
"sebentar saja, Jangan takut" ucap Irfan memejamkan matanya di balik punggung Fajira
Perempuan itu mematung dengan badan yang mulai bergetar. Irfan menyadari kondisi Fajira langsung melepaskan pelukannya dari tubuh sintal perempuan cantik itu.
"maaf. Aku tidak akan menyakiti kamu. Apa sudah lebih baik?"
"hmm iya" Fajira tidak berani menatap wajah pria nan tampan itu
"ah iya supnya apa masih enak di makan? sudah lama juga kan?"
"ma-masih, coba saja"
Irfan mengambil sebuah sendok dan mencoba sup itu dan berekspresi seperti chef handal yang tengah menguji peserta lomba memasak. Matanya membola ketika merasakan rasa sup itu lebih enak dari yang ia buat tadi. Irfan menatap Fajira yang sudah membelakanginya dengan tatapan yang tidak percaya.
"ka-kamu menambahkan apa di dalam sup ini sayang? ini enak banget" ucap Irfan Spechless.
"a-aku hanya menambahkan sedikit garam"
"kamu sudah makan?" Tanya Irfan lembut, Fajira hanya menggeleng sebagai jawaban.
"kita makan yuk"
"i-iya, Aku mau ke atas dulu melihat Fajri, nanti dia menangis kalau aku gak ada" ucap Fajira melangkah. Namun irfan kembali menahan tangannya.
"bukankah kamu mengatakan jika aku punya kesempatan untuk memiliki hatimu? aku tidak akan macam-macam, janji. Temani aku makan sebentar saja" ucap Irfan memohon dan sukses membuat Fajira terdiam.
"ba-baiklah"
Irfan senang bukan main karna Fajira mau menemaninya makan. Mungkin karna kelelahan dan kelaparan, Irfan makan dengan lahap di tambah dengan Fajira yang berada di sampingnya, membuat laki-laki itu tersenyum di sela makan sore nan indah ini.
"ini enak banget, pantas saja Fajri bisa gembul seperti itu" ucap Irfan tersenyum kepada Fajira.
Sementara perempuan itu tersenyum sambil menunduk dengan wajah yang sedikit merona. Sungguh sudah lama tidak ada orang lain yang memuji masakannya kecuali Fajri.
"makanlah" cicit Fajira.
"iya, kamu gak makan sayang?"
"nanti saja, aku menunggu Fajri bangun dulu"
irfan tersenyum senang karna Fajira tidak lagi menggunakan bahasa formal kepadanya. Perempuan cantik itu masih duduk di sana sambil mengendalikan emosi, terutama rasa takut terhadap Irfan.
Aku memang harus memberikannya kesempatan, hanya untuk Fajri. bathin Fajira membenarkan perkataan Irfan tadi.
"hiks bunda... hiks" Fajri datang ke meja makan sambil menangis karna tidak mendapati sang Bunda di sampingnya ketika bangun tidur.
__ADS_1
"eh, Aji sudah bangun sayang" Fajira segera menghampiri bocah kecil itu dan menggendongnya.
"hiks... Bunda kenapa meninggalkan Aji sendiri di kamar itu, Aji takut" ucapnya tersedu.
"maafkan Bunda ya sayang. Bunda lagi menemani Ayah makan"
"hiks jangan seperti ini lagi bunda, Aji takut"
"iya sayang maafin Bunda ya nak" Fajira mengelus kepala Fajri lembut dan sukses membuat Irfan iri, Aku juga ingin seperti itu. Jeritnya dalam hati.
"hekm... Aji mau makan nak? tadi ayah bikin sup untuk Aji"
"sebentar lagi Ayah, Aji mau di peluk dulu sama Bunda" ucapnya lirih di dalam pelukan Fajira.
"ayah juga mau di peluk" ucap Irfan cemberut.
Fajri mengangkat kepalanya menatap Fajira, mata sayu itu seolah mengatakan Bunda yuk kita peluk Ayah juga. Fajira paham tentang tatapan itu namun ia seolah tidak tau dan hanya melayangkan senyum manisnya kepada Fajri.
"mau bangun lagi? Cuci muka dulu ya nak"
"mau peluk Ayah" ucapnya cemberut.
"ya sudah sana peluk Ayah" Fajira menurunkan Fajri, namun pria kecil itu tidak mau.
"mau di peluk sama Bunda dan Ayah juga" ucap Fajri cemberut.
"Ayah sudah siap. sini jagoan ayah kita duduk di ruang keluarga saja ya" ucap Irfan segera menghabiskan makanannya dan meraih Fajri, tak lupa ia menggenggam tangan Fajira mengambil kesempatan emas itu dengan baik.
Sementara Fajira hanya manut saja tanpa ada perlawanan, ia tidak ingin Fajri curiga dan menerka apa alasan sebenarnya jika ia kembali histeris nanti. Berperang dengan emosi membuatnya lelah dan pusing. Sehingga badan fajira sedikit terhuyung dan menubruk punggung Irfan.
"kenapa sayang?" tanya Irfan kaget.
"hmm? pusing" ucap Fajira lirih.
"ayah turunkan Aji, Ayah gendong Bunda saja" ucap Fajri.
"iya sayang"
Irfan menggendong Fajira setelah meletakkan Fajri terlebih dahulu. Ia segera membawa perempuan cantik itu menuju ruang keluarga dan membaringkannya di atas sofa.
"kenapa?" tanya Irfan lembut sementara Fajri menatap ibundanya dengan tatapan sedih karna sudah cukup lama Fajira sakit seperti ini.
"aku hanya belum terbiasa"
"istirahat di kamar ya?"
__ADS_1
"disini saja. Beri sedikit jarak agar aku bisa lebih tenang"
"baiklah, aku duduk di bawah bersama Fajri"
Irfan duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu yang lembut. Sungguh ini di luar kebiasaannya yang bahkan hampir tidak pernah duduk di lantai seperti saat ini. Sambil memangku Fajri, Irfan duduk dan sedikit memberi jarak dari kepala Fajira agar ibu muda itu bisa lebih tenang.
"ayah apa kita bawa saja Bunda ke rumah sakit? Bunda sudah lama sakit ayah, tapi belum sembuh juga. Aji takut Bunda kenapa-napa" ucap Fajri berkaca-kaca.
"Bunda gak papa sayang. Aji main sama ayah dulu ya" ucap Fajira lemas namun masih tersenyum manis ke pada Fajri.
"iya bunda" Fajri kembali menonton dan sesekali melihat bagaimana keadaan ibundanya, Ia bersandar di dada bidang sang ayah dengan sambil memainkan jari besar nan lembut itu.
Sementara Irfan sangat merasa bersalah dengan Fajira, karna sakit yang di alaminya saat ini pasti karna tekanan dari trauma yang timbul ketika mereka berdekatan.
Apa aku terlalu memaksanya? sepertinya aku tidak boleh terburu-buru karna ini menyangkut kesehatan wanita yang aku cintai, dan aku juga tidak ingin kehilangan senyum Fajri yang bisa merubah duniaku.
Mereka kembali terdiam sambil sesekali menanggapi pertanyaan dari Fajri si anak genius. Fajira menatap kedua laki-laki yang hadir dalam hidupnya dengan tatapan sayu. Satu laki-laki menghadirkan kebahagiaan dan satu lagi menghadirkan begitu banyak rasa sakit untuknya.
Apa ku harus memberikannya kesempatan untuk memperbaiki ini semua? jika perlakuannya selalu lembut seperti ini aku yakin hatiku yang rapuh ini dengan mudah bisa mencintainya dalam waktu dekat. Apa aku pergi berobat sendiri saja, agar aku bisa melihat penyesalannya ketika menikah nanti. Tuhan bantu Aku jika dia memang laki-laki yang baik dekatkan lah, namun jika dia hanya mendekatiku karna ***** jauhkan lah dia dariku.
Fajira tanpa sadar menatap Irfan lama dengan mata sayunya. Sementara Irfan juga menatap perempuan cantik bak bidadari itu dengan lembut. Perlahan Irfan meraih tangan Fajira dan meletakkannya di atas kepala lalu mengusapnya. Tidak ada penolakan dari Fajira, ia hanya mengikuti instruksi tangan Irfan dan mengusapnya tanpa diminta sehingga membuat laki-laki dewasa itu terlelap dengan usapan tangan lembut Fajira.
Ia tersenyum tipis melihat kelakuan manis irfan, dan sejurus kemudian ia terkejut dengan suara Fajri yang juga ingin di elus seperti ayahnya.
"Bunda Aji juga mau" ucapnya dengan penuh harap.
"boleh sayang sini Bunda peluk" Fajri naik ke atas sofa dan berbaring di depan Fajira. Mata tajamnya kembali sayu karna merasakan usapan lembut tangan Fajira di kepalanya.
"enghhh,,, peluk aja Bunda, Aji ngantuk lagi. Seharian ini Aji gak ada ngapa-ngapain. Kerjaan banyak di rumah, Bunda juga sakit seperti ini. Apa Aji ambil aja kerjaan itu dan bawa kesini ya Bunda?"
"emang harus selesai cepat sayang?"
"gak juga sih Bunda, Aji ingin menyelesaikan agar kita bisa cepat dapat uang"
"ya sudah nanti kita pulang ya. tunggu ayah bangun dulu. Bunda gak tau motor kita di bawa kemana sama Ayah"
"iya Bunda"
Fajira tanpa sadar membelai rambut Irfan dengan lembut dan tersenyum.
Aku memang harus berobat sendiri. Semoga niat kamu memang baik ingin memberikan Fajri keluarga yang lengkap.
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Hati perempuan memang lemah ya gais jika di perlakukan dengan lembut π©