Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
177. Ivanna dan Fajri


__ADS_3

Malam menjelang, Fajira dan Irfan baru saja mengantarkan Ivanna ke dalam kamarnya. Kini mereka sedang berada di kamar Fajri untuk menemani pria kecil itu hingga tertidur.


"Abang, kapan ujian akhirnya, sayang?" tanya Fajira sambil menyelimuti putra kecilnya.


"sekitar dua bulan lagi, bunda!"


"apa abang masih mau lanjut sekolah di sana?" tanya Irfan.


"iya, ayah. sampai abang tamat SMA!" ucap Fajri tersenyum.


"Apa, abang gak mau pindah sekolah?"


"gak mau,ayah! nanti kasihan Dede di sana sendiri!"


"ya sudah, tidurlah sayang!" ucap Fajira tersenyum dan mengecup kening Fajri lembut, begitu juga dengan Irfan. Setelah itu mereka segera pergi dan menuju kamar lalu beristirahat.


...🌺🌺...


Pagi menjelang, Fajri menggandeng Ivanna menuju kelasnya. Saat ini mereka pergi ke sekolah tanpa ayah ataupun ibundanya. Fajira mendadak mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit pada pukul 03.00 dini hari. Sehingg perempuan cantik itu tidak ikut sarapan dengan anak dan suaminya.


Ivanna memasang wajah dingin, karna tidak adanya Fajira membuat mood gadis manis itu menjadi buruk.


"Sudah, sayang. Dede harus paham, kalau Bunda kita itu dokter dan harus siap kapanpun kalau di panggil sama rumah sakit. Itu mendingan karna ayah membatasi jam kerja, Bunda!" ucap Fajri.


"tapi udah dua hari Bunda gak antar Dede ke sekolah, bang!" ucap Ivanna lesu.


"terus Abang gimana?, Abang jarang kok di antar sama bunda, oaling sama ayah, itu pun kalau ayah gak berangkat duluan, sayang!"


"apa, abang sering berangkat sendiri?" ucap Ivanna lirih.


Ia merasa bersalah karna ingin di antar oleh orang tuanya untuk pergi ke sekolah. Tetapi ketika mendengarkan Fajriia merasakan jika abangnya berusaha untuk baik-baik saja jika tidak di antar oleh ayah ataupun Bunda.


"Iya, apalagi waktu Dede masih kecil, Abang sering pergi sama ayah atau sama pak Sakti!" ucap Fajri mengelus kepala Ivanna lembut.


"huh, maafin Dede ya, bang! harusnya Dede bersyukur karna saat Dede sekolah, ada abang yang menemani Dede, walaupun abang juga harus belajar," ucap Ivanna menatap abangnya lekat.


"iya, Jadi jangan sedih lagi ya! nanti waktu keluar main abang kesini lagi. Kalau ada yang jahatin Dede, tinggal tekan tombol warna hijau di gelangnya," ucap Fajri tersenyum.


"baiklah. Hati-hati ya, ke kelasnya, bang! Dede masuk dulu!" ucap Ivanna mengecup tangan Fajri.


"belajar yang rajin ya, Ingat pesan abang tadi. Abang pergi dulu!" ucap Fajri mengusap kepala Ivanna dan mengecupnya singkat.


Ivanna masuk ke dalam kelas, dan duduk dengan manis di bangkunya. Setelah memastikan Ivanna sampai di kelas dengan dengan selamat, barulah ia pergi menuju kelasnya.


Di dalam kelas, Ia duduk dengan manis di sebelah Bryan yang sudah meletakkan kepalanya di atas mmeja sambil memejamkan matanya. Entah ia tertidur atau tidak, yang jelas Ivanna tidak peduli dengan pria kecil itu.


Ia memilih untuk membaca buku pelajaran untuk hari ini. Membuka perlembarnya dan membaca di dalam hati agar tidak mengganggu orang lain.


"hai, Ivanna!" Sama beberapa orang teman perempuannya.

__ADS_1


Ivanna hanya melihat mereka dengan wajah datarnya.


"hmm, kita belum sempat berkenalan. Aku Kania, Itu Intan dan ini Nazura!" ucap Kania mengulurkan tangannya.


"Ivanna!" Ucap gadis kecil itu menjabat tangan mereka satu persatu.


"Apa kamu adiknya bang Fajri yang pintar itu?" tanya Kania antusias.


"hmm," deham Ivanna mengangguk sambil menelisik satu-persatu antara mereka.


"Wah, apa kamu juga pintar seperti bang Aji?" ucap Intan berbinar.


"tidak!" ketus Ivanna.


Raut wajah tiga orang gadis itu berubah. Mereka saling menatap satu sama lain, sambil memberikan kode untuk bertanya hal yang lainnya kepada Ivanna.


"berarti kamu anak Bunda Fajira yang cantik itu, ya? wah, berarti kamu orang kaya, ya?" ucap Intan.


Ivanna semakin mengernyit mendengarkan pertanyaan yang sangat tidak penting itu. Namun ketika ia hendak menjawab ucapan mereka, sebuah bentakan terdengar di sampingnya.


"bisa diam tidak? berisik aja pagi-pagi!" bantak Bryan yang merasa terganggu.


Mereka terdiam, Ivanna merasa tidak suka dengan laki-laki yang ada di sampingnya ini. Bukankah ini masih pagi, salah sendiri kenapa tertidur di tempat umum, begitu fikirnya.


Mereka saling menatap dengan tajam satu sama lain. Ketika Ivanna hendak menjawab perkataan Bryan, ibu Rully sudah masuk terlebih dahulu.


"selamat pagi anak-anak!" ucap Bu Rully.


Pagi ini mereka akan mempelajari ilmu matematika. Ivanna tersenyum smirk karna ini adalah mata pelajaran yang begitu ia sukai. Gadis kecil itu mulai menjawab pertanyaan dari Bu Rully dengan santai dan cepat.


"Ada yang bisa menjawab, berapa hasil 25 di tambah 31?" tanya Bu Rully.


"saya, Bu!" ucap Ivanna mengangkat tangannya.


"ada yang lain? masa iya Ivanna terus yang menjawab!" ucap Bu Rully.


"56, Bu!" ucap Bryan sambil mendelik ke arah Ivanna.


Mata tajam mereka kembali bertatapan. Mereka saling melayangkan tatapan tidak suka satu sama lain.


"iya, benar. berapa jawabnya, nak?"


"56 Bu!" ucap semua siswa.


Ivanna dan Bryan berebutan untuk menjawab pertanyaan dari ibu Rully. Beruntung gadis cantik itu lebih unggul di bandingkan Bryan, sehingga ia bisa membalas senyuman smirk Bryan tadi.


Hingga pelajaran selesai yang di tandai dengan bunyi bel yang menggema di sekolah itu. Setelah Bu Rully keluar dari kelas, Ivanna segera membereskan bukunya dan mnlengeluarkan bekal yang ada di dalam lagi meja.


Ia duduk manis sambil menunggu kedatangan abang tampannya agar bisa memakan bekal mereka bersama.

__ADS_1


"Ivanna, kamu gak jajan?" tanya Kania.


"aku bawa bekal!" ucap Ivanna datar.


"kalau gitu. Kami ke kantin dulu, ya!" ucap mereka bergantian.


Ivanna hanya mengangguk dan kembali memperhatikan gelang canggih miliknya. Bryan, pria kecil itu kembali merebahkan kepalanya di atas meja dan terlelap.


Ini anak perasaan tidur dulu! apa dia gak tidur semalaman?. bathin Ivanna bertanya-tanya.


"Dek?" panggil Fajri yang baru saja datang.


"abang sudah datang? yuk, kita makan!" ucap Ivanna senang.


Ia segera membawa bekalnya dan menggandeng tangan Fajri. Sementara Bryan mengernyit melihat perubahan sikap Ivanna yang terdengar begitu senang ketika bertemu dengan Fajri. Berbeda jika gadis kecil itu berbicara dengannya dan teman-teman yang lain.


Dasar aneh!. Bathin Bryan tanpa mengangkat kepalanya.


Ia kembali menutup matanya, berharap ia bisa terlelap sebentar saja.


Sementara Ivanna menceritakan apa yang ia alami di kelas tadi. Ia sedikit bersungut ketika mengingat bagaimana persaingan sengit antara dirinya dan Bryan. Fajri hanya bisa tersenyum sambil mengusap bibir adiknya yang tak sengaja belepotan.


"tapi, Dede menang 'kan?" tanya Irfan.


"menang dong, bang!. Eh iya sepertinyanya abang idola di sekolah ini ya?" ucap Ivanna kembali kesal. Ia cemburu ketika Fajri mendapatkan perhatian dari orang lain, selain dirinya.


"hehe, sebentar lagi Dede juga akan jadi idola. Kalau Dede rajin belajar dan bisa mendapatkan juara, pasti Dede akan di kenal satu sekolah!" ucap Fajri tersenyum.


"iya, tapi Dede gak suka kalau mereka genit gitu waktu membicarakan tentang, abang!" ucap Ivanna menatap Fajri serius.


"kenapa? emang Dede gak bangga punya abang pintar?" tanya Fajri.


"Bangga dong. Tapi Dede gak suka mereka terlalu memuji, abang. Kata Buna, kita gak boleh memuji orang terlalu, kecuali kita memuji tuhan!"


"iya, betul. Biarkan saja mereka, yang penting kita tidak menjadi orang yang sombong dan selalu menjadi pribadi yang rendah hati!"


"iya, bang!" Ivanna tersenyum sambil memakan bekalnya.


Mereka menghabiskan bekal hingga tandas hanya berdua saja di payung teduh yang berada di depan kelas Ivanna. Setelah tandas mereka kembali ke kelas masing-masing dan menyambung pembelajaran untuk hari ini.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.


Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.😍😍


Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk

__ADS_1


terima kasih πŸ€—.


__ADS_2