Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
84. Usaha Vino


__ADS_3

Pagi ini Irfan harus pergi ke kantor tanpa alasan apapun, karna ia harus mengikuti rapat pemilik saham, sementara kondisinya masih belum baik-baik saja. Beruntung semenjak menggunakan parfum dan hand body Fajira, ia tidak terlalu merepotkan istrinya untuk hanya sekedar meredakan mual saja.


Pagi ini Fajira juga bersiap untuk pergi ke kampus, begitu juga dengan Fajri yang sudah terlihat tampan dengan seragam sekolahnya.


"Sayang" panggil Irfan.


"iya Mas, Kamu butuh sesuatu?" Fahira berjalan mendekati irfan dan memasangkan dasinya.


"Gimana kalau aku mual lagi?" lirih laki-laki tampan itu.


"Huft... coba dulu ya, aku sudah menyiapkan parfum dan satu buah baju ku di dalam tas kamu. Nanti kalau mual cium aja bajunya, mana tau bisa meredakan rasa mual kamu, Mas," ucap Fajira memperbaiki posisi dasi Irfan.


"ya sudah. Yuk kita berangkat lagi ya" Ajak Irfan menggendong Fajri.


"iya, Mas," ucap Fajira


"Ayo Ayah" ucap Fajri antusias.


Mereka berjalan menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Beruntung Irfan bisa memakan beberapa menu yang di buat sendiri oleh tangan Fajira. Sehingga menu makanan di rumah hanya itu-itu saja, namun masih terasa nikmat karna hasil masakan Fajira dan di makan bersama.


Selepas makan, mereka bergegas untuk pergi keluar dan menuju mobil masing-masing. Fajira mencium tangan Irfan dengan lembut sebagai tanda baktinya kepada suami.


"Mas, do'a kan aku, semoga proposal skripsiku bisa di terima ya" Ucap Fajira tersenyum sambil menatap Irfan lekat.


"iya sayang. Mudah-mudahan proposal kamu di terima, kuliah kamu lancar dan ingat jangan sampai kelelahan" Tangan kekar itu mengelus kepala Fajira dengan lembut.


"iya Mas, terima kasih" Fajira tersenyum sambil menutup mata ketika merasakan kecupan bibir Irfan di dahinya.


"Bunda Aji berangkat dulu ya. Bunda hati-hati di kampus, nanti pulang sekolah Aji temani Bunda di kampus Ya" Ucap Fajri mencium tangan Fajira.


"iya sayang, tapi kalau Aji lelah, pulang saja ya nak" ucap Fajira mengecup dua pipi gembil Fajri bergantian.


"Aji gak lelah Bunda. Boleh ya?" Mata bulat itu menatap dengan memohon.


"ya sudah. Nanti Aji di jemput sama pak Sakti ya sayang"


"iya Bunda. Dede abang pergi dulu sayang, jangan rewel ya muach" Ucap Fajri pamit kepada calon adiknya.


"iya abang, hati-hati sekolahnya ya" ucap Fajira menirukan suara anak-anak dan sukses membuat Fajri merona.


"Aji gak sabar mau dengar Dede beneran ngomong seperti itu bunda" ucap Fajri sambil memegang pipinya yang terasa panas.

__ADS_1


"Bunda juga sayang. Ya sudah sana berangkat lagi, nanti telat"


"iya Bunda. Dada bidadari cantiknya Aji" ucap Aji melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil irfan.


"dada pangeran tampan bunda" Ucap Fajira yang juga ikut melambaikan tangannya.


"Aku berangkat sayang" pamit Irfan sambil tersenyum manis.


"iya mas, hati hati"


"Nanti kalau ada apa-apa cepat hubungi aku"


"Aku yang harusnya ngomong seperti itu, Mas"


"hehe, Ya sudah aku berangkat dulu ya" pamit irfan sambil terkikik.


"iya mas"


Fajira masih menatap kepergian Irfan dengan senyuman. Ia berharap momen bahagia mereka tidak akan berakhir begitu saja. Setelah mobil Irfan dan Fajri hilang dari pandangannya, barulah ia berangkat menuju kampusnya.


Fajira tersenyum memandangi proposal yang sangat dini untuk ia serahkan, namun itu harus segera ia serahkan,agar target kuliah selama tiga tahun ini bisa terpenuhi, setelahnya ia bisa melanjutkan studi yang tertinggal agar bisa menjadi seorang dokter.


"Pagi bumil, sini!" panggil Riska antusias ketika melihat Fajira berjalan masuk ke dalam kelas dan menarik beberapa pasang mata agar melihat ke arah ibu hamil itu.


"Ih masih pagi udah berisik aja Ris"


"hehehe maaf kak. Gimana kabar ponakanku hari ini?" tanya Riska sambil terkikik.


"Baik, semuanya baik. Do'akan aku lancar sampai lahiran besok"


"Aamiin. Ah iya hari ini kakak jadi menyerahkan proposal skripsinya?"


"Jadi Ris, nanti temani aku ya"


"iya kak"


Pagi itu mereka belajar dengan fokus agar bisa menyerap semua pelajaran yang di terangkan oleh mahasiswa yang lain serta penjelasan dari dosen.


"sampai di sini dulu perkuliahan kita pada hari ini. Selamat pagi" ucap dosen itu berlalu dari kelas.


"Yuk Ris temani Aku dulu ya"

__ADS_1


"yuk kak"


Mereka berjalan menuju ruang dosen yang terletak tak jauh dari sana. Fajira berjalan dengan hati-hati agar bayi dalam kandungannya tidak kenapa-napa.


"Fajira" panggil seseorang dari belakang.


"Kak Vino, Ada apa kak?"


"bisa kita ngobrol sebentar?"


"maaf kak, mungkin kakak tau bagaimana sifat suamiku. Jadi dari pada kakak kenapa-napa, lebih baik jangan mendekati aku lagi. Permisi kak" ucap Fajira menegaskan jarak di antara mereka.


"tapi Ji, Apakah tidak ada kesempatan sedikit saja untukku? Kamu lupa baru dua hari kalian mengumumkan pernikahan, kamu sudah di culik Ji. Dia bukan laki-laki yang baik" Ucap Vino mengingatkan Fajira tentang peristiwa penculikan itu.


"Aku juga bukan wanita yang baik kak. Untuk kejadian kemaren, bukan berarti dia akan selalu membuatku berada dalam bahaya kak. Justru dengan kakak berusaha untuk mendekatiku, itu sama saja kakak masuk kedalam mulut singa. Aku sudah memperingatkan kakak tentang hal ini. Jadi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan kakak. Permisi" Fajira berlalu dari hadapan Vino dan meninggalkan se gudang kekecewaan untuk pria tampan itu.


"Ji satu kesempatan saja. Kakak sungguh mencintai kamu Fajira" Ucap Vino lantang dan menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ada di sana.


"tapi aku mencintai suamiku kak, dan tolong hargai itu. Jika pun kakak memaksa aku, Mas Irfan gak akan tinggal diam. Jadi tolong sayangi diri kakak Cari lah perempuan yang lebih baik dari pada Aku" ucap Fajira tegas.


"Jira, Aku mohon" Vino memegang tangan Fajira.


"kak, Aku lagi hamil, tolong jangan membuat emosiku berantakan" Ucap Fajira menghentakkan tangan Vino kasar.


deg...


"ha-hamil? lagi?"


"iya, Jadi tolong jangan ganggu kehidupanku lagi" Lirih Fajira. Vino dengan berat hati melepaskan Fajira bersama laki-laki lain.


Ia hanya menatap kepergian Fajira dengan emosi yang bercampur padu.


Kenapa bukan aku yang bertemu dengan kamu Fajira. Kenapa juga kamu masih mau bersama dengan laki-laki arogan itu. Kamu tidak akan pernah bahagia karna dia pasti memiliki simpanan perempuan lain. Bukalah mata kamu sedikit saja Fajira. Bathin Vino.


Fajira kembali melihat laki-laki malang itu dengan iba. Tapi harus bagaimana lagi, Ia telah memilih Irfan sebagai laki-laki yang mendampinginya hingga maut menjemput. Membesarkan anak-anak bersama dengan kehangatan sebuah keluarga yang utuh.


Semoga kakak mendapatkan perempuan yang memang tulus mencintai kak. Bathin fajira berkata sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan dosen.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2