
Sudah tiga bulan pernikahan Fajri dan Safira berjalan dengan sangat baik, harmonis dan pastinya Fajri yang jahil selalu membuat Safira kesal. Namun hal itu mampu membuat mereka semakin dekat dan menambah rasa cinta di antara keduanya.
Pagi ini, Safira tengah memasangkan dasi yang akan di kenakan oleh Fajri. Namun tidak seperti biasanya, Safira terlihat tengah menahan sesuatu, seperti rasa mual. Sehingga membuat Fajri mengernyit melihat wajah istrinya.
"Kenapa, sayang?" tanya Fajri mengusap kening Safira yang berpeluh.
"hmm? Kamu tadi mandi kan?" tanya Safira.
Wajahnya mulai memerah, karna sudah tidak tahan lagi.
"Aku mandi, kok! aku wangi lo sayang!" ucap Fajri mengendus tubuhnya.
Hoeek,... hoeek,... hoeek,....
Safira berlari menuju makar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di sana, namun hanya cairan saja yang keluar dan membuat tubuhnya lemas. Sehingga membuat Fajri panik dan juga ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" pekik Fajri.
Namun semakin ia dekat, Safira semakin menjadi, mengeluarkan isi perutnya.
"Jauh-jauh, Mas! kamu bau!" ucap Safira lirih sambil bersandar di dinding.
"Ta-tapi, sayang,..."
"Panggil Bunda, atau Dede!" ucap. Safira memotong ucapan Fajri.
Pria tampan itu segera berlari keluar, dan mengetuk pintu kamar Fajira dengan keras sambil berteriak.
"Bunda, Bunda! tolong istriku! Bunda, Ayah?" teriak Fajri.
Bahkan Ivanna dan beberapa asisten rumah tangga juga terkejut mendengar teriakan Fajri.
"kenapa kamu teriak-teriak, bang?" tanya Fajira yang juga panik
"Safira, bunda! istriku muntah-muntah!" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa menunggu lama, Ivanna lebih dulu masuk, dan di susul oleh Fajira dan Fajri.
"Kakak!" pekik Ivanna melihat Safira sudah tidak sadarkan diri.
Begitu juga dengan yang lain. Fajri segera menggendong Safira keluar dan membawanya menuju rumah sakit. Wajah Fajri tiba-tiba saja menjadi pucat, karna melihat Safira yang tidak sadarkan diri.
Tuhan, jangan sampai istriku kenapa-napa!. Batin Fajri.
Mereka berlari mengejar Fajri yang sudah lebih dulu menaiki mobil bersama Pak Sakti. Kecemasan tergambar jelas di wajah Ivanna. Namun tidak bagi Fajira, fikirannya menerawang kemana-mana, dan sejurus kemudian ia tersenyum manis lalu mengecup pipi Ivanna dengan gemas.
"Buna kenapa? ini kakak pingsan lo, kenapa Buna senyum-senyum?" tanya Ivanna yang tidak habis fikir dengan tingkah sang Bunda.
"Semoga saja prediksi Bunda benar, sayang! Abang bilang kalau kakak muntah-muntah, dan sekarang pingsan, kemungkinan,..." ucap Fajira
"Jangan bilang kalau sebentar lagi kita akan jadi,..." ucap Irfan dengan mata yang membola.
"Semoga saja, Mas!" ucap Fajira senang.
"Tunggu, apa maksud Bunda, semoga saja? Dede gak paham!" ucap Ivanna mengernyit.
"Sudah, nanti kamu akan tau sendiri, sayang!" ucap Fajira terkekeh.
Fajri sudah lebih dulu sampai di rumah sakit, saat ini Safira tengah di periksa oleh dokter umum yang ada di sana.
Ia hanya bisa mondar mandir di depan bilik dimana Safira tengah di periksa. Banyak pasang mata yang melihat bagaimana khawatirnya seorang Fajri kepada sang istri.
Bahkan ia masih menggunakan sendal bludru bermotif kelinci milik Safira. Bahkan dasinya sudah tidak berbentuk lagi, karna saking khawatirnya.
__ADS_1
"Gimana keadaan kakak, bang?" tanya Ivanna dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kakak, masih di dalam, dek!" ucap Fajri tanpa bisa menutupi perasaannya.
"Abang gak apa-apain, kakak kan?" tanya Ivanna menelisik.
"Gak mungkinlah, sayang! tiba-tiba saja kakak mual dan muntah, sampai kakak pingsan,..." ucap Fajri dengan mata yang membola menatap Fajira.
"Berdo'a ya, bang. Semoga ada kabar bahagia!" ucap Fajira tersenyum.
Mata Fajri langsung berkaca-kaca, namun ia tidak ingin terlalu berharap. Sungguh ia sangat menantikan buah hatinya bersama Safira.
Kabar bahagia? apa maksud Bunda kakak hamil? bukankah itu akan sangat bagus?. Batin Ivanna bertanya-tanya dengan wajah yang perlahan berbinar.
Tak lama dokter keluar dari bilik pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Fajri cepat.
"Selamat pagi, Direktur!" sapa dokter itu terlebih dahulu.
"Pagi, dokter. Bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Fajira.
"Ah, ia saya sampai lupa. Hmm, begini Tuan Muda, Nona Safira tengah mengalami penyakit yang cukup serius dan dibutuhkan perhatian yang khusus dari keluarga dan orang terdekat. Saya harap, anda bisa sabar menghadapi istri anda!" terang dokter itu.
"Apa maksud anda, dokter? penyakit apa yang di derita oleh istri saya?" ucap Fajri emosi.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan kepada istri anda. Mungkin lebih jelasnya anda bisa membawa Nona Safira menuju dokter obgyn untuk lebih pastinya!" ucap dokter itu tersenyum.
Mereka termagu, Dokter obgyn adalah tempat yang menjadi sumber kebahagiaan setiap Ibu hamil.
"Dek, ayo temani Bunda untuk mendaftarkan, kakak!" ucap Fajira.
Ivanna segera bergegas mengikuti langkah ibundanya, dengan senyum yang mengembang.
Aku akan memiliki keponakan!. batin Ivanna begitu senang.
"Ayah?" panggil Fajri.
"Iya, nak!" Irfan tersenyum sambil menatap Fajri.
"Apa itu dokter obgyn?" tanya Fajri linglung
"Sudah, istri kamu sedang hamil sekarang. Selamat, bang!" ucap Irfan memeluk Fajri erat.
"Hamil? Apa Aji akan menjadi seorang Ayah?" tanya Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, nak! Aji akan menjadi seorang, Ayah!" ucap Irfan mengusap punggung Fajri.
Air mata yang terasa hangat itu mengalir dengan sendirinya tanpa bisa di bendung lagi. Fajri hanya bisa menyembunyikan wajah bahagianya di bahu sang Ayah.
"Aji akan menjadi Ayah!" ucapnya serak.
"Jaga istri dan anakmu dengan baik!" ucap Irfan.
"iya, Ayah!"
Sementara Safira sudah terlelap di atas brankar itu karna kelelahan dan lemas. Bahkan ia tidak mendengarkan penjelasan dokter terlebih dahulu.
πΊπΊ
Safira menatap Fajri dengan tajam sebelum masuk ke dalam ruangan. Sungguh ia mencium aroma busuk dari tubuh Fajri bahkan Ayah mertuanya juga, padahal mereka itu selalu harum dan wangi seperti biasanya.
Mereka sudah duduk di dalam ruangan dokter obgyn. Fajri dan Irfan tidak di perkenankan masuk ke dalam ruangan itu karna bau mereka terasa begitu menyengat bagi Safira.
__ADS_1
"Ada yang bisa di bantu, Nyonya?" tanya dokter itu ramah.
"Begini, dokter. Hmm, tadi menantu saya sudah diperiksa oleh dokter yang bertugas di IGD. Mereka mengatakan jika kami harus ke sini! diperkirakan menantu saya tengah hamil!" terang Fajira.
"Baiklah, langsung saja kita cek ya!" ucap dokter itu.
Safira di bantu oleh Ivanna, naik ke atas brankar dan berbaring. Dokter segera menyingkap sedikit baju Safira dan mengoleskan gel khusus di atas perutnya. Alat usg mulai bergerak di atas perut putih yang masih rata itu.
"perhatikan monitor yo, Bunda!" ucap dokter.
"Sepertinya penerus Dirgantara sudah tumbuh, Nyonya. Lihat bulatan yang seperti biji kacang itu?" tanya dokter.
"Ada dua?. Itu maksudnya apa, dokter?" tanya Ivanna.
"Berarti sebentar lagi, onty akan memiliki dua keponakan sekaligus!" ucap dokter itu dengan wajah yang berbinar.
Deg!.
Mereka semua terkejut mendengarkan ucapan dokter itu. Apalagi Safira, air matanya langsung tumpah begitu saja.
Terima kasih, tuhan. Aku akan menjadi seorang Ibu!. Bathin Safira begitu bahagia.
Ingin rasanya ia memeluk Fajri namun ia takut akan mengalami mual kembali.
Ivanna, gadis itu mematung dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya. Ia masih menatap monitor itu dengan wajah yang tidak percaya.
"Dek?" panggil Fajira lembut.
"Buna, Dede akan jadi onty, Dede akan jadi onty. Hiks,...." ucap Ivanna menangis di dalam pelukan Fajira.
"Nanti kita nangis di rumah! sekarang bantu kakak dulu!" ucap Fajira tersenyum.
"hiks,... i-iya, Buna!" Ivanna segera mendekat kearah Safira dan membantu kakaknya untuk bangun terlebih dahulu.
"Kakak!" Ivanna memeluk Safira dengan erat.
Mereka menangis bersama karna terlalu merasa bahagia. Bahkan dokter pun ikut berkaca-kaca melihat mereka yang begitu antusias untuk menunggu anggota keluarga baru Dirgantara.
Setelah menanyakan beberapa hal terkait kehamilan, mereka segera keluar dadi ruangan. Hal pertama yang dilihat adalah, wajah Fajri dan Irfan yang sudah masam, namun setelah mereka keluar wajah Fajri kembali berseri.
"Bagaimana, sayang" tanya Fajri tidak sabar.
"Positif, Mas! dua!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
Fajri langsung memeluk Safira dengan erat sambil mencium kepala istrinya bertubi-tubi.
"Terima kasih, tuhan! Sekarang kita pulang, ya!" ucap Fajri kembali menggendong Safira.
Mereka terlihat begitu bahagia, bahkan juga menyebar kepada para pengunjung rumah sakit. Berita ini akan dipastikan viral untuk beberapa hari kedepan.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Wah selamat untuk Fajri dan Safira ππ
Aku gak sabar menunggu anak kembar Fajri gais. Mau di buat seperti apa ya? koment di bawah gais!
Gak bosan-bosan, aku memberikan rekomendasi bacaan yang bagus untuk teman-teman semua. π
__ADS_1
yuk kunjungi, mana tau suka π€π€
Terima Kasih ππ