Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
242. Ngidamnya Safira


__ADS_3

Dengan wajah berbinar, Fajri menggendong Safira menuju mobilnya. Tak lupa Ivanna juga mengekor dengan senyum yang begitu manis, hingga membuat laki-laki yang ada di sepanjang jalan terpesona melihat kecantikan Ivanna yang begitu langka untuk dilihat.


"Apa lihat-lihat?" ketus Ivanna ketika menyadari ia menjadi pusat perhatian.


Mereka segera mengalihkan perhatian ketika mendengarkan suara ketus Ivanna. Sementara gadis itu kembali tersenyum dan menyusul saudaranya yang sudah lebih dulu menaiki mobil.


"Akhirnya, kakak hamil. Aku akan memiliki keponakan!" ucap Ivanna senang sambip bertepuk tangan.


"Iya, dek. Tapi kamu aja yang nyetir, Abang suruh keluar saja. Kakak mual lagi, dek!" ucap Safira lemas.


"Tuh dengar, bang! panggil Buna aja!" ucap Ivanna.


"Ayolah, sayang! jangan seperti itu!" ucap Fajri merengek.


"Mas!" ucap Safira yang tidak bisa menahan rasa mualnya.


"Ihh, Abang! keluar sana, nanti kakak mual lagi!" ucap Ivanna mendorong tubuh tegap Fajri.


"Baiklah!" ucap Fajri keluar dengan perasaan tidak rela.


Ivanna melambaikan tangannya kepada Fajira dan meminta agar ibundanya segera masuk ke dalam mobil.


"Yang sabar, nak!" ucap Irfan menahan senyumnya sambil menepuk bahu Fajri.


"Istriku, yah!" ucap Fajri cemberut.


"Yuk, kita ikuti dari belakang!" ucap Irfan tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


"Selamat datang di dunia perbapakkan!" Irfan semakin terkekeh, ketika melihat wajah Fajri yang semakin kusut.


Mereka berjalan beriringan menuju ke rumah. Fajri tak hentinya memperhatikan mobil yang membawa istri dan anak-anaknya.


Ia segera meraih ponsel dan menghubungi Fajira yang ada tengah bersama ldengan istrinya.


"Halo, bang?" ucap Fajira mengernyit.


"Halo, Bunda. Tolong bilang sama dede, pelan-pelan bawa mobilnya!" ucap Fajri frustrasi.


"Ini udah pelan, bang! cuma 30 km per jam!" dengus Fajira kesal.


"Tapi istriku sedang hamil, bunda! nanti mereka kenapa-napa!" ucap Fajri.


"Berlebihan banget kamu, bang! Tu, istri kamu sedang tidur!" ucap Fajira menahan tawanya.


"sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Fajri khawatir.


"Ih, udah dibilangin lagi tidur juga!" ucap Fajira kesal.


"Bunda, Ayolah!" ucap Fajri memohon.


"Nanti aja ketemunya di rumah!" ucap Fajira mematikan panggilan.


Fajri semakin frustrasi hingga mobil mereka memasuki gerbang dan berhenti di depan pintu utama. Ia segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Safira lalu menggendongnya.


"hati-hati, bang!" ucap Ivanna jengah.


"Iya, sayang!" ucap Fajri mulai memasuki rumah.


"Engh! hoeek,... hoeek,...!" Safira terbangun dan kembali mual.


Fajri yang khawatir memijat tengkuk Safira, namun malah di tepis oleh Ibu hamil itu.


"Udah dibilangin, kamu bau, Mas!" ucap Safira kesal.


Ivanna mendekat dan memapah Safira untuk masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai satu. Sementara Fajri hanya bisa pasrah menatap istrinya.


"Ya sudah, sekarang biarkan istrimu istirahat dulu, sana siap-siap untuk pergi ke kantor!" ucap Fajira terkekeh gemas melihat tingkah Fajri.


"Sabar, ya! kan kamu dulu juga susah waktu Bunda hamil, Dede!" ucap Fajira ikut masuk ke dalam kamar tamu.


"Aji mau peluk Safira, Bunda!" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Nanti saja peluknya. Biar Bunda tanya dulu, kasihan istrimu selalu mual!" ucap Fajira tersenyum.


"Baiklah!" ucap Fajri pasrah.


Fajri memilih untuk izin tidak masuk kantor terlebih dahulu. Ia hanya bisa menatap Safira dari luar, dengan perasaan yang membuncah.


🌺🌺


"Mas?" panggil Safira yang baru saja bangun.


"Iya, sayang! Kamu butuh sesuatu?" ucap Fajri yang ragu untuk masuk ke dalam kamar itu.


"Kamu ngapain di sana?" tanya Safira.


"Hmm, Apa kamu udah gak mual lagi?" tanya Fajri dengan mata yang mulai berembun.


"Apa kamu sudah mandi?"


"Sudah, sayang!"


"Pake parfum gak?"


"Gak, aku gak pake parfum!"


"Sini!" panggil Safira sambil melambaikan tangannya.


Wajah Fajri berbinar senang. Ia segera mendekat kearah Safira sambil tersenyum.


"Kamu yakin?" tanya Fajri.


"Iya!"


Fajri semakin bersemangat berjalan kearah Safira. Tanpa menunggu lama, Fajri segera memeluk istrinya dengan erat. Air mata Fajri tumpah karna merasa begitu bahagia, persis seperti dulu ia mendapatkan kabar ketika ibundanya tengah hamil.


"Terima kasih, karna sudah mengandung anak kita!" ucap Fajri terisak.


"Itu adalah salah satu keinginanku, sayang! jangan berterima kasih!" ucap Safira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Berbeda dengan tadi pagi, ketika Fajri sudah menggunakan parfum maskulin itu ke tubuhnya.


"Iya, sayang. Apa kamu mau sesuatu, atau kamu butuh sesuatu?" yanoya Fajri menatap wajah pucat Safira dengan berbinar.


"Hmm? ya, apa kamu mau melakukannya?" cicit Safira.


"iya, iya, sayang! Apa, kamu mau apa?" tanya Fajri bersemangat.


"Aku mau ke ruang gym. Apa boleh, Mas?" tanya Safira sambil menatap Fajri penuh harap.


"Ke ruang gym? Kamu mau ngapain?" tanya Fajri mengernyit.


"Aku mau lihat kamu olah raga sampai keringatan, apa boleh?" cicit Safira pelan.


"Baiklah, Tuan Putri! Apapun untukmu akan hamba lakukan!" ucap Fajri mengecup kening Safira lembut.


Fajri segera menggendong Safira di depan dan berjalan menuju ruang gym yang ada di lantai tiga menggunakan lift. Mereka pergi tanpa menghiraukan Ivanna yang tengah terlelap di atas kasur dengan imutnya.


"Kemana, nak?" tanya Fajira mengernyit.


"Mau ke ruang gym, bunda. Anak-anak mau lihat ayahnya olah raga!" ucap Fajri terkekeh.


"Oalah, jangan lama-lama ya! istrimu belum makan siang!" ucap Fajira tersenyum.


"iya, Bunda!" ucap mereka berdua.


🌺🌺


"Kamu, mau aku ngapain dulu, sayang?" tanya Fajri setelah mendudukkan Safira di atas kursi yang ada di dalam ruangan itu.


"Boleh pintunya di kunci dulu?" tanya Safira lirih.


"Boleh, sayang!" ucap Fajri semakin bersemangat.

__ADS_1


Ia segera mengunci pintu dengan rapat sambil tersenyum mesum. Memastikan jika tidak ada yang akan mengganggu aktivitasnya bersama Safira di dalam ruangan itu.


"Pemanasan dulu, sayang!" ucap Safira tersenyum.


"Baiklah!"


Fajri memulai gerakan-gerakan ringan dan peregangan otot di hadapan Safira.


Glek!


Seeksi banget! aku jadi pengen!. batin Safira dengan wajah yang merona.


"Apa boleh, bajunya kamu buka, sayang?" tanya Safira lagi.


"Boleh!" Fajri segera membuka bajunya dan hanya menyisakan boxer ketat saja.


Ia segera berolah raga, mulai dari berlari di atas treadmill, angkat besi dan lainnya. Hingga 20 menit berlalu, seluruh tubuh Fajri sudah dibasahi oleh peluh.


"Huft, capek, sayang!" ucap Fajri duduk di hadapan Safira.


Ibu hamil itu tengah terpana melihat tubuh atletis Fajri yang terlihat macho dan maskulin. Apalagi lampu yang ada di ruangan itu membuat tubuhnya bersinar.


Senyum Safira terbit. Jika Fajri seperti ini, ia tidak merasakan mual sama sekali, sangat berbeda dengan tadi pagi.


"Apa aku tampan?" tanya Fajri terkekeh.


"Iya, kamu tampan banget! apalagi kalau berkeringat seperti ini! Kita ke kamar, ya. Aku mau istirahat!" ucap Safira tersenyum sambil mengusap wajah Fajri.


"Baiklah, aku pakai baju dulu!" ucap Fajri bergerak memasang bajunya.


"Jangan!" teriak Safira cemberut.


"Kenapa, sayang?"


"Pake celana aja! kamu wangi kalau seperti ini, aku suka! Di lap aja keringatnya!" ucap Safira.


"Baiklah!" Fajri pasrah.


Ia kembali memakai celana panjangnya dan menggendong Safira menuju kamar mereka.


"Habis ini kita makan, ya!" ucap Fajri tersenyum.


"Kamu belum makan?" tanya Safira menatap Fajri lekat.


"Aku nunggu kamu makan!" ucap Fajri tersenyum.


"Maaf!" cicit Safira merasa bersalah.


"Gak papa, sayang. Aku gak mau kamu tersiksa sendiri karna mual dan susah makan!" ucap Fajri berkaca-kaca.


Ia duduk di atas kasur sambil memangku Safira. Menatap wajah pucat namun masih terlihat cantik itu dengan senyum manisnya.


"Dulu, waktu Bunda hamil Dede, Ayah yang Ngidam. Pasti permintaan Ayah aneh-aneh, dan waktu itu Bunda makannya banyak, apa aja di makan. Mau sehat atau gak tetap dilahap sama, Bunda. Sekarang kamu hamil dan harus merasakan ngidam seperti ini, bagaimana aku bisa makan enak, sementara satu suap nasi pun susah untuk kamu makan!" ucap Fajri dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.


"Jangan gitu! Kamu juga harus makan, sayang! Kalau aku kenapa-napa, gimana? sementara kamu juga kekurangan asupan!" ucap Safira yang juga ikut menangis.


"Gak papa. Asal kamu makan dengan baik, asupan gizi kamu dan anak-anak terpenuhi, sudah itu saja!" Ucap Fajri terkekeh di sela tangisnya.


"Hiks, kita makan ya! tapi di sini saja!" ucap Safira lirih sambil menahan tangisnya.


"Ya sudah! apa aku boleh mandi?" tanya Fajri.


"Nanti saja aku masih ingin di peluk!" ucap Safira kembali memeluk Fajri dengan erat sambil menghirup aroma tubuh Fajri yang begitu menenangkan.


Fajri segera menghubungi Bunda dan meminta tolong untuk memilihkan makanan yang bisa di makan oleh Safira dan calon cucunya.


Setelah makanan datang, Fajri dengan telaten menyuapi Safira hingga makanan itu tandas tanpa tersisa.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Ngidamnya Safira bikin panas dingin Yaa πŸ˜‚


__ADS_2