Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
54. Jangan Sampai Fajri Tau Perbuatanmu


__ADS_3

Di halaman rumah, Fajri sudah mengambil pesawatnya kembali dengan bantuan dari Pak Sakti.


"terima kasih pak" ucap Fajri tersenyum.


"sama-sama tuan muda"


Fajri kembali mencoba menerbangkan pesawatnya. Ia mengamati apa saja yang harus ia perbaiki setelah ini. Pria kecil itu masih fokus menengadah tanpa menghiraukan Irfan yang sudah berdiri di belakangnya.


"Aji" panggil Irfan dan sukses membuat pria kecil itu terlonjak kaget.


"Astoge!! Ayah kebiasaan iih. Aji kaget" ucapnya cemberut.


"haha maafin ayah sayang. Gimana, Aji sudah bisa menerbangkannya?"


"sudah ayah, tapi belum terlalu mahir"


"sini coba ayah yang memainkannya, boleh sayang?"


"boleh Ayah, ini"


Fajri menyerahkan remot kontrol itu kepada Irfan, lalu mengusap tengkuknya yang terasa pegal karna terlalu lama menengadah. Namun matanya membola ketika melihat Irfan dengan mahir menerbangkan pesawat itu.


"uwaaaah ayah hebat. Ih kenapa gak nunggu ayah saja tadi, kan mubazir pesawat Aji" ucapnya kesal.


"Hahah jangan gitu dong sayang, kalau Aji menunggu ayah dulu kan gak tau kurangnya pesawat Aji di mana. Sini ayah ajarkan caranya sayang"


"ayah beneran mau mengajarkan Aji?" Ucap Fajri berbinar


"iya sayang, Yuk"


Irfan mengajarkan putranya bagaimana cara menerbangkan pesawat dengan profesional, mulai dari take off, landing maupun freestyle di atas langit. Fajri yang memang pintar dengan cepat menyerap penjelasan dari Irfan dan membuatnya dengan mudah memperlajari itu semua.


"Ayah, Aji bisa. Aji bisa Ayah" teriaknya senang.


"iya nak. gak susahkan?"


"gak ayah, tapi kan tadi Aji belum tau bagaimana caranya"


"hahaha kamu bikin pesawat kontrol tapi gak tau cara menerbangkannya" gelak irfan melihat tingkah Fajri yang sangat mengemaskan baginya.


"iya mau gimana lagi ayah, namanya juga coba-coba hehe" gelak Fajri menyengir senang.


Ayah dan anak itu menghabiskan sore hari dengan bermain dan mengamati kekurangan dari pesawat buatan Fajri.


"Ayah tadi janjikan mau ganti pesawat Aji"


"iya berapa yang Aji butuhkan sayang?"


"banyak Ayah"


"berapa sayang?"


"2 juta" ucap Fajri menampung tangannya.


"cuma 2 juta?. Nanti ayah transfer ya"


"gak mau ayah, Aji mau cash. soalnya tabungan Aji gak pake Atm jadi malas kalau ambil sering-sering"


"Aduh nanti ya nak, ayah gak punya cash" ucap Irfan mengaruk tengkuknya.


"ih ayah kan gitu" ucapnya kembali cemberut.


"Nanti kita belanja saja langsung ya"


"iya ayah"


"Sayang minum dulu" panggil Fajira yang datang dari dalam dengan membawa beberapa minuman dan cemilan.


"iya sayang" jawab Irfan


"aku manggil Fajri, bukan kamu mas" ketus Fajira mendelik.


"ih apa salahnya manggil aku sesekali gitu, Fajri terus yang di panggil" ucap Irfan cemberut sambil berjalan ke arah Fajira dan Mama yang tengah duduk di kursi taman.


"mas minum dulu" teriak Fajira ketika Irfan sudah berada di dekatnya membuat laki-laki itu terlonjak kaget.


"telat sayang" delik Irfan sebal.


"hahaha" Fajira tertawa puas mengerjai calon suaminya itu.


"Bunda, Kepala Aji pusing, Tengkuk Aji juga sakit" keluh Fajri meletakkan pesawatnya sembarangan dan langsung memeluk Fajira yang tengah duduk.


"Pusing sayang?" Fajira memijat tengkuk Fajri yang pegal karna keseringan menengadah.

__ADS_1


"iya Bunda" lirihnya menikmati usapan lembut dari tangan Fajira.


"Gimana sayang apa masih ada yang kurang?"


"banyak yang kurang Bunda. Aji harus membeli bahannya lagi, karna yang kemarin sudah habis bunda"


"nanti kita beli ya"


"Aji belinya sama ayah saja Bunda. Soalnya Ayah bilang mau mengganti pesawat Aji" ucapnya menatap Fajira menantikan ekspresi ibundanya.


"Ya sudah, nanti kalau mau pergi bilang dulu sama Bunda ya, biar Bunda gak susah untuk mencari Aji"


"iya Bunda. Peluk" ucap Fajri membentangkan tangannya. Tanpa menunggu lama Fajira langsung memangku Fajri yang terlihat kelelahan.


"ayah juga mau di peluk" ucap Irfan cemberut.


"gak cocok kamu seperti itu bang" celetuk Mama geli melihat tingkah manja Irfan.


"ih Mama, jangan begitu dong. Bantuin kek anakmu ini"


"bantuin sih bantuin nak, tapi gak seperti itu juga ekspresi kamu"


"ihh" delik Irfan


"Aji" panggilnya.


"Aji ngantuk Ayah, Nanti kita gantian ya" lirih Fajri yang mulai terlelap di dalam pelukan Fajira.


Setelah Fajri terlelap, Ibu muda itu langsung mengangkatnya dan membawa pria kecil itu ke kamar Irfan. Ia membaringkan Fajri di atas kasur besar itu dan mengelus pelan pipi putra kesayangannya.


"cepat besar ya sayang" Ucap Fajira tersenyum.


"Bunda akan melakukan apapun untuk Aji. Walaupun harus mengorbankan kebahagiaan Bunda. Semoga Aji bisa menjadi laki-laki hebat dan bertanggung jawab. Berguna bagi orang banyak" ucap Fajira berkaca-kaca.


ceklek.


Irfan masuk ke dalam kamar dan Fajira segera menghapus air matanya yang sempat meleleh.


"sayang" ucap Irfan memeluk Fajira dari belakang.


"hmm"


"kamu kenapa?"


"gak papa Mas. Aku hanya belum percaya jika Fajri bisa bertemu secepat ini dengan kamu" kilah Fajira


"iya"


"Sayang, kamu yakin gak mau berobat?"


"iya aku yakin"


"sampai kapan?"


"sampai aku benar-benar yakin kalau cinta kamu itu nyata bukan hanya sekadar hasrat saja"


"sayang, kenapa kamu susah untuk percaya kepadaku? apa karna kamu pernah tersakiti" selidik Irfan.


"aku hanya mengambil kesimpulan dari perlakuan mesum kamu kepadaku. Apa lagi kamu termasuk salah satu predator wanita" Fajira melepas lingkaran tangan Irfan di pinggangnya ketika rasa takut itu kembali menyeruak.


"aku minta maaf tentang itu sayang. Sungguh aku menyesal" Irfan menggenggam tangan Fajira lembut.


"aku gak masalah. Aku hanya takut Fajri tau bagaimana sifat ayahnya. Dia paling benci sama orang yang menyakitiku. Dan kamu harus siap-siap untuk itu"


"maksud kamu?"


"Kamu akan paham sendiri nanti. Aku harap kamu bisa menyembunyikan hal itu dari Fajri. Jika ia tau aku tidak akan pernah sanggup untuk melihat wajah kecewanya" ucap Fajira sendu.


"sayang" Irfan terperangah ketika mengerti maksud dari perkataan Fajira.


"aku sudah mulai gemetaran, Bisa kamu berjarak sedikit?" lirih Fajira.


"baiklah, Kamu istirahat ya, Aku keluar sebentar"


"iya"


Irfan meninggalkan Fajira yang tengah berbaring sambil mendekap Fajri. Ia menatap sebentar wanitanya dan berlalu dari sana. Irfan melangkah menuju ruang kerjanya. Setiba disana ia terdiam mendengarkan perkataan Fajira tadi.


Kalau tau seperti ini aku tidak akan bermain dengan wanita. Bagaimana aku bisa menyembunyikan masa lalu itu rapat-rapat?. Semoga Fajri tidak pernah tau dengan perilaku buruk ku. Semoga saja apa yang di katakan Fajira tadi tidak terjadi. Tuhan bantu aku, baru saja aku berkumpul bersama dengan anak dan istriku jangan sampai engkau pisahkan kami lagi.


Lama ia berfikir dan mendiskusikan ini bersama Ray. Hingga ketukan pintu terdengar dari luar.


tok... tok... tok...

__ADS_1


"Irfan, makan malam lagi nak" ucap mama dari luar.


ceklek


"iya Ma, Yuk kita kebawah. Apa anak dan istriku sudah bangun Ma?"


"istri? sudah mereka sudah bangun"


deg...


Apa dia akan datang malam ini?, jangan sampai dia merusak rencana pernikahanku dengan Fajira. awas saja Jika Papa bersikeras untuk membuatku menikah dengan dia. Aku akan bawa kabur semua aset yang ada dan menjualnya dengan harga murah. Bathin Irfan emosi.


Ia terus melangkah menuju meja makan yang disana sudah ada Papa, Fajira dan Fajri.


Apa dia belum datang?.


Irfan duduk di samping Fajira dan memperhatikan wanitanya. Sementara Fajri masih terlihat mengantuk disana.


"sayang"


"hmm? apa mas?"


"Aji mengantuk ya? sini sama Ayah nak"


"iya ayah" lirih Fajri.


Irfan mengelus lembut kepala anaknya sambil sesekali menerima suapan Fajira.


"Yuk kita makan lagi" Ajak Mama.


"iya Ma"


Mama mengambilkan Papa makanan begitu juga untuk Irfan dan Fajira, karna perempuan itu masih menyuap Fajri menggunakan tangan.


"terima kasih ma" ucap Fajira menerima makanan dari Mama.


"sama-sama sayang"


"Sayang" lirih Irfan.


"hmm?"


"kata kamu ada yang mau datang, siapa? mana orangnya?"


"kamu pengen banget ya bertemu dengan perempuan itu? belum lagi menikah kamu sudah seperti ini. Apalagi setelah menikah" ucap Fajira ketus.


"eh gak gitu sayang"


"Irfan kenapa kamu bisik-bisik?" tanya Papa.


"Mas Irfan menanyakan perempuan yang datang tadi siang Pa" ucap Fajira.


"ah iya. Dia sudah datang kok"


deg...


Jantung Irfan berdetak kencang ketika mendengarkan perkataan Papa.


"Papa jangan bercanda, dimana dia?" desak Irfan.


"tuh di samping kamu"


"Hah? maksud Papa Fajira istriku?"


"iya. Istri istri, Fajira saja tidak menganggap kamu suami, kamu malah ngomong sembarangan"


"ja-jadi yang Papa Maksud perempuan yang harus aku bahagiakan itu Fajira?" ucap Irfan berbinar senang.


"sudah gak usah saja, Fajira nanti Papa carikan laki-laki yang lebih dari pada anak bodoh ini"


"iya pa, Jira mau"


"gak!" ucap Fajri dan Irfan berbarengan.


"hahaha" semua orang tergelak melihat dua laki-laki beda usia yang sangat possesif itu.


"Aku gak mau, Fajira hanya milikku dan hanya untukku" ucap Irfan tegas.


"milik Aji juga" ucap pria kecil itu melotot.


"iya bunda hanya milik Aji"


Malam itu menghangat karna Papa tidak hentinya menggoda Irfan dan Fajri. Sementara Fajira tersenyum senang karna Fajri bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2