Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
97. Bertemu Kembali


__ADS_3

"Sayang. Istirahat dulu aja di rumah ya" Ucap Irfan memohon.


"iya Bunda. istirahat saja dulu, jangan pergi ya. Pliis" Ucap Fajri memelas.


Sudah dua hari berlalu setelah kejadian yang hampir membahayakan janin Fajira. Hari ini perempuan cantik itu memutuskan untuk pergi ke kampus karna ada hal yang memang harus membuatnya untuk ke sana.


Namun dua pria possesif itu tidak mengizinkannya untuk pergi dengan alasan takut jika nanti ia kenapa-napa. Mereka mengekori Fajira kemanapun perempuan itu malangkah.


"Sayang" Panggil Irfan memeluk Fajira dari belakang dan di ikuti oleh Fajri sambil memeluk kaki ibu hamil itu.


"Huft..." hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Fajira.


"Banda hanya pergi sebentar, Sayang! nanti jam 9 udah pulang lagi. Boleh ya bunda pergi, abang, ayah?" lirih Fajira, ia juga tidak ingin pergi hari ini.


"Nanti Bunda sama dade bayinya kenapa-napa, Aji kan sekolah, gak ada yang jagain Bunda" lirih Fajri.


"iya sayang, Atau aku temani ya" tawar Irfan.


"Ya sudah, Mas. Kamu temani aku aja" ucap Fajira pasrah.


"Yuk kita turun ke bawah lagi" Ajaknya.


"Iya Bunda. Yuk" ucap Fajri lega, karna Fajira tidak jadi pergi sendiri ke kampusnya.


"Nanti Ayah sama Bunda anterin Abang ke sekolah kan?" mata polos Fajri menatap dengan penuh permohonan.


"iya sayang," Ucap Irfan dan Fajira bersamaan.


Mereka segera sarapan terlebih dahulu, agar memiliki cukup banyak tenaga untuk memulai hari dengan penuh semangat. Setelah selesai, Mereka menuju ke sekolah Fajri terlebih dahulu untuk mengantarkan pria kecil itu.


"Hati-hati sayang. Belajar yang rajin ya nak" ucap Fajira sambil mengusap kepala Fajri lembut.


"iya Bunda. Ayah jangan lupa jagain Bunda sama Dede bayi ya" ucap Fajri serius sambil mengusap perut Fajira.


"iya, Bang. Sekarang abang masuk lagi ya nak. Ayah harus pergi sama bunda" ucap irfan mengusap kepala Fajri.


"iya Ayah. Dada ayah, dada bunda" Fajri melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kelas.


"dada sayang" Fajira tersenyum sambil menggandeng tangan Irfan.


"Ayo sayang" ajak Irfan.


"iya, Mas"


Mereka segera pergi melangkah kembali ke parkiran dan bergegas menuju ke kampus.


Fajira menyandarkan kepalanya di bahu Irfan sambil memainkan tangan kekar pria itu ketika berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Sayang" Panggil Irfan lembut.


"iya, Mas. Ada apa?"


"Hmm, menurut kamu bagaimana jika aku membatalkan kerja sama ku dengan perusahaan keluarga Sherly?" tanya Irfan hati-hati.


"apa kamu sudah tekan kontrak sama mereka?"


"sudah, sayang"


"kalau di batalkan bukannya kamu akan mendapatkan penalti, Mas?"


"Iya sayang. Semuanya sudah aku perhitungkan, kira-kira totalnya sekitar 25 miliar"


"Hah? kamu serius? sebanyak itu?" ucap Fajira terkejut dan menatap Irfan lekat.


"iya sayang. karna ini proyek besar, makanya bisa sebanyak itu. Menurut kamu bagaimana?"


Fajira terdiam ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Irfan.


"Alasannya apa, Mas?"


"Aku hanya gak mau perempuan itu kembali berbuat nekat dan membahayakan kamu dan anak-anak kita, Sayang!"


"Tapi aku rasa dia tidak akan berbuat lebih, Mas. Aku memperhatikan ekpresinya waktu kamu marah ke dia, ada raut wajah takut yang aku lihat. Kalau kamu bisa lebih tegas lagi, aku rasa dia gak akan berani macam-macam. Asal kamu bisa jaga jarak dan menyadarkan dia bahwa ada dinding pembatas yang kokoh sedang berdiri dan itu tidak akan mungkin bisa di robohkan oleh dia," ucap Fajira menyakinkan Irfan


"Berarti aku lanjut saja kerja samanya, Sayang?" tanya irfan menangkap maksud perkataan Fajira.


"iya,, Mas. Memang kalau kamu yang membatalkan kerja samanya apa ada dampaknya ke perusahaan mereka?"


"Ada sayang, bahkan tak sebanding dengan 25 miliar. Jika ada perusahaan yang menjalin kerja sama denganku, dan tiba-tiba saja aku membatalkan secara sepihak, biasanya semua investor menjadi ragu untuk melanjutkannya. Bisa jadi mereka akan meminta uang kembali atau apapun. Tapi aku juga harus memberikan klarifikasi tentang alasan kenapa aku membatalkannya. Itu salah satu keuntungan yang aku miliki sampai saat ini" terang Irfan.


"berarti, mereka bisa terancam bangkrut jika tidak mendapatkan investor baru gitu, Mas. Walaupun itu perusahaan besar?"


"bisa iya, bisa tidak, sayang. Kalau mereka bisa mendapatkan investor baru atau mempertahankan investor lama ya syukur selamat. Kalau gak ya sudah lah habis itu"


"Aku paham sayang. Jadi keputusan kamu?" tanya Fajira.


"Apa kamu gak keberatan kalau aku selalu bertemu dengan perempuan itu?"


"asal kamu bisa menjaga kepercayaanku, aku gak masalah. Tidak profesional juga rasanya jika kamu memutuskan kontrak hanya karna masalah ini"


"Akan aku jaga sayang. Terima kasih" Irfan kembali memeluk Fajira sambil mengusap perut yang sudah menonjol itu.


Hampir 25 menit mereka di perjalanan, mobil berhenti dan terparikir di depan gedung akademik fakultas kedokteran.


Irfan memakai maskernya dan membuka pintu terlebih dahulu, lalu membantu Fajira untuk turun dari sana. Kedatangan Irfan menjadi pusat perhatian semua mahasiswa. walaupun sebagian wajahnya tertutupi masker dan topi, namun aura tampan itu masih terpancar dengan indah dan mampu membuat mahasiswi terpesona ketika melihat pria tampan milik Fajira itu.

__ADS_1


"hati-hati sayang" ucap Irfan menggandeng tangan Fajira.


"iya, Mas. Terima kasih"


Mereka berjalan menuju ruang akademik karna Fajira harus bertemu dengan kepala jurusan untuk mengurus proposal yang ia berikan beberapa waktu yang lalu.


"mas, kamu mau duduk di mana? Aku mau masuk dulu" ucap Fajira ketika berada di depan ruangan itu.


"aku tunggu di sini saja sayang"


"aku masuk dulu ya" ucap Fajira melangkah masuk ke dalam ruangan kepala jurusannya.


Irfan memperhatikan sekitar lokasi dimana ia tengah berdiri. Tanpa sengaja Ia menangkap sepasang mata yang hanya berjarak 2 meter di depannya dan tengah menatap dengan tatapan benci bercampur dengan emosi.


Hah ketemu lagi sama curut ini. Apa dia tau jika Fajira ke kampus hari ini?apa dia sengaja menunggu istriku?, bukannya dia sudah lewat semester ya? kenapa masih ada disini?. Bathin Irfan jengah melihat Vino yang seperti masih belum menyerah untuk mendapatkan istrinya.


Dua pasang mata itu saling bertatapan dengan pemikiran masing-masing. Irfan bahkan tidak berkedip melihat laki-laki yang menjadi rivalnya dulu. Untung adanya Fajri membuat Irfan berpeluang lebih besar di bandingkan Vino.


Mereka masih bertatapan hingga Fajira kaluar dari ruangan dan menyadarkan Irfan.


"Mas, Aku sudah siap. Yuk kita pulang" ucap Fajira tersenyum sambil menggandeng tangan Irfan.


"yuk sayang" Ajak Irfan.


Namun ketika hendak melangkah, mereka di kejutan dengan suara berat yang menyapa Fajira.


"Ji, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Vino mendekat.


"i-iya kak. Aku baik-baik saja. Aku harus pergi, Permisi," ucap Fajira membalikkan badannya namun tidak menatap Vino.


"Ayo sayang" Ajalnya kepada Irfan.


Irfan membuka maskernya dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Vino yang sudah menahan emosi dan kecemburuannya.


"Hati-jati jalannya, Sayang! Kamu lagi hamil lo" ucap Irfan sengaja agar Vino bisa mendengar ucapannya.


"Iya, Mas"


Si*alan! laki-laki itu seperti sengaja memanas-manasiku! Kenapa harus dia Fajira? kenapa? Aku hanya kurang kaya di bandingkan dia! Andai saja kita bertemu lebih dulu.


Vino hanya menatap kepergian Fajira dengan kecemburuan, apalagi ia melihat Irfan sempat mencium kepala Fajira sebelum masuk ke dalam mobil dan kembali melihat ke arahnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Malam Gais, Maaf ya aku telat banget untuk Updatenya. mood aku lagi berantakan karna satu dan lain hal. Terima kasih sudah membaca karya ku dan memberikan dukungan berupa like, koment, vote, dan hadiah.

__ADS_1


salam sayang dari Irfan dan keluarga πŸ€—πŸ€—


__ADS_2