada orang di dalam ruangan itu.


Hampir dua jam operasi berjalan, tubuh Fajri semakin terasa lemah. Pandangan padanya mulai mengabur, namun ia masih berusaha untuk sadar hingga operasi selesai.


Ceklek!


Pintu terbuka, dokter yang bertugas mengoperasi Safira keluar dengan wajah lelahnya. Fajri berusaha untuk berdiri dan segera bertanya kepada dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya, dokter?" ucap Fajri lirih dengan tenaga yang tersisa.


"Iya, dokter. Bagaimana keadaan anak dan cucu kami?" tanya Fajira.


"Keadaan, Nyonya Safira dan anak-anaknya baik-baik saja. Beruntung, Nyonya Safira begitu kuat. Selamat, Tuan, anak anda laki-laki dan perempuan! Mereka masih di bersihkan. Tuan dan Nyonya, bisa melihat mereka di dalam ruangan khusus bayi! Untuk Nyonya Safira, ia masih harus menjalani observasi sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap! Sekali lagi, selamat atas kelahiran penerus baru Dirgantara!" Ucap dokter perempuan itu tersenyum dan menjabat tangan mereka satu persatu.

__ADS_1


Tes,...


Tubuh Fajri membeku dengan air mata Fajri kembali menetes. Benarkah anaknya laki-laki dan perempuan?.


Lamunan Fajri pecah karena mendapatkan pelukan dari Ivanna.


"Hisk, Abang, mereka baik-baik saja! mereka baik-baik saja!" ucap Ivanna meraung.


Fajri juga ikut terisak dengan perasaan lega yang perlahan menghampirinya. Begitu juga dengan yang lain, tangis bahagia mengiringi dua keluarga itu.


Bahkan dokter juga ikut berkaca-kaca melihat isak tangis mereka. Belum pernah ada keluarga pasien yang seemosional ini.


"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, Tuan, Nyonya!" pamit dokter itu.


"Dokter tunggu!" cegat Fajira yang mengingat sesuatu.


"Iya, Nyonya?"


"Lalu, siapa yang tengah kekurangan darah, dokter?" tanya Fajira


"Ah, itu Pasien yang lebih dulu masuk sebelum Nyonya Safira, Nyonya!" ucap dokter itu tersenyum.


"Syukurlah!" ucap mereka bersamaan.


"Semoga ibu itu bisa di selamatkan beserta bayinya!" ucap Fajri.


"Aamiin," ucap mereka bersamaan.


"Terima kasih banyak, dokter!" ucap Fajri tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama, Tuan!" Ucap dokter itu bangga karena ia bisa membantu persalinan orang terkaya di negaranya itu.


"Syukurlah, jika kakak baik-baik saja!" ucap Ivanna lega.


Senyum mereka perlahan terbit karena mengingat sudah ada dua bayi mungil dan mengemaskan yang akan memenuhi rumah besar itu nanti.


"Ayo siapa yang mau melihat si kembar?" ucap Fajira yang sudah tidak sabar melihat cucunya.


"Gantian saja, Bunda. Abang mau menunggu Safira dulu di sini. Hati Abang belum lega!" ucap Fajri tersenyum.


"Baiklah!" Fajira tersenyum, ia begitu bangga dengan Fajri, karma begitu kuat untuk anak dan istrinya.


"Dede, ikut!" ucap Ivanna berbinar senang.


Fajira, mama, Papa, dan Ivanna bergegas menuju ruangan khusus bayi kelas VVIP yang hanya di huni oleh dua bayi mungin itu.


"Waaah!" ucap Ivanna berbinar senang dengan mata yang berkaca-kaca.


Dua bayi merah yang baru saja di bedung itu terlihat sangat mengemaskan. Mereka begitu terharu dan bahagia menyambut anak sultan yang akan menggantikan ayahnya kelak.

__ADS_1


"Apa boleh kita masuk, Buna?" tanya Ivanna penuh harap.


"Sepertinya belum boleh, sayang! kita harus sabar sampai kakak juga keluar dari ruang operasi!" ucap Fajira tersenyum.


"Bukankah mereka terlihat begitu tampan dan cantik? Mama sudah tidak sabar untuk menggendong mereka!" Ucap Mama menahan tangisnya.


Ia sangat menginginkan menggendong seorang bayi yang memang darah dagingnya. Karena dulu ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menggendong Safira barang sebentar saja.


Mereka terus mengamati dua bayi yang mulai menangis karena merasa kehausan. Bibir mungilnya yang bergerak seolah mencari sumber hidup mereka, terlihat sangat mengemaskan.


Sementara di depan ruang operasi, Irfan tersenyum melihat Fajri yang begitu mengkhawatirkan anak dan istrinya.


"Anak, Ayah sudah menjadi orang tua! Selamat, bang!" ucap Irfan mengelus bahu Fajri.


"Iya, Ayah! semoga aja bisa seperti, Ayah! Walaupun sibuk, tetapi Ayah selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Mengajarkan Aji banyak hal, dan begitu menyayangi, bunda!" ucap Fajri.


"Ambil hal positifnya, bang. Jangan mencontoh sifat buruk, Ayah!" ucap Irfan berkaca-kaca.


"Iya, Ayah! Akhirnya Aji menjadi seorang ayah juga!" ucap Fajri tersenyum.


Mereka harus menunggu masa observasi safira kurang lebih selama 6 jam. Fajri bergantian dengan yang lain untuk menjaga Safira, dan ia memilih untuk melihat keadaan anak-anaknya bersama dengan Ivanna.


Senyum Fajri terbit dengan mata yang berkaca-kaca, ketika melihat hasil produksinya yang begitu mungil. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium mereka, namun ia harus bersabar untuk menunggu beberapa waktu lagi untuk menyentuh mereka.


"Dede ingin menggendong mereka, bang!" ucap Ivanna tersenyum sambil meraba dinding kaca itu.


"Abang juga, sayang! Akhirnya kamu mempunyai keponakan! Ciee yang mau jadi mama muda!" ucap Fajri terkekeh menggoda Ivanna dan memeluk gadis itu.


"Jangan gitu!" ucap Ivanna dengan wajah yang merona dan membalas pelukan Fajri.


"Apa Dede sudah senang, sayang? sebentar lagi rumah besar itu gak sepi, setiap hari telinga kamu akan terganggu dengan suara mereka!" tanya Fajri.


"Banget, bang! Dede senang banget! Gak papa, kalau Ayah gak bisa ngasih adek lagi, yang penting aku sudah punya ponakan!" ucap Ivanna senang.


Bukan tidak bisa untuk mereka masuk kedalam ruangan itu. Hanya saja, mereka sudah seharian berada di rumah sakit. Entah kuman apa yang menempel dan akan membahayakan kulit sensitiv bayi-bayi mungil itu.


"Bang, nama mereka siapa?" tanya Ivanna berbinar.


"Hmm? tunggu kakak keluar saja ya!" ucap Fajri mengusap kepala Ivanna lembut.


"Baiklah! Apa mereka akan memakai nama Dirgantara juga, bang?"


"Tentu! berbeda nanti jika kamu yang memiliki anak, bisa jadi anak kamu memakai nama suami nanti!" ucap Fajri.


Mereka berbincang di sana sambil memperhatikan anak-anaknya. Hingga Papa memanggil mereka ketika Safira sudah bisa dikeluarkan dari ruang operasi.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Aku gak kuat menulis ini gais! setiap paragrafnya di temani dengan air mata. Yuk vote si kembar dan jangan lupa bunganya ya 😁😁


Terima kasih πŸ€—


__ADS_2