Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
172. Rindu


__ADS_3

Mentari pagi mulai menyinari bumi dengan sinar terangnya. Menghangatkan setiap makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.


Ivanna masih betah memeluk bantal guling kesayangannya. Fajira masuk ke dalam kamar gadis kecil itu dan menyingkap tirai jendela yang masih tertutup rapat.


"dek? bangun yuk, sayang! Hari ini dede mau sekolah kan?" ucap Fajira mengelus kepala Ivanna.


"dek?" panggilnya kembali.


"sebentar lagi, Buna! Dede masih ngantuk!" Ivanna meringsut meletakkan kepalanya di atas pangkuan Fajira.


"bangun lagi sayang, nanti kesiangan loh pergi sekolahnya!" Fajira tercekat.


Ia teringat masa kecilnya yang kembali terlintas dan bergentayangan di dalam fikirannya dengan sangat jelas. Ia berusaha untuk menahan tangis agar Ivanna tidak merasa curiga.


"mandi lagi, sayang! apa mau Bunda mandikan?"


"Dede mandi sendiri aja, Buna!" Ivanna memaksakan diri untuk duduk dengan mata yang masih terpejam.


Ia beringsut turun dan mengambil handuknya. Tak lupa Ivanna juga mengecup pipi Fajira sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu tertutup, air mata Fajira tidak lagi bisa di tahan. Sebentar ia membiarkannya mengalir dipipi mulus itu.


Bunda, Jira rindu!. bathin Fajira


Setelah di rasa cukup, ia menyiapkan pakaian sekolah Ivanna dan keluar dari sana menuju kamar Fajri.


Ceklek!


kamar pria tampan itu sudah terang dan terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Fajira tersenyum, Fajri memang sudah sangat mandiri untuk bangun pagi dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya.


Fajira segera membuka lemari Fajri dan mengeluarkan seragam batik pria tampan itu. Rasanya ia ingin menangis lagi, namun sebisa mungkin ia tahan agar Fajri tidak curiga nantinya. Ia segera keluar dari sana dan kembali ke kamarnya.


Fajri tersenyum ketika melihat bayangan ibundanya baru saja keluar dari kamar. Walaupun ia sudah besar, namun Fajira tidak membedakan perlakuan antara dirinya dan Ivanna.


"terima kasih, Bunda!" ucap Fajri tersenyum walaupun Fajira tidak mendengarkannya.


Sementara Fajira duduk di atas sofa sambil menahan isak tangisnya. Bukankah setiap hari ia melakukan hal ini? tetapi mengapa hari ini terasa sangat berbeda, Ia begitu sangat merindukan orang tuanya.


Isakan itu semakin tidak tertahan, hingga mampu membangunkan Irfan yang masih terlelap. Ia terkejut dan segera bangkit dari tempat tidur, tanpa menungu lama, ia segera memeluk Fajira dengan erat. Pecah sudah tangis ibu muda itu, ia terisak dengan sangat di dalam pelukan Irfan.


"kenapa kamu menangis, sayang? apa ada yang jahat denganmu? sini bilang sama aku!" ucap Irfan tidak tenang.


Fajira hanya terisak dan meluapkan emosinya. Ia hanya butuh bahu untuk bersandar saat ini. Irfan dengan setia menenangkan istrinya sambil mengelus lembut kepala Fajira.


ketika ia merasa Fajira sudah lebih baik, Irfan mengurai pelukan itu dan menatap istrinya dengan lembut.


"kenapa, sayang?"

__ADS_1


"aku hanya ingat orang tuaku, Mas!" ucap Fajira lirih.


Deg!


Irfan kembali memeluk Fajira dengan erat. Tidak ada satu orangpun yang bisa menggantikan orang yang telah tiada. Namun harus bagaimana lagi, tidak ada yang bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal dengan cara apapun.


"menangislah, sayang! karna saat ini aku gak bisa berbuat apa-apa selain memeluk kamu!" ucap Irfan yang ikut merasakan kesedihan Fajira.


Tangis perempuan cantik itu kembali terdengar lirih. Hingga Ivanna dan Fajri mengetuk pintu kamar, karna mereka sudah selesai berpakaian.


"Bunda?" panggil Fajri.


"sayang, ada anak-anak!" ucap Irfan.


"aku ke kamar mandi dulu! kamu pandai-pandailah, jangan sampai mereka tau jika aku menangis!" ucap Fajira berlari menuju kamar mandi.


Irfan menghela nafas beratnya, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Sepertinya ia tidak akan pergi ke kantor hari ini, karna hatinya merasa tidak tenang meninggalkan Fajira dalam keadaan seperti sekarang.


"Kenapa, sayang?" ucap Irfan ketika membuka pintu.


"kok, ayah belum siap. Ayah gak pergi ke kantor?" tanya Ivanna mengernyit.


"ayah libur hari ini, sayang!" ucap Irfan.


"kenapa ayah libur? Buna mana, ayah?" Ivanna menyelonong masuk ke dalam kamar itu dan tidak mendapati ibundanya di dalam sana.


"tanpa Bunda?" tanya Fajri yang merasakan ada yang tidak beres dan ada yang di sembunyikan oleh ayahnya.


"Bunda lagi mulas katanya, nanti Bunda menyusul!" ucap Irfan menggendong Ivanna.


"Aji mau nunggu bunda saja disini, ayah!" ucap Fajri berjalan duduk di atas ranjang.


"nanti abang telat, sayang!"


Fajri terdiam, ia ada ulangan pagi ini. Pria tampan itu berjalan menuju pintu kamar mandi dan berhasil membuat jantung Irfan berdetak lebih cepat. Fajri mengetok pintu itu dan berteriak dari luar untuk memanggil ibundanya.


"apa, Bunda baik-baik saja?" ucap Fajri.


"iya, sayang. Bunda baik-baik saja! Abang sarapan dulu ya nak! bunda sakit perut!" ucap Fajira dari dalam kamar mandi.


"apa perlu, Aji panggilkan dokter, bunda?"


"Gak perlu, sayang! bilang sama bibi tolong antarkan teh hangat ke kamar Bunda ya, sayang!"


"iya, Bunda!" Fajri dengan berat hati meninggalkan ibundanya di dalam sana.

__ADS_1


Mereka bertiga jalan dengan langkah gontai karna Fajira tidak ikut sarapan bersama pagi ini.


"Biar ayah ambilkan ya, nak! Abang mau apa?" tanya Irfan.


"abang mau nasi goreng saja, ayah!" ucap Fajri lesu, ia menerima piring dari Irfan dan segera memakan sarapan.


Begitu juga dengan Ivanna, ia hanya mengaduk-ngaduk makanan itu tanpa berniat untuk memakannya.


"sarapannya di makan, sayang!" ucap Irfan Menyuapkan Ivanna.


"Dede mau makan sama Buna, ayah!"


"Bunda kan lagi sakit, nak!"


"huft,..." Ivanna menyuap makanannya dengan malas.


Hingga makanan mereka tandas, Fajri dan Ivanna menunggu di dekat mobil. Fajira baru keluar dengan pakaian rumahnya. Sementara Irfan sudah berganti pakaian.


"yuk kita berangkat!" ucap Irfan.


"apa Buna gak ikut?" tanya Ivanna berkaca-kaca.


"Hari ini sama ayah dulu ya, sayang! abang nanti jagain dede!" ucap Fajira lirih.


Ia sengaja menggunakan bedak dan sedikit riasan untuk menutup mata sembabnya. Wajah Ivanna murung seketika, ia memeluk Ivanna dengan perasaan tidak rela.


"Dede gak usah sekolah kalau gitu!" ucap Ivanna lirih.


"sayang, gak boleh gitu, nak! tapi Dede mau pintar, jadi gak boleh malas-malas belajarnya! nanti kalau Bunda gak bisa mengantarkan Dede, apa Dede gak mau pergi sekolah terus?" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Ivanna lembut.


Gadis itu hanya menggeleng saja dan kembali memeluk Fajira.


"Sudah, ya. Sana berangkat, nanti Dede terlambat!" ucap Fajira mengurai pelukannya.


"Bunda, abang berangkat dulu ya! Apa Bunda baik-baik saja?" ucap Fajri khawatir.


"Bunda baik-baik saja, nak! Jangan khawatir ya. Nanti jagain Dede!" ucap Fajira tersenyum.


"iya, Bunda!"


Drama pelukan terjadi pagi itu, walaupun Fajira sudah mengatakan jika ia baik-baik saja, namun dua bocil genius itu tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh bundanya.


Karna hari sudah semakin siang, mereka terpaksa pergi dan meninggalkan bidadari cantik itu di rumah sendirian. Irfan segera mengendarai mobilnya menuju ke sekolah Fajri dan Ivanna untuk mengantarkan mereka.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2