
Ray pulang ketika malam sudah larut, Ia terpaksa harus memenuhi keinginan Fajira yang memaksanya untuk ikut makan malam bersama. Ia mengendarai mobil mewah itu dengan kecepatan sedang menuju apartemen yang di berikan oleh Irfan sebagai bonusnya 6 tahun silam.
Perlahan mobil mendarat di parkiran khusus untuknya, karna apartemen yang terbilang mewah ini adalah milik Irfan di bawah pengawasannya. Ia melangkah menuju lift dan naik ke lantai paling atas dimana kamarnya berada.
Ting...
Lift terbuka ia segera melangkah menuju kamarnya yang berada di sisi sebelah kiri. Di sana hanya terdapat dua kamar saja, satu miliknya dan satu milik Irfan. Ia menekan pin agar bisa membuka pintu ruangan itu.
Tet...
Pintu terbuka, ia segera berjalan menuju kamar dan membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah 20 menit Ray keluar dengan balutan handuk di pinggangnya. Laki-laki itu memiliki tubuh kekar dan terlihat sangat tampan dan mempesona dengan tubuh liat dan kulit sawo matangnya.
Berjalan menuju ruang ganti dan memakai baju tidur berwarna putih dengan dua kancing atas yang di biarkan terbuka.
Ia menatap pemandangan di luar gedung dengan nanar. Matanya menatap liar apapun yang bisa di tatap. Ia teringat dengan perkataan Irfan tadi sore.
"sudah saat nya kamu memikirkan masa depanmu Ray. Saya memang sangat membutuhkan dan mengandalkan kamu dalam perusahaan, tapi bukan berarti kamu mengabdikan seluruh hidupmu kepada perusahaan. Kamu juga harus menata hidup bersama anak dan istri kamu nanti, Ray" ucap Irfan menempatkan dirinya sebagai seorang teman.
"Saya belum terfikirkan untuk mencari pendamping hidup tuan, karna saya masih belum bisa membalas jasa tuan terhadap saya dan keluarga"
"tidak, Ray! kalau kamu mau membalas jasa, itu tidak akan pernah bisa kamu balas. Saya ikhlas menolong kamu, bahkan pengabdianmu sudah lebih dari cukup untuk membalas semua yang kamu anggap kebaikan atau jasa atau apalah" ucap Irfan meyakinkan Ray, laki-laki itu hanya terdiam.
"bagaimana kabar ibu dan bapak?" tanya Irfan kembali.
"Ibu dan bapak baik-baik saja tuan. Mereka menitipkan salam kepada anda"
"syukurlah, sampaikan juga salam saya kepada mereka!" Irfan terdiam sejenak sambil menghela nafasnya.
"Saya sudah merasa bahagia ketika menemukan perempuan yang tepat, Ray. Dan saya yakin kamu bisa merasakan perubahan yang besar dalam hidup saya semenjak kehadiran Fajira dan Fajri,"
"Saya juga ingin kamu seperti itu, mendapatkan kebahagiaan dalam hidup ketika menemukan tambatan hati yang tepat"ucap Irfan.
Ray semakin terdiam dan seolah bungkam mendengarkan perkataan Tuan Arogan yang sudah mulai jinak di tangan Fajira ini.
"Cobalah fikirkan apa yang saya ucapkan Ray. Jika kamu ingin pulang kampung, silahkan temui keluarga Mu setelah rumah sakit itu rampung," ucap Irfan dan beranjak menuju meja kerjanya
Ray hanya terdiam mencerna perkataan Irfan yang memang sangat menginginkan dirinya menikah.
Pria 30 Tahun itu hanya menghela nafas beratnya, ia masih belum memikirkan masa depan, jika adik-adiknya di kampung masih belum menyelesaikan sekolah mereka hingga ke jenjang perkuliahan.
Tapi melihat tuan Irfan yang selalu merasa bahagia, sedikit aku juga ingin merasakannya. Memiliki istri dan anak, menjadikan kebahagiaan mereka sebagai tujuan hidupku. Namun apa mungkin aku akan mendapatkan perempuan yang baik seperti Nyonya Fajira. Pasti aku tidak akan pernah mendapatkan yang seperti itu. huft... Bathin Ray mendesah berat.
__ADS_1
Sepertinya benar juga perkataan tuan Irfan, aku harus mengambil cuti setelah rumah sakit itu rampung. Tapi bagaimana dengan perusahaan jika nyonya Fajira melahirkan nanti. Pasti tuan akan mengalami kesulitan untuk mengurus perusahaan sebesar itu sendiri, belum lagi keluarganya. Apa yang harus aku lakukan?. Bathinnya semakin frustrasi.
Ray memilih untuk beristirahat karna besok ia akan menghadiri rapat penting bersama dengan beberapa investor untuk proyek pembangunan apartemen mewah milik Bayu Hamish.
Ia berbaring di atas ranjang yang dingin itu dan menjadikan lengannya sebagai bantal.
Tuhan. jika memang engkau mengizinkan aku untuk menikah, berikanlah jodoh yang terbaik bagimu perempuan yang mengerti dengan keadaanku dan menerima segara kelebihan dan kekurangan yang aku miliki.
Perlahan mata tajam itu tertutup, ia terlelap dengan cepat karna berfikir terlalu keras menimbang permintaan Irfan yang menurutnya sangat tiba-tiba dan sedikit tidak masuk akal baginya.
🌺🌺
Di kediaman Irfan, Fajri masih setia mengelus lembut perut Fajira sambil menguap. Ia sudah mengantuk namun masih ingin mengobrol dengan adiknya. Bahkan Fajira sudah mengelus kepala pria kecil itu berharap agar anaknya bisa terlelap, namun nihil mata bulat itu masih terjaga hingga Irfan masuk ke dalam kamar dan mendapati Fajri belum tidur juga.
"Abang kenap belum tidur, nak?, besok sekolah kan? Sini ayah gendong ya," ucap Irfan memaksa Fajri untuk masuk ke dalam gendongannya.
"abang masih mau main sama dede, Ayah" lirih Fajri perlahan terpejam sambil bersandar di bahu bidang ayahnya karna Irfan menahan kepala kecil itu agar tidak bangun lagi.
Ia juga memberikan usapan lembut pada punggung kecil itu, agar Fajri lebih cepat tertidur di dalam pelukannya. Benar saja, pria kecil itu langsung terlelap bahkan dengkuran halus terdengar jelas di telinga Irfan.
Hot Daddy itu segera membaringkan Fajri ranjang single miliknya, karna sampai sekarang pria kecil itu belum juga mau tidur terpisah dengan kedua orang tuanya.
Iya tersenyum menatap Fajira yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Perlahan ia juga merangkak naik dan berbaring menghadap istrinya.
"Istriku," panggilnya lembut sambil tersenyum.
"Iya, suamiku,"
"Yuk tidur lagi"
"iya" Fajira menggigit bibir bawahnya menginginkan sesuatu.
Irfan paham, namun ia ingin Fajira mengatakannya secara gamblang, dengan wajah yang merona. Sungguh laki-laki itu sangat menyukai wajah merona sang istri yang terlihat sangat cantik dan menjdi candu baginya.
"yuk kita tidur!" Irfan berpindah posisi dengan tidur di belakang Fajira agar bisa memeluk istrinya. Fajira melotot kesal ketika Irfan lagi-lagi mengerjainya.
Selalu saja seperti ini, dasar suami arogan! pasti ada saja cara kamu agar aku meminta terlebih dahulu. Lihat aja kamu Mas, aku kerjain kamu malam ini. Bathin Fajira kesal.
"Iya, sayang" Fajira tersenyum smirk dan memejamkan matanya perlahan. Sementara Irfan melotot mendengar jawaban Fajira.
"Ya-ya sudah yuk kita tidur"
__ADS_1
glek...
Fajira menggeser badannya agar bisa lebih menempel kepada Irfan, Sambil mengusap lengan kekar suaminya.
"sayang, apa kamu sudah tidur? Pahaku pegal. Boleh tolong sebentar" ucap Fajira menahan senyumnya.
"Pegal? iya sayang" Irfan menanggapi ucapan istrimu serius sehingga ia kembali duduk dan memijat pelan paha Fajira.
glek...
Ia terbayang dengan gaun malam yang tengah di pakai oleh Fajira, pasti sangat minim dan dengan mudah ia bisa menariknya hingga terlepas.
"Mas, jangan kuat-kuat dong! sakit" rengek Fajira yang terdengar seksi di telinga Irfan.
Ia kembali fokus dengan pijatannya dan sedikit memberikan Fajira rangsangan yang biasa ia berikan kepada istrinya.
Aneh kenapa Fajira belum juga terangsang dengan sentuhku? apa kamu sengaja mengerjaiku sayang?. Bathin Irfan menjerit ketika merasakan sesuatu yang mulai mendesak di bawah sana.
Ah aku sudah gak tahan! persetan dengan semuanya. Sayang i'm coming.
Irfan kalah, ia menyerang Fajira lebih dulu dengan lembut dan perlahan, agar anak dalam kandungan istrinya baik-baik saja.
Malam yang panas menemani mereka yang saling menatap satu sama lain setelah menyelesaikan permainan mereka.
"Aku mencintaimu sayang. Istriku, ibu dari anak-anakku"
"Aku juga mencintai kamu, Tuan arogan yang sudah memporak-porandakan hatiku yang sangat rapuh"
"Maafin aku, sungguh aku gak tau jika hamil itu seberat ini. Aku gak akan meminta berapa banyak anak yang akan kamu kandung sayang. Berapa kamu kuat saja, bahkan sekarang aku sudah bersyukur karna memiliki sepasang anak yang sangat berharga dari dunia dan sisinya. Terima kasih banyak" Dengan nafas tersenggal Irfan berbicara dengan mata yang berkaca-kaca
"Mas, Selama aku mampu dan tuhan memberikan kita izin, aku akan senantiasa mengandung anak kita. Asal kamu selalu mendampingi aku"
"iya sayang. Kita tidur yuk"
"iya sayang"
Irfan memeluk Fajira dan menunggu wanitanya terlelap lebih dulu, barulah ia juga menutup mata dengan perasaan yang bercampur aduk. kali ini lebih dominan dengan rasa bahagia karna mendapatkan wanita yang sangat hebat dengan hati yang bersih.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1